"Jangan pergi..” Deg.. Jantung Devan berdetak dengan kencang mendengar ucapan Nayra atau lebih tepatnya Devan menganggap itu racauan Nayra dalam tidurnya. Devan membeku di tempat ketika Nayra menahan telapak tangannya. Nayra membuka mata perlahan menatap ke arah Devan yang masih tidak bergeming di tempatnya dan memunggungi Nayra. “Bisa temenin aku disini?” ucapan Nayra sontak mengejutkan Devan dan Devan seketika membalikan badan menghadap ke Nayra Devan semakin terkejut melihat Nayra membuka mata terbangun dari tidurnya. Berarti apa yang Devan dengar tadi bukan mimpi atau racauan Nayra. Berarti Nayra sadar mengucapkan semua itu. Devan menggelengkan kepala pelan membuang jauh pikirannya yang disalahartikan Nayra. “Nggak apa-apa kok kalau nggak mau nemenin aku.” Nayra perlahan melepas

