Anggota Baru Yang Tidak Diinginkan

1053 Words
"Mari kita lihat seberapa kuat 'Komandan Besi' bisa bertahan," kata pria itu sebelum menekan tombol detonator dengan kejam. Sebuah ledakan besar mengguncang seluruh gua, dan dalam hitungan detik, segalanya berubah menjadi kekacauan. Gua itu bergetar hebat, batu-batu besar berjatuhan dari langit-langit yang runtuh. Elsa Solana tersandung, tetapi dia tidak pernah kehilangan kewaspadaan. Dengan gerakan refleks yang terlatih, dia menangkis beberapa batu yang menggelinding ke arahnya, sambil terus bergerak menuju arah pria misterius yang telah meledakkan jebakan. Di tengah kekacauan, Elsa melihat pria itu, misterius dan licik, memudar ke dalam kegelapan. Insting dan keahliannya membuatnya tetap fokus meskipun seluruh gua runtuh di sekelilingnya. Elsa tidak bisa membiarkan musuh itu lolos. Dia harus menangkapnya dan memastikan bahwa keberadaan pemberontak yang lebih besar bisa dihentikan. "Komandan!" teriakan Ajeng Ningtias menyadarkan Elsa. Ajeng muncul di pintu masuk gua, wajahnya tampak khawatir namun penuh tekad. "Kami sudah mengeluarkan semua orang, tapi gua ini tidak stabil. Kita harus segera pergi!" Elsa mengangguk. "Ikut aku! Dia tidak boleh lolos!" Dengan semangat dan keteguhan, Elsa melanjutkan pengejaran. Kegelapan dan reruntuhan di sekelilingnya tidak menghalangi langkahnya. Dia menghindari batu-batu yang jatuh dan memanfaatkan setiap bayangan untuk mencari pria yang menciptakan kekacauan ini. Akhirnya, Elsa melihat siluet pria itu di kejauhan, tersangkut di antara bebatuan. Tanpa membuang waktu, Elsa meluncur dengan kecepatan yang luar biasa, menghampiri pria tersebut dan menendang senjata detonator dari tangannya. Dengan cepat, dia menggunakan teknik bertarungnya yang mahir, mengunci pria itu dalam sebuah kunci tubuh. "Jangan coba-coba melawan, atau aku tidak akan segan-segan untuk menggunakan semua kekuatanku untuk menghancurkanmu," ujar Elsa dengan nada tegas, suaranya penuh dengan kewenangan dan ancaman. Pria itu mendengus, tetapi Elsa bisa merasakan dia tidak dalam posisi untuk melawan. Dalam hitungan detik, Elsa berhasil mengamankan pria itu, dan pasukannya akhirnya tiba untuk membantu mengeluarkan mereka dari gua yang runtuh. Dengan usaha yang keras dan terkoordinasi, mereka berhasil keluar dengan selamat, meskipun tidak tanpa kerugian. Beberapa prajurit terluka, dan perlengkapan mereka hancur. Malam itu, setelah kembali ke markas, Elsa merasakan kelelahan yang mendalam, tetapi juga kepuasan dari keberhasilan misi mereka. Para prajuritnya dirawat dan diberikan perhatian medis yang diperlukan. Elsa sendiri kembali ke ruang kantornya, duduk di mejanya dengan pikiran yang penuh akan tantangan mendatang. Namun, saat dia mulai menganalisis laporan dan merencanakan langkah berikutnya, sebuah laporan masuk ke mejanya. Seorang prajurit baru akan bergabung dengan unitnya sebagai divisi informasi. Nama prajurit tersebut adalah Langit Anggara. Elsa memandang laporan tersebut dengan rasa penasaran dan sedikit keengganan. Dia tidak suka jika unitnya harus terdistorsi dengan tambahan anggota yang belum dikenal, terutama setelah malam yang melelahkan ini. Tapi surat ini datang dari pusat sehingga ia terpaksa mengindahkannya. Esok harinya, Elsa memutuskan untuk menemui Langit Anggara secara langsung. Dia menginginkan untuk mengenal orang baru ini dan menilai apakah dia benar-benar cocok dengan standar tinggi yang dia tetapkan untuk timnya. Langit, yang dikenal sebagai seorang divisi informasi, telah tiba di markas dan bersiap untuk melaporkan diri. Elsa menemui Langit di ruang briefing, berdiri tegak dengan seragam prajurit yang bersih dan rapi. Langit tampak lebih muda daripada Elsa, namun ekspresi wajahnya menunjukkan ketenangan dan kepercayaan diri yang aneh. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam tatapannya sebuah misteri yang membuat Elsa merasa waspada. "Langit Anggara kan?" Elsa memulai percakapan dengan nada yang formal dan agak dingin. "Aku adalah Elsa Solana. Aku ingin mendengar lebih banyak tentangmu dan apa yang bisa kau kau lakukan kepada unit ini. Jangan berpikir dengan semua sampah ini kau dapat bergabung di dalam neraka yang aku bangun ini. Kalau kau tidak cukup berguna, aku akan langsung menendangmu kembali pada orang - orang tua busuk disana." Langit mengangguk dengan sopan. "Ya, Komandan. Saya Langit Anggara. Saya ditempatkan di sini pada divisi informasi untuk mendukung komunikasi antar unit dan memastikan informasi penting disampaikan dengan cepat." Elsa memandang Langit dengan tatapan yang tajam. "Kamu tidak terlihat seperti divisi informasi biasa. Biasanya, divisi informasi tidak perlu menunjukkan keahlian tempur atau keahlian khusus lainnya." Langit tersenyum tipis. "Itu benar, Komandan. Namun, saya memiliki latar belakang di unit rahasia dan pengalaman di medan perang. Saya percaya bahwa keterampilan tambahan saya dapat membantu tim ini dalam situasi kritis. Tapi hal itu hanya sebatas kemampuan dasar saja." Elsa mengerutkan kening. "Kamu memiliki pengalaman di unit rahasia? Kenapa kamu dipindahkan ke sini?" Langit tidak menunjukkan perubahan ekspresi. "Sebenarnya, saya ingin mencari lingkungan yang lebih stabil dan mengurangi tekanan dari tugas-tugas rahasia. Saya percaya saya bisa memberikan kontribusi yang baik di sini dan membantu unit ini dengan kemampuan komunikasi dan strategi saya." Elsa mengangguk perlahan, masih tidak percaya namun membuka kemungkinan. "Baiklah, kita akan lihat seberapa baik kamu bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di neraka ini. Kamu akan mulai dengan tugas-tugas dasar divisi informasi dan membantu dalam misi-misi yang akan datang. Persiapkan dirimu dan cepatlah beradaptasi karena aku tidak mau dibebani oleh perkara remeh." Langit mengangguk, sepertinya tidak terpengaruh oleh skeptisisme Elsa. "Tentu, Komandan. Saya siap menjalankan tugas saya dengan sepenuh hati." Elsa berdiri, menandakan akhir dari pertemuan. "Terima kasih, Langit. Aku sendiri akan menilai bagaimana kinerja kamu dalam beberapa waktu ke depan. Jangan ragu untuk melaporkan jika ada masalah atau kebutuhan." Langit memberi hormat dan meninggalkan ruangan briefing, meninggalkan Elsa yang masih terbenam dalam pikirannya. Meskipun dia merasa bahwa Langit adalah seseorang dengan rahasia tersendiri, dia juga menyadari bahwa ada sesuatu dalam diri Langit yang patut diperhatikan. Sejak saat itu, Langit Anggara mulai melaksanakan tugasnya pada divisi informasi dengan penuh dedikasi. Dia bekerja dengan cermat dan efisien, memastikan bahwa komunikasi antara unit-unit berjalan lancar. Namun, kehadiran Langit tetap menjadi misteri bagi Elsa, terutama ketika dia mulai melihat keahlian Langit yang lebih dari sekadar tugas divisi informasi. Di tengah rutinitas yang padat, Elsa tidak bisa menghindari rasa penasaran terhadap Langit. Keterampilan dan sikap Langit mulai memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, dan Elsa merasakan dorongan untuk mencari tahu lebih dalam tentang pria misterius ini. Langit sendiri meskipun terlihat seperti prajurit biasa, terus bekerja dengan penuh komitmen, tidak pernah menunjukkan kemampuannya secara jelas. Dia terus-menerus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di markas, berinteraksi dengan para anggota unit dan menyampaikan pesan-pesan penting dengan keterampilan yang luar biasa. Alarm memekakkan telinga, membelah keheningan malam di markas. Elsa Solana, dengan gerakan cepat dan terlatih, bangkit dari kursinya, laporan yang sedang dikerjakannya terlupakan seketika. Jantungnya berdegup kencang, adrenalin mengalir deras dalam pembuluh darahnya. Pintu kantornya terbuka dengan dentuman keras. "Komandan!" seru seorang prajurit dengan napas terengah-engah. "Penyusup telah menembus sistem keamanan kita!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD