"Des lu sanggup bawa keril Toyib?" Tanya Rivan.
Dengan terpaksa aku mengangguk meskipun sebenarnya aku sendiri tidak yakin.
"Fer lu bawa keril gue, keril Desi yang agak kecilan biar gue yang bawa!" lanjut Rivan.
"Lu mau ngapain?" Tanya Ferdy heran.
"Toyib gue gendong aja biar cepet!" Jawab Rivan yang sepertinya sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri semua ini.
Kami langsung bertukar keril. Rivan membawa keril kecilku di bagian depan sambil menggendong Toyib di punggungnya, aku membawa keril milik Toyib, sedangkan Ferdy membawa dua keril di bagian depan dan belakang tubuhnya.
Kami langsung berjalan secepat mungkin agar lekas sampai bawah.
Beberapa pendaki lain terlihat penasaran saat melihat kami dengan kondisi seperti ini.
Hampir semuanya bertanya, "kenapa?" Saat berpapasan dengan kami.
"Sakit bang," jawab kami.
Entah kenapa kami sangat segan jika harus menjawab "kerasukan".
Kami takut jika jawaban tersebut akan berdampak buruk pada pendakian mereka.
Rivan sepertinya sudah sangat kelelahan, kulihat kakinya gemetaran saat menapaki jalur berbatu ini. Keringatnya mulai bercucuran lebih deras dari biasanya.
"Van sini biar kerilnya gue aja yang bawa," aku menawarkan diri.
Rivan berhenti dan menoleh kearahku dengan tatapan seolah tidak percaya.
Kemudian dia langsung melepas keril itu dan kembali menggendong Toyib.
Berarti benar, dia memang sudah lelah. Pikirku.
"Sori kalo gue jalannya rada ngebut, gue pengen cepet-cepet mengakhiri keadaan buruk ini!" Ucapnya sedih.
Terlihat dari matanya kalau dia ingin menangis.
"Lu duluan aja gapapa Van, tolongin Toyib," ucap Ferdy pelan.
Ini adalah kondisi tersedih yang pernah aku rasakan selama mendaki gunung.
Tak bisa kutahan lagi, air mata ini langsung menetes begitu saja.
"Kalian ati-ati, kalo sempet nanti gue balik lagi buat jemput kalian."
"Iya Van lu juga ati-ati," jawab kami berdua.
Rivan mulai berjalan lagi meninggalkan aku dan Ferdy yang masih berdiri mematung melepas kepergiannya.
Kuraih keril itu lalu menggendongnya di bagian depan tubuhku, dan dengan perlahan kami mulai kembali berjalan meniti jalur bebatuan ini.
Tidak jauh setelah kami melewati pintu rimba, kami berpapasan dengan Rivan.
Dia berjalan dengan sangat tergesa-gesa.
"Aman Van?" Tanyaku
"Aman, kalian langsung aja ke warung biar bisa istirahat. Keril Toyib taro aja disini Des, ntar gue bawa," ucap Rivan.
"Emang lu mau kemana?" Tanya Ferdy.
"Gue harus keatas lagi biar semuanya beres!" ucap Rivan mantap.
Kami berdua langsung panik
"Ngapain?!!"
"Nanti aja gue ceritain. Udah kalian gausah khawatir," ucapnya lagi.
"Gue temenin Van!" Ucap Ferdy.
"Gausah Fer, biar gue aja. Lagian cuma nyampe Rawa Gayonggong doang kok," Rivan mencoba tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
"Kalo lu kenapa-napa ntar gimana?!" Ferdy ngotot.
"Udah lu gausah bikin tambah ruwet deh! Percayain sama gue!" Rivan balik ngotot.
Mau tidak mau akhirnya Ferdy mengalah membiarkan Rivan kembali keatas seorang diri.
"Van! Nih bawa!"
"Tengkyu!" ucapnya sambil berlalu.
Aku memberinya sebotol air minum dan segudang doa yang ku ucap dalam hati.
Semoga semuanya baik-baik saja.