Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Lagu Cinta Sejati yang dipopulerkan oleh Bunga Citra Lestari mengalun memenuhi mobil yang kini Devan dan Azahra tumpangi. Lagu itu tanpa sengaja terputar dari radio SMG FM yang mereka dengarkan. Lagu yang nampaknya mewakili perasaan Devan dan Azahra. Kisah cinta dengan berbagai liku namun tetap teguh menjadi satu kesatuan.
Cinta, dan kepercayaan keduanya yang membuat mereka tetap percaya bahwa takdir akan membawa mereka pada penyatuan cinta yang sesungguhnya. Pernikahan mereka tidak batal, mereka hanya perlu mencari hari yang baik lainnya untuk menyatukan cinta mereka berdua. Masa bodoh dengan gunjingan kerabat maupun tetangga, lagi pula biaya pernikahan bukan mereka yang tanggung, melainkan pihak keluarga Devan dan keluarga Azahra lah yang menanggungnya.
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak menegaskan kucinta padamu
Terima kasih pada Mahacinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Keduanya berharap, mereka mampu melewati rintangan ini dengan secepatnya. Harapan dan keinginan Devan maupun Azahra untuk dipersatukan bukanlah guyonan semata. Niat tulus Devan guna mempersunting Azahra harus pupus sementara waktu karena permasalahan hukum yang membelit Devan hingga saat ini, dan belum menemukan titik terangnya sama sekali.
“Mas tahu, aku waktu denger Arshaf Sinclair meninggal nangis loh. Rasanya itu kayak enggak nyangka sekali. Kan tidak pernah terdengar kabar apapun tentang dia punya penyakit sebelumnya,” ucap Azahra membuat Devan yang tengah fokus menyetir menoleh ke arah dirinya.
“Oh ya? Mas enggak pernah mengikuti gossip para artis sih,” sahut Devan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Tidak ingin mengulang kesalahannya lagi dalam berkendara.
Cukup sekali itu saja, jangan sampai kejadian lagi dalam hidupnya maupun dalam hidup semua orang. Bahkan karena kejadian yang menimpa kakaknya, David menjadi takut untuk menaiki motor trilnya lagi. Siswa SMA itu memilik naik kendaraan umum untuk meminimalisir kecelakaan seperti itu dapat terjadi.
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
“Aku ingin cinta kita itu banyak yang akan mengingatnya, menjadi apa ya istilahnya. Motivasi bagi pasangan lain untuk tetap berdiri di tengah terpaan badai angin yang menerjang,” lanjut Azahra. Wanita itu mendaratkan kepalanya di lengan Devan.
Wanita itu memejamkan matanya, bulir air mata menetes dari mata teduh miliknya. Jujur saja, Azahra tidak ingin pernikahannya sampai tertunda. Belum lagi, nama baik dirinya dan keluarganya yang mungkin terancam akan hancur karena desas-desus gossip tidak jelas bertebaran di mana-mana.
Azahra sendiri bingung dengan kelakuan para orang-orang seperti itu. Suka menggunjing dan menyebar keburukan orang lain. Menertawakan kesakitan orang lain tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang mereka gunjingkan.
Devan meraih tangan Azahra. “Mas janji, pernikahan kita nanti akan membuat para wanita di luar sana iri dengan dirimu. Maafkan Mas Devan menempatkan dirimu di situasi sulit seperti sekarang ini,” ucap Devan yang sangat paham benar bagaimana perasaan Azahra saat ini.
Azahra menangis sesegukan, menumpahkan perasaannya yang mencoba dia pendam dalam dekapan hangat dari lelaki yang sangat dia cintai.
“Jangan menangis, tangisanmu itu semakin membuat Mas Devan hancur,” kata Devan mencium puncak kepala Azahra.
Azahra mengusap air matanya, wanita itu membuka dash board mobil Devan untuk mencari tissue. Mata Azahra terbelalak melihat satu buket bunga yang sudah layu berada dalam dash board mobil Devan. Diraihnya satu buket bunga layu itu, Azahra menegakkan tubuhnya.
“Mas, kapan bunga ini?” tanya Azahra penasaran.
“Malam waktu Mas mengalami kecelakaan,” jawab Devan membuat Azahra melebarkan matanya.
“Jadi Mas Devan beli bunga ini sebelum kecelakaan?” tanya Azahra kembali memastikan apa yang kini tengah dia pikirkan dalam benaknya.
Devan mengangguk membenarkan apa yang kini Azahra pikirkan. “Seperti yang kamu pikirkan, Mas membeli bunga itu sebelum kecelakaan,” jelas Devan.
“Mas … Azahra enggak tahu lagi harus ngomong apa. Tapi Mas Devan itu selalu memiliki cara untuk membuat Azahra jatuh cinta sama Mas berkali-kali. Mas Devan punya keahlian untuk menyentuh hati Azahra secara berulang-ulang. Dan Azahra menyukainya, Azahra mencintai Mas Devan. Lagi, dan lagi,” ucap Azahra dengan tatapan matanya yang kini berkaca-kaca.
Siapa sangka, malam di mana Devan mengalami kecelakaan tragis yang menewaskan ayah dari Naomi, ternyata Devan membeli satu buket bunga itu untuk Azahra. Mungkinkah, jika Devan tidak membeli bunga itu semua ini tidak akan terjadi?
“Mas juga mencintaimu, Azahra Fajrin,” jawab Devan membuat hati Azahra kembali menghangat.
“Berjanjilah Mas, mulai saat ini jangan pernah lagi membelikan aku bunga. Mulai detik ini, aku sudah membenci bunga. Kalau saja Mas Devan tidak membeli bunga, mungkin kecelakaan malam itu tidak akan pernah terjadi kan?” Azahra menatap Devan mencari jawaban dari Devan.
“Jangan menyalahkan siapapun dan apapun Zahra. Semua sudah dituliskan oleh takdir. Kita hanya mampu menjalaninya,” ucap Devan mengacak pelan rambut Azahra.
Wanita itu justru mendengus, memang Devan adalah lelaki yang selalu tenang dalam menghadapi permasalahan. Meskipun mereka bertengkar hebat, Devan tetap tenang untuk kembali meluluhkan hati Azahra, dan mengajak wanita itu berbaikan.
“Nanti Azahra dan keluarga mau ikut tahlilan ke rumah Pak Wasiono,” ucap Azahra saat mobil yang mereka tumpangi hampir mendekati kediaman milik keluarga Azahra.
“Terimakasih, setidaknya kehadiran kalian semakin mengeratkan hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Wasiono, terutama Naomi.” Pikiran Devan kembali berpusat akan sosok wanita yang tidak lain adalah Naomi Indira, wanita yang nampak rapuh dan kosong dari sorot matanya.
“Halah bilang saja Mas Devan selalu merindukanku dan ingin melihatku terus. Iya kan?” goda Azahra membuat Devan tersenyum.
“Iya aja deh biar kamu seneng,” kekeh Devan. Azahra mencubit gemas hidung mancung milik Devan.
Azahra menatap Devan dengan lekat. “Naomi masih dingin seperti sebelumnya, Mas?” tanya Azahra.
Devan mengangguk mengiyakan. “Baru beberapa hari, Mas yakin dia akan luluh dengan sendirinya. Kamu kan tahu Mas Devan jagonya meluluhkan hati wanita,” ucap Devan masih tetap menunjukan kepercayaan dirinya di depan Azahra.
“Untuk hari ini aku akan menerima ucapan-ucapan Mas Devan yang super PD itu,” cibir Azahra berdecak.
Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumah keluarga Azahra. Beberapa tetangga nampak berkasak-kusuk ketika melihat mobil Devan berhenti di sana.
“Mungkin Azahra punya kekurangan, jadi keluarga Devan memutuskan membatalkan pernikahan mereka,” ucap salah satu ibu-ibu di warung yang hanya berjarak tiga puluh meter dari rumah Azahra.
“Bukan Mbak Yu, pernikahan mereka kan hanya ditunda saja,” sahut salah satu lainnya.
“Iya, kan Devan terlibat kecelakaan sampai orangnya meninggal. Amit-amit jabang bayi dah semoga aja anak perawan kita nggak ada yang mengalaminya.”
“Wanita kok sampai gagal menikah, itu pasti sinyal buruk akan hubungan mereka. Atau mungkin itu akal-akalan keluarga Aisyah mengarang cerita supaya kita enggak berpikir buruk tentang putrinya.”
Pemilik warung menggelengkan kepalanya. “Sudah ibu-ibu, sini saya total belanjaannya. Gosip mulu dari tadi,” cibir pemilik warung yang merasa risih dengan gosip-gosip para ibu-ibu komplek perumahan itu.
Padahal, di perumahan lain mereka nampak acuh dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan satu sama lain. Namun perumahan tempat Azahra tinggal sungguh kebalikannya.
Azahra menatap para ibu-ibu yang kini secara terang-terangan menatapnya dengan meremahkan. Ah andai saja orang tuanya bukan orang penting di wilayah itu, mungkin Azahra akan mencakar wajah mereka dan mengajaknya gelut biar ketahuan siapa yang menang siapa yang kalah.
Bisa-bisanya mereka menggunjing orang yang tertimpa musibah tanpa tahu permasalahan apa sebenarnya yang tengah terjadi. Azahra sampai heran, apa para ibu-ibu itu tidak memiliki kesibukan lain selain menggunjing dan juga bergosip setiap harinya.
“Aku mau pindah ke planet lain,” ucap Azahra saat Devan ikut turun dari mobil dan menghampirinya.
Azahra membuka gerbangnya dengan mendumel. “Lihat saja, mereka pasti menyesal sudah menjadikanku bahan gosip mereka di siang hari begini,” cibir Azahra membuat Devan ikut menoleh mengikuti arah pandang Azahra.
Kening Devan berkerut, kenapa juga para ibu-ibu itu menatap dia dan Azahra seperti itu. Pada dasarnya Devan sedikit sangklek, lelaki itu malah tersenyum menyapa para ibu-ibu sampai mereka gelagapan sendiri.
Azahra menoleh menatap Devan. “Kenapa kamu senyum sama mereka?” ucap Azahra dengan nada tidak suka.
“Astaga Sayangku, kita kan wajib menyapa tetangga. Kamu ini gimana sih,” jawab Devan menatap Azahra dengan bingung.
“Mereka itu sebenarnya bukan tetanggaku, aneh banget mereka belanjanya selalu di warungnya Bu Yuni,” ucap Azahra dengan kesal.
Cup.
Devan mencium bibir Azahra saat mereka sudah berada di dalam gerbang rumah keluarga Azahra. Mata Azahra terbelalak, Azahra tidak menyangka Devan berani mencium Azahra di rumahnya.
“Kamu selalu cantik meski sedang marah,” ucap Devan dengan menyengir kuda.
“Ish, Mas Devan apa-apaan coba. Kenapa Mas nyosor tiba-tiba? Nanti kalau papa sama mama lihat gimana coba?” tanya Azahra memukul lengan Devan.
“Memang kami sudah melihatnya, gimana coba?”
Devan dan Azahra sontak saja menoleh ke asal suara. Aisyah dan Agus berdiri di depan pintu utama rumah dengan alisnya bertautan menatap Devan dan Azahra. Baik Azahra maupun Devan melongo tidak menyangka bahwa orang tua Azahra berdiri di sana dan menyaksikan Devan mencium Azahra.
Astaga, betapa malunya Devan dan Azahra di depan orang tua Azahra.