Sore hari setelah pulang kerja, Alena mengajak Vania kerumah kontrakan Angga. Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini Angga jarang menghubungi adiknya. Oleh sebab itu Alena akan ke sana, untuk memastikan keadaan kakaknya itu baik-baik saja. Sebelum berangkat ia sudah meminta ijin pada Alvin, agar kejadian salah paham kapan hari tidak terulang lagi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah kontrakan Angga. Dari luar rumah keliatan sepi. Pagar depan rumah terkunci rapat, dan motor Angga juga ada di tempat, itu tandanya ia berada di dalam rumah. Alena semakin penasaran ada apa sebenarnya dengan kakaknya itu. Ia mengambil HP di saku celananya dan mencoba menelepon nomer Angga. Berkali-kali ia mencoba menelpon Angga, tapi tidak kunjung ada jawaban di seberang sana. Alena semakin khawatir, ia bingung gimana caranya untuk masuk ke dalam rumah itu. Vania yang melihat ekspresi wajah sahabatnya itu ikut kebingungan.
“Aduh gimana ini Van, kita nggak bisa masuk ke dalam. Aku takut Mas Angga kenapa-napa.” Kata Alena dengan wajah penuh ke khawatiran.
“Iya nih, mana keliatan sepi lagi di dalam. Emang biasanya nggak pernah gini kah?”
“Nggak pernah Van, biasanya kan aku bawa kunci sendiri.”
“Berarti sekarang kamu bawa kunci sendiri dong?” tanya Vania sembari menatap wajah sahabatnya itu.
“Astaga, kenapa aku bisa sebodoh ini. Kuncinya kan masih belum tak balikin ke Mas Angga. Tunggu aku cari dulu di dalam tas.” Kata Alena sambil merogoh dalam isi tasnya.
“Kamu terlalu panik sih, malah jadi bodoh deh.”
“Iya udah terserah apa kata kamu lah, yang penting aku nyari kuncinya dulu.” Kata Alena sembari mengeluarkan semua isi tasnya, mencari-cari dimana gerangan sang kunci sembunyi.
“Ada nggak? lama amat nyarinya.” Tanya Vania yang mulai tidak sabar.
“Akhirnya … Ketemu juga.” Kata Alena dengan wajah sumringah, karena ia sudah menemukan kunci rumahnya yang sudah di carinya dari tadi. Ia kembali memasukkan semua isi tas yang sudah dikeluarkannya, kemudian bergegas membuka gembok pagar rumah. Setelah pintu pagar terbuka mereka masuk ke dalam rumah dan anehnya tidak dikunci. Rumah dalam keadaan sepi, Alena memanggil-manggil nama Angga tapi tidak ada sahutan. Mereka berdua saling berpandangan. Tanpa berpikir panjang Alena langsung menuju ke kamar Angga, tapi ternyata pintunya di kunci. Pintu kamar di ketuk-ketuk dengan keras sampai berkali-kali akan tetapi sang penghuni kamar belum keluar juga. Vania menyarankan agar memanggil satpam atau tetangga untuk membantu mendobrak pintu kamar takutnya terjadi apa-apa di dalam. Kali ini Alena mengikuti saran Vania dan akan bergegas keluar rumah, akan tetapi belum sempat ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu rumah, kamar Angga tiba-tiba terbuka. Terlihat Angga keluar dengan penampilannya yang kusut dan mukanya yang pucat. Ia hanya mengenakan kaos dalam dan celana boxer pendek sedangkan di kedua telinganya terpasang sebuah handsfree. Angga terkejut melihat kedatangan mereka berdua. Sejenak ia berdiri mematung di depan pintu kamar. Alena yang tahu kelakuan kakaknya itu cuma bisa tertawa cekikian sedangkan Vania langsung menutup matanya dengan kedua tangannya. Angga mulai menyadari kebodohannya dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Menutup pintu rapat-rapat dan segera mengganti celana boxer dan kaos dalamnya. Dalam hati berkali-kali ia merutuki kebodohannya, bagaimana bisa ia seceroboh itu tidak mengunci pintu rumah, sampai mereka berdua bisa masuk ke dalam dan melihat penampilannya yang memalukan seperti itu. Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar dan sudah berpakaian yang sepantasnya.
“Al, kamu datang kok nggak telepon Mas dulu, tumbenan?” tegur Angga pada Alena yang sudah duduk di sofa ruang tamu dan sebelahnya sudah ada Vania.
“Nggak telepon gimana? coba cek HP Mas Angga ada berapa panggilan tak terjawab di sana!” sahut Alena sebal.
“Oh, ya?” tanya Angga sembari merogoh saku celananya, mengambil benda pipih itu dan kemudian membukanya. Ia mengecek Hpnya memang ada beberapa panggilan tak terjawab dan itu semua adalah nomer Alena.
“Emangnya Mas ngapain aja? sampai nggak tau kalau aku telepon berkali-kali?” sewot Alena.
“Aku ketiduran Al, jadi nggak denger kamu telepon, maapin aku ya adikku sayang.” Goda Angga sembari mengacak-acak rambut adiknya itu. Mata Angga kelihatan sayu dan wajahnya terlihat lesu kurang bersemangat, tidak seperti biasanya.
“Tapi Mas Angga nggak apa-apa kan?” selidik Alena melihat wajah kakaknya itu.
“Sebenernya, dari 3 hari yang lalu, Mas, sakit Al.” Jawab Angga dengan terunduk lesu.
“Loh kok nggak bilang sama aku? udah ke dokter belum?” tanya Alena dengan wajah terkejut.
“Mas, nggak mau ngerepotin kamu, makanya Mas, nggak kasih tau kamu. Sekarang udah agak mendingan kok, kemarin udah ke dokter juga!” jawab Angga dengan nada lesu.
“Astaga Mas, aku ini adikmu loh. Udah semestinya kita sesama saudara saling membantu. Lain kali jangan kayak gitu lagi, Mas.” Sahut Alena gemas melihat kakaknya yang sok tidak butuh orang seperti itu. Padahal Angga kelihatan masih kurang sehat tapi terlihat dipaksakan baik-baik saja, karena ia tidak mau melihat Alena khawatir. Sedangkan Vania dari tadi hanya diam saja melihat mereka berdua berdebat.
“Sekarang mendingan Mas Angga istirahat dulu di kamar. Kalau butuh apa-apa biar aku yang siapin!”
“Mas ini laki-laki, Al. Anak laki-laki nggak boleh manja, Mas bisa merawat diri sendiri.”
“Tuh kan sok-sok an nggak butuh orang. Kamu ini sakit, Mas, butuh banyak istirahat. Aku nginep di sini aja malam ini, kayaknya di dalam lemari kamarku masih ada sisa baju kerja yang belum aku bawa ke kostan.” Omel Alena, menegaskan kalau kali ini kata-katanya tidak bisa dibantah lagi.
“Ya Al, mending kamu tidur di sini dulu temenin Masmu! takut ntar terjadi apa-apa kalau nggak ada yang nemenin.” Kata Vania dengan wajah khawatir.
“Tuh kan Mas, kamu di khawatirin sama Vania loh. Cie ... Cie ...” goda Alena sembari menatap ke arah Vania.
“Apa’an sih, Al!” Wajah Vania langsung memerah dan menjadi salah tingkah. Sedangkan Angga hanya tersenyum saja mendengar ocehan Alena.
“Vania mau tidur di sini juga? Ini udah malam loh, anak cewek nggak boleh pulang sendiri malam-malam!” kata Angga pada Vania, dengan wajah yang terlihat khawatir.
“Eum ... Tapi aku nggak bawa baju Mas.” Jawabnya malu-malu.
“Udah tidur sini aja, udah malam juga. Kayaknya di lemari masih ada baju, ukuranmu hampir sama denganku kan?”
“Iya udah deh aku tidur sini.” jawab Vania dengan pasrah.
“Nah gitu dong!” kata Alena dengan gembira.
“Ya udah sekarang kalian istirahat dulu, Mas juga mau balik lagi ke kamar abis ini!” kata Angga berpamitan pada keduanya.
“Oke, Mas. Istirahat loh ya, jangan mainan Hp mulu!” kata Alena sembari menggandeng Vania menuju ke kamarnya. Keduanya berlalu dari hadapan Alvin. Sementara Alvin menatap mereka berdua dari arah belakang dan entah kenapa ia malah fokus melihat sosok Vania. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di kedua sudut bibirnya.
Hari telah berganti menjadi malam. Sinar rembulan memancarkan cahayanya, menerangi gelapnya suasana pada malam itu. Di dalam kamar, Vania merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar. Pandangannya menerawang jauh. Sesekali ia melihat ke sebelahnya ada Alena yang sudah terlelap di alam mimpinya. Ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Diliriknya jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Ia bangkit dari tempat tidurnya, bergegas keluar kamar kemudian duduk di sofa ruang tamu. Ia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di atas sofa dan merangkulnya dengan tangan. Dinginnya malam mulai masuk ke dalam ruangan melalui celah-celah ventilasi udara. Ia merasakan bulu kudunya meremang, karena hawa dingin mulai merasuk ke dalam tubuhnya. Saat ia tenggelam dalam lamunannya, suara decitan pintu dari arah kamar Angga membuatnya terkejut. Ia menurunkan kedua kakinya dan menatap ke arah Angga yang tiba-tiba keluar dari kamar.
“Mas Angga mau ke mana?” tanyanya spontan.
“Eh Van, kamu kok belum tidur? aku mau ke dapur buat mie. Laper nih perut.” Jawab Angga sembari tersenyum ke arahnya.
“Sini aku bikinin Mas, ketimbang aku nggak ada kerjaan!” kata Vania sembari bangun dari sofa dan melangkah menuju ke dapur mendahului Angga yang masih diam membisu di depan pintu kamarnya.
“Eh, nggak usah biar aku sendiri aja, Van!” sahut Angga. Namun sudah terlambat karena Vania sudah menyiapkan alat memasak dan menyalakan kompor. Melihat itu Angga tidak tinggal diam, dia mengambil sebungkus mie goreng dari dalam lemari dapur, dan menyerahkannya ke Vania.
“Kamu juga mau Van?” tanya Angga pada Vania sembari membuka bungkus mie goreng itu dan mengeluarkan bumbunya.
“Nggak usah Mas, aku nggak laper!” jawab Vania melihat ke arah Angga dengan tersenyum.
“Atau mau makan sepiring berdua sama aku?” tanya Angga yang ia sendiri tidak sadar telah berbicara seperti itu pada Vania. Vania terkejut dan spontan menatap ke arahnya.
“Eh maaf, aku nggak bermaksud gitu.” Sahut Angga salah tingkah, ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia heran bisa-bisanya kata-kata tidak jelas tadi tiba-tiba keluar dari mulutnya.
“Nggak apa-apa Mas, santuy aja.” Jawab Vania dengan tersenyum malu-malu. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga. Dadanya berdebar sangat kencang. Bisa-bisanya hanya dengan kata-kata seperti itu saja, sudah membuat perasaan Vania menjadi campur aduk. Ia mencoba menutupi kekacauan hatinya di depan Angga dan berusaha bersikap normal.