BAB 24 : Panggilan Dari Masa Lalu

1147 Words

Lampu studio perlahan meredup, menyisakan pendar kemerahan dari sirkuit elektronik yang masih berdengung. Sorak-sorai penonton memang telah usai, namun guncangan emosional yang ditinggalkan siaran malam itu masih berdesir di udara Jakarta seperti listrik statis. Di belakang panggung, suasana jauh dari kata tenang. Para kru bergerak dalam kesunyian yang canggung, seolah mereka baru saja menyaksikan sebuah eksorsisme jiwa yang disiarkan secara nasional. Windi duduk di sofa ruang tunggu eksklusif, masih mendekap Cinansa yang akhirnya tertidur lelap karena kelelahan emosional. Tangan kiri Windi mengusap punggung kecil putrinya dengan ritme yang mekanis, sementara matanya menatap kosong ke arah cermin rias. Gips di tangan kanannya terasa lebih berat dari biasanya, seolah beban dosa masa lalu y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD