Bab 16

1314 Words
Mata Naomi mengerjap, kesadaran wanita itu telah kembali. Setelah limbung karena tidak tahan menerima kenyataan jika dirinya telah kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya. Matanya sembab, bahkan begitu perih ketika Naomi membuka matanya dengan sempurna. Semalaman menangis nampaknya membuat mata Naomi bengkak. Tidak ada yang bisa menghentikan air mata, karena air mata adalah cara Tuhan untuk menghapus luka dalam diri manusia yang tengah terluka. Air mata adalah pertanda alam, bahwa dirinya adalah saksi bisu kepahitan dalam hidup. Air mata juga teman, bagi mereka yang telah kehilangan. Lalu untuk kebahagiaan? Tentu saja air mata menjadi sahabat terbaik pendamping tawa. Naomi menatap ke sekeliling kamarnya, kamar yang sudah dia huni hampir dua puluh dua tahun ini saat wanita itu kembali ke rumah. Satu minggu sekali, Naomi pulang ke rumah di setiap weekend untuk bertemu dengan ayahnya sekaligus melepas rindunya setelah lima hari tinggal di kos-kos’an yang lebih dekat ke kampusnya. Sebenarnya, Naomi tidak tega jika harus membiarkan sang ayah tidur sendiri di rumah tanpa teman sama sekali. Namun apalah daya Naomi, wanita itu harus menempuh pendidikan agar bisa membuat bangga ayahnya selaku orang tua satu-satunya yang dia miliki. Suara kasak-kusuk di luar kamarnya membuat Naomi bangkit dari ranjang. Tangannya membuka perlahan pintu kamarnya hingga menampilkan sosok keluarga besarnya dari pihak sang ayah. “Mbah Ji,” panggil Naomi membuat adik dari neneknya menoleh. Mbah Ji adalah Bu Lek dari sang ayah, itu artinya beliau adalah neneknya juga. “Nduk Na,” ucap Mbah Ji menghampiri Naomi. Wanita sepuh itu mengelus rambut Naomi. “Nana mau maem? Tadi Mbak Yosi masak sambal terong buat Nana. Katanya biar dimakan Nana pas bangun,” ucap Mbah Ji tersenyum lembut kepada Naomi. Hari ini dan beberapa hari ke depan mungkin rumah Naomi akan ramai, sanak keluarga masih berkumpul jadi satu di sana untuk menemani Naomi sesuai tradisi dan adat orang Jawa. Tetapi setelah itu? Rumah Naomi pasti akan sepi, hanya tinggal dirinya seorang sendiri yang tinggal di sana. Mungkin saja, Naomi tidak akan pulang ke rumah meskipun weekend ataupun musim liburan telah tiba. Siapa yang akan menyambut kepulangan Naomi? Berada di rumah sama saja dengan membuat dadanya sesak. Karena setiap penjuru rumahnya, terdapat kenangan sang ayah yang selalu menyambut Naomi dengan senyuman hangat di wajah beliau. “Naomi tidak lapar, Mbah,” jawab Naomi menyahut. “Jangan begitu, sejak semalam sampai sekarang kata Bu Lekmu kamu belum makan lo,” ucap Mbah Ji mengingatkan Naomi untuk menjaga kesehatannya. Suasana akan semakin sulit jika Naomi sampai jatuh sakit. Lagi pula, siapa nanti yang akan mengurus dirinya jika dia sampai jatuh sakit segala? Suara beberapa orang di ruang tamu rumahnya membuat Naomi menoleh. “Siapa yang datang Mbah? Teman Ayah?” tanya Naomi kepada Mbah Ji. “Bukan, keluarga yang menabrak ayahmu datang. Bu Lek Nar dan suaminya sedang berbicara dengan mereka,” jelas Mbah Ji. Mungkinkah mereka akan meminta maaf dan memberikannya uang untuk syarat perdamaian? Senyum sinis tersungging di bibir Naomi. Enak saja mereka berharap untu bisa damai dengan Naomi setelah membuat dirinya menjadi anak yatim piatu di usia dua puluh tahun. Bahkan, sampai mati Naomi tidak akan mau untuk berdamai dengan mereka. Semua perbuatan harus ada balasannya. Mbah Ji menarik Naomi untuk duduk di kursi meja makan. Wanita sepuh itu mengambilkan piring dengan nasi dan lauk pauk di atasnya. Beberapa keponakan Naomi terlihat berlarian karena menganggap perkumpulan keluarga ini seperti ajang bermain untuk mereka. “Makan dulu, urusi perutmu dari pada nanti kamu sakit,” ucap Mbah Ji. “Makasih Mbah,” jawab Naomi dengan senyuman di wajahnya. Naomi menatap makanan di depannya dengan malas, tidak ada rasa lapar yang dia rasakan. Tidak ada juga selera makan yang biasanya datang menyergapnya ketika masakan kesukaannya berada di depan matanya. Naomi benar-benar kehilangan semangat untuk hidup. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tangannya mulai menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Wanita itu menghela napasnya panjang. Kenapa rasa masakan itu begitu hambar, tidak ada rasanya sama sekali bagi dirinya. “Naomi,” panggil Bu Lek Nar membuat Naomi menoleh. Naomi meletakkan sendoknya ke piring lagi. “Iya Bu Lek? Ada apa?” tanya Naomi menatap Bu Lek Nar dengan alisnya terangkat. Bu Lek Nar menghampiri Naomi. “Habiskan dulu makananmu, di luar ada tamu,” ucap Bu Lek Nar membuat Naomi mendengus. “Keluarga yang menabrak ayah sampai meninggal Bu Lek?” tanya Naomi menatap Bu Lek Nar. Dengan lesu, Bu Lek Nar mengangguki pertanyaan dari Naomi. Permasalahan ini memang harus diselesaikan agar tidak berlarut-larut. Belum lagi, masa depan Naomi harus mereka pikirkan di atas segalanya. “Kamu makan dulu, habis itu keluar ya,” ucap Bu Lek Nar mengelus puncak kepala anak dari kakak sepupunya itu. “Naomi enggak mau keluar Bu Lek. Melihat wajah mereka membuat Naomi semakin sakit,” ucap Naomi meraih satu gelas air yang tadi sudah disiapkan Mbah Ji untuknya. “Nduk, jangan begitu. Semua permasalahan ada jalan keluarnya, ingat ayahmu. Mas Wasi pasti sedeh melihat anaknya lemah begini loh,” jawab Bu Lek Nar. Naomi mendesah, mungkin para orang tua tidak ada yang bisa mengerti perasaannya. Memang benar tidak ada yang bisa mengerti dirinya sebaik sang ayah. “Ayo kita keluar sekarang untuk menemui mereka. Naomi tidak memiliki nafsu makan sama sekali,” ucap Naomi berdiri dari kursinya. Mbah Ji menghela napasnya, wanita sepuh itu hanya bisa mendampingi Naomi ke depannya dari jauh karena Mbah Ji tinggal di Solo. Naomi melangkah, memantapkan hatinya untuk bertatap muka dengan keluarga yang telah menabrak ayahnya hingga meninggal. “Naomi,” panggil Siska dengan senyuman tulus wanita itu. Siska begitu senang Naomi mau menemui mereka setelah semua yang telah terjadi. Siska mulai menaruh hati dengan Naomi, mungkin karena dirinya tidak memiliki seorang putri. Belum lagi, wajah Naomi yang begitu ayu dengan bulu mata lentik menghiasi sorot matanya yang teduh. Di sana ada suami dari Bu Lek Nar, Imam Rewangga, Siska, Devan, dan pengacara keluarga mereka yang akan menjembatani mediasi di antara kedua belah pihak serta mencari win-win solution untuk keduanya. “Naomi, bagaimana keadaanmu? Sudah mendingan?” tanya Siska memberanikan diri meraih tangan Naomi namun wanita itu tepis sedetik kemudian. Naomi tidak bereaksi apapun, wajahnya masih datar tanpa mengeluarkan ekspresi lainnya. Hanya matanya saja yang kini nampak bengkak karena terlalu lama menangis. “Naomi ini sedang menempuh skripsi, dia mau lulus sebentar lagi ya Nduk,” ucap suami dari Bu Lek Nar mengelus puncak kepala Naomi. “Oh ya? Naomi jurusan apa?” tanya Siska nampak antusias membicarakan tentang Naomi. “Dia mengambil jurusan Pendidikan Pancasila Dan Ilmu Kewarganegaraan, Bu Siska,” jawab Bu Lek Nar mewakili Naomi menjawab pertanyaan dari Siska. Imam memberikan kode kepada pengacaranya untuk memulai mediasi atas masalah yang disebabkan oleh putranya. “Monggo Mbah, duduk sini,” ucap Imam Rewangga mempersilahkan Mbah Ji yang baru saja bergabung dengan mereka untuk duduk. Mereka duduk dengan beralaskan tikar, kursi di ruang tamu rumah Naomi dikeluarkan untuk acara tahlilan sampai malam ke-tujuh kematian Pak Wasiono. “Mbah, panjenengan yang jadi sesepuh di sini untuk menengahi kami yang masih muda.” Imam Rewangga berseloroh dan melanjutkan kalimatnya. “Kami dari pihak Devan putra kami ngaturaken pangapunten sebesar-besarnya kepada Sinduk Naomi dan keluarga besar. Sungguh, kecelakaan yang terjadi bukan keinginan dari kami,” lanjut Imam Rewangga. “Jadi kedatangan kami ke mari, ingin menjalin silahturahmi yang baik dengan pihak keluarga Pak Wasiono. Alangkah baiknya jika permasalahan ini selesai dalam lingkup kekeluargaan saja,” ucap pengacara keluarga Devan sebagai juru bicara. Pengacara itu mengeluarkan surat perjanjian damai dengan berisi klausa-klausa win-win solution untuk kedua belah pihak. “Boleh saya bacakan isi klausa kontraknya?” tanya pengacara keluarga Devan kepada semua pihak keluarga. Mereka mengangguk, tentu saja kecuali Naomi. “Jadi dalam kontrak ini, pihak Devan Rewangga akan menanggung beban peringatan kematian dari Pak Wasiono hingga 1000 harinya. Dan di sini tertera besaran uang bela sungkawa yang Insyaallah cukup untuk memenuhi kebutuhan Dek Naomi kedepannya.” Naomi mendongakkan matanya, tepat saat itu tatapan Devan juga terarah ke arah dirinya. Mereka berdua menatap satu sama lainnya. “Oh ya, kami akan membiayai semua biaya kuliah Naomi sampai lulus. Dan kami juga akan  memberikan Naomi uang saku dan membayar uang kosnya. Bisa dikatakan kami siap memikul tanggung jawab atas diri Naomi sebagai bentuk pertanggung jawaban kami.” Ucapan Devan membuat orang tua dan pengacaranya menoleh. Apa yang Devan ucapkan di luar dari klausa kontrak tentu saja membuat mereka semua tercengang dengan ucapannya. “Tolong ditambahkan dalam klausa kontrak, Pak,” ucap Devan kepada pengacaranya. Senyuman sinis tersungging di bibir Naomi. Apakah mereka kira nyawa bisa mereka tukar dengan uang. “Kalian, segera bangun dari mimpi!” desis Naomi, menarik kertas perjanjian itu dan merobeknya dengan kasar. ----------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD