“Mas..” Suara Nayra yang memanggil Devan terdengar lirih di telinga mereka yang tengah mengobrol di sofa. Devan beranjak dari duduknya melangkah menghampiri Nayra yang telah membuka mata. “Iya sayang.. Apa yang kamu rasakan sayang?” Devan menggenggam tangan Nayra “Haus mas..” balas Nayra pelan Devan mengambil gelas berisi air putih di atas nakas samping brankar Nayra kemudian membantu Nayra meminumnya dengan sedotan yang telah disediakan perawat. “Mas.. Kita pulang iya.. Besok kan kita mau ke puncak sama Farras.” Nayra berucap lirih Devan mengulas senyum manis sembari mengusap punggung tangan Nayra, “Kamu sembuh dulu. Nanti kita bahas lagi rencana ke puncak kalau kamu sudah sembuh sayang.. Dokter belum mengijinkan kamu pulang sayang.” Devan mengecup tangan Nayra yang berada dalam gen

