Citra menyeka wajahnya, tersenyum pahit sambil mendorong koper menemui mertuanya. Ia sengaja membuat riasan wajah ceria ditambah dengan senyuman agar tak seorangpun menyadari kepedihan yang sedang hatinya rasakan. “Abi, aku pamit ya!” Menatap Kyai Anwar yang sedang duduk di sofa dengan sebuah kitab di tangannya. Kyai Anwar kaget, membuka kacamatanya. “Kamu mau ke mana?” tanyanya menatap Citra dengan koper bersamanya. “Mama masuk rumah sakit. Aku harus segera kembali.” Dusta, terpaksa dilakukan agar tak membuat mertuanya risau. Kyai Anwar menganggukkan kepala. “Zayn tidak ikut sekalian bersama denganmu?” “Nggak Abi. Katanya dia mau nyusul belakangan.” Lagi, dia berdusta. Padahal hatinya menjerit untuk mengatakan aku sudah diceraikan Zayn, gak pantas lagi di sini. “Terus dia ke mana,

