Aisya bergerak cepat kekerumunan murid yang ada diujung kantin. Tempat yang dulu selalu ditempatinya bersama Adiva, menghabiskan seluruh stok makanan yang dibelinya dari ujung ke ujung. Tempat yang pernah dibuatnya melancarkan rencana mencari tau siapa sebenarnya seorang Syarif saat itu.
Aisya membelah kerumunan tersebut dengan dua tangannya yang mungil, mencoba cari tau apa yang sedang terjadi disana. Dan perempuan itu pun cengok mendapati seorang gadis terduduk di meja yang sedang makan cabe, dengan wajah merah dan airmata yang sudah berkumpul disudut matanya. Sedangkan Aisya melirik anak laki-laki yang tidak jauh darinya tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya, kemudian dengan berbagai u*****n laki-laki itu menggebrak meja, menyuruh agar gadis itu cepat menghabiskan cabe sebagai makan siangnya.
"Bisa sabar nggak lo!"
Sentak balik gadis itu. Aisya tersentak, dia kira anak gadis itu takut dan menjadi bahan bullya-an anak semacam Delon, ya dia lagi yang mencari masalah.
"Ini CABE, bukan TERONG."
"Woy, lo diem aje. Makan ya makan aja, mau gua tambah hukuman lo?"
Aisya kini heran. Zaman bukannya semakin menumbuhkan anak-anak yang berperilaku baik, tapi malah merusak zaman itu sendiri. Dia kira, hidup waktu SMA dengan segala kebandelan yang dilakukannya, sudah termasuk memalukan untuk di ingat. Tapi ini? Hft.
"Denger ya lo, gua nggak bakal kalah lagi dari lo. Jadi lo bisa puasin hukuman lo sekarang, karena untuk selanjutnya, hukuman itu berlaku buat lo!"
"HENTIKAN."
Kini Aisya membuka suaranya, memecah perdebatan yang diyakininya akan berlanjut dan tidak ada habisnya.
Semua mata disana langsung tertuju pada perempuan itu, oh tidak. Bukan pada Aisya, tepatnya pada seseorang yang ada dibelakangnya. Perlahan satu persatu murid yang jadi penonton kejadian itu, melipir pergi, hingga hanya tersisa Aisya, Delon, dan juga gadis yang sekarang terlihat ketakutan.
Ah, gue mah, cuman ngomong "hentikan" gitu saja, udah pada kabur ketakutan. Ya, kayaknya jiwa guru killer Syarif mulai menular ke gue. Yeay, makasih muka papan.
Sorak Aisya dalam hatinya.
"Sudah selesai?"
Seusai bersorak, hatinya langsung menyiut ketika mendengar suara bariton dan pemiliknya sudah ada disampingnya.
"Kenapa kalian selalu membuat keributan?"
Ucap Syarif, yah. Laki-laki itu terlihat tenang, tapi membawa aura yang mencekam.
"Itu, yang akan membuat Bapak rindu padaku."
Bisik gadis yang masih terduduk didepan meja, namun sudah berhenti dari aktivitasnya.
Aisya mendelik mendengar bisikan yang masih bisa didengarnya, sedangkan perempuan itu menoleh kearah Syarif, dan wajahnya tidak menunjukkan ketersinggungan. Apa iya, telinga tajam Syarif sekarang mulai melemah?
Asik, bisa dimanfaatkan melemahnya ketajaman telinga Syarif. Aisya lagi-lagi bersorak.
"Maaf, Pak. Tapi Delan yang mulai duluan menantang saya."
Ucap Delon membela dirinya.
"Enak aja, Delon Pak. Saya di bully, saya disuruh makan cabe sepiring. Nanti gimana saya bisa ikut pelajaran Bapak kalo harus bolak-balik ke kamar mandi?"
"Jangan banyak alasan. Sebentar lagi bel masuk. Kalian pergi ke kelas masing-masing."
Perintah Syarif yang disetiap kalimatnya selalu berakhir dengan tanda titik. Itu artinya tidak bisa diganggu gugat.
"Ba-ik Pak."
Teman-temannya Delon bergerak cepat meninggalkan tempat yang bisa jadi tempat keramat jika Syarif sudah murka.
Gadis yang bernama Delan pun berdiri dan berjalan kearah stan kantin, mengeluarkan uang dari sakunya dan membayarkan cabe yang telah dimakannya. Sedangkan Delon hanya tersenyum kecut lalu pergi begitu saja. Mereka semua bubar terlalu cepat. Aisya masih belum puas melihat Syarif, jangan bilang setelah ini laki-laki itu pun akan pergi.
"Sudah pesan makan?"
Suara itu yang sangat diharapkan oleh Aisya.
Sudah pesan makan? Ah, Syarif aku tau apa maksudmu. Sebenarnya kamu mau bilang, sudah makan belum? Iya kan? Pakek disamarin nanya sudah pesan segala.
"Belum."
Jawab Aisya sekenanya. Dia melihat Syarif mendekat kearah kursi panjang didepan meja, kemudian menghempaskan tubuhnya disana dengan hentakan kecil. Mengangkat sedikit keatas lengan bajunya yang panjang. Kemudian menoleh kearah Aisya yang masih berdiri dibelakangnya.
Oksigen, oksigen. Butuh tabung oksigen ini baaang.
Wajahnya berseri karena cahaya dari celah platfon mengenainya. Matanya terlihat semakin tajam, alis yang semakin tebal seperti ulet bulu, hidungnya yang mancung dan bebas dari jerawat, juga bibirnya yang membuat semua kaum hawa mengidam-idamkannya. Makhluk seperti apa dia? Yang sejak dulu selalu mengalihkan perhatiannya. Tapi sayang, cintanya hanya melalui doa sebagai penyampaian. Mengulik setiap kejadian dulu untuk diceritakannya diatas sajadah, tapi kini? Bagian cerita yang mana, yang harus diulasnya? Jika banyak sekali yang terjadi diantara mereka sekarang.
Matanya mengerjap, mencoba menyadarkan otaknya yang harus segera waras karena Syarif sedang menepuk kursi disampingnya, menyuruhnya untuk ikut duduk disampingnya.
"Sebentar lagi bel masuk, jangan bawa kebiasaan telat masuk kelasmu dulu sampai sekarang."
Ucapan itu semakin menyadarkannya. Bahwa Syarif tetap sama, sama seperti dulu, yang mengerti Aisya dibalik sikap dinginnya.
Perempuan itu pun segera mengikuti perintah Syarif. Waktu pun hanya tinggal 10 menit, untuk makan, dia harus berubah jadi perempuan berkekuatan super, bisa lah kayak flash gitu.
***
"Gilee, ajib banget dah.. Lo diajakin makan bareng sama Kak Syarif?"
"Nggaak, kebetulan aja kita ditempat yang sama. Jangan bikin gosip deh, apalagi sampek kedengeran Kak Arkhan. Bisa-bisa gue pakek kantong kresek didepan dia, pasti bilangnya melebih-lebihkan sebuah kejadian, padahal mah enggak. Paling juga yang ngegosip, yang suka melebih-lebihkan."
Elak Aisya.
"Udeh? Nyerocos aja lo."
Gerutu Adiva tidak terima jika jawaban sahabatnya terlalu panjang dan malah menyudutkannya.
"Eh btw nih, perasaan lo sebenernya gimana sih sama Kak Syarif? Terakhir kali gue tanya ini pas lo berniat untuk pergi nyantren. Disaat itu, lo bilang sangat kecewa dan sedih ngeliat Kak Syarif nggak percaya dengan lo, dan itu pun alesan lo milih ninggalin rumah dan pergi ke pesantren."
Aisya menunduk setelah tersenyum sekilas. Dia mengendikkan bahunya.
"Gue sendiri bingung."
"Bingung?"
Aisya mendongak,
"Iya, selama gue nyantren, gue coba lupain dia. Jauh dari perkiraan gue, ngelupain Kak Syarif lebih sulit daripada ngelupain Kak Arkhan, yang notabenenya dulu sangat gue kagumi."
Ucap Aisya, dia melihat Adiva sedikit gugup saat mendengar sahabatnya mengucap nama Arkhan. Adiva merasa tidak enak karena telah mempunyai rasa pada laki-laki yang dulu sangat dikagumi oleh Aisya.
"Maaf, Kak Arkhan masa lalu gue, Div.. Gue nggak punya perasaan apapun lagi ke dia, entah kalo buat Kak Syarif."
Adiva mengelus pundak Aisya,
"Lo tau rumus besaran usaha di fisika?"
Tanpa terduga, bukannya menenangkan Aisya, Adiva malah memberinya soal, semacam kuis.
"Iya,"
"Apa rumusnya?"
"Usaha diketahui dari gaya dikali dengan jarak. Rumusnya W = F.s"
"Nah, itu.."
"Apa?"
Bukannya menjawab, Adiv hanya bilang "nah itu".
"Kalo nyari jaraknya gimana?"
"Ya tinggal dibalik, berarti s = W/F. Jarak diketahui dari usaha dibagi dengan gaya. Apaan sih lo? Lo mau nguji seberapa ingetkah gue sama pelajaran yang gue emban sekarang?
"Bukan, bukaaan. Sabar dong bu. Gini, kalo rumus nyari jarak aja dari usaha dibagi gaya. Yah, anggap aja lah gaya itu seperti doa. Jadi selain usaha, lo juga harus berdoa. Karena usaha aja butuh pembagi supaya bisa menghasilkan jarak, dan pembaginya adalah doa. Ketiga satuan itu selalu berkaitan."
Ucap Adiva terlihat sangat bijak.
"Jadi, kalo lo sudah berusaha dan berdoa, maka jarak pun akan muncul dengan sendirinya. Entah itu jarak membuat kalian dekat, atau saling menjauh."
Seperti rumus fisika, jarak itu didapat dari usaha dan gaya. Anggap saja gaya sebagai doa. Maka jika sudah menyatukan keduanya, jarak akan muncul dengan sendirinya, entah membuat saling mendekat, atau semakin menjauh.
***