Gwen bangun dari tidurnya,
Suara wanita yang di culik itu masih terus terngiang di telinga gwen. Suara rintihan minta tolongnya terus menerus menghantui gwen. Ada rasa bersalah di d**a Gwen karena memilih bersembunyi daripada menolong wanita itu.
Gwen menatap langit langit di kamarnya, asbes lusuh berwarna putih kusam dengan noda bayangan berwarna abu berbentuk menyerupai pulau tercetak di tengahnya.
Memang kalau musim hujan akan ada sedikit kebocoran dari atap. Mereka berdua akan berepot - repot ria memindahkan kasur agar tidak terkena tetesan air hujan itu. Dia ingat saat musim hujan gwen setiap hari selalu bersungut - sungut mengeluhkan kenapa harus bocor dan berkata ingin pindah dari kosan itu. Tapi, yah sampai sekarangpun mereka masih menetap di sana, karena harga kosan yang termasuk paling murah di daerah dekat kampus itu.
Didalam lamunannya Gwen teringat bahwa tote bag nya tertinggal di bangku taman. Dia tercekat, nafasnya seakan akan berhenti, wajahnya pucat, hatinya berdebar kencang.
Lalu dia membangunkan Aulia.
" Li... bangun. "
Aulia mengucek - ngucek matanya, sepertinya dia hanya tidur 1 jam saja. Sepanjang malam dia susah untuk terlelap. Senyum dingin dan tatapan tajam lelaki itu masih terus terbayang di benaknya.
" emang udah jam berapa gwen? kayaknya aku ga masuk kuliah dulu deh " kata gwen sambil menguap tanda masih ngantuk.
" tapi Li.. tote bag aku ketinggalan di taman kemarin. Dompetku ada di situ. gimana ini Li?"
Aulia terkejut mendengar itu, haruskah mereka kembali ke taman tersebut? Ada sedikit rasa takut terlihat di raut wajahnya.
" isi tote bag itu apa aja gwen? bukannya cuma kamu buat untuk tempat kue yah? " tanya aulia
" aku baru ingat Li, dompetku di situ, abis bayar kue dompetku itu aku taruh di atas kotak kuenya. " jawab gwen hampir menangis.
" Yaudah, ayo kita ke sana. mudah - mudahan masih ada di sana " kata Aulia mencoba menenangkan sahabatnya itu.
mereka bergandengan tangan menuju taman itu, Dari ke jauhan mereka bisa melihat kotak kue tart dan di sebelahnya tergeletak tote bag milik gwen.
Gwen melepas gandengannya, dan berlari kecil menuju tote bag itu. Seketika dia membeku, raut wajahnya pucat, dia merasa dadanya berdetak sangat cepat. Dompetnya tak ada disitu. Gwen membolak balik tote bag itu, tak ada, kosong. semakin dia mencari semakin sesak nafasnya.
Aulia merasa ada yang tak beres, dia mempercepat langkahnya menuju gwen.
" ada apa gwen? " tanya aulia
" dompetku ngga ada. Apa laki laki semalam datang lagi kesini dan mengambilnya? "
" gimana ini Li? " ucap gwen ingin menangis.
" mungkin ngga di situ gwen, kamu lupa kali ada di tas mu kali. Ayo kita pulang dulu, kita cari di kosan kita yah. kamu tenang dulu. oke!? "
ucap aulia walaupun jauh di lubuk hatinya ada kekhawatiran yang besar.
mereka mengacak acak kamar kosan, tak ada.. dompet itu tak kunjung ketemu. gwen semakin yakin dompetnya hilang. di dompet itu ada kartu mahasiswa, Kartu tanda Penduduk, atm dan beberapa lembar uang yang tak banyak bila di jumlahkan dan juga foto dirinya bersama aulia yang diambil ketika mereka bermain ke mall, mereka mencoba foto box yang terletak ditengah mall tersebut.
Yang mereka takutkan adalah apabila laki laki semalam kembali lagi ke taman, kemudian menemukan dompetnya dan mengetahui identitas mereka.
Sekarang Aulia pun tak bisa tenang, dia yakin pria semalam pasti akan mencari dan mendatangi mereka.
Gwen terduduk lesu, air mata nya mulai mengalir jatuh turun ke pipinya tanpa bisa di hentikannya. sekarang mereka hanya bisa pasrah. Dia berharap orang lain yg mengambil dompetnya, jangan sampai pria itu.
Karena jika sampai pria itu yang menemukannya, mereka sudah seperti tikus yang terperangkap, tak bisa lari kemanapun.
Dengan pertimbangan yang panjang, akhirnya mereka memutuskan untuk melaporkan kejadian semalam ke polisi. Paling tidak jika terjadi sesuatu kepada mereka, ada jejak mereka melapor ke polisi.
Ketika sampai di kantor polisi terdekat, dari seberang jalan di dalam sebuah mobil ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Dengan senyuman dingin tersungging di bibirnya. Di dalam pikirannya.. akhhh.. akhirnya aku menemukan mereka sambil mengeluarkan foto dari dalam dompet yang ditemukannya di taman itu.
" Seandainya saja kalian tidak melapor ke polisi, pasti kalian akan aman dan aku tak akan mengganggu kalian. " ucapnya lirih sambil memutar mutar memainkan foto tersebut.
" Gadis berkacamata itu, aku yakin dia melihatku semalam. seharusnya dia mengikuti apa mauku untuk diam, tapi dia seperti nya berencana melawanku. Lihat saja nanti kau yang akan ku buat paling menderita. " pria itu berbicara sendiri dengan raut wajah geram dan menggigit sedikit bibir bawahnya, dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor polisi.
Gwen dan Aulia memberikan laporan mereka kepada detektif Henri yang akan mengurus kasus itu. Detektif Henri adalah detektif khusus yang mengurusi kriminal bagian tentang orang hilang. Memang belakangan ini banyak wanita berumur dua puluhan di laporkan hilang oleh keluarganya, tapi setelah dua minggu sejak di laporkan, mereka yang disangka hilang, pulang dengan selamat dan keluarga mencabut laporan tersebut.
Walaupun gwen dan aulia sudah dianggap dewasa, tetap saja polisi harus menghubungi orang tua mereka, paling tidak salah satunya.
setelah pertengahan hari ibu dari Gwen datang ke kantor polisi. Dia harus menutup toko baju nya di pasar untuk segera datang ke sana. Ibu gwen datang dengan baju kemeja merah marun dan bawahan celana bahan berwarna hitam.
Ibu gwen berjalan ke arah gwen dan aulia, diperhatikannya raut wajah gelisah kedua gadis itu. Dia langsung memeluk gwen dan menggenggam tangan aulia berusaha untuk menenangkan mereka berdua.
Detektif Henri menjelaskan apa yang telah gwen dan aulia lalui. Ibu gwen mengangguk tanda mengerti. Tak lupa detektif henri juga meminta maaf kepada ibu gwen karena sudah mengganggu waktunya.
" tidak apa apa pak polisi, saya malah berterimakasih karena sudah memberitahukan kepada saya. " jawab ibu gwen
" baik ibu, karena laporan sudah saya proses, ibu dan mereka berdua sudah boleh pulang. Apabila ada kejadian apa apa boleh langsung melapor kesini. Nomor handphone saya sudah berikan kepada Aulia, saya sedia 24 jam penuh untuk di hubungi. " kata detektif henri meyakinkan mereka bahwa dia selalu sedia.
" terimakasih banyak pak polisi, kami pamit pulang. "
" baik ibu. Hati hati di jalan. "