Tamu dan kado

1289 Words
Bibir Aura mengerucut dan memalingkan wajahnya ketika matanya tak sengaja menatap Alif yang kini memasak makan malam untuk mereka. Wanita itu dengan pelupuk hoodie di kepalanya. Menumpukan dagunya di atas meja dengan tangan yang tertutup sebagian hoodie. Semenjak acara mandi bersama tadi. Aura malah ngambek dengan Alif. Tidak mau berbicara dengan suaminya itu sedikit pun. Bahkan kini Alif sudah datang dengan dua nasi goreng di masing-masing tangan lelaki itu. "Jangan ngambek lagi, aku minta maaf deh," ujar Alif menghela napas sembari meletakkan dua piring di atas meja makan. Duduk di kursi depan Aura. Mengambil tangan wanita itu dan mengusapnya. Sejurus kemudian menciumnya pelan. Mampu membuat d**a Aura berdegup kencang bersamaan pipinya memanas. "Gue nggak luluh!" ketus Aura. Melepaskan tangannya dari genggaman Alif. Mengambil sepiring nasi goreng itu dan memakannya. Alif mengalah, ikut makan meski otaknya terus berputar untuk membujuk Aura saat ini. Begitu selesai makan, Aura membawa piring bekasnya ke dapur. Menyalakan air keran untuk mencuci piring kotor tu. Namun, tidak berapa lama tubuh Aura tiba-tiba merinding. Apalagi merasakan seseorang berdiri tepat di belakangnya. Aura melirik ke belakang sekilas dari wangi parfumnya, Aura sudah menebak kalau ini adalah Alif. Wanita itu tetap menghiraukan. Tetap fokus dengan menggosok piring kaca itu. Aura menahan napas, ketika tangan Alif menyentuh tangannya. Bersamaan lelaki iti menaruh satu piring kotor lagi di dalam wastafel itu. Dengan gerakan pelan, Alif menuntun tangan Aura agar tetap mencuci piring itu. Hingga akhirnya mereka selesai. Aura pun langsung berbalik dengan pipi merona. "Minggir!" suruh Aura ketus. Alif bukannya minggir malah berdiri di tempatnya tadi. Dengan senyuman tipis lelaki itu. "Nggak mau minggir sebelum kamu mau maafin aku dulu," balas Alif. Aura mendengkus kasar. Memalingkan wajahnya tidak mau menatap mata Alif. "Minggir, Lif!" suruh Aura lagi. "Sebelum lo, dapat bogeman dari gue!" ancam wanita itu. Bukannya takut. Alif malah semakin mendekatkan wajahnya. Menyodorkan pipinya ke wanita itu. "Pukul aja, aku siap kok. Asal itu bikin kamu nggak marah lagi sama aku." ujar Alif tulus. Aura menghela napas dan memejamkan matanya beberapa saat. Dan ketika membuka mata, tak sengaja manik mata mereka bertubrukan. Aura tertegun sejenak melihat kelopak mata Alif berkedip dengan gerakan polos. Dan itu hampir saja membuat hati Aura meleleh. Segera mungkin Aura mendorong pipi Alif agar menjauh. "Gue lagi nggak mood mukul anak orang," ucap Aura meski nadanya tidak seketus tadi. Begitu hendak berlalu dari sana. Aura merasakan pinggangnya di lilit oleh tangan seseorang dan bertepatan itu tubuhnya terangkat serta di dudukkan di dekat wastafel. Refleks saja Aura mengalungkan tangannya di leher Alif. "Apaan, sih, lo?!" sentak Aura menggeplak kepala Alif spontan. Menjadikan suaminya itu meringis pelan. "Kok malah di geplak sih? Katanya lagi nggak mood mukul orang," ungkit Alif bersungut. "Ya, salah lo juga sih, kenapa suka banget bikin orang kaget!" balas Aura. Tak berapa lama malah melihat Alif tercengir sendiri. "Gila lo?" tanya Aura heran. "Iya, gila sejak jadi suami kamu," balas Alif ngawur. Hampir lagi! Hampir Aura ingin meledakkan tawanya karena itu. Tapi buru-buru di tahan wanita itu. Karena acara ngambeknya masih lama. "Nggak mempan gombalan lo," kilah wanita itu, kembali memalingkan wajahnya ke samping kanan. Menggigit pipi bagian dalamnya dengan gemas. Ini, kenapa Alif makin hari makin menjadi, sih?! Alif mendengkus geli. "Nggak mempan, tapi bisa bikin pipi kamu merah." balas Alif telak. Membuat Aura bungkam setengah mampu jadinya. "Ck! Harusnya lo, pura-pura nggak tau aja?!" kesal Aura dan mencubit perut Alif. "Sakit, Ra!" delik Alif dengan wajah memelas. Melihat itu Aura pura-pura merasa iba. Menangkup pipi Alif. "Sakitnya?" tanya wanita itu dengan wajah di buat prihatin. Alif pun mengangguk pelan. Sengaja memiringkan kepalanya agar bisa melahap bibir Aura yang terasa manis itu. Sebentar lagi, ia menyapu itu. Tapi sebuah tangan malah menutupi bibirnya. Sehingga ia mencium telapak tangan tersebut. Aura menatap Alif remeh. "Nggak ada ciuman untuk dua hari ini karena lo udah puas pas mandi tadi," ucapnya. Dan menjauhkan tubuh Alif. "Yah, kok gitu? Dosa tau, nggak mau melayani suaminya sendiri." Nasihat Alif memprotes. Namun sayangnya Aura tetap menggeleng tegas. "Salah sendiri kenapa maksa gue tadi," balasnya. Alif dengan wajah sebalnya, menaikkan satu alis. "Tapi kamu tetap nikmatin juga tadikan?" tanya Alif membuat Aura tidak berkutik lagi untuk saat ini. Melihat keterdiaman Aura. Alif malah mengambil kesempatan mencium pipi wanita itu. Menjadikan Aura mendelik ke arah Alif. "Nggak boleh cium bibir, tapi cium pipi bebas kan?" tanya Alif. Dan itu sangat menyebalkan di telinga Aura. "Serah lo, deh! Serah?!" jawab Aura dan perlahan turun dari meja sana. Saat hendak naik ke lantai atas. Aura malah berbalik arah menuju pintu utama. Karena mendengar suara bell dari sana. "Mama," mata Aura terbelalak. Dan langsung mengikis jarak dengan mamanya dan memeluk wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. "Heh, astaga. Udah nikah tetap aja kayak anak kecil." Asna memukul bahu Aura sedikit kencang. "Nggak malu kamu di lihatin sama suami kamu itu?" tanya Asna sedikit berbisik. Aura menghiraukan mamanya. "Nggak penting, lagian buktinya Aura kangen sama Mama dan Papa." balasnya. Melepaskan pelukannya dengan sang Mama dan beralih ke Papa. "Papa ...." rengek Aura saat Gani malah menghindar dari pelukannya. Pria itu lantas tertawa dan meraih tubuh Aura, memeluk anak sulungnya itu. "Kangen," gumam Aura tertahan. Air matanya hampir menetes kalau saja tidak melihat dua bocil di belakang sana. "Mereka ngapain ikut?" tanya Aura garang. Sungguh dia sangat membenci dua adiknya yang menyebalkan itu. "Mereka katanya kangen sama kamu. Terus karena waktu kamu nikah kan, mereka nggak ngasih kado. Jadi, mereka dua berinisiatif kasih kamu kado," jelas Asna. Merangkul kedua anak kembarnya. Aura mendelik ke adik kembarnya. Mereka dua ini selalu jahilin Aura kalau di rumah. Tidak bisa dikit, pintu kamar Aura tidak di kunci. Karena lima menit setelah itu, kamar Aura pasti bakal kayak badai yang di terpa. Miris sekali, kenapa Aura yang cantik sejagat raya ini. Malah punya dua adik kembar dan tingkahnya bikin mau nangis darah. "Heh, krucil mau ngapain lo?" tanya Aur panik. Karena perutnya di peluk oleh dua pasang tangan itu. "Peluk kak Aura. Soalnya kita kangen sama kakak," balas si Reno, adik kembarnya itu. Rana si kembaran pun mengangguk setuju. "Iya, soalnya kita kehilangan teman yang bisa kita jahilin," balasnya menyengir lebar. Aura hanya bisa mendesah pasrah. Membawa keluarganya masuk, dan matanya menatap Alif yang kini berdiri di dekat pintu. Atau lelaki itu sudah memperhatikan interaksi Aura dengan keluarganya lagi. Rumah pasutri itu terdengar lebih bising dari biasanya karena kehadiran si kembar yang bermain lari-larian sambil teriak. Seakan tidak peduli dengan kehadiran orangtua di sini. Apalagi pembicara Aura dengan orangtuanya selalu terpotong karena teriakan nyaring dari Rana dan Reno. "Kalian bisa diam nggak, sih?" tanya Aura mengusap wajahnya keruh. Alif mengulum senyumnya, melihat wajah Aura yang sangat kesal itu. Tapi selalu begitu menggemaskan bagi Alif. Rana dan Reno malah kompak menjawab. "Nggak bisa, wlek," ejek mereka dengan lidah terjulur ke luar. Aura ingin membalasnya, tapi di larang oleh Alif dengan isyarat yang bisa Aura tebak. Wanita itu akhirnya mengalah dan membiarkan kedua adiknya bermain bebas di rumah ini. Pukul sembilan malam, keluarga Aura sudah pulang. Aura duduk di sisi kasur dengan satu kotak kado dari dua adik kembarnya itu. Karena rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. Aura membuka kado itu. Mata Aura menajam melihat isinya. Sebuah lingerie. Aura menganga, inu beneran dua adiknya yang beliin? "Untuk kak Aura kami tersayang. Kata Mama kita harus beliin ini untuk kakak, biar kita berdua dapat ponakan yang gemesin. Jadi, sebagai adik yang baik. Kita beliin khusus untuk kakak kami tercinta." Mulut Aura semakin terbuka lebar. Setelah membaca note yang ada di dalam kotak tadi. Aura menggeram pelan. Baik adik atau Mama sama Papa. Nggak ada yang beres. "Ini juga Mama, kenapa ngajarin dua kurcil itu aneh-aneh sih?" tanya Aura dengan dirinya sendiri. "Dah lah!" putus Aura. Memilih menyimpan lingerie itu ke dalam lemari sebaik mungkin. Jangan sampai Alif melihatnya itu. Bisa gawat?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD