Cieh ... Cieh, Manten Anyar

950 Words
"Lia, tolong maafkan kedua adik iparku yang berlidah tajam itu. Mama dan papa tidak berpikir seperti apa yang mereka katakan tentang kamu kok. Apalagi Danny juga kelihatan sayang banget sama kamu!" bujuk Nyonya Rina Sasmita sambil memeluk Camelia di teras depan rumah kontrakan. "Sejujurnya ... saya masih belum mantep untuk menjalani pernikahan ini dengan Mas Danny, Ma. Tadi baru tanggapan dari pihak keluarga sendiri, bagaimana dengan warga sekitar kita, tetangga kiri kanan?" jawab Camelia sembari meneteskan air matanya. Dia tak sanggup membayangkan pedasnya bibir tetangga terutama kaum wanita. Nyonya Rina menghela napas dalam-dalam, dia mengerti bahwa mereka hidup tidak sendirian di tengah masyarakat dengan berbagai pola pikir. Belum sempat wanita paruh baya itu menanggapi, dari arah belakang punggungnya terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat disertai seruan. "Lia, kok malah ke sini sih? Kenapa nggak sarapan di rumahku saja? Ada apa ini?!" tanya Danny penasaran melihat wajah istrinya basah seperti habis menangis ditambah lagi ada mamanya juga. Akhirnya, Nyonya Rina yang menjawab karena menantunya malah menunduk dan terdiam, "Itu tante-tante kamu pada komentar tentang pernikahan kalian, mereka nggak setuju—" Danny segera mendebat sengit, "Ckk ... nggak usah repot ngurusin masalah orang kalau nggak dimintai tolong lah. Mama bilang ke mereka, Danny nggak suka kalau istriku dibikin nangis pagi-pagi begini!" "Bubuurr ayaam!! Bubur ayam murah, enak, bergiziii!" teriak tukang bubur yang kebetulan melintasi gang depan rumah kontrakan Camelia. Segera Danny memanggilnya, "Bang Somad, buburnya dua ya!" "Oke, siap, Mas Danny!" sahut tukang bubur ayam itu lalu memarkir gerobaknya di depan pagar rumah kontrakan Camelia. Sementara itu Danny menghampiri kedua wanita penting di hidupnya tersebut dan berkata, "Mama pulang duluan deh, itu para tante ditertibkan. Biar Danny sarapan bareng Lia di sini!" "Iya, Mama balik dulu, Dan, Lia. Jangan terlalu dipikirin yang tadi, Lia!" pamit Nyonya Rina lalu melangkah meninggalkan teras. Camelia sulit untuk bicara dengan suaminya, dia masih merasa kesal karena dituduh yang tidak-tidak oleh tantenya Danny. Siapa pula yang mau menjebak berondong supaya menikahinya. Dia melajang selama ini juga karena ingin menenangkan diri usai kabur dari tunangannya yang tak pernah dihubungi oleh Camelia selama tiga tahun belakangan. "Duduk dulu yuk, Sayang. Kita sarapan buryam!" ajak Danny yang menerima nampan pesanannya dari Bang Somad. Istrinya mengangguk patuh lalu duduk bersebelahan di sofa teras. Mereka pun mulai makan bubur dengan tenang. Sementara itu di depan pagar beberapa tetangga berdatangan untuk membeli bubur ayam juga karena gerobak Bang Somad diparkir di situ. Beberapa ibu-ibu komplek berbisik-bisik seraya mencuri pandang ke arah pasangan pengantin baru itu yang sedang sarapan berdua sambil berbincang ringan di teras asri. "Kabarnya mereka itu dinikahkan sama warga karena berbuat m***m lho, Jeng!" bisik Ratna yang sedang mengantre bubur ayam sambil menggendong bayinya. Bu Ayu juga mengangguk seolah-olah paham lalu membalas, "Itu mah ceweknya yang kegatelan, si Danny 'kan baru kemaren lulus SMA masa udah nikah!" "Wah, iya tuh, Jeng Ayu ... tua-an Mbak Lia ya pastinya!" timpal Nimas tak mau ketinggalan bergosip yang sedang hot-hot-nya di kampung Terban. Camelia yang sadar dirinya menjadi bahan pergunjingan ibu-ibu komplek pun sontak hilang napsu makan. Dia menaruh sendok di mangkok yang masih separuh berisi bubur ayam. "Lho ... nggak dihabiskan, Lia? Kenapa? Nanti sakit kalau makannya sedikit-sedikit begitu!" ujar Danny tak paham. "Mas, berangkat aja langsung sesudah kelar sarapannya," kelit Camelia tak ingin memberi tahu alasan dia berhenti makan. "Oke. Kamu kalau butuh sesuatu kirim pesan saja ke nomor HP-ku atau minta ke mama, jangan sungkan ya, Lia. Ini kebetulan kuliah padat sampai sore nanti," sahut Danny lalu mencabut dompet di saku belakang celana jinsnya. Dia mengangkat nampan untuk dikembalikan ke Bang Somad sekaligus membayar. Setelah itu dia tak langsung pergi malahan menghampiri Camelia lagi untuk memeluk cium istrinya dengan mesra. Wajah wanita berambut hitam sepunggung itu tersipu malu. "Cieeh ciieeh ... manten anyar!" sorak sorai ibu-ibu komplek ke pasangan itu sontak membuat Danny dan Camelia salah tingkah. (manten anyar: pengantin baru) "Ahh ... bisa aja, Ibuk-ibuk!" tukas Danny lalu mencuri sebuah ciuman lagi di bibir Camelia yang nampak terkejut dengan tingkah nekad berondong tengil itu. "Mas, pamit berangkat kuliah ya, Lia Sayang. Sampai nanti sore ya, kita sekali-sekali ngedate di luar rumah, oke?" ujar Danny seraya merapikan anak rambut Camelia ke balik daun telinga. Dengan wajah merona Camelia mengangguk dan menjawab, "Hati-hati di jalan ya, Mas!" "Pasti dong, Cantik. Mas masih pengin ketemu lagi sama kamu. Sana masuk ke dalam!" sahut Danny gemas menatap istrinya. Malam pertamanya yang tadi malam memang gagal total, tetapi Danny masih pantang menyerah. Dia bertekad merebut hati Camelia agar menjadi miliknya seutuhnya. Danny curiga istrinya itu masih gagal move on dengan mantan terindah, dia merasa harus mencari tahu apa alasan Camelia menutup pintu hatinya rapat-rapat begini. Mereka saling bertukar lambaian tangan hingga Camelia masuk ke dalam rumah kontrakan. Hari ini dia ada pesanan beberapa kue dari klien pelanggan setia bakery rumahannya. Selain itu ada juga kue-kue yang harus disetor harian ke toko roti nanti siang yang biasanya diangkut tukang becak langganan Camelia. Kesibukan di dapur pun segera dimulai pagi itu oleh Camelia sendiran. Dia memutar lagu dari ponsel dan ikut bersenandung riang melupakan kerumitan hubungannya dengan Danny. Namun, tanpa diketahui Camelia, suaminya justru terlibat adu mulut dengan Tante Nita dan Tante Lusy di rumah sebelah. "Kamu masih terlalu muda buat menikah, Dan!" seru Nita berkacak pinggang di teras. Saudarinya, Lusy juga mendukungnya, "Paling nggak cari yang sepantaran lah, jangan yang sudah agak berumur begitu, Dan!" "Sudah deh, Tante. Jangan campuri urusan rumah tangga Danny. Aku dan Lia saling suka kok, kalau memang nggak suka lihat kami, nggak perlu repot-repot datang ke mari lagi!" tegas Danny defensif sembari naik ke jok sepeda motor Kawasaki Ninja miliknya lalu mengenakan helm full face. Dia tak mempedulikan omelan kedua tantenya dan menekan tuas gas dalam-dalam, meninggalkan halaman depan rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD