Bertemu Mantan Suami

1422 Words
Saat mengantarkan pesanan ke sebuah kantor, ternyata mantan suaminya Fiona bekerja di sana. Fiona sudah biasa saja melihat lelaki itu. Sudah setahunan berlalu, dia sudah berdamai dengan apa yang pernah terjadi. Tak ada dendam, apa lagi cinta. Cinta yang pernah dimilikinya untuk lelaki itu telah lenyap, tak tersisa sedikit pun. Mungkin saja, sejak masih belum resmi berpisah pun sudah hambar tanpa disadari. Akibat rasa sakit yang menggerogoti. Fiona langsung pamit setelah berbicara dengan orang yang bertanggung jawab memesan kue tersebut. Namun, begitu akan memasuki lift bersama Ratih yang merupakan karyawan setianya dari dulu, langkah kakinya Fiona terhenti karena sebuah suara dan pergelangan tangannya dicekal. Fiona menoleh dan mendapati Fahri berdiri di sebelahnya, langsung melepaskan cekalan pada pergelangan tangannya Fiona. "Sorry... sorry." Fahri mengulum bibirnya, canggung—merasa asing sekali rasanya dengan perempuan yang namanya masih bertahta di dalam hatinya itu. Padahal mereka pernah berbagi ranjang yang sama dulu. Pernah merangkai banyak cerita berdua, yang sayangnya semua tinggal kenangan yang tak akan bisa diulang lagi. "Bisa bicara bentar nggak, Fi? Fahri rindu, ingin sekedar mengobrol singkat saja. Walau dia tahu saat ini sang mantan istri tengah dekat dengan seorang lelaki itu jauh kualitasnya di atas dia dari segi apa pun, tetap saja dia ada rasa tak rela. Fahri sadar atas kesalahannya dan menyesal, bahkan pernah sampai mengamuk membanting apa pun di rumah kala itu. Sulit baginya menerima apa yang telah lepas darinya, dan sakit mengingat masa lalu. Yang seharusnya dia bisa lebih tegas kepada mamanya, mengabaikan permintaan mamanya yang waktu itu berkali-kali sakit. Fahri merasa hancur sekali. Dia sangat-sangat sadar telah kehilangan berlian dalam hidupnya. Tak hanya hatinya yang sakit melepas Fiona, tapi segalanya hancur begitu saja. Kerjaan, anak yang dia telah sayang dari dalam kandungan yang ternyata bukan darah dagingnya. Lalu, yang terakhir setelah beberapa bulan menganggur dan mendapatkan pekerjaan baru, sang mama mengalami stroke. Tak bisa berbicara dan lumpuh, harus menggunakan kursi roda ke mana-mana. Itu membuat Fahri harus menguras uang simpanan hasil penjualan rumahnya dengan Fiona. Mungkin itu adalah balasan juga atas perlakuan sang mama terhadap Fiona. Andai dulu begini,.. Andai dulu begitu... Fahri menyesali banyak hal, yang tak akan bisa diubah lagi. Cintanya—seseorang yang dulu bersusah payah dia dapatkan, terlepas darinya karena ulahnya sendiri juga. Berawal dari mamanya dan juga dia sendiri yang telah mengkhianati pernikahan mereka. Nafsu sesaat yang membawa pada kehancuran. "Mas?" Fahri tersentak. Terlarut dalam lamunan tentang kisah yang sudah berlalu, dengan pandangan tak beralih dari wajahnya Fiona. Wajah teduh yang menenangkan, yang biasanya bisa dia pandang ketika membuka mata di pagi hari. "Mau ngobrol-ngobrol sebentar di resto dekat sini, mau nggak, Fi?" Fahri menoleh kepada karyawannya Fiona yang juga dikenal olehnya. "Berdua aja. Aku pengen ngobrol-ngobrol aja sama kamu." "Berdua aja?" Fiona tersenyum, kemudian menggeleng singkat. "Kalau mau ngobrol, di sini aja, ada Ratih juga enggak apa-apa. Aku nggak bisa kalau ngobrol di suatu tempat berdua aja, meski semisal ada hal penting pun yang mau dibicarakan. Maaf, aku nggak mau calon suamiku salah paham. Kami akan menikah dalam waktu dekat, aku enggak mau ada kesalahpahaman di antara kami walau sekarang nggak ada apa pun lagi di antara kita." Fahri terkejut. Tak menyangka jika Fiona akan segera menikah setelah setahun perceraian mereka. Dia pikir, Rasyid baru tahap pedekate saja. "Ka-mu mau menikah?" Fiona mengangguk. Bukannya mau pamer, tapi dia harus tegas memberi jarak pada siapa pun. Tak ingin terjadi kesalahpahaman seseorang yang telah menaruh kepercayaan padanya, juga begitu mencintainya dengan tulus. "Kurang dari sebulan lagi aku akan menikah dengan Kak Rasyid. Maaf, aku nggak ngundang kamu karena undangan kita terbatas." Fahri tersenyum getir. "Menikah dengan Rasyid, ya? Ya... kalian terlihat cocok sekali. Rasyid adalah orang yang hebat, sama seperti kamu. Dan dia terlihat begitu mencintai kamu." "Hmmm. Jadi mau mengobrol, Mas? Kalau nggak, aku harus segera balik ke toko." Fahri menggeleng. Dia pikir kesempatan itu masih ada walau tipis, ternyata sudah tak memungkinkan. Fiona telah menerima lamaran lelaki lain. Padahal, berbulan-bulan lalu Fahri masih gencar mendekati dan sempat mengutarakan niatnya ingin rujuk. Dia baru berhenti—menjaga jarak saat tak sengaja bertemu dengan Fiona dan Rasyid kala itu. Terlihat bagaimana posesifnya Rasyid kepada Fiona. Rasyid bukannya lawan yang bisa dianggap remeh, malah dirinya yang berada jauh di bawah lelaki yang merupakan pemilik perusahaan itu. Fiona yang cantik dengan pembawaan selalu tenang dan juga lembut, keibuan serta pintar juga, wajar jika mudah dicintai oleh siapa pun. Lihat lah bagaimana ketika perempuan itu berbicara, selalu terlihat elegant. Meski Fiona tak menyukai seseorang, dia tak akan berkoar-koar. Fiona bisa menempatkan diri dalam kondisi apa pun, dengan siapa pun lawan bicaranya. Harus Fahri akui jika memiliki Fiona adalah sebuah anugerah baginya. Sayangnya, dia telah menyia-nyiakan berlian yang dulu susah payah dia dapatkan. Yang harus bersaing dengan banyak lelaki lain. "Lancar persiapannya sampai hari H ya, Fi. Aku ikut mendo'akan yang terbaik untuk kamu. Dia sungguh beruntung mendapatkan perempuan seperti kamu." "Iya, makasih, Mas. Aku juga merasa sangat beruntung mengenal sosok Kak Rasyid dalam hidupku." *** LDR semingguan dengan Fiona terasa lama sekali bagi Rasyid. Seperti dia tengah kuliah di luar negeri jauh dari keluarga, begitu rasanya. Hari-harinya sibuk sekali di site dan kantor kecil di sana selama pembangunan proyek. Tapi, tetap komunikasi dengan calon istrinya tak terlewatkan. Dadanya terasa membuncah ketika hari terakhir di sana, Fiona merengek padanya saat tengah video call. Bukan perempuan itu saja yang rindu, Rasyid lebih-lebih lagi. Yang kata orang-orang tak boleh bertemu mendekati hari pernikahan, tapi dia mengabaikan hal itu. Tak sekedar ingin bertemu, tapi karena perempuannya itu ingin memasak untuknya. Masih seminggu lagi menikah, sepertinya tak apa jika bertemu malam ini saja? Rasyid sungguh tak bisa membendung rasa rindunya terhadap Fiona. Apa lagi setelah mendengar rengekan perempuan itu. Yang belakangan ini manja sekali padanya, dan Rasyid tentunya senang memanjakan perempuan yang telah lama disukainya itu. Apa pun, dia akan usahakan untuk perempuan itu. Tak boleh ada kesedihan lagi di wajah perempuan itu, no more tears. Jika pun Fiona menangis, Rasyid harap adalah tangisan haru atau keluh kesah terhadap sesuatu yang harus bisa Rasyid atasi. Malam hari, dari bandara langsung Rasyid menuju apartemen. Senyuman menghiasi bibirnya, meski cukup melelahkan hari ini. Masih mengunjungi proyek sebelum kembali ke hotel dan buru-buru ke bandara. Tak ingin mengecewakan Fiona yang telah membelikan tiket untuknya. Tiba di depan apartemen, Rasyid menetralkan detak jantungnya. Bersemangat sekali sampai melangkah cepat menyeret kopernya. Begitu pintu terbuka, dia menegang sejenak karena Fiona langsung memeluknya. Rasyid balas memeluk erat perempuan itu, menyampaikan rindu yang begitu dalam. Fiona menggamit lengannya memasuki apartemen. "Wait ya, aku siapin makan dulu. Udah selesai aku masaknya. Eh, tapi kamu mau mandi dulu nggak?" "Boleh deh, kayaknya aku mau mandi dulu." "Bentar. Aku ambilin handuk dulu." Rasyid meraih tangannya Fiona yang hendak melangkah menuju kamar. Dia kembali memeluk perempuan itu. "Kangen banget sama kamu. Lama rasanya seminggu di sana." "Sama. Aku juga kangen." Suara Fiona terdengar mencicit pelan. Gemas sekali Rasyid dibuatnya. Pelukan Rasyid semakin erat saja. Dia kecup kepalanya Fiona, lama. Kemudian, dia angkat tubuh perempuan yang dicintainya itu dan mendudukkannya di atas meja bar. Rasyid berdiri di celah kaki Fiona, dengan tangan melingkari pinggang perempuan itu. Dia tatap perempuan itu lekat-lekat, yang tak pernah membosankan untuk dipandangi. "Kenapa lihatin aku begitu?" Fiona tampak salah tingkah. Rasyid menggeleng. Tangannya berpindah posisi menangkup wajah perempuan itu. "Kok bisa ya, kamu tuh bikin aku jatuh cinta berkali-kali kayak gini?" Fiona yang ditatap, mukanya memerah. Barusan sempat mengalihkan pandangan, tapi lelaki itu menangkup wajahnya hingga tatap mata mereka berdua beradu. “A-aku enggak tahu.” Fiona menundukkan kepala. Dia tak mengerti apa kah sudah jatuh cinta atau belum, akan tetapi degup jantungnya berpacu dengan cepat. Rasyid makin gemas menyadari rona cantik calon istrinya itu. Tidak tahu apa kah perempuan itu sudah jatuh cinta kepadanya atau belum, yang Rasyid tahu, perempuan itu nyaman di dekatnya. Menerima segala sesuatu perhatian darinya, dan yang paling membuat Rasyid senang, perempuan itu merasakan rindu yang sama sepertinya. Tak apa belum ada kata cinta terlontar dari mulut perempuan itu. Rasyid yakin, dia tak selamanya bertepuk sebelah tangan. Dia tahu, seorang Fiona tak akan mempermainkan sebuah pernikahan. “Kamu dari dulu selalu cantik, enggak berubah. Aku suka semua hal tentang kamu.” Rasyid seterus terang itu mengenai perasaannya. Rasyid menempelkan hidungnya dengan hidung perempuan itu. “Aku sayang sekali sama kamu, Fi. Sangat-sangat sayang.” Fiona tak membalas ucapannya Rasyid. Namun, matanya Rasyid langsung membola ketika Fiona menyatukan bibir mereka. Rasyid sudah tahan-tahan, tapi ternyata Fiona yang memulai duluan. Rasyid tersenyum, perutnya serasa digelitiki sesuatu. Berciuman dengan Fiona, hal mustahil yang tak terpikirkan olehnya dulu, kini nyata. Dan akan lebih dari ini nantinya, setelah mereka menikah tentunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD