Bagian 6

663 Words
Kami turun dengan tempo yang lumayan cepat, kadang kala kami berlari namun masih tetap beriringan, hingga di pertengahan jalan tiba-tiba Ferdy yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya. "Kiri apa kanan nih?" Tanya dia. Kami melihat ada jalur bercabang, dan kedua jalur tersebut sama-sama terlihat seperti sering dilalui. "Kayaknya sama aja deh, nanti bakal ketemu lagi jadi satu jalur," ucap Rivan namun sedikit ragu. "Yakin lu?" Tanya Ferdy lagi. Setelah berunding akhirnya kami memilih mengambil jalur kiri, sepertinya memang ini jalur yang benar, terlihat dari tanah setapak yang sangat jelas sering dilewati. Dengan percaya diri kami terus menyusuri jalur tersebut masih dengan tempo yang sama seperti tadi. Sekitar sepuluh menit berjalan tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar suara yang memanggil kami. "Hey, kalian ngapain kesitu?!" Ternyata itu adalah kang Beni, dia menghampiri kami dan bertanya lagi, "Ngapain kalian kesitu?" Mataku tak lepas memperhatikan setiap gerak-geriknya, namun tidak ada yang aneh. Dia tampak normal-normal saja sama seperti kami. "Mau turun kang," jawab kami. "Bukan ini jalurnya, balik lagi!" "Kami kira ini jalurnya kang, untung aja belum jauh," ucap Rivan sambil tersipu malu. Kami langsung berbalik arah kembali menuju percabangan tadi. "Akang sendiri ngapain disini?" Tanya Ferdy. "Saya emang suka jalan-jalan disini. Tempat ini udah seperti rumah sendiri bagi saya," jawabnya sambil tertawa. "Mangkannya saya tau jalur yang benar yang mana, semua seluk beluk gunung Pangrango saya hapal." Lanjutnya lagi. "Berarti akang udah sering banget kesini ya kang?" Tanya Ferdy. "Ya...begitulah," jawabnya singkat. "Nah itu jalur yang bener," ucap kang Beni sambil menunjuk jalur sebelah kanan saat kami tiba di percabangan. "Ayo kang bareng!" ajak Toyib. "Kalian duluan aja, nanti saya nyusul. Saya mau keatas dulu!" ucap kang Beni dan langsung meninggalkan kami yang belum sempat bertanya perihal cincin Toyib. "Yaudah lah yuk lanjut!" ajak Rivan. Kali ini ia berada di posisi paling depan. Kami mulai lagi berjalan dengan tempo yang agak cepat agar segera sampai di persimpangan menuju puncak gunung Gede. Detik berubah menjadi menit, menit berganti menjadi jam, namun jalur yang kami lalui terasa semakin meragukan, jalur setapak yang tadi terlihat jelas kini mulai tertutup dedaunan, sepertinya jalur ini jarang sekali dilewati orang. Tidak ada sedikitpun jejak-jejak sampah yang biasa kulihat di jalur normal pada umumnya, dan kami tidak bertemu dengan pendaki lain selama di jalur ini. "Break dulu Van!" Aku meminta berhenti untuk melemaskan kembali otot yang sudah mulai kencang. "Perasaan tadi malem gak kayak gini deh jalurnya," ucapku pada ketiga teman-temanku. "Iya sih, gue jadi ragu. Makin kesini makin ketutup jalurnya," timpal Rivan. "Tapi masa iya kang Beni bohongin kita Van?" Tanya Ferdy. Benar juga, kang Beni sendiri yang bilang kalau dia hapal semua seluk beluk gunung ini. Tidak mungkin dia keliru. Tapi... Kenapa kok jalurnya berbeda dengan tadi malam? "Mungkin ini jalur pintas kali, seperti yang lu bilang Van, nanti bakal ketemu lagi jadi satu jalur!" Toyib angkat bicara. Setelah cukup beristirahat kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami lalui semakin parah dari sebelumnya. Ranting-ranting pohon dan tumbuhan berduri semakin menghalangi jalur yang kami lalui. Jalan setapak pun perlahan-lahan hilang hingga tak ada lagi. Perasaanku semakin yakin kalo ini bukanlah jalur pendakian. "Stop!" Ucapku lantang. "Gue yakin kita salah jalan!" "Iya ini mah udah gak bener, tega bener kang Beni ngerjain kita!" Gerutu Rivan kesal. "Mendingan kita balik lagi aja daripada tersesat," ucapku pelan. Kami terdiam sesaat, mungkin dalam hati masing-masing merasa malas untuk kembali keatas. Aku pun sebenarnya sama, karena kami sudah berjalan sangat jauh dari percabangan tadi, namun karena tidak mau mengambil resiko akhirnya kami kembali lagi keatas menuju percabangan tadi. Yang penting kami semua selamat. Tanjakan demi tanjakan kembali kami lalui dengan bersusah payah, aku merasa jalur ini lebih berat dari jalur normal yang kami lalui tadi malam. Berkali-kali aku berhenti untuk mengumpulkan kembali tenaga yang cepat sekali hilang. Kami ber-4 mulai tidak 'klik' lagi. Banyak sekali perdebatan-perdebatan dengan tensi tinggi yang terjadi di sepanjang jalur, terlebih Ferdy dan Toyib, mereka berdua selalu terlibat perseteruan yang sengit. Untung saja aku dan Rivan bisa sedikit meredam emosi mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD