Belajar masak

1146 Words
Pertanyaan dari Alif tadi tidak bisa di jawab oleh wanita itu. Aura mampu terdiam dengan wajah bersemu. Dia mundur sedikit setelah selesai mengoles foundation ke leher suaminya. Wanita itu berdehem sebentar. "G-gue ke kamar mandi dulu." katanya gugup. Brak! Alif terperanjat karena suara debaman pintu yang di buat oleh Aura. Lelaki itu menghela napas sembari mengelus dadanya. Harus sabar melihat tingkah Aura yang terkadang sulit untuk di tebak. Lelaki itu lantas ke luar dari kamar setelah mengenakan pakaiannya. Pagi hari bukan di mulai dengan acara sarapan pagi, malah melakukan aktivitas yang membuat tenaga terkuras. Alif pun membuka kulkas. Melihat bahan masakan di dalam sana. Tersenyum kecil, karena pagi ini dia akan membuat sandwich saja. Terlalu sering memakan nasi goreng tiap pagi, buat bosan juga. Tangan kurus itu mengambil lembaran roti tawar. Mulai meletakkan daging sapi yang dari dalam kaleng kemasan. Begitu cekatan membuat sarapan pagi. Sampai selesai bikin sarapan. Istrinya itu juga tidak terlihat batang hidungnya. Membuat Alif mendengkus kasar. Membawa dua sandwich dengan dua gelas s**u ke lantai atas. Lebih baik mendatangi Aura dan mengajak sarapan bersama. "Ra," panggil Alif begitu masuk ke dalam kamar. Melihat Aura sedang rebahan di atas kasur sambil bermain ponsel. Melihat itu, Alif berdecak kesal. Pantas saja Aura tidak ke bawah. Ternyata sibuk dengan dunia sendiri. "Sarapan dulu!" ajak Alif. Meletakkan nampan tadi atas meja nakas. Aura melirik Alif. Dan menyudahi scroll tiktoknya. Sebisa mungkin Aura tidak gugup di hadapan Alif karena pertanyaan lelaki yang beberapa menit lalu. "Sandwich?" tanya Aura, mengambil piring kecil yang di atasnya ada satu potong sandwich. Alif mengangguk. "Bosan terus kalau makan nasi goreng," balasnya. Aura mengunyah sandwichnya dalam diam. Sambil merenungi dirinya yang tidak bisa memasak hingga sekarang. Terkadang insecure melihat Alif yang sangat pandai sekali di urusan dapur. Aura menghela napas. Menyuapkan sandwichnya untuk terakhir. Setelah itu meminum s**u yang di bawakan Alif hingga habis. Mendengkus kasar kemudian. Alif yang kebetulan juga selesai makan pun menatap Aura heran. "Kenapa? Bete di rumah? Atau mau jalan-jalan?" tanya Alif beruntun. Namun, Aura malah menggeleng. Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Meletakkan bantal di atas pangkuannya. "Bete aja karena nggak bisa masak," aku Aura memalingkan wajahnya. Alif terkekeh geli. "Salah sendiri, kenapa nggak mau belajar," balas Alif terus terang. Aura memicingkan mata, menatap Alif sinis. "Daripada lo nggak punya otot sama sekali," serobot Aura kesal. Alif jadi terdiam. Setelah itu berdeham karena sedikit tersinggung dengan perkataan Aura. Setelah menyadari kesalahannya. Aura menggigit bibir gemas. Bukannya minta maaf, Aura malah menaikkan dagunya gengsi. "Terus kenapa lo bilang, lo itu takut sama alat olahraga?" tanya Aura sama seperti di kolam tadi. Alif menatap Aura nelangsa. "Please, Ra. Jangan bahas itu lagi. Katanya kamu mau dengar kalau aku udah siap cerita. Dan sekarang aku belum siap," ucap Alif dengan suara melemah. Wanita itu terdiam. Dan mengusung senyum tipis. Mengusap tangan Alif pelan. "Maaf, deh. Lagian lo sih, kenapa singgung gue pasal masak memasak. Padahal udah tau gue nggak bisa megang alat dapur lagi," cerocos Aura. "Bisa kalau kamu ada kemauan," balas Alif santai. Aura mengerucutkan bibirnya. "Mau sih, tapi rada takut," balasnya pelan sambil menunduk. Alif menaikkan satu alisnya. "Mau aku ajarin?" tawarnya. Entah kenapa mata Aura berbinar setelah itu. Dan mengangguk pelan membuat Alif tersenyum senang. Mengambil tangan Aura dan menggenggamnya. "Ayo! Ke dapur!" ajaknya. "Eh, eh, mau ngapain?" tanya Aura panik. Mengikuti langkah kaki Alif. Satu tangan lelaki itu membawa nampan yang berisi piring kotor dan gelas kosong. "Tapi katanya mau belajar masak," balas Alif dengan mereka menuruni tangga. Aura menahan pergerakan mereka setelah sampai di dapur. "Tapi kan, gue nggak bilang hari ini juga belajarnya," terang Aura. "Terus kapan?" tanya Alif menatap Aura. Aura menggaruk tengkuknya. Tiba-tiba merasa salah tingkah karena di tatap intens oleh Alif ini. "Ya, pokoknya nggak sekarang. Gue belum siapin mental. Besok-besok aja, deh." Aura mengibaskan tangannya. Alif menganguk mengerti. "Tapi, Ra," ucapnya. "Kalau ada hari ini kenapa harus esok? Menunda yang baik itu nggak baik lho," lanjutnya lagi. Ekspresi Aura jadi pias. Alif seakan tau kalau dia hanya mengulur waktu untuk belajar masak. Karena merasa kalah, Aura menatap Alif memelas. "Jangan hari ininya, besok aja." bujuknya. Namun Alif tetap menggeleng tegas. Mengambil satu apron. Dan mulai memasangnya di leher Aura. Wajah mereka berdekatan karena Alif mengikat tali apron ke leher dan pinggang Aura. "Aku pengen lho makan masakan kamu," balas Alif. Hidung mereka hampir bersentuhan. "Sebagai guru masak kamu, aku janji akan bimbing kamu sampai bisa masak, masakan yang enak. Buat aku dan anak-anak kita nanti," ucap Alif sedikit berbisik di akhir kalimatnya. Darah Aura berdesir seketika. Pipinya memanas, entah merasa tersipu atau apalah karena perkataan suaminya tadi. Aura menggigit bibir bawahnya. Tangannya perlahan mendorong d**a Alif agar bisa jauh darinya. Alif terkekeh pelan, memencet hidung Aura pelan. Dan berbalik mengambil apron untuk dirinya sendiri. Aura mengambil kesempatan untuk mengipasi area wajahnya yang panas. "Perasaan di sini ada AC," gumamnya. Memperhatikan sekitar dapur. Melirik Alif yang sibuk mengeluarkan bahan masakan dari kulkas. "Ayo, sini!" ajak Alif, mendorong bahu Aura lembut dengan satu tangannya memegang bahan masakan yang di butuhkan nantinya. Alif dengan serius mengenalkan Aura dengan alat dapur dan bahan masakan yang ingin mereka masak kali ini. "Kita mau bikin sop ayam," ujar Alif ketika Aura bertanya mereka mau masak apa. "Sekarang kamu potong ayam ini, biar aku lihat dulu gimana kamu cara motongnya," suruh Alif. Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan d**a. Melihat Aura yang terlihat sangat kejijikan ketika memegang ayam mentah itu. "Iyuh," Aura mual seketika mencium bau ayam yang ada di tangannya. Alif menggeleng pelan. Saat melihat cara Aura memotong ayam yang tidak seberapa itu. Dengan penuh kesabarannya. Alif memegang tangan Aura dari belakang menuntut tangan wanita itu memotong ayam. Bukannya fokus mendengar penjelasan Alif. Aura malah mengulum senyumnya karena merasa nyaman di posisi begini. Wanita itu sedikit menyandarkan kepalanya di dekat d**a Alif. Dengan tangannya mengikuti gerakan tangan Alif yang menuntunnya. "Kamu ngerti kan?" tanya Alif tiba-tiba. Aura tersentak dan langsung mengangguk cepat. "Iya," balas Aura. "Kalau udah ngerti, coba potong sendiri," titah Alif. Dan hendak melepaskan tangannya dari atas tangan Aura. "Jangan!" larang Aura. Dan membuat Alif tidak jadi melepaskan tangan. "Kenapa?" tanya Alif tidak mengerti. Aura melirik Alif sebentar. "I-itu, aku kurang paham dikit. Jadi ajarin lagi," jelasnya. "Katanya udah ngerti," cibir Alif. Tidak urung kembali menjelaskan ke istrinya. Begitu seterusnya di sepanjang memasak. Aura hanya sedikit mendapat ilmu dari juru masaknya, alias suaminya juga. Namun, di sisi lain. Aura cukup senang karena dia bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aura tidak tahu, sejak Alif masuk dalam hidupnya. Lelaki itu bisa merobohkan dindingnya yang tidak mau jatuh cinta ke siapa-siapa. Melihat cara sabar laki-laki dalam menghadapi sifatnya yang tomboy dan egois. Juga, selain itu. Aura merasa penasaran dengan sisi lain dari seorang Alif. Alif itu terlihat tertutup dan Aura bisa menebak kalau Alif punya alasan di balik sifatnya itu. Terutama pertanyaan yang sudah bersarang di kepalanya sejak pagi tadi. Kenapa Alif tidak memiliki otot sama sekali?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD