Senyum yang dipaksakan tercipta di bibir Toyib, "Gak kenapa-napa." jawabnya singkat.
"Udah Toy tenang aja, besok kita turun." Rivan mencoba menghiburnya.
Kami mengobrol banyak dengan pendaki yang ada di sebelah tenda kami, ternyata mereka baru saja naik dan akan melakukan summit nanti pagi.
"Udah bareng aja yuk? Gede-nya kan belum," ajak salah satu dari mereka.
"Saya sih pengen bang, tapi kasian temen saya udah pengen pulang, galau dia pengen cepet ketemuan sama pacarnya," jawab Ferdy bercanda.
Seketika tawa hadir memecah sunyinya malam, Toyib pun ikut tertawa mendengar ucapan Ferdy itu.
Kami terus berusaha membuat Toyib agar kembali lagi menjadi Toyib yang seutuhnya. Toyib yang tidak banyak diam dan melamun.
Pukul 9 malam, satu persatu dari kami mulai beranjak untuk merebahkan tubuh di dalam tenda. Kami harus beristirahat yang cukup. Atas persetujuan Toyib, kami berencana untuk summit menuju puncak gunung Gede dini hari nanti.
"Kemana lu?" Tanya Ferdy
"Kencing!" Jawab Toyib singkat.
"Jangan lama-lama!" Ujar Ferdy.
Lima menit sudah berlalu, tapi Toyib masih belum juga kembali. Seketika timbul rasa khawatir dalam hatiku mengingat sikapnya yang berbeda sejak tadi sore.
"Fer, susulin sana!" Pintaku pada Ferdy.
"Iya gue juga heran kok dia lama banget." Ferdy beranjak keluar tenda.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki menghampiri tenda kami. Perasaanku lega saat melihat Toyib dan Ferdy kembali.
"Jadi jalma mah kudu jujur, tulungan nu butuh. Lain cukat-cokot kanu barang batur!"
Toyib kini sedang menceramahi Ferdy.
Banyak sekali kata-kata yang keluar dari mulut Toyib dengan bahasa Sunda. Baru kali aku mendengar Toyib berbicara dengan nada yang se-serius ini.
Ferdy hanya mengangguk sambil menuntun Toyib masuk kedalam tenda.
Toyib terus saja berbicara tanpa henti. Sesekali dia juga tertawa namun ekspresinya datar.
Aku hanya bisa berdoa dalam hati agar Toyib lekas sembuh. Rivan dan Ferdy mencoba menenangkannya dan berinteraksi dengan Toyib.
Yang membuat aku heran, ternyata Toyib bisa merespon dengan baik apa yang dikatakan oleh Rivan dan Ferdy.
Dan aku yakin kalau yang merespon itu memang benar-benar Toyib.
"Tong hariwang, tong sieun. Saha wae ge jalma nu bener mah ku Aki di tulung!"
Kalimat itu yang terakhir di ucapkan Toyib sebelum akhirnya dia tersadar.
Dia langsung mual seperti ingin muntah namun tidak keluar apa-apa dari mulutnya.
"Cape gak lu? Tidur sana!" ujar Rivan.
Toyib pun menurut dan akhirnya dia tertidur pulas.
"Gimana kejadiannya Fer?" Tanya Rivan sambil berbisik.
"Gatau, gue juga kaget pas gue susulin di deket bangunan itu dia kayak lagi ngobrol sendirian. Yaudah gue langsung ajak balik kesini. Mana serem bener lagi itu bangunannya," ucap Ferdy sambil bergidik ketakutan.
"Tadi gue denger dia bilang 'cukat-cokot barang batur'. Lu ngambil apaan?" Tanyaku pada Ferdy.
"Lah gue juga gatau, sumpah!" jawab Ferdy serius.
"Kalian sadar gak? Dari mulai berangkat kita udah ngalamin hal yang gak beres. Mobil kita tiba-tiba mogok. Tadi pagi kita hampir kesasar," ucap Rivan dengan serius.
"Kaki gue kemarin sakit secara tiba-tiba, padahal sebelumnya gue gak kenapa-napa. Nih liat kaki gue!"
Rivan menggulung celana panjangnya dan ternyata di kedua bagian betisnya terdapat sebuah tanda merah yang melingkar seperti gelang.
"Gue baru 'ngeuh' ada tanda merah ini pas kemarin sebelum summit!"
Rivan melanjutkan lagi omongannya.
"Kenapa itu?" Tanyaku heran.
"Tali!" Jawab Rivan tegas.
"Tali gimana Van?!"
Aku tak mengerti.
"Kalo boleh jujur, kemarin pas gue jalan, kaki gue kayak di iket tali terus ditarik ke belakang. Mangkannya gue gak bisa jalan. Sakit banget."
Aku dan Ferdy terkejut mendengar penjelasan Rivan.
"Belum lagi soal kang Beni dan kopi itu!" Rivan menambahkan.
"Bener juga sih, kita kayak di teror!" ujar Ferdy.
"Tapi kenapa 'mereka' neror kita? Kita kan gak macem-macem. Salah kita apa?" Tanyaku yang tidak percaya dengan semua ini.
"Ada,.........."
Belum selesai Rivan berbicara, tiba-tiba saja tenda kami seperti ada yang menggoyang-goyangkannya dengan sangat kencang.
Seketika kami langsung terdiam sambil melihat langit-langit tenda.
"Tandanya 'dia' nyuruh kita buat tidur!" Ucap Rivan dengan ekspresi ketakutan.