Mencoba Berdamai

2138 Words
Seminggu sudah Nayra kembali ke rumah Devan sejak mama mertua keluar dari rumah sakit dan kesehatan mama mertua semakin membaik. Tapi tidak dengan hubungan Devan dan Nayra yang masih menyimpan jarak bahkan semakin jauh tidak seperti dulu. Nayra tetap menghindari Devan walau mereka tinggal diatal yang sama. Devan yang perlahan mulai menyadari perasaan untuk Nayra perlahan mulai mencoba untuk mengambil hati Nayra. Devan sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Alena demi menjaga perasaan Nayra. Devan meminta bantuan anak buahnya untuk mencari bukti peristiwa yang terjadi beberapa waktu silam. “Nay.. Makan malam sudah siap. Makan dulu yuk,“ ucap Devan menghampiri Nayra yang tengah asyik dengan pekerjaannya diruang keluarga “Bapak duluan saja. Saya belum lapar,“ jawab Nayra tanpa menoleh kearah Devan. “Aku akan makan bareng kamu Nay,“ lanjut Devan. “Nggak usah keras kepala pak. Makan dulu aja. Saya belum lapar,“ balas Nayra. “Kamu makan atau aku suapin?" ujar Devan. “Saya belum lapar. Nggak usah maksa!“ tukas Nayra. “Ok. Saya akan ambilin makan dan saya bawa kesini. Saya akan suapin kamu,“ ujar Devan. “Ck. Dasar pemaksa. Menyebalkan sekali anda,“ Nayra berdecak lalu berjalan menuju ke meja makan daripada disuapin sama manusia pemaksa super duper menyebalkan Itu. Devan dan Nayra makan dalam suasana hening. Hanya dentingan sendok yang memecab keheningan suasana. Setelah makan Nayra masuk ke dalam kamar. Walau tinggal satu atap tapi Nayra menolak berada dalam satu kamar dengan Devan. Rasa kecewa dan amarah masih menyelimuti hati Nayra. Devan menghela nafas berat melihat sikap Nayra yang masih dingin ke Devan namun Devan menyadari sikap Nayra itu akibat salah Devan yang selalu menyakiti Nayra selama mereka menikah. Bahkan Devan sendiri yang meminta pisah kamar sejak awal pernikahan mereka sebelum ketahuan oleh mamanya kalau mereka pisah kamar. ‘Jadi kalian selama ini pisah kamar? Selama itu pisah kamar? satu bulan pernikahan pisah kamar,‘ ucap mama Tina. Ucapan mama Devan masih terngiang jelas diingatan Devan sampai saat ini. Entahlah. Devan juga tidak mengerti dengan hatinya sendiri kenapa sampai seperti ini. Ya. Devan membenci pernikahan ini dan membenci Nayra. Tapi sejak Nayra pergi beberapa hari yang lalu dari rumah Devan merasa ada yang hilang dari hati dan hidupnya. Dulu Devan berpikir ini hanya rasa bersalah karena Nayra melihat Devan sedang tidur satu ranjang dengan Alena. Namun salah apa yang dipikirkan Devan. Hati dan pikiran tidak sinkron. Hati Devan merasa sakit saat Nayra meninggalkan rumah dan pergi dari hidupnya. Devan masih berdiri di pagar pembatas balkon dengan tangan kanan menyelipkan rokok. Devan bukan perokok aktif tapi Devan akan merokok jika pikiran sedang kacau. Kamar Devan berada di samping kamar Nayra namun balkon kamar Nayra tampak sepi. Devan menghembuskan asap rokok dengan pelan mencoba menenangkan hati dan pikiran. Nayra telah siap dengan pakaian kerja yang rapi. Nayra masih bekerja di perusahaan Dika setelah pengunduran diri Nayra ditolak mentah-mentah oleh Dika dengan alasan Dika masih membutuhkan Nayra di perusahaan. Dengan berat hari Nayra kembali bekerja di perusaaan Dika. Tapi Nayra masih bersitegang dengan Nara sahabat baiknya sejak peristiwa di ruang kerja Devan. “Sarapan dulu Nay,“ ucap Devan yang sudah berada dimeja makan. “Saya sarapan di kantor saja pak. Saya sudah telat,“ balas Nayra tanpa menoleh ke Devan. “Saya akan taruh makanan ke kotak bekal biar kamu makan di kantor. Sebentar,“ Devan berdiri beranjak ke dapur mengambil kotaj bekal lalu kembali ke meja makan memasukan makanan ke kotak bekal itu. Devan memberikan kotak bekal ke Nayra. “Kita berangkat bareng ya Nay,“ ucap Devan. “Makasih pak. Saya bawa kendaraan sendiri saja. Makasih bekalnya pak,“ balas Nayra berjalan keluar rumah menuju mobil yang sudah dipanasi oleh anak buah Devan. Devan mengikuti Nayra menuju mobil. Mereka berangkat ke tempat kerja dengan kendaraan masing-masing. “Kenapa lo? Kusut banget pagi-pagi,“ tanya Atthala saat berada di ruang Devan. “Nayra masih dingin ke gue,“ jawab Devan “Sabar bro. Lagian kan emang semua lo yang salah. Gue rasa nggak cuma ke lo aja Nayra dingin tapi Nara juga masih marah dicuekin sama Nayra," imbuh Atthala “Serius lo,“ tambah Devan. "Tiga rius. Nara semalam masih nangis dibahu gue. Nara sedih Nayra masih marah sama Nara. Ini kemarahan Nayra terlama sejak mereka bersahabat. Semua ini gara-gara lo,“ tukas Atthala. “Iya. Gue tahu. Gue minta maaf. Mana hasil penyelidikan lo?“ Devan mengalihkan pembicaraan. Atthala menyerahkan maaf yang berisi hasil penyelidikan dan USB berisi rekaman CCTV cafe dan apartemen Devan. “Dugaan gue benar lo dijebak mantan lo,“ seru Atthala "Gue mau kasih tahu bukti ini ke Nayra. Lo tahu dimana Alena?“ imbuh Devan. “Dia kabur ke luar negeri. Disitu juga ada bukti perselingkuhan dia sama cowo lain,“ jawab Atthala “b******k!“ hardik Devan emosi. “Moga lo sadar atas kesalahan lo selama ini,“ seru Atthala. “Gue minta tolong lo buat jual apartemen gue,“ pinta Devan. “What? Serius?“ tanya Atthala dengan terkejut. “Gue nggak mau punya kenangan apa pun dengan dia. Jual apartemen gue dan cariin gue apartemen baru. Gue mau mencoba buka hati buat Nayra dan menjalani pernikahan ini dengan hati,“ jawab Devan “Wow. Moga lo konsisten dengan ucapan lo. Sebelum semua terlambat. Selamat berjuang bro,“ tukasAtthala menepuk pundak Devan sebelum meninggalkan ruangan Devan “Nay," ucap Nara menggeser kursi putar kekubikel Nayra yang ada disampingnya Nayra tak bergeming dengan suara Nara yang memanggilnya. Nara asyik memainkan jari tangan diatas keyboard komputer. “Nay.. Kamu masih marah sama aku?“ tanya Nayra duduk disamping Nara yang masih tak peduli padanya. Perih.. Itu yang Nara rasakan saat ini saat sahabat baik marah dengan waktu yang cukup lama karena kesalahapahaman yang terjadi beberapa waktu lalu. Nara yang tidak tahu sama sekali tiga sekawan itu masuk kedalam masalah yang diciptakan oleh mereka terutama Devan. Nara tidak pernah membayangkan persahabatan mereka akan hancur seperti ini. Nayra yang selalu menemani saat suka duka Nara. Nayra yang selalu memberi semangat saat Nara kehilangan kedua orang tua. Nayra yang selalu mendukung tiap langkah Nayra untuk bangkit kembali. Nayra yang selalu membantu dan suap sedia apa pun keadaan Nayra. Nara menengadahkan mata menahan air mata yang hampir lolos ke pipi berisi itu. “Nay.. Aku terima kamu masih marah sama aku. Tapi aku sama sekali nggak tahu masalah kemarin. Aku udah jelasib berkali kali sama kamu Nay. Aku nggak tahu apa-apa Nay. Maafin aku Nay. Aku sakit melihat kita kaya gini,“ tambah Nara dengan raut wajah sedih. Nayra masih tak bergemong di meja kerja. Nayra tak menghiraukan ucapan Nara sama sekali. Dering ponsel Nayra yang berada diatas meja kerja memecah suasana canggung diantara dua sahabat itu. Nayra memencet tombol hijau saat mengetahui ID Card pemanggil diseberang sana. “Assalamu’alaikum.. Iya ma. Ada apa ma?“ tanya Nayra. “Wa wa’alaikumsalam.. Na Nay,“ jawab mama Rara dengan suara terbata dan terisak dari seberang line. “Ma.. Mama kenapa?“ tanya Nayra panik mendengar suara mama yang terisak. “Pa papa Nay,“ balas mama Rara terisak. “Mama kenapa ma? Ada apa ma?" lanjut Nayra “Papa kritis Nay,“ tukas mama Rara Brak! Handphone Nayra jatuh ke lantai saat mendengar ucapan mama. Air mata mengalir deras membasahi pipi Nayra. Melihat hal itu Nara berinisiatif mengambil handphone Nayra yang masih tersambung dengan mamanya dan hanya retak dilayar. “Halo tante. Ini Nara. Om kenapa tante,“ sapa Nara. “Om kecelakaan Na. Om di rumah sakit Harapan sehat sekarang,“ jawab mama Rara. “Baik tante. Nayra dan Nara akan segera kesana,“ tukas Nara menutup sambungan telepone lalu mengambil tasnya dan juga tas Nayra. Nara memapah Nayra turun ke lobby lalu menuju parkir mobil. Nara mengendarai mobil Nayra tidak lupa Nara mengirim ponsel ke Atthala memberi kabar yang baru saja diterima dari mama Nayra. “Tenang Nay. Semua akan baik-baik saja. Om pasti kuat Nay,“ ucap Nara mengelus lembut lengan Nara. Nara masih terisak tidak menanggapi ucapan Nayra. Devan langsung meninggalkan pekerjaan menuju rumah sakit begitu mendengar kabar dari Atthala peristiwa kecelakaan papa Nayra. Atthala menemani Devan ke rumah sakit. Nayra berlari menuju ruang UGD begitu sampai di parkir rumah sakit meninggalkan Nara yang masih memarkirkan mobil. Nayra melihat mamanya dengan keadaan kacau. “Ma.. Gimana keadaan papa?“ tanya Nayra duduk di smping mama memeluk mamanya erat. “Papa masih di dalam Nay. Papa kritis Nay,“ jawab mama Rara. “Ma.. Kenapa ini bisa terjadi?“ lanjut Nayra berusaha tegar di depan mama “Mobil papa ditabrak mobil lain Nay. Mobil papa terlempar ke lajur jalan berlawanan,“ tukas mama Rara Nayra diam mendengar cerita pa. Ada banyak tanya dibenak Nayra namun rasanya bukan saat yang tepat untuk Nayra berbicara. Dari arah koridor terlihat Devan Atthala dan Nara berlari menuju Nayra dan mama yang duduk dikursi tunggu didepan UGD. “Ma.. Gimana keadaan papa?“ tanya Devan panik. “Mama belum tahu Van. Papa masih di dalam. Dokter belum keluar,“ jawab mama Rara. Tak lama Dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah tidak bersahabat. Nayra berlari menghampiri dokter diikuti semua orang yang berada disana. “Bagaimana keadaan papa saya dokter?“ tanya Nayra. “Sebelumnya maafkan kami. Kami sudah berusaha untuk menyelamatkan Pak Rafa tapi kondisinya sangat parah sehingga Pak Rafa tidak bisa diselamatkan," Dokter menjelaskan dengan wajah penuh penyesalan. Seketika tubuh Nayra luruh kelantai setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani papa Rafa disertai air mata yang mengalir deras dan teriakan histeris Nayra. “Papa!“ ucap Nayra berteriak histeris Mama Rara pingsan dan langsung ditolong Nara dibawa keruang rawat untuk mendapat penanganan. Devan memeluk erat Nayra mencoba menenangkan istri yang tengah diselimuti kabut duka. “Sabar ya Nay. Aku akan selalu ada buat kamu. Papa sudah tenang disana. Papa sudah tidak merasakan sakit. Kita berdoa agar papa diberi kelancaran disana ya Nay,“ hibur Nara. Nayra terisak didada bidang Devan. Devan memeluk dan mengusap lembut punggung Nayra. Proses pemakaman berjalan dengan lancar. Semua kerabat sahabat teman dan rekan bisnis papa Nayra ikut mengantar papa Nayra ke peristirahatan terakhir. Suasana rumah terasa sepi setelah para pelayat dan beberapa sodara pulang ke rumah masing-masing. Nayra duduk memeluk mama yang masih sangat terpukul atas kepergian papa. Nayra mencoba kuat demi mama tercinta. “Ma.. Ikhlaskan kepergian papa ya. Papa sudah tenang disana,“ ucap Nayra. “Iya Nay. Mama Cuma merasa ada yang janggal dengan kepergian papa kamu,“ balas mama Rara. “Iya ma. Nanti kita bicarakan lagi. Mama isirahat iya,“ lanju Nayra lalu mengantar mama ke kamar untuk istirahat. Nayra kembali duduk disofa ruang keluarga setelah memastikan mamanya tidur. Ingatan masa-masa indah dengan papanya kembali berputar dipikirannya. Rasanya hal itu baru terjadi kemarin. Papa seakan masih berada di rumah. ‘Jangan menangis anak papa. Anak papa wanita yang kuat dan hebat,‘ oesan papa saat Nayra berumur 7 tahun selalu diingat oleh Nayra untuk menjadi wanita kuat dan hebat. Devan menghampiri Nayra yang tengah duduk diruang keluarga dengan tatapan kosong. “Nay.. Sabar iya,“ ucap Devan. “Aku pengin sendiri,“ tukasNayra terkejut dengan kedatangan Devan yang sudah duduk disampingnya. “Ok. Aku harap kamu bisa sabar Nay,“ sambung Devan meninggalkan Nayra yang masih tak bergeming di tempat. “Nay,“ balas Nara menghampiri Nayra yang masih duduk diruang keluarga padahal hari beranjak sore. “Nay.. Aku percaya kamu pasti kuat,“ sambung Nara. Nayra mendongakan kepala mendengar suara Nara. Nayra memeluk Nara dengan terisak. Nara tersentak menerima pelukan Nayra. Ada rasa bahagia dihati Nara melihat Nayra bisa menerima kehadirannya lagi setelah kesalahapahama yang terjadi. “Papa Ra papa,“ seru Nayra dengan wajah sembab. “Sabar Ra.. Papa kamu sudah tenang disana. Papa kamu sudah bahagia Nay. Kamu jangan begini Nay. Papa kamu pasti akan sedih kalau lihat anak perempuannya yang kuat dan hebat sedih terpuruk gini. Kamu jangan gini Nay. Kamu harus kuat demi mama. Ada aku yang akan selalu mendukung kamu. Aku minta maaf soal kemarin Nay,“ ujar Nara. “Lupakan soal kemarin Na. Makasih kamu selalu ada dan ngertiin aku Nay. Aku harus kuat demi mama,“ tukas Nayra mengurai pelukan Nara dan menghapus air mata. Devan dan Atthala yang sedang mengobrol didekat ruang keluarga tersenyum melihat Nayra dan Nara kembali seperti semula. Satu minggu setelah kepergian papa Nayra masih tinggal di rumah menemani mama tercinta. Devan masih menemani Nayra di rumah mama Nayra sambil berusaha mengambil hati Nayra. Entah mengapa ada rasa berbeda dihati sejak peristiwa Devan tidur dengan Alena. Hidup Devan sepi tanpa ada Nayra yang bisa mewarnai hidupnya. Tiga bulan lebih bersama Nayra terasa berbeda. “Nay.. Makan yuk," ajak Devan duduk di sofa samping Nayra di ruang tengah. “Saya belum lapar. Pak Devan makan aja dulu,“ balas Nayra menjawab tanpa menoleh ke Devan. “Sampai kapan kamu akan bicara formal ke aku Nay?“ tanya Devan. “Sampai kita pisah!“ tukas Nayra Devan terhenyak mendengar ucapan Nayra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD