43. Kesalahan Kedua 43

1681 Words
“Kenapa mendadak sekali? Aku belum terlalu mengenalmu, dan sepertinya hubungan kalian juga belum lama, iya kan?” tanya Angga mencoba mengorek pengakuan dari Alvin. “E-em sebenarnya dulu kami pernah berhubungan, Mas. Tapi karena sesuatu hal akhirnya hubungan kami berakhir. Kini kami nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, untuk itu kami memutuskan untuk segera menikah.” Jelas Alvin dengan sangat hati-hati. Angga kembali terperangah, jadi selama ini Alena menyembunyikan hubungannya dengan Alvin sampai ia tidak tahu apa-apa. Sungguh ia merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik, bagaimana mungkin ia bisa tidak mengetahui, kalau selama ini adiknya itu telah menjalin hubungan dengan Alvin. Angga menatap Alena dengan tatapan menyelidik, sementara Alena mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia takut menatap sorot mata kakaknya yang tajam itu. “Jadi selama ini kamu nyembunyiin hubunganmu dengan Alvin, Al?” “I-Iya, Mas.” Jawab Alena seraya menundukkan kepalanya. Merasa bersalah. “Kenapa?” tanya Angga kemudian. “Ya nggak apa-apa, Mas. Emang sengaja biar Mas Angga nggak tau. Soalnya kalau Mas Angga tau pasti kepo. Tanyanya udah kayak satpam kompleks, capek jawabnya.” Jawab Alena asal, tapi ia tetep tidak berani menatap mata kakaknya itu. “Tapi lain kali jangan gitu, kalau kayak gini Mas jadi kayak kambing congek yang nggak tau apa-apa.” Ujar Angga dengan ketus. “I-Iya maap, Mas.” sahut Alena. Sementara Alvin cuma bisa melihat interaksi mereka berdua yang saling berdebat dan tampak tidak akur, padahal sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja terkadang gengsi Angga sebagai seorang kakak lebih besar, ia malu mengakui kalau sebenarnya ia sangat perhatian dan sayang pada adiknya itu. Alvin mau mengatakan sesuatu pada Angga tapi sebelum itu, ia menoleh ke arah Alena, seakan meminta persetujuan gadis itu. Alena mengangguk memberi persetujuan agar Alvin menyampaikan apa yang menjadi tujuan utama mereka bertemu dengan Angga. “Mas, sebenarnya kedatanganku kesini bukan hanya untuk menyampaikan keinginanku menikah dengan Alena, tapi ada hal lain yang mau aku sampein.” Kata Alvin dengan ragu-ragu. Angga mengernyitkan dahinya, penasaran apa yang akan disampaikan oleh Alvin padanya. “Apa itu, katakan saja!” Ujar Angga semakin penasaran. “Em, Sebenarnya kami berdua mau minta restu dari Mas Angga buat nikah siri.” “Apa??? kenapa harus nikah siri? Kenapa nggak langsung nikah seperti umumnya?” “Em, aku udah punya istri, Mas.” “APA KAMU BILANG ...?! Angga seketika bangun dari tempat duduknya. Bugghhh ..., Pukulan keras dilayangkan ke wajah Alvin saat itu juga. Alvin yang menerima pukulan Angga secara tiba-tiba, membuat dirinya jatuh tersungkur di atas tanah, kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah. Beberapa pengunjung rumah makan di sana berusaha melerai, sedangkan Alena membantu Alvin untuk bangun dari atas lantai, berusaha melindungi laki-laki itu dari serangan kakaknya yang secara tiba-tiba. “Mas, dengerin penjelasan Alvin dulu. Jangan langsung emosi gitu!” Teriak Alena untuk menghentikan perbuatan Angga, agar tidak semakin menjadi-jadi. Emosi Angga benar-benar tak terkendali saat itu. Angga termasuk orang yang bisa menahan emosinya, tapi kalau menyangkut tentang adiknya, ia benar-benar tak dapat menahan emosinya. Apalagi saat ini, ia mendengar kalau adiknya akan dinikahi oleh seorang laki-laki yang sudah beristri. Selain itu bukan menikah secara sah tapi nikah siri. Angga berpikir Alvin pasti cuma ingin mempermainkan adiknya saja. Ia sangat tidak terima, adiknya yang selama ini ia jaga dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan kasih sayang, akan begitu saja ia lepaskan untuk laki-laki b******k seperti Alvin? tidak ia tidak rela. Tidak akan semudah itu ia memberikan restu pada Alvin. Meskipun ia merangkak dan memohon di kakinya pun, Angga tidak akan rela melepaskan adiknya untuk Alvin. Setelah emosi Angga agak mereda, ia kembali duduk dan minum air mineral yang ada di mejanya, dan para pengunjung pun mulai tenang kembali. Sementara sekarang Alvin dan Alena kembali duduk di kursinya masing-masing. Angga menghembuskan nafas panjang, ia berusaha sekuat tenaga untuk meredam emosinya yang menjadi-jadi. “Mas tolong dengerin penjelasan Alvin dulu!” pinta Alena setengah memohon. “Mas, aku punya alasan kenapa aku mau nikahin Alena padahal aku masih punya istri.” “Apa alasanmu? paling tujuanmu cuma mau mainin Alena saja kan?” tanya Angga dengan ketus. “Kalau memang tujuanku cuma buat mainin Alena aja, kenapa aku mau nikahin dia. Kalau aku cuma mau mainin Alena, aku nggak akan ada di depan Mas Angga sekrang ini. Mas ngerti maksudku kan?” ujar Alvin. Sedangkan Angga tiba-tiba terdiam, mungkin ia memikirkan kata-kata laki-laki di depannya itu. “Mas tolong kasih aku waktu, buat mengurus perceraianku dengan istriku, tapi sebelumnya tolong ijinkan aku untuk menikahi Alena, karena aku nggak mau kehilangan dia. Alena adalah segalanya buatku, Mas.” Mohon Alvin pada Angga yang waktu itu, ia tak mau sedikitpun menatap wajah Alvin, karena takut tak bisa menahan emosinya. “Aku tau aku salah, Mas. Ini bukan perbuatan yang benar, tapi untuk sekarang aku nggak ada cara lain. Tolong ijinkan aku untuk membuktikan kepada Mas Angga kalau aku adalah laki-laki yang bisa di percaya dan bisa diandalkan. Tenang aja, aku akan berusaha untuk menjaga Alena, seperti Mas menjaganya selama ini.” Kata Alvin dengan penuh keyakinan dan keseriusan. “Mas tolonglah, ijinin aku nikah sama Alvin ya. Selama ini aku nggak pernah meminta apa-apa sama Mas Angga, tapi tolong kali ini saja kabulkan permohonannku. Aku nggak bisa hidup tanpa Alvin, Mas.” Mohon Alena dengan wajah memelas. Air matanya sudah tidak dapat dibendungnya lagi, dengan sedikit terisak, Alena memohon kepada Angga agar diijinkan menikah dengan Alvin. Selama ini memang benar, Alena tidak pernah meminta apa-apa dari Angga, dan sekalipun dia tidak pernah melihat adiknya itu menangis dihadapannya. Jadi ketika sekarang ia melihat adiknya menangis, ia merasa tidak tega. “Ya udah, kamu minta ijin dulu sama ibu dan Bapak, kalau beliau mengijinkan, aku akan biarkan kalian menikah.” Jawab Angga singkat, sembari bangun dari kursinya dan meninggalkan mereka berdua yang masih dalam keadaan terkejut. Mereka berdua merasa terkejut sekaligus lega, karena Angga secara tidak langsung sudah memberikan lampu hijau pada hubungan mereka berdua. Sekarang mereka tinggal meminta restu dari kedua orang tua Alena. Rencananya saat weekend besok mereka berdua akan pulang ke kampung halaman Alena yang berada di daerah kediri, jawa timur. **** Hari weekend pun telah tiba, pagi ini rencananya Alvin dan Alena akan menuju ke kota kelahiran Alena, untuk meminta restu dari kedua orang tuanya. Alvin sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Ia bahkan sudah siap jika sampai orang tua Alena marah dan memukulnya seperti apa yang dilakukan oleh Angga pada dirinya. Yang terpenting dari semua itu adalah ia bisa memiliki Alena seutuhnya dan bisa hidup dengan Alena selamanya. Rencananya kalau kemalaman Alena akan menginap di rumahnya, tapi sepertinya Alvin tidak setuju, ia ingin pulang setelah urusannya dengan orang tua Alena selesai. Alvin tidak ingin menjadi bahan gunjingan tetangga Alena, makanya setelah urusan selesai ia usahakan untuk langsung pulang ke surabaya. Setelah menempuh waktu kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai juga di kota kediri. Alvin mengemudikan mobilnya semakin lambat, semakin dekat dengan tempat tujuannya jantungnya semakin berdetak kencang. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah rumah besar dengan bangunan seperti rumah lama tapi halamnnya terlihat luas dan bersih. Di sekeliling rumah itu terdapat pagar berwarna hitam yang tidak seberapa tinggi. Di depan rumah terdapat tanaman-tanaman hias yang sangat indah. Alvin memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah, tapi Alena menyuruhnya untuk di bawa masuk ke dalam halaman rumah. Setelah memarkirkan kendaraan , mereka turun bersama-sama. Entah kenapa jantung Alvin, terus berdetak kencang. Saat mereka berdua menuju ke dalam rumah, keluarlah dua orang laki-laki dan wanita setengah baya yang penampilannya sangat sederhana. Wajah wanita itu hampir mempunyai kemiripan 99% dengan wajah Alena. Alvin menyimpulkan kalau mereka berdua adalah orang tua Alena. “Al, kamu datang, Nak. Ibu kangen. Kamu sehat-sehat saja kan, nak?” tanya ibunya sembari memeluk Alena dengan erat. Sedangkan Alena hanya menganggukkan kepalanya untuk membalas pertanyaan sang ibu. Air mata haru tiba-tiba menetes di pipi Alena. Sudah beberapa bulan ini ia tidak mengunjungi orang tuanya. Rasa kangen mulai menyelimuti hatinya. Alvin merasa haru melihat momen kedekatan ibu dan anak tersebut. Ia menghampiri kedua orang tua Alena dan menjabat tangan mereka, kemudian mencium tangannya. Wajah mereka kelihatan sangat terkejut melihat Alena datang dengan Alvin. Kemarin saat Alena telepon orang taunya untuk memberitahukan kabar kepulangannya, ia tidak berterus terang jika ia akan mengajak Alvin ke sana. Ia hanya bilang pulang dengan seorang teman tapi tidak bilang kalau temennya adalah seorang laki-laki. “Ayo masuk dulu, Nak.” Ajak Ayah Alena pada mereka berdua. Meraka pun masuk ke dalam rumah, Alvin dipersilahkan duduk di ruang tamu, sedangkan Alena dan ibunya masuk ke dalam ruang tengah. Ibunya menuju ke dapur untuk membuatkan dua cangkir kopi kesukaan Ayahnya Alena dan satu lagi untuk Alvin. Alena menghampiri ibunya dan memeluknya dari belakang, ada perasaan rindu yang dirasakan oleh Alena pada wanita setengah baya itu. “Lapo kowe gak ngomong, lek arep ngajak pacarmu dolan mrene, Al. Ngerti ngunu kan ibuk iso siap-siap sek.” Tanya ibunya dengan menggunakan bahasa jawa yang kental khas daerahnya. Ibunya tersenyum menggoda Alena. “Ah, ibu bisa ae....” jawab Alena dengan malu-malu. Wajahnya tiba-tiba memerah. “Ganteng yo cah kuwi, Al. Jenenge sopo?”tanya ibunya lagi. “Namae Alvin. Bu.” Jawab Alena. “Wonge ganteng, jenenge apik, mugo-mugo wonge yo apik pisan.” Ujar ibunya sembari tersenyum. “Amin, Bu.” Setelah percakapan singkat itu, ibunya mengajak Alena kembali ke ruang tamu untuk mengantarkan kopi dan mengobrol. Tampaknya Alvin sudah memperkenalkan diri pada Ayah Alena, dan mereka berdua mengobrol dengan kelihatan akrab sekali. “Ini loh Bu, namanya Nak Alvin. Dia ternyata teman kerjanya Alena.” Jelas ayah Alena kepada ibunya. Sedangkan ibunya hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Oh ya, Al. Bagaimana kabar Masmu. Itu anak terakhir telepon Bapak tiga hari yang lalu, setelah itu nggak telepon sama sekali. Kok aneh ya padahal biasanya hampir setiap hari dia telepon. Dia nggak apa-apa kan, Al?" Degh ..., Bukankah tiga hari yang lalu adalah hari dimana kejadian itu terjadi, kejadian di rumah makan itu. Hal yang sama pun di alami oleh Alena, tiga hari juga ia tidak chat atau telepon dengan kakaknya itu. Ada apakah dengan Angga sebenarnya? Alena juga tidak bisa menjawabnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD