45. Kesalahan Kedua 45

1805 Words
Keesokan harinya, pintu kamar Alena di ketuk dari luar. Dengan setengah mengantuk, Alena beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu. Setelah di buka, ia melihat Vania sudah berdiri di balik pintu dengan wajah yang agak kesal. Alena menyuruh Vania masuk, dan bertanya kenapa pagi-pagi sekali ia sudah datang ke kamarnya. “Apa’an sih, Van? Ini masih jam lima pagi loh. Aku masih ngantuk banget tauk ....” Ujar Alena seraya merebahkan tubuhnya di ranjang. Vania duduk di tepi ranjang Alena dan melihat ke arah sahabat nya itu. “Aku mau nanya sama kamu?” tanya Vania dengan wajah serius. “Nanya nanti aja bisa kan, Van?” sahut Alena seraya menutup wajanya denagn bantal. “Nggak bisa, harus sekarang juga.” “Apa sih, Al?” tanya Alena dengan membuang bantal yang menutupi wajahnya. “Kamu balikan lagi sama Alvin?” “Kata siapa kamu?” Alena balik tanya. “Dah nggak usah bohong, aku tau dari Mas Angga, jadi kamu udah nggak bisa ngelak lagi.” “Iya, Van. Aku balikan lagi sama Alvin, karena aku masih sayang sama dia.” Jawab Alena dengan enteng. “Kamu emang bodoh, apa kamu udah lupa beberapa bulan yang lalu saat kamu sedih ditinggal dia nikah, saat kamu terpuruk nangis terus dalam kamar. Semua itu udah kamu lupain begitu aja hanya karena kamu masih sayang sama dia. Sayang boleh tapi jangan lupa pakai logika! Lagian dia itu udah punya istri. Jangan ngrendahin dirimu sendiri dengan menjalin hubungan dengan suami orang. Kalau aku jadi kamu aku nggak bakalan balikan sama dia, lebih baik aku sama Ervin orang yang udah benar-benar jelas sayang tulus sama kamu.” Jelas Vania dengan panjang lebar mencoba menyadarkan sahabatnya itu agar bisa berpikir jernih dan meninggalkan Alvin, sebelum terlambat. “Udah, Van. Kali ini tolong. Kamu jangan ikut campur dengan urusanku. Biarkan aku yang memilih jalan hidupku sendiri!” teriak Alena dengan tegas. Ia sudah benar-benar membuat keputusan bulat dan tidak akan tergoyahkan oleh siapapun. “Oke, tapi awas aja kalau suatu saat kamu terluka lagi karena Alvin, aku nggak bakal perduli!” Kata Alena sembari bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Alena. Vania tampak sangat kesal, karena Alena sudah tidak mau mendengarkan sarannya dan tetap pada pendiriannya. Ia tampaknya sudah tidak mau lagi mencampuri urusan Alena. Sementara Alena kelihatan masa bodo dengan kemarahan sahabatnya itu, pikirannya saat ini hanya mencari cara agar Alvin dapat di terima oleh keluarganya sehingga ia dapat menikah dengan Alvin secepatnya. Cinta ternyata sudah benar-benar membutakan mata dan hatinya. **** Hari demi hari berganti, tak terasa waktu telah berlalu. Setelah kepulangan mereka berdua dari kampung halaman, untuk bertemu dengan kedua orang tua Alena, sekarang Angga begitu ketat mengawasi adiknya. Hampir setiap malam ia mampir ke kostan Alena, hanya sekedar memastikan adiknya itu berada di rumah. Untuk bertemu, tiap malam mereka berdua terpaksa harus sembunyi-sembunyi, menunggu kakaknya itu pulang ke rumah dulu, baru mereka keluar. Lama kelamaan Alvin capek dengan situasi itu, hingga pada akhirnya Alvin memutuskan untuk pergi ke kota kediri untuk membujuk orang tua Alena, tanpa Alena tahu. Ia sengaja mengambil cuti kantor selama 3 hari untuk tinggal di dekat rumah Alena, demi membujuk kedua orang tuanya. Ia mengatakan pada Alena ada pekerjaan di luar kota yang harus diselesaikan dan hal yang sama juga dikatakan pada Sovia. Malam ini setelah pulang kerja, Alvin berangkat ke kota kediri. Sebelum berangkat ia sudah mencari info penginapan yang akan ia tempati di sana. Semua sudah di persiapkan dari surabaya. Sehingga saat tiba di sana, ia hanya tinggal menempatinya saja. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan dari surabaya, akhirnya ia sampai juga di sebuah penginapan, yang letaknya tidak seberapa jauh dari rumah orang tua Alena. Rumah penginapan itu memang tidak terlalu besar, tapi sudah cukup nyaman untuk ia tinggali selama 3 hari di sana. Ia memasukkan semua barang bawannya di dalam kamar. Setelah itu ia membersihkan tubuhnya, mengganti baju kemudian beristirahat karena besok pagi adalah misi pertamanya untuk datang ke rumah orang tua Alena. Keesokan harinya, Alvin bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Alena. Hari ini ia memakai kemeja putih dengan bawahan celana jeans, membuat penampilannya kali ini terlihat sangat bersih dan rapi. Setelah siap ia segera mengendarai mobilnya dan menuju ke tempat tujuan. Beberapa menit berkendara, akhirnya ia sampai juga di depan rumah orang tua Alena. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah itu. Ia mengetuk pintu gerbang rumah itu, tapi tak ada satupun yang keluar. Beberapa kali ia ketuk akhirnya ada Bu Dewi yang keluar rumah dengan membawa sapu di tangannya. Awalnya Bu Dewi tidak mengenali Alvin, tapi saat ia memperkenalkan dirinya, Bu Dewi baru sadar kalau ia adalah Alvin. Meskipun Bu dewi tidak menyukai Alvin, tapi beliau tetap bersikap baik dan mempersilahkan Alvin untuk masuk ke rumah. Alvin duduk di depan teras rumah, sementara itu Bu Dewi memanggil Pak Pramono untuk menemui Alvin. Setelah bertemu dengan Pak Promono, Alvin kembali mencoba untuk merayu mereka berdua agar mau menyetujui pernikahan itu, tapi ternyata gagal dan mereka tetap tidak menyetujuinya. Alvin pulang dengan perasan kecewa, tapi tekadnya sudah bulat. Ia pantang menyerah. Ia kembali menyusun rencana untuk hari kedua. Pada hari yang kedua, tanpa rasa menyerah ia kembali datang ke rumah orang tua Alena. Pada hari ini Pak Pramono bertanya pada Alvin, ia sekarang tinggal di mana, kenapa bisa tiap hari ia datang ke rumah mereka. Alvin menjelaskan kalau ia untuk sementara tinggal di kota kediri karena ada sedikit pekerjaan, jadi sekalian ia mampir ke sana setiap hari. Di hari kedua ini pun Alvin kembali gagal untuk membujuk orang tua Alena. Akhirnya ia kembali ke penginapannya. Ia hampir menyerah saat mengingat kata-kata Pak Pramono yang mengatakan bahwa sampai kapanpun juga, mereka tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu, karena Alena berhak mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki lain yang lebih baik dari Alvin. Mendengar kata-kata itu hati Alvin serasa tersayat-sayat, seburuk itukah dirinya di mata kedua orang tua Alena? padahal ia memang benar-benar tulus mencintai Alena. Saat ia berpikir untuk menyerah, tiba-tiba ia teringat bayangan wajah Alena. Ia menarik nafas dalam, bayangan wajah Alena seakan memberikannya sebuah semangat baru, agar dirinya kembali berjuang untuk memperjuangkan hubungan mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan perjuangannya dengan datang kembali ke rumah orang tua Alena, besok paginya. Hari ini adalah hari ketiga ia datang ke rumah Alena. Entah kenapa cuaca hari ini mendung dan sepertinya langit akan menurunkan hujan yang begitu derasnya. Alvin kebingungan apakah ia akan berangkat atau tidak, tapi akhirnya ia memaksakan diri untuk datang. Saat akan berangkat ia baru sadar kalau ban mobilnya bocor dan terpaksa harus dibawa ke bengkel. Ia akan mengurungkan niatnya untuk pergi, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ia sudah terlanjur ganti baju dan sudah ada niat, jadi ia lanjutkan untuk berangkat. Ia terpaksa harus naik ojek online untuk menuju ke rumah itu. Ia memilih naik ojek motor agar cepat sampai karena ia pikir jarak penginapannya dan rumah orang tua Alena, tidak seberapa jauh. Setelah sampai di depan rumah itu, hujan tiba-tiba turun dengan begitu lebatnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu pagar rumah tapi tak ada yang keluar sama sekali. Mungkin karena hujan yang terlalu deras menyebabkan suara ketukan pagar tidak terdengar oleh pemilik rumah. Ia bingung harus berteduh di mana. Dilihat keadaan disekelilingnya saat itu sangat sepi, tak ada satu pun orang yang keluar rumah, selain beberapa mobil di jalan yang lalu lalang. Sudah kepalang basah, ia terus saja berdiri dan mengetuk pintu pagar rumah itu. Sampai pada akhirnya Bu Dewi keluar dan membukakan pintu pagar. Wanita itu terkejut melihat Alvin yang sudah basah kuyup karena guyuran air hujan. Merasa kasihan dengan keadaan Alvin akhirnya Bu Dewi menyuruh Alvin masuk dengan memayungi laki-laki itu. Keadaan Alvin memang sungguh memprihatinkan, tubuhnya basah kuyup. Bibirnya terlihat membiru dan badannya gemetaran karena menahan dingin yang teramat sangat. Bu Dewi masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian Ibu Alvin keluar dengan membawa sebuah handuk, baju dan segelas teh manis panas. Bu Dewi menyuruh Alvin untuk mengganti bajunya dengan baju yang dibawanya, dan ternyata baju itu adalah baju Pak Pramono. Baju itu kelihatan kebesaran saat dipakainya, tapi ia harus tetap memakainya agar tidak masuk angin. Beberapa saat kemudian Pak Pramono keluar dari rumah menemuinya. “Kenapa kamu bisa kehujanan?” tanya Pak Pramono keheranan. “Saya tidak bawa mobil Pak, mobil saya masuk bengkel.” “Sudah tau begitu kenapa kamu masih tetap memaksa datang kesini? Lagian, meskipun setiap hari kamu datang, keputusan kami juga tetap sama.” “Tidak apa-apa Pak, saya tidak akan memaksa Bapak untuk merubah keputusan Bapak. Saya hanya ingin menunjukkan pada Bapak, kalau niat saya untuk menikahi Alena seius dan tidak main-main.” “Kami juga akan tetap bertahan dengan keputusan kami, tidak akan menyetujuinya. Anak kami pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari kamu.” Alvin tertunduk, membujuk mereka berdua memang tidak akan ada gunanya toh mereka tetap pada keputusannya semula. “Baik Pak, kalau itu memang sudah menjadi keputusan Bapak dan ibu, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi,  selain mematuhinya. Maafkan kalau sudah tiga hari ini, saya mengganggu ketenangan Bapak dan Ibu. Saya permisi dulu.” Jawab Alvin. Laki-laki itu sepertinya sudah pasrah pada keadaan, ia berpamitan dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah malam harinya, mendadak badan Alvin menggigil, ia kedinginan. Mungkin karena efek kehujanan membuat badannya tidak seperti biasanya. Awalnya malam itu ia akan balik ke surabaya, karena kondisinya tidak memungkinkan akhirnya ia menginaop lagi untuk semalam. Sementara itu di rumah orang tua Alena, Pak Pramono dan Ibu Dewi sedang mengobrol di ruang teras depan rumah. Bu Dewi menyampaikan pendapatnya tentang Alvin pada suaminya itu. “Pak, bukankah kita sudah keterlaluan dengan membiarkan ia pergi dari rumah saat hujan deras seperti itu.” “Biarin saja Bu, dia sendiri yang menginginkannya. Lagian apapun yang terjadi keputusanku tetap bulat dan tidak bisa diganggu gugat.” Ucap Pak Pramono dnegan tegas. Bu Dewi teringat saat Alvin datang tadi dalam keadaan yang sangat memperihatinkan. Bajunya basah kuyup, ia terlihat kedinginan sampai bibirnya berubah membiru. Bu Dewi merasa tidak tega dengan keadaan Alvin yang seperti itu. Namun beda lagi dengan Pak Promono, ia menganggap itu adalah suatu hal yang biasa saja. **** Alvin menggigil di balik selimutnya, badannya demam dan ia lupa tidak ada persediaan obat sama sekali di dalam tasnya. Mau keluar dari rumah juga ia tidak sanggup untuk bangun, karena badannya mendadak menjadi lemas. Di dalam keputusasaannya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia meraih ponselnya di atas nakas dan mengangkat telepon itu, yang ternyata adalah telepon dari Alena sang pujaan hatinya. “Hallo, Vin kamu lagi di mana?” terdengar suara Alena dari seberang sana. “Aku ada di penginapan, Al. Lagi istirahat.” “Kamu jangan bohong lagi, Vin.” Suara Alena terdengar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alvin. “Maksudmu apa, Al?” “Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sekarang lagi ada di kediri? kamu abis dari rumahku juga kan beberapa hari ini?” tanya Alena dengan nada marah. Degh ...,  'Darimana ia bisa tahu?' batin Alvin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD