SH - 01

1915 Words
Astaga apa masalah ini tidak akan ada habisnya? Kepala dan tubuhku rasanya sudah tidak bisa menghandle situasi ini. Aku tidak mengeluh, aku hanya menyuarakan sedikit keresahan di dalam hati. Hm, baiklah itu sama saja. Ketukan pada pintu memaksaku untuk kembali menjadi Yasmine. "Masuk.." "Maaf, Buk," asistenku itu memasang wajah 'memelasnya' lagi. Oke, masalah baru. "Kenapa lagi?" Dila menunjukkan layar iPadnya padaku. Aku memperhatikan dengan seksama video yang sedang berputar di sana. Mataku tidak fokus hanya pada video dengan kualitas amat sangat bagus itu. Tapi aku juga melihat jumlah tayang, jumlah like, dan jumlah berapa kali video itu dibagikan. Oke. Sekarang mari fokuskan mata dan telinga pada isi video. Jadi yang Dila tunjukkan ini adalah video seorang 'selebgram' wanita yang kutahu punya jumlah pengikut yang lumayan. Kalau aku tidak salah juga sekarang namanya sedang lumayan naik. Pada caption tertulis bahwa selebgram ini sedang melakukan review pada salah satu produk dari brand kami. Tapi dari apa yang aku lihat dan dengar, dia tidak seperti sedang me-review produk kami, melainkan sedang menjelek-jelekkannya. Gaya dia bicara seolah mengatakan bahwa dia adalah brand ambassador kami dan dia tidak puas dengan produk dan pelayanan yang kami berikan. Begitulah kesan dari video yang ia buat ini. Ya, sangat tidak nyambung dengan caption yang dia buat. "Kita nggak ada kerjasama apa-apa sama dia, kan?" Dila menggeleng. "Dia pernah ke toko kita?" Dila mengangguk. "Pernah, Buk. Tapi dari penjelasan pegawai yang bertugas hari itu katanya dia nggak beli apa-apa di toko kita." Good job. Dila pasti sudah melakukan tindakan awal yang perlu dia lakukan. Dila ini memang bisa diandalkan. Itulah kenapa aku betah bekerja dengannya. Sejak awal Dila bekerja denganku, bisa dibilang dia satu-satunya pegawai yang punya kinerja paling memuaskan menurutku. Bukan berarti yang lainnya buruk. Tidak. Mereka semua bagus sesuai bidangnya. Tapi Dila ini punya kinerja di atas rata-rata. Jadi itulah yang sebenarnya membuat aku kesal. Sebab masalah-masalah yang ada tidak dibuat oleh pegawai-pegawaiku. Tapi masalah yang datang dan dibuat-buat oleh pihak luar. Astaga, dari mana semua masalah ini berawal? Ah iya, dari kesalahpahaman bersama salah satu artis ternama di negeri ini beberapa waktu lalu. Jadi sekitar dua bulan lalu ada sedikit masalah yang terjadi antara kami dan seorang artis ternama sebut saja Mawar. Si Mawar melakukan pemesanan eksklusive salah satu produk kami. Tapi Mawar kemudian meminta pesanannya datang lebih cepat, katanya dia ingin menggunakannya untuk menghadiri sebuah acara award. Karena permintaan yang tiba-tiba itu kami menjadi sedikit kewalahan. Sebab produk yang ia inginkan adalah produk eksklusive. Dengan semua usaha akhirnya kami berhasil mendatangkan produk itu sesuai tanggal yang ia inginkan. Selesai? Tentu saja belum. Di sinilah masalahnya. Si Mawar datang menghadiri acara award itu, tapi tidak dengan produk yang ia pesan dari kami. Lalu apa masalahnya? Masalahnya beberapa media ternyata mengulas berita tak menyenangkan yang menyebut bahwa penampilan Mawar malam itu kurang memuaskan. Karena adanya berita seperti itu, si Mawar tiba-tiba membuat klarifikasi di akun sosial medianya dengan mengatakan bahwa alasan tak sempurnanya penampilan ia malam itu disebabkan karena kami yang teledor karena tidak memenuhi pesanannya. Sepertinya media menjadi semakin panas saat si Mawar menyebut brand kami. Mendapat tudingan tiba-tiba jelas membuat aku tidak tinggal diam. Kami menghubungi si Mawar. Lalu si Mawar dengan enteng mengatakan bahwa produk itu rusak alias lecet. Jelas aku tidak langsung percaya. Lagipula masih ada cukup waktu antara datangnya produk itu dengan acara award tersebut. Si Mawar harusnya melakukan complain pada kami. Tapi tak ada complain apapun dalam kurun waktu dua minggu itu. Usut punya usut akhirnya si Mawar mengakui bahwa asistennya lah yang teledor karena tak sengaja menjatuhkan produk itu hingga mengalami lecet pada beberapa bagian. Dia yang membuat kesalahan enak saja menyalahkan kami. Aku hampir menuntutnya atas tuduhan dan berita palsu. Si Mawar kemudian minta maaf. Tapi masalah tidak selesai semudah itu. Karena klarifikasi dan permintaan maafnya yang datang terlambat sementara media terlanjur meng-up berita itu, alhasil masih ada beberapa orang yang mencuri-curi kesempatan untuk membuat masalah dengan mengatasnamakan brand kami hingga sekarang. Yap, seperti si selebgram ini contohnya. "Dia ada buat pemesanan online?" Dila menggeleng. "Enggak, Buk. Produk itu sold out untuk online. Kita udah nggak ready buat pemesanan online dari sebulan yang lalu. Hanya ada beberapa di toko." Aku hanya bisa menghela napas. Apa orang-orang ini tidak takut dengan risiko yang akan ia dapatkan dengan membuat tuduhan palsu begini? Manusia jaman sekarang. Rela melakukan cara instan apa saja untuk cepat terkenal. Risiko urusan belakang. "Gimana, Buk? Lapor ke bagian hukum?" Aku menggeleng. "Masalah begini nggak bisa langsung bawa ke jalur hukum. Yang ada mereka makin menjadi-jadi." "Terus gimana?" "Kamu ke bagian pemesanan sekarang. Pastiin kalau dia emang nggak melakukan pemesanan apapun baik online ataupun offline. Catet hari dan tanggal kapan aja dia datang ke toko kita. Kayaknya nggak sekali. Kalau perlu periksa cctv biar akurat waktunya. Tanyain juga karyawan yang bertugas. Sisanya saya yang urus." "Baik, Buk. Saya permisi dulu." Dila meninggalkan ruanganku. Kembali hening menjadi temanku. Aku menopang dahi dengan satu tangan. Satu tangan lainnya mengetuk-ngetuk pena ke meja. Sejujurnya aku malas mengurus masalah-masalah seperti ini. Tidak berbobot. Ada banyak hal penting lainnya yang bisa aku kerjakan. Tapi orang-orang seperti ini jika tidak dibuat jera maka akan semakin menjadi-jadi. Jahatkah jika aku menjatuhkan mental dan menghancurkan karirnya? Ya jahat, aku tahu itu. Tenang, aku tidak akan melakukan sampai sejauh itu. Aku masih punya hati, meski kadang hati tak dibutuhkan dalam bisnis. Ahel bilang kita boleh manis di luar tapi tetap harus rasional dalam dunia bisnis. "Sore, Buk.." "Apa ini?" Aku menatap bingung buket bunga yang diberikan resepsionis padaku. "Kiriman Buk." "Dari siapa?" Resepsionis menyebutkan salah satu nama dari beberapa pebisnis yang kerap mengirimi aku bunga. Aku menghembuskan napas dalam keadaan sangat sadar. "Oke, makasih." Aku mengambil bunga itu kemudian segera menuju ke satu-satunya mobil yang masih terparkir di depan gedung ini. ... Untuk kalian yang belum kenal siapa aku, aku akan memperkenalkan diri. Namaku Yasmine dan aku saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur di G-Jewelry. Perusahaan ini adalah perusahaan keluargaku yang sebenarnya adalah perusahaan di bawah naungan G-Shoes. Sebelumnya brand perhiasan dan tas kami berada di bawah G-Shoes yang dipimpin oleh Ahel alias Tante Rachel, adik Papa. Tapi begitu usiaku cukup, Papa memutuskan untuk membuat G-Jewelry sebagai perusahaan sendiri. Sebenarnya untuk produk tas ini lebih cocok berada di G-Shoes. Tapi karena Ahel juga menghandle produk pakaian, jadilah produk tas ikut dipindahkan ke bawah G-Jewelry. Aku bisa apa karena sebenarnya aku juga menginginkannya. Ya, aku sangat suka disibukkan oleh semua ini. Pekerjaan ini benar-benar pekerjaan yang aku impikan. Ah soal keluhanku sebelumnya itu hanyalah pemanis saja. Aku biasanya mengeluh di kala aku bosan. Tidak benar-benar mengeluh, tenang saja. Hari ini harusnya aku pulang ke rumah. Aku sudah rindu pada masakan Bunda. Apa kalian mengenal Bundaku? Hm, harusnya kalian mengenalnya. Dia adalah perempuan paling hebat yang pernah aku kenal. Aku benar-benar beruntung menjadi anaknya. Aku beruntung punya Ibu seperti Bunda. Bagiku Bunda benar-benar defenisi malaikat tak bersayap. Nanti aku kenalkan pada Bundaku, oke. Oh iya, alasan aku belum bisa pulang adalah karena Alinka. Ya temanku satu itu merengek minta aku menemaninya tadi. Aku tebak dia sedang badmood. Mungkin sedang bertengkar dengan tunangannya, Askala. Pertengkaran kecil mereka adalah musibah untukku. Sebab setiap kali Alinka dibuat kesal oleh Askala maka itu artinya pekerjaanku bertambah. "Masa dia gitu, Min. Ngeselin kan? Padahal gue.." bla bla bla. Aku mendengarkan cerita Alinka tanpa berkomentar. Dia langsung nyosor curhat saat aku membuka pintu apartemennya. Sepertinya apartemen ini dibeli hanya untuk mendengarkan curahan hati Alinka saja. Dia hanya ke sini saat dia kesal pada Askala dan aku bisa bilang bahwa jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Intinya tidak banyak. "Lo dengerin gue kan, Yas?" Alinka selalu sesuka hatinya memanggil namaku. "Iya gue denger." "Ngeselin banget dia ih. Sebel gue." Alinka bukan perempuan manja. Dia perempuan yang mandiri dan juga tangguh. Tapi Askala berhasil merubahnya. Aku juga terkejut saat melihat Alinka dengan sisi ini. Apa cinta benar-benar bisa merubah seseorang? Ya bisa. Aku percaya karena ada banyak bukti di sekitarku. Bahkan Papa pun berubah karena cinta Bunda. Itu kadang yang membuat aku takut pada cinta. "Tapi Min, kok Al balik sih? Bukannya dia mau netap di Jerman?" Aku yang tengah memikirkan hal lain langsung menoleh pada Alinka karena pertanyaan tak nyambungnya itu. "Ngapain lo jadi nanya Al?" "Gue kepikiran aja." "Udah ilang kesel lo ke Kala?" "Masih ada, belom ilang. Eh tapi jawab dulu pertanyaan gue, jangan ngalihin pembicaraan lo." Aku mengendikkan bahu. "Mana gue tau. Emang gue emaknya lo nanya sama gue." "Ya kan lo deket. Kalian sepupuan masa lo nggak tau?" Bola mataku berputar. "Sepupuan bukan berarti gue tau semua tentang dia. Lagian kami sepupu jauh." "Tapi kan Min, gue ngerasa kayak ada sesuatu yang aneh sama dia. Gue ngerasa lo sama dia tuh kek ada chemistry." "Astaghfirullah, Lin, nyebut. Jangan asal ngomong. Gue sama dia sepupuan." "Lah tadi katanya jauh. Giliran gue jodohin bilangnya sepupuan. Gimana sih lo?" Aku menghela napas. "Ya lo lagian ngapain tiba-tiba bahas dia pake acara jodoh-jodohin gue sama dia? Kurang kerjaan banget." "Ya kan—" "Dia tuh dah ada pacar ya Allah. Gue nggak ada keinginan buat jadi pelakor. Kayak nggak ada cowok lain aja. Gue—" "Apa?! Al udah punya pacar?!" Alinka bereaksi berlebihan. Bola matanya melebar menatapku seolah apa yang baru saja aku katakan adalah sesuatu yang amat sangat mengejutkan. "Ih kok gue nggak tau kalau Al punya pacar?" Huftt. "Emang lo emaknya hah?" "Ya kan gue.. ya maksudnya masa orang kayak Al punya pacar nggak ada yang tau. Lo yakin dia punya pacar? Masa sih nggak ada media yang bisa ciduk. Setidaknya adalah gitu foto dia lagi ngedate kesebar." "Emang dia siapa? Seleb?" "Ya dia kan sutradara kondang, Min. Nggak cuma sekedar sutradara aja. Dia tuh ganteng, masih muda, dan hawt.." Astaghfirullah Alinka. "Ya kenapa nggak lo aja jadian sama dia?" "Ih sebenarnya sih gue pernah hampir naksir sama dia dulu. Hampir ya Min, cuma hampir." "Kenapa nggak jadi?" Aih, aku baru tahu Alinka pernah hampir suka pada Aldebaran. Sungguh? "Ya Askala ganteng gue lebih segala-galanya. Lagian si Al berasa susah banget digapai." "Kayak Kala gampang aja digapai." "Ya enggak juga. Sama sih susah. Tapi Kala ngerespon gue walaupun dia terkenal dingin. Kalau Al lo liat aja gimana. Ke lo aja yang dia nurut banget gapernah gue liat dia senyum. Apalagi gue. Ih nggak sanggup gue." Aku menghembuskan napas. "Itu lo tau. Dia tuh nggak minat sama gue. Pacarnya cantik." "Ini beneran Al punya pacar? Lo nggak ngarang kan?" "Enggak Alinka ya Allah. Ngapain gue ngarang? Kurang kerjaan banget. Al emang punya pacar." "Emang siapa cewek yang lebih cantik dari lo? Gue yang cantik aja ngakuin kalau lo jauh lebih cantik dari gue. Dari semua cewek yang pernah gue temui seumur hidup, nggak ada yang lebih cantik dari lo." "Makasih cintaku, tapi itu kan menurut lo. Lagian cantik nggak dari muka aja Non. Cantik tuh luas artinya." "Hati lo juga cantik. Kalau aja kita nggak tumbuh bersama sejak embrio, gue yakin Askala sama Pane bakalan naksir lo. Cowok mana sih yang nggak bakal naksir sama lo?" Duh Alin. "Banyak, Lin. Banyak cowok yang nggak naksir gue. Lo aja yang nggak tau. Kan udah gue bilang, cantik tuh nggak di wajah.. dan nggak di hati aja. Mau naksir juga banyak faktornya. Kecocokan gaya hidup, obrolan, sama kebiasaan juga ngaruh. Mungkin cowok-cowok pada suka sama gue pas liat muka gue, tapi begitu ngobrol belum tentu mereka nyambung." Alinka terdiam. "Pokoknya jangan nyebut-nyebut soal Al lagi, kasihan pacarnya." "Emang siapa sih pacarnya? Lo kenal? Ada fotonya? Sosial medianya?" Aku mengabaikan pertanyaan bertubi Alinka. Pikiranku sudah fokus pada hal lain. Wajah bukanlah segalanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD