Bab 20

1285 Words
Naomi dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan Devan di belakangnya. Lelaki itu berteriak tanpa peduli semua mata kini menatap ke arah dirinya. Lelaki itu mana pernah peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Bahkan sewaktu dirinya mengejar-ngejar Azahra saat pertama kali mereka kenal, Devan lebih nekat dari pada saat ini. Devan menerobos gerombolan para mahasiswa di lobby fakultas tempat Naomi menimba ilmu.  “Naomi, dengarkan aku dulu,” panggil Devan semakin membuat para mahasiswa menatap mereka penuh tanya. Tidak salah jika mereka menganggap Devan tengah mengejar cinta dari Naomi Indira, salah satu mahasiswi yang mampu menarik lawan jenisnya dengan penampilan sederhananya. Lihatlah wanita itu, dengan celana jeans dan kemeja polos ditambah flat shoes berwarna hitam membuat penampilannya hari ini terlihat simple namun begitu enak untuk dilihat. Rambut panjangnya dibiarkan terurai hingga ikut bergerak bersamaan dengan langkah kakinya yang terus melangkah. “Na, itu siapa kamu?” tanya Fitria yang kebetulan bertemu dengan Naomi di dekat ruang pengajaran. Devan tidak menyerah, lelaki itu kini berhenti tepat di belakang Naomi. Fitria menyipitkan matanya menatap Devan. Rasanya wajah itu tidak asing di matanya.  “Ah, aku mengingatmu,” ucap Fitria menunjuk Devan. Devan menyentuh lengan Naomi, mimpi apa Devan sebelumnya hingga mempermalukan dirinya seperti itu di kampus besar seperti sekarang ini. Dan lagi, Devan bersikap segila itu untuk wanita yang mungkin bisa dia anggap sebagai bocah. “Naomi Indira, kamu punya kekurangan ya?” tanya Devan menarik tangan Naomi hingga wanita itu menatap ke arahnya. Naomi menautkan kedua alisnya, memandang mata hitam kelam di depannya dengan lekat. “Apa yang kau inginkan?” tanya Naomi balik. Melihat wajah pembunuh dari ayahnya saja membuat Naomi enggan. Apa lagi harus berbicara dengan lelaki itu lebih lama lagi. Naomi meraih tangan Devan, menghempaskan tangan lelaki itu dari lengannya.  “Lepaskan aku,” ucap Naomi penuh peringatan. “Memangnya kenapa?” tanya Devan dengan ekspresi wajah masih santai menghadapi wanita di depannya. “Lepaskan atau aku teriak sekarang juga?” Devan terkekeh, dan itu membuat Naomi semakin kesal dengan lelaki itu. “Teriak saja, semua orang di sini melihat kita. Dan mereka pasti berpikir kita pasangan kekasih yang sedang bertengkar. Bukan begitu?” kekeh Devan mengacak rambut Naomi dengan gemas. Fitria mengulum senyumnya melihat interaksi antara Devan dan Naomi. Berbanding terbalik dengan Naomi yang kini memasang ekspresi wajah ketus. Sorot mata yang biasanya teduh, kini berubah menjadi sorot mata membara yang akan melahap orang di depannya. “Apa maumu hah?” sentak Naomi melepaskan tangan Devan dari lengannya. Mana sudi Naomi dipegang oleh lelaki pembunuh dari ayahnya. “Aku ingin berbicara denganmu,” jawab Devan dengan nada bicara santai. “Terus sekarang apa kalau bukan bicara? Ngobrol? Atau sedang mengemudi hingga menghilangkan nyawa orang lain?” ejek Naomi dengan wajah memerah marah. Devan kini beralih menatap Fitria. “Aku pinjem dulu ya temenmu yang satu ini,” ucap Devan diangguki Fitria tanpa berpikir panjang. Devan menarik Naomi ke bawah tangga, lelaki itu menatap Naomi dengan dalam. “Aku mau bicara sama kamu, ada yang harus kita bicarakan tentang Pak Wasi, ayahmu,” jelas Devan tanpa digubris oleh wanita itu. Naomi justru melipat tangannya ke depan d**a. “Kamu nanti pulang jam berapa?” tanya Devan kemudian. “Bukan urusanmu!” jawab Naomi dengan ketus. “Pulang ke rumah atau ke kos-kos’an?” tanya Devan sekali lagi. Naomi benar-benar kesal, sekarang darahnya mulai mendidih karena berdekatan dengan lelaki yang sangat dia benci. Kalau ada nominasi, mungkin Devan akan masuk ke dalam nominasi lelaki paling dia benci sedunia ini.  “Aku sudah bilang, bukan u-ru-san-mu!” ucap Naomi mengeja suku kata yang keluar dari mulutnya. “Kamu sudah sarapan? Ini aku membawakanmu bekal makanan. Tadi pagi aku datang ke rumahmu tapi tidak ada orang,” ucap Devan menyodorkan bekal makanan yang diberikan Azahra kepada Naomi. Naomi justru terkekeh. “Pertanyaanmu itu seperti lempar batu sembunyi tangan tahu nggak? Sudah jelas penghuninya telah kamu bunuh,” jawab Naomi memutar bola matanya kesal. Devan menghembuskan napasnya, menghadapi wanita seusia Naomi memang memerlukan strategi khusus. “Ini, ambil dan makan nanti saat kamu istirahat.” Devan menyerahkan bekal makanan kepada Naomi. Naomi tidak menerimanya, wanita itu menepis tangan Devan yang mencoba membuka tangannya untuk menerima bekal makanan itu. “Dengarkan aku, kalau kamu berpikir kamu akan membuatku luluh dengan satu kotak makanan yang kamu bawa maka kamu salah besar,” ucap Naomi dengan tatapan matanya sengit. “Aku tidak berpikir kamu akan luluh atau tidak, tapi kamu tanggung jawabku mulai sekarang,” jawab Devan tidak mau kalah. “Aku muak melihat wajahmu,” ucap Naomi, berbalik meninggalkan Devan di belakangnya. Meskipun mendapatkan jawaban dingin dari Naomi, tapi Devan tidak akan menyerah untuk sekarang. Setidaknya, Devan harus membuat Naomi menerima makanan yang sudah Azahra bawakan untuk wanita itu. Devan hanya tidak ingin Naomi sampai sakit dan membahayakan kesehatannya sendiri. Naomi berjalan menghampiri Fitria. “Ayo kita ke kelas sudah jam sembilan,” ucap Naomi mengajak Fitria untuk naik ke lantai tujuh di mana dia akan berkuliah hari ini. Devan menghalangi jalan Naomi. “Aku tidak akan menyingkir sebelum kamu membawa makanan ini bersamamu,” ucap Devan merentangkan tangannya, menghalau Naomi untuk melewati dirinya. “Suka-suka dirimu saja,” ketus Naomi mencari jalan lain untuk dirinya lewat. Langkah Naomi berhenti, wanita itu mengambil napas dan menghembuskannya dengan kasar. “Minggir, aku ada kuliah jam sembilan,” ucap Naomi menahan kekesalannya setengah mati. “Bawa ini bersamamu,” pinta Devan sekali lagi. Naomi kehilangan kesabarannya, wanita mendorong tubuh Devan agar lelaki itu menjauh dari dirinya. Tentu saja perlakuannya mengundang banyak perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Dari pada semakin mempermalukan dirinya sendiri, Naomi langsung menarik tangan Fitria untuk menuju lift. “Keras kepala!” cibir Devan. Devan tidak mungkin membawa bekal makanan itu kembali. Tekad bulat di dalam hatinya membuat Devan memberanikan diri untuk menyusul Naomi menuju lift.  “Dia masih ngikutin kamu, Na,” ucap Fitria ketika dirinya menoleh ke belakang. “Biarkan saja, dia kan enggak punya pekerjaan,” cibir Naomi tanpa peduli Devan akan mengekori dirinya. Naomi menatap ke atas, melihat sudah sampai di mana lift itu. Dalam hatinya, Naomi berharap lift itu segera turun ke lantai dasar di mana Naomi berada. Naomi enggan untuk berurusan dengan Devan lagi. “Bawa atau aku akan lebih gila lagi?” ucap Devan  di sampingnya. Naomi memejamkan matanya, entah kesialan macam apa yang Naomi dapatkan sampai berurusan dengan lelaki semacam Devan. Naomi benar-benar bisa gila jika terus-menerus di ganggung oleh lelaki itu. Ting! Suara lift terbuka membuat Naomi bisa bernapas lega. Wanita itu segera menerobos masuk ke dalam lift sebelum Devan menariknya lagi. ‘Lift, aku hutang budi denganmu,’ batin Naomi penuh syukur. Naomi menekan tombol lantai 7, untung saja lift itu sudah penuh hingga tidak memungkinkan Devan akan ikut masuk ke dalam.  Betapa terkejutnya Naomi saat melihat Devan bersimpuh di tengah-tengah pintu lift. Semua orang menatap Devan dengan  terkejut, sekaligus penasaran. Mereka berkasak-kusuk. “Please, jangan putusin aku Naomi,” ucap Devan membuat Naomi dan Fitria membelalakkan matanya. Devan menunduk malu, dalam hatinya lelaki itu merutuki kebodohannya karena sudah seberani itu di depan umum. Setelah ini, mungkin Devan akan mengganti wajahnya dengan wajah Ji Chang Wook agar tidak ada yang mengenali dirinya lagi. Semua mata kini menoleh ke arah Naomi, mereka menatap Naomi tidak suka karena Naomilah yang menghalau lift itu naik ke lantai atas. “Mbak, jangan mengganggu. Kami mau kuliah ini,” ucap salah satu mahasiswa di dalam lift. Beberapa di antara mereka melihat jam tangan di pergelangan tangan mereka. “Kalau putus sih selesaikan sendiri Mbak, Mas. Jangan mengacaukan kami,” kesalnya. Mau tidak mau, Naomi mengalah untuk keluar dari lift agar Devan mau menyingkir dari sana. Selain lelaki yang mengesalkan, kini Naomi mengetahui satu hal baru tentang sosok lelaki itu. Dia gila dan tidak waras!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD