Bagian 9

677 Words
Kami langsung masuk kedalam sleeping bag masing-masing, namun semakin aku mencoba untuk tertidur, pikiranku semakin liar membayangkan semua keanehan ini. "Van lu jangan dulu tidur sebelum gue tidur ya?" ucapku memohon. Rivan mengangguk setuju. Entah jam berapa hingga akhirnya aku pun bisa tertidur dengan sendirinya. *** Aku terbangun saat alarm di handphone kembali berbunyi. Pukul 1 dini hari. Tidak seperti kemarin, kali ini suasana terasa sangat sepi sekali, hanya suara dengkuran yang berasal dari teman-temanku saja yang aku dengar. Kubuka pintu tenda, "brrrr..." Hawa dingin langsung menyerang tanpa ampun. Diluar benar-benar sepi, sepertinya baru aku saja yang sudah terjaga diantara semua orang yang ada di tempat ini. Kulihat tiga tenda yang ada disini keadaanya masih gelap, sedangkan dua tenda lainnya dalam keadaan redup, pertanda penghuninya masih asik tertidur. Ya, malam ini hanya ada enam tenda saja termasuk tenda kami. Aku berjalan mencari tempat untuk buang air kecil, suasana mencekam sangat terasa saat mataku tertuju ke sebuah bangunan yang ada di dekat sumber air. Bulu kudukku langsung berdiri. Sempat ingin kembali lagi masuk ke tenda tapi rasa ingin buang air kecil ini sepertinya sudah tidak bisa kutahan lagi. Kepalang tanggung aku memberanikan diri meskipun jantung ini berdebar-debar. Semoga aman-aman saja. Doaku dalam hati. Aku segera menuntaskan buang air kecil lalu kembali menuju tenda, namun entah kenapa mata ini seperti ingin melihat lagi kearah bangunan itu, seperti ada yang memaksanya. Dan saat aku melihatnya 'ssuuttt' sebuah kelebatan bayangan hitam tersorot oleh cahaya headlamp yang kupakai. Tanpa ingin tahu lebih jauh lagi aku segera kembali ke tenda. "Wey bangun bangun! Udah jam lima pagi!" aku membangunkan teman-temanku. Rivan langsung beranjak duduk kemudian melihat jam ditangannya. "Kampret! Nipu lu!" Ucapnya kesal. Aku hanya tersenyum, ternyata usahaku berhasil. Dengan bangunnya teman-temanku, rasa takut yang tadi kurasakan perlahan menghilang. "Gimana kita jadi summit gak?" Aku mengawali perbincangan. Rivan dan Ferdy langsung melihat kearah Toyib. "Mau summit ngga Toy?" Tanya Rivan. "Bebas," jawab Toyib datar. "Jangan bebas bebas Toy, kalo lu gamau gapapa kita gausah summit," balas Rivan lagi. "Yaudah gak usah ya?" Ucap Toyib seperti menunggu persetujuan kami. "Oke ayo kita tidur lagi," ajak Rivan sembari kembali merebahkan tubuhnya, lalu diikuti oleh kami semua. Butuh waktu lumayan lama untukku agar bisa kembali tertidur, pikiranku masih saja terbayang tentang sosok hitam tadi, tentang suara yang memanggilku saat buang air kecil kemarin, dan tentang semua kejanggalan-kejanggalan yang sudah kami alami. Diluar sudah mulai terdengar suara-suara dari tenda tetangga yang terbangun untuk bersiap melakukan summit. "Bang Rivan, bang Ferdy ayo kita summit!" Teriak seseorang diluar sana. "Maaf kita gak jadi bang, temen kita gak enak badan," jawabku sedikit berteriak dari dalam tenda. "Oh yaudah, kita berangkat ya.." "Iya bang, hati-hati!" jawabku. *** Pukul tujuh pagi aku mulai terbangun, kulihat Toyib sedang duduk berbalut sleeping bag sambil menyaksikan Rivan dan Ferdy yang sedang memasak di depan tenda. "Selamat pagi nyonya, nyenyak tidurnya?" ejek Rivan saat melihatku yang baru terbangun. Setelah selesai makan dan beres-beres, pukul sembilan pagi kami mulai beranjak untuk turun. Kami tidak lagi membahas tentang kejadian-kejadian aneh yang telah menimpa kami. Tanpa kesepakatan, kami memilih untuk menyimpan semua kejadian ini dalam hati masing-masing, karena tidak ingin mengalami hal seperti tadi malam. Selama perjalanan beberapa kali Toyib kembali bertingkah aneh seperti kemarin, dia lebih banyak diam dan sering melamun. Untungnya kami langsung sigap dan segera menghiburnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Tak terasa akhirnya kami sampai di pos Panyangcangan Badak. Kami beristirahat lumayan lama sambil memasak untuk makan siang. Suasana lumayan bersahabat karena ada beberapa pendaki yang naik, meskipun jumlahnya hanya sedikit. Saat kami akan memakan masakan yang sudah matang, tiba-tiba Toyib kembali berbicara tak karuan. Badannya kaku dan keras. Nafsu makanku langsung hilang, kami segera bertindak agar Toyib kembali sadar. "Assalamualaikum...ini siapa?" Tanya Rivan pada Toyib. Namun Toyib tidak merespon sedikitpun pertanyaan Rivan. Dia tetap saja berbicara tanpa henti. "Balikeun...balikeun..." "Apanya yang di 'balikeun' ?" Tanya Rivan. "Balikeun...balikeun..." Hanya itu yang di ucapkan Toyib secara berulang-ulang. Tanpa pikir panjang kami langsung membereskan semua peralatan dan segera turun. Kami bertiga menuntun Toyib agar berjalan secepat mungkin, namun susah sekali. Gerakannya kaku seperti robot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD