Tidak seperti biasa!

1042 Words
"Sialan, kenapa dia bisa datang ke kantor, apa dia tahu hubunganku dan wanita ini. Semoga saja tidak!" geram Deon dalam hatinya. Wajah Deon tampak sangat tegang, keringat dingin tiba-tiba muncul di kening Deon. Beberapa kali laki-laki itu mengalihkan pandangan matanya. Sembari menelan ludah beberapa kali. "Ada apa?" tanya Alice. "Kamu gugup sekali, apa ada masalah atau, kamu marah aku datang kesini?" tanya Alice berusaha untuk tetap tenang. Wajah Alice terlihat manis sperti biasanya. Tampak tenang dan lugu. Deon melirik sekilas wajah Alice. Dia melihat wajah cantik itu seperti biasanya, penuh dengan senyuman dan nada ramah khawatir padanya. Melihat Alice tidak curiga padanya. Deon menghela napasnya lega. Dia segera meraih tangan Alice. Mengeluarkan senyuman yang sedari tadi di sembunyikan olehnya. "Sayang, kenapa kamu berantakan sekali?" tanya Alice. Seolah tidak terjadi apa-apa, Alice hanya bisa diam. Sembari menatap wajah Deon yang semakin terlihat jelas jika Deon sangat panik. "Maaf, tuan. Sepertinya aku harus pergi. Soal file yang tuan minta akan saya berikan nanti!" ucap Salsa sembari menundukkan kepalanya. Deon melirik ke arah Salsa. Melayangkan senyuman manisnya pada Salsa. Wanita cantik yang membuat Deon tiba-tiba tertarik padanya. Salsa segera pergi meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Alice dan Deon berbicara berdua. "Siapa dia?" tanya Alice. "Dia Salsa, asisten baru. Dia baru beberapa bulan bekerja disini." Alice menguntupkan bibirnya. Sambil menganggukan kepala pelan. "Oo, cantik!" kata Alice. Menoleh ke belakang. Melihat Salsa yang sudah pergi menjauh dari mereka. "Tubuhnya juga seksi, pasti laki-laki yang bisa mendapatkannya sangat beruntung. Apalagi nada bicaranya sangat lembut." Deon hanya bisa diam, dia tidak bisa berkutik saat Alice berbicara. Bukanya takut semuanya ketahuan, tapi bukan ini yang dia mau sekarang. Deon tidak mau semua kebongkar lebih dulu. "Kenapa kamu bahas tentang dia?" tanya Deon. Menarik tangan Alice hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Alice tersenyum, dia mulai melingkarkan tangannya di leher Deon. "Sekarang, kamu tidak pernah menghubungiku. Kemarin malam kenapa kamu tidak pulang. Aku sudah lama menunggu!" "Kamu meninggalkan kedua anakmu di rumah?" tanya Deon. Alice menghela napasnya. "Lagian kamu juga kenapa tidak seperti biasanya. Kamu banyak sekali berubah!" kata Alice. "Apa kamu marah karena aku tidak vc kamu seperti biasanya?" tanya Deon memastikan. Sembari tersenyum menggoda. Deon menyentuh dagu Alice. "Emmm... gimana kalau disini." Alice memincingkan matanya bingung. "Maksud kamu apa?" tanya Alice. "Lakukan seperti biasanya. Aku lagi capek banyak pikiran. Jadi aku butuh hiburan sejenak. Alice memincingkan salah satu matanya. Dia berusaha berpikir keras apa yang di mau Deon. Tapi, jika dia tidak menuruti apa yang di katakan Deon. Semuanya pasti akan berakhir, Alice tahu Deon sangat kasar. Apalagi dirinya punya riwayat selingkuh meskipun hanya satu malam, hal ini yang belum pernah di ketahui oleh Deon. Alice tidak mau perubahan sikapnya membuat Deon ragu padanya. "Tidak harus disini juga, aku tunggu kamu di rumah!" kata Alice. Deon, menarik dagu Alice. Memberikan kecupan lembut beberapa detik. "Kenapa kamu menolakku sayang, aku hanya butuh hiburan sesaat. Jika aku sudah tidak capek. Kita bisa berhubungan seperti biasa." Alice menghela napasnya. "Jadi mau kamu aku melakukan seperti yang aku lakukan di rumah?" tanya Alice. Dan, hanya di balas dengan anggukan oleh Deon. "Berdirilah, segera duduk di sofa. Aku melihatmu dari sini!" kata Deon. "Apa bagimu aku hanya untuk meluapkan nafsumu saja, bahkan sampai kita sudah punya anak, kamu masih seperti ini?" tanya Alice pada Deon dengan raut wajah sedikit kecewa. "Apa yang kamu minta?" tanya Deon. "Jika kamu kesini hanya untuk bermain saja. Pergilah, ini bukan tempat bermain. Pulanglah sekarang, dan jaga anak-anak." tegas Deon dengan nada sedikit mengeras. Sontak membuat Alice terkejut mendengarnya. Baru kali ini dia mendengar Deon menbentaknya lagi setelah 5 tahun berlalu. Alice tersenyum kecut, dia membalikkan badannya dan segera pergi meninggalkan Deon tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. "Sepertinya, dia sudah kembali menjadi Deon yang Arogan, kasar, dan pemarah. Apa ini pembalasan yang aku dapatkan." Alice kekua dengan rasa kecewa yang menusuk hatinya. Tidak hanya di hianati selama ini. Bahkan Deon sudah tidak peduli padanya. Sekarang yang ada di pikirannya hanya nafsu belaka. Deon menghela napasnya. Dia bahkan tidak peduli saat Alice diam padanya. Dan, pergi begitu saja. Deon bahkan menghubungi seseorang lewat telfon kantornya. "Salsa, segeralah kesini." pinta Deon. "Baik, pak!" jawab Salsa. Wanita muda itu menutup telfonnya. Sementara Alice berjalan dengan tatapan kosong. Dan, air mata sudah membasahi pipinya. Alice berusaha menyeka air matanya, namun seolah air mata itu tidak bisa berhenti keluar dari matanya. Brukk ... Tak sengaja Alice menabrak seseorang yang berjalan dengan langkah terburu-buru. "Maaf, maaf..." kata wanita di depannya. Alice memalingkan sejenak air matanya. Dia segera menyeka air matanya. Laku memasang wajah penuh senyuman di depan wanita yang baru saja menabraknya. Namun senyuman itu seketika hilang saat melihat siapa yang ada di depannya. "Maaf, nyonya!" Salsa seketika menundukkan kepalanya. "Kamu mau kemana?" tanya Alice. Dia mulai curiga dengan Salsa yang berjalan dengan langkah terburu-buru. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Alice. "Maaf, nyonya. Tadi pak Deon memanggil saya. Jadi saya harus segera serahkan file yang di minta." kata Salsa menjelaskan. Alice masih berusaha tenang, dia menepuk pundak Salsa. "Tidak perlu takut padaku, aku tahu kamu suka dengan pak Deon?" kata Alice sontak membuat Salsa mengangkat kepalanya. Dia seketika terkejut mendengar pernyataan Alice. "Tidak, nyonya!" jawab Salsa. "Salsa, umur kamu berapa?" tanya Alice mengalihkan pembicaraan. "Emmm... saya baru 23 tahun nyonya!" "Kamu masih muda sekali!" kata Alice mengusap pundak Salsa. "Kamu wanita baik, kamu juga masih muda. Kamu bisa dapatkan pengusaha kaya nanti. Aku yakin kamu akan dapatkan laki-laki lajang yang sangat mencintaimu!" ucapan itu membuat Salsa terdiam, dia hanya bisa menelan ludahnya. Tanpa berani berkata apapun, kedua tangannya mulai gemetar, setiap perkataan yang di ucapkan Alice. "Ya, suda aku pergi dulu." "Maaf, nyonya!" Salsa masih saja menundukkan kepalanya. "Untuk apa kamu minta maaf, segeralah pergi sebelum pak Deon marah!" kata Alice. Salsa menganggukan kepalanya. Sementara Alice pergi lebih dulu. Kali inid ai membiarkan Deon melakukan apa yang di inginkan. Dari pada sakit hati melihat mereka, Alice memutuskan untuk membuatkan apa yang terjadi. Dan, dirinya juga tidak peduli tentang hubungan itu. Sekarang Alice tampak tenang, yang ada di pikirannya bukan karena nafsu lagu. Tapi dirinya berpikir kedua anaknya juga butuh sosok ayah. Bagaimanapun sifat ayahnya. Dia tidak mau meninggalkannya. Salsa mengangkat kepalanya, menatap ke arah Alice yang sudah pergi menjauh darinya. "Apa dia tahu yang sebenarnya? Tapi, kenapa dia masih terlihat tenang?" tanya Salsa pada hatinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD