Keenan Satria duduk di kursi tunggu koridor rumah sakit yang sepi, jemarinya menari lincah di atas layar ponsel. Sebagai seorang jurnalis investigasi yang telah malang melintang selama belasan tahun, ia memiliki satu aset yang lebih berharga dari sekadar uang: jaringan. Ia mengenal para CEO, direktur pemasaran, hingga konsultan branding papan atas yang pernah ia bantu—atau setidaknya, yang merasa "berhutang nyawa" karena skandal mereka tidak ia pertajam di media.
Kini, ia menggunakan semua kartu as itu untuk satu tujuan: menjauhkan Windi dari maut di oktagon.
"Hadi, ini Keenan," ucapnya pelan saat panggilannya diangkat oleh seorang direktur pemasaran merk pakaian olahraga ternama, Apex Sport. "Ingat apa yang pernah kubantu soal audit internalmu tahun lalu? Aku butuh balasan sekarang."
Suara di seberang sana terdengar ragu. "Apa yang kau inginkan, Ken? Tulisan baru? Investigasi kompetitor?"
"Bukan. Aku ingin kau menjadikan Windinosa, istriku, sebagai brand ambassador utama untuk lini women empowerment kalian. Aku ingin kontrak jangka panjang. Sepatu, pakaian, hingga jaket olahraga. Tapi ada satu syarat mutlak."
"Apa itu?"
"Jangan pernah sebut namaku. Katakan kalian tertarik karena performanya di pertandingan terakhir dan citranya sebagai 'survivor'. Buat tawaran itu seolah-olah sebuah mukjizat yang jatuh dari langit. Dan satu lagi, selipkan klausul tentang menjaga citra fisik—bahwa dia tidak boleh tampil dengan luka lebam atau cedera permanen selama masa kontrak."
Keenan mengulangi pola yang sama dengan tiga kolega lainnya. Ia menghubungi pemilik RunFree Shoes dan GlowFit Apparel. Ia membangun sebuah narasi baru bagi Windi. Ia tidak ingin istrinya menjadi petarung yang bersimbah darah; ia ingin Windi menjadi ikon kecantikan yang tangguh, yang berpose di papan reklame raksasa, bukan di atas kanvas yang penuh keringat dan air mata.
Ini adalah rencana pelarian yang paling rapi yang pernah disusunnya. Sebuah sangkar emas yang dibungkus dengan kesuksesan finansial dan karier baru.
Di dalam kamar 502, Windi sedang mencoba meneguk air putih ketika ponselnya di atas nakas bergetar tanpa henti. Satu bunyi ding w******p diikuti oleh nada masuk email yang bertubi-tubi. Windi mengernyit, meraih ponselnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
[Email] Subject: Proposal Kerjasama Brand Ambassador - Apex Sportswear [w******p] "Selamat pagi, Mbak Windi. Saya Mira dari Tim PR RunFree Shoes. Kami sangat terkesan dengan semangat Mbak di ring kemarin..." [Email] Subject: Penawaran Eksklusif Lini Produk Jaket Winter 'Elegance' - GlowFit
Mata Windi membelalak. Ia membaca pesan-pesan itu satu per satu dengan jantung yang berdegup kencang. Setengah tidak percaya, ia mengucek matanya yang sehat, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat efek obat pereda nyeri.
"Mas Ken! Keenan!" teriaknya, suaranya serak namun penuh kegembiraan.
Keenan masuk ke kamar dengan langkah tenang, wajahnya diatur sedatar mungkin, seolah-olah ia baru saja kembali dari membeli kopi di kantin bawah. "Ada apa, Win? Kau butuh sesuatu?"
"Ken, lihat ini!" Windi menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar. Wajahnya yang lebam tampak bersinar oleh harapan. "Ini gila! Apex Sport, RunFree, bahkan GlowFit... mereka semua mengirimkan penawaran kontrak. Mereka ingin aku menjadi bintang iklan mereka!"
Keenan mengambil ponsel itu, berpura-pura membacanya dengan saksama. Ia mengerutkan kening, lalu perlahan sebuah senyum lebar—yang telah ia latih di depan cermin toilet tadi—terukir di wajahnya.
"Ya Tuhan, Sayang! Ini luar biasa!" Keenan memeluk Windi dengan hati-hati, memberikan kecupan di keningnya. "Aku tidak menyangka pertandingan kemarin akan memberikan dampak sebesar ini. Kau lihat? Dunia akhirnya melihat siapa kau sebenarnya, bukan sekadar petarung, tapi seorang ikon."
Windi tertawa kecil, air mata kebahagiaan menggenang di sudut matanya. "Aku pikir setelah luka ini, orang-orang akan takut padaku. Tapi mereka justru menawarkanku kontrak ratusan juta bahkan Miliaran, Ken. Ini... ini bisa mengubah hidup kita. Cinansa bisa sekolah di tempat terbaik, dan mungkin aku tidak perlu bertaruh nyawa sesering dulu."
Keenan mengangguk mantap. "Benar. Ini jawaban dari doa-doamu, Win."
Namun, di tengah pelukan itu, Windi perlahan melepaskan diri. Ia menatap mata Keenan dalam-dalam. Sebagai wanita yang telah menghabiskan lima tahun hidupnya dengan pria ini, Windi tahu setiap inci dari ekspresi Keenan. Ia tahu bagaimana mata Keenan berbinar jika benar-benar terkejut, dan bagaimana otot rahang suaminya mengeras jika ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Kegembiraan Keenan terasa... terlalu simetris. Terlalu sempurna.
"Ken," bisik Windi, suaranya merendah. "Kau sungguh tidak tahu apa-apa tentang ini?"
"Tentu saja tidak, Win. Kenapa kau bertanya begitu?" Keenan membalas dengan tatapan paling tulus yang bisa ia kerahkan.
"Entahlah," Windi memalingkan wajah, kembali menatap layar ponselnya. "Hanya saja, rasanya terlalu kebetulan semua ini datang saat dokter menyuruhku berhenti bertarung. Dan kau... kau tampak tidak kaget sama sekali saat membaca angka-angka di kontrak itu."
Keenan tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana. "Aku ini jurnalis, Sayang. Aku sudah biasa melihat angka besar. Mungkin ini memang rezeki Cinansa. Jangan terlalu banyak berpikir negatif, itu tidak baik untuk pemulihanmu."
Windi terdiam. Ia ingin percaya. Ia sangat ingin percaya bahwa ini adalah hasil dari keringatnya sendiri. Namun, di balik rasa cintanya yang luar biasa pada Keenan, ada sebuah firasat yang berdenyut di kepalanya—sama kuatnya dengan denyut rasa sakit di pelipisnya. Ada rahasia yang disimpan suaminya, dan rahasia itu terasa seberat beban yang kini ia pikul.
*****
Sore harinya, ruangan VIP itu mendadak ramai. Tiga orang pria dan dua wanita berpakaian formal rapi masuk membawa map kulit berkualitas tinggi dan beberapa sampel produk. Mereka adalah para pemilik dan direktur dari brand yang menghubungi Windi pagi tadi.
Hadi dari Apex Sport melangkah paling depan. "Mbak Windi, suatu kehormatan bisa bertemu langsung. Kami ingin Mbak menjadi wajah dari kampanye 'The Unbreakable Woman'. Kami percaya, bekas luka di pelipis Mbak itu bukan sebuah kekurangan, melainkan tanda kemenangan yang ingin kami bagikan pada dunia."
Windi terpana. Kata-kata itu begitu indah, begitu menyentuh sisi feminimnya yang selama ini ia kubur di bawah sarung tinju.
"Kami sudah menyiapkan draf kontraknya," timpal seorang wanita dari GlowFit. "Kami ingin Mbak fokus pada kampanye gaya hidup sehat. Tentu saja, sebagai bagian dari kontrak, kami ingin Mbak menjaga kondisi fisik tetap prima dan meminimalisir risiko cedera di masa depan. Kami ingin Mbak tetap cantik untuk sesi pemotretan kami di Paris bulan depan."
Mendengar kata 'Paris', mata Windi membulat. Ia menoleh pada Keenan yang berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, memberikan senyum penyemangat.
"Silakan ditandatangani jika Mbak setuju," Hadi menyodorkan pena emas.
Windi ragu sejenak. Ia merasa seperti sedang menandatangani surat pensiun yang dibalut dengan kertas kado mewah. Namun saat ia melihat Cinansa yang sedang asyik bermain dengan brosur sepatu warna-warni di kaki ranjang, keraguannya luruh. Ia mengambil pena itu dan membubuhkan tanda tangannya.
Setelah para tamu itu pergi, ruangan kembali sunyi. Hanya menyisakan tumpukan dokumen yang menjanjikan masa depan cerah.
Windi menyandarkan kepalanya di bahu Keenan yang kini duduk di tepi ranjang.
"Ken," bisik Windi pelan.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih."
"Untuk apa? Aku tidak melakukan apa-apa."
Windi tersenyum getir, jarinya menyentuh rahang Keenan yang kokoh. "Terima kasih karena telah mencoba menjagaku dengan caramu. Aku tahu kau yang melakukan semua ini. Aku tahu semua orang tadi adalah kawan-kawan lamamu."
Keenan tertegun. Lidahnya kelu. Ia ingin membantah, tapi tatapan Windi begitu telanjang, menembus semua barisan kebohongan yang ia bangun.
"Aku tidak marah, Ken," lanjut Windi, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Kau bisa membelikanku seluruh dunia agar aku berhenti bertarung. Kau bisa membangun dinding setinggi mungkin agar aku tidak terluka lagi."
Windi menjeda kalimatnya, air mata kini benar-benar jatuh membasahi pipinya yang lebam.
"Tapi kau tidak akan pernah bisa menghapus alasan kenapa aku mulai memukul di tempat pertama. Luka yang kubawa ini, Ken... bukan karena aku haus darah. Tapi karena dunia pernah sangat tidak adil padaku, dan hanya di dalam ring itulah aku merasa dunia setara. Jangan pernah mencintaiku dengan cara merampas kekuatanku."
Keenan menarik Windi ke dalam pelukannya, kali ini tanpa kepura-puraan. Ia menangis dalam diam, menyadari bahwa meski ia telah berhasil membangunkan istana untuk istrinya, ia tetap tidak bisa mengusir hantu-hantu dari masa lalu yang masih bersemayam di hati Windi—hantu yang ironisnya, ia sendiri yang lepaskan tujuh tahun silam.
"Maafkan aku, Win," bisik Keenan di tengah isak tangis yang tertahan. "Aku hanya tidak sanggup kehilanganmu. Aku hanya ingin kita punya kesempatan untuk bahagia, tanpa perlu ada darah lagi."
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, mereka berdua menyadari bahwa cinta terkadang bukan tentang saling menguatkan, melainkan tentang bagaimana cara saling memaafkan atas ketakutan-ketakutan yang tak masuk akal.