PART 8 – AKU

1094 Words
"Penting. Dia sekarang baik-baik saja. Sedang merawat baby dirumah."  Jawab Syarif.  Baik-baik saja? Merawat baby? Baby? Dirumah? Maksudnya, merawat anak mereka dirumah Syarif? Ah, kenapa persepsiku jadi negatif seperti ini.  Aisya menggerutu sendiri, dengan menggigit bibir bawahnya.  "Dirumah siapa?"  Tanya Aisya pelan. Takut rasa penasarannya bisa terbaca oleh Syarif. Kalau itu terjadi, mati kutu lah dia.  "Dirumahku."  Jawaban singkat Syarif mampu mewakili semua kecamuk yang ada dalam hatinya. Begitu menohok hingga mampu mematahkan kakinya yang berusaha kokoh memijak tanah.  "Kenapa harus dirumahmu?"  Tanya Aisya tak terkendali. Dan membuat Syarif menoleh kearahnya dengan dahi yang berkerut.  "Maksud aku, dia kan tetanggamu, mmm, tapi kenapa merawat baby-nya dirumahmu, eh tapi gapapa sih, mungkin cuman main, hehe. Dari dulu, Alfa memang suka main dirumahmu kan?"  Aisya jadi semakin tidak terkendali dan semakin pula membuat Syarif memandangnya aneh.  "Dia memang tinggal dirumahku."  Jawaban Syarif lagi-lagi menohok kakinya yang dari tadi sudah ingin limbung.  "Jadi kalian sudah menikah?"  Sergah Aisya yang tidak setuju lagi dengan taktik pelan tapi pastinya. Pertanyaan macam apa yang sejak dari tadi diajukannya, yang malah membuatnya merasa ditarik ulur.  Bukannya menjawab, Syarif malah memandang Aisya dengan mata yang menyipit, dan bibir yang berkedut. Baru kali ini perempuan itu melihat ekspresi Syarif sedang menahan tawa. Oh sebentar, itu menahan tawa atau menahan sesuatu yang lain? Maksudnya, menahan pesonanya yang akan menguar, dan malah membuat pertahanan Aisya runtuh, lalu tanpa terkendali tubuhnya limbung ke tanah.  "Kenapa Kak? Itu pertanyaan yang paling tepat kan? Seorang perempuan tinggal dirumah laki-laki, lalu merawat seorang bayi didalam rumah itu. Apalagi kalo bukan menikah?"  Ujar Aisya, dia terduduk dibangku depan warung tahu campur itu. Kakinya memang sudah lemah, selemah harapannya. Aiish.  "Memang ada ikatan pernikahan."  Jawab Syarif masih dalam posisi berdiri, tidak peduli bagaimana posisi Aisya sekarang. Sedangkan perempuan itu hanya bisa mendongak ke atas, melihat Syarif yang semakin menjulang tinggi tubuhnya, sama dengan harapan yang sedang dipikul Aisya sekarang. Rasanya, akan segera punah harapan itu.  "Alfa dengan Kak Faruq."  Tambahnya. Membuat Aisya langsung berdiri.  Itu artinya?  "Dengan siapa Kak?"  Aisya ingin memastikan lagi yang didengarnya, pendengarannya tidak menangkap nama Syarif sama sekali.  "Memorimu masih berfungsi kan?"  Tanya Syarif.  "Iya, tapi telingaku yang sedikit kehilangan fungsinya. Aku nggak denger yang terakhir tadi, coba ulangi Kak."  "Kak Faruq."  Yah, Aisya sudah yakin dengan yang didengarnya. Faruq, bukan Syarif. Eh, tapi siapa dia?  "Siapa dia?"  "Itu penting?"  "Iya, selagi kita belum pulang."  "Ayo, pulang."  Syarif mendahului langkahnya, meninggalkan Aisya yang masih sibuk dengan rasa penasarannya. Laki-laki itu kembali kedalam sekolah yang tidak jauh, untuk mengambil mobilnya.  "Kak, aku butuh kepastian."  Ucap Aisya lirih. Dia tidak bisa berteriak kearah laki-laki itu. Maka, dengan segenap hati, akhirnya harus menahan dulu rasa penasarannya, lalu mengikuti langkah laki-laki itu yang sudah semakin jauh.  ***  Setelah berada dalam satu mobil, dan hanya terpisah oleh jarak, juga keheningan. Aisya memainkan jari-jarinya, entah apa yang sebenarnya dia lakukan, tapi yang pasti perempuan itu sedang berpikir siapa Faruq? Dan bagaimana bisa Alfa menikah dengan laki-laki itu? Bukan dengan Syarif, yang notabenenya adalah laki-laki idamannya sejak dulu untuk menjadi imam dalam keluarga.  Aisya melirik kearah Syarif yang sedang fokus menyetir, bom yang meledak disampingnya pun tidak akan bisa mengganggu laki-laki itu jika sudah berkonsentrasi. Lihat, matanya saja terfokus tepat pada satu titik, yaitu jalan.  Jalan, bukan Aku! Dia lebih suka liat jalan, bukan liat aku, padahal mukaku sudah mirip jalan, datar, nggak ada apa-apanya. Masih belum tertarik juga?  "Apa yang kamu fikirkan?"  Suara itu langsung menginterupsi keheningan, menggema didalam sana, dan membuyarkan lamunan Aisya yang begitu absurd.  "Eh, nggak kok."  Jawab perempuan itu sekenanya.  "Tentang Kak Faruq?"  "Iya."  Jawab Aisya langsung.  "Dia kakakku, umurnya beda denganku sekitar 4 tahun. Dulu, Alfa memang jarang ketemu dengannya, karna Kak Faruq tinggal di kota lain bersama nenek, tapi beberapa tahun belakangan dia balik, dan entah bagaimana caranya, mereka memutuskan untuk menikah."  Jelas Syarif. Sedangkan Aisya hanya berah-oh ria setelah mengucap syukur alhamdulillah sebanyak mungkin.  "Sudah?"  Pertanyaan itu mengembalikan kesadaran Aisya, itu artinya Syarif akan mengakhiri tanya-jawab diantara mereka.  "Belum, satu lagi."  Pinta Aisya dengan mengacungkan jari telunjuknya.  "Hm?"  "Mulai darimana ya,"  Bisik Aisya pada dirinya sendiri sembari mengigit jari telunjuknya yang selesai mengacung tadi. Mulai darimana? Pertanyaannya takut menyinggung perasaan Syarif.  "Mmm, gini Kak. Dulu, Alfa kan menyukaimu, dan berharap kamu lah yang akan jadi imam keluarganya. Tapi kenapa, sekarang Alfa malah menikah dengan Kak Faruq? Kakakmu sendiri."  "Apa yang dipertanyakan?"  Jawab Syarif langsung.  "Itu sudah takdir bukan?"  Jawaban yang sangat benar. Tapi bukan itu yang dimau Aisya.  "Iya, tapi,"  Aisya bimbang.  "Gimana dengan perasaanmu? Dan perasaan Alfa?"  "Bahagia."  "Nggak mungkin."  "Pernikahan kan mencari kebahagiaan."  "Oke, itu untuk Alfa. Tapi gimana denganmu?"  Ucap Aisya yang kelewat penasarannya. Dia tidak peduli lagi dengan janjinya yang hanya satu pertanyaan lagi.  "Begini, kamu kan mencintainya nih Kak. Nggak mungkin dong kamu segampang itu bahagia ngeliat Alfa nikah, iya kan?"  "Kata siapa aku mencintainya?"  Pertanyaan yang diajukan balik oleh Syarif semakin mengulik hatinya. Aisya semakin ketar-ketir. Takut bicara, tapi juga penasaran.  "Bukannya, kamu mencin..."  "Aku mencintai orang lain."  Jawaban yang menguarkan teka-teki baru, siapa? Jika bukan Alfa, perempuan yang beruntung.  "Jangan bertanya lagi. Janjimu hanya satu pertanyaan."  Belum juga mulut Aisya mangap, tapi Syarif sudah mencegahnya dengan pasti. Membuat teka-teki itu tidak terjawab langsung sekarang. Baiklah, diterka bisa tak? Perempuan yang dekat dengan Syarif hanya beberapa, bisa dihitung pakai jari, semuanya, itu sama dengannya yang menjadi pengagum rahasia. Apakah Aisya masih bisa dikatakan pengagum rahasia?  Beberapa saat kemudian mobil sudah terparkir didepan rumah Aisya, masih menyisakan penasaran akut perempuan itu. Mungkin tidak sekarang, tapi itu akan berlanjut sampai nanti, sampai jawaban itu didengarnya langsung dari Syarif, siapa perempuan beruntung yang selama ini telah dicintainya.  "Makasih Kak, mampir?"  Ucap Aisya melihat kedalam mobil setelah dirinya sudah keluar.  "Sama-sama, aku belum bisa mampir, masih ada perlu. Salam saja ke orangtuamu."  Jawab Syarif dengan manisnya.  "Assalamualaikum."  "Waalaikumsalam."  Aisya tersenyum sangat manis, mengimbangi manisnya senyum Syarif.  Sebuah mimpi indah yang panjang. Bisa berbincang dengannya secara hangat.  Aisya melangkahkan kakinya kedalam rumah, dengan senyum yang masih terpatri, perempuan itu mengingat salam Syarif, agar tidak lupa disampaikannya pada Nada dan Iqbal. Tanpa perlu diingat, apapun tentang manusia dingin itu akan selalu ada secara otomatis dalam memorinya.  Mata Aisya mengerjap saat tersadar di pekarangan rumahnya telah terparkir satu mobil, mobil siapa? Mobil orang tuanya Adiva kah? Ah iya, orang tuanya pasti sudah pulang dari luar kota. Dan sedang membawa oleh-oleh yang banyak. Perempuan itu pun mempercepat langkahnya, sedikit berlari agar bisa mencapai ambang pintunya.  "Assalamualaikum."  Aisya menelan ludahnya susah, dengan khawatir dia memperhatikan dalam rumah itu yang ramai.  Jika bisa, aku akan membuatmu bicara bahwa gadis yang beruntung itu adalah AKU. Yang beruntung telah kamu cintai, Syarif.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD