"Jangan berjanji saat engkau terlalu bahagia dan jangan pula memaki kala engkau di dalam kesedihan."
--------
"Mas, boleh aku bertanya ...?" Kuhela napas sejenak, menyiapkan hati akan semua jawaban terburuk. "Siapa Zahra?"
*
Mas Irwan mengernyitkan dahi. aku mencoba menyelami iris hitamnya. Mencoba mencari jawab, tetapi dia mengalihkan pandangan ke arah lain dan memutus kontak mata kami. Aku mengenal Mas Irwan, tidak ada yang bisa dia sembunyikan dariku. Gestur tubuh terlihat tak nyaman, wajahnya pun berubah gelisah. Alarm di kepalaku bereaksi. Namun, aku tidak ingin gegabah. Berharap kebenaran keluar sendiri dari bibirnya.
"Mas, ingatkah kamu dari awal menikah kita selalu mengutamakan kejujuran, meski pahit. Akan lebih baik dari pada menyimpan dusta yang akan merusak jiwa," ujarku mengingatkannya. Mati-matian menahan gelatar ngilu yang mulai menusuk jantung.
Mas Irwan mengusap wajahnya kasar. Sesaat dia terpaku menatap lantai kamar kami. Di menit berikutnya dia mendekat, lalu duduk di sudut ranjang tepat di sebelahku. Matanya menerawang jauh, seolah sedang mengingat sesuatu di masa lalu. Aku menganjur napas dan menyiapkan diri mendengar hal terburuk yang segera menghantamku. Perlahan bibirnya bergerak mengisahkan cerita dari masa lalu.
"Amak baru saja melahirkan Haris saat Mak Adang mengabarkan Bapak meninggal karena kecelakaan motor. Sebuah mobil pembawa karet menabrak sepeda motornya saat mencoba menyalip. Tubuh Bapak masuk ke kolong mobil dan terseret hingga puluhan meter."
Aku mendengarkan dengan seksama penuturan Mas Irwan. Bahwa sejak orang tua lelakinya meninggal, kehidupan mereka ditanggung sepenuhnya oleh Mak Adang. Beliau satu-satunya keluarga Amak. Setiap bulan, lelaki berperawakan tinggi besar itu rutin memberi uang belanja untuk Amak, dan menanggung biaya sekolah Mas Irwan yang saat itu berusia sepuluh tahun.
Setahun setelah kepergian Bapak Mas Irwan. Duka kembali menghampiri keluarga mereka. Istri Mak Adang meninggal dunia saat melahirkan Zahra. Sejak saat itu, pengasuhan putrinya itu dipercayakan kepada Amak. Aku mulai mengerti mengapa Amak begitu menyayangi gadis cantik itu. Beliau membesarkan Zahra sejak sejak pertama gadis itu menghirup udara kehidupan di dunia.
Tahun demi tahun berlalu. Mas Irwan yang dikenal sangat pintar dan selalu meraih predikat juara, mendapat bea siswa dari sebuah universitas negeri terkenal di Jakarta. Saat dia menyampaikan keinginannya itu, Mak Adang melarang keras. Beliau berharap dia meneruskan pendidikan di Padang, selain itu Kakak Amak tersebut telah mengancang-ancang Mas Irwan kelak menikahi Zahra.
Jantungku semakin berdegup kencang mendengarnya. Tanpa sadar meremas sprei dari balik selimut yang menutupi pinggang, hingga kaki. Dadaku seperti dihantam godam besi berkali-kali kala mendengar ujaran Mas Irwan selanjutnya.
"Aku bingung. Di satu sisi ingin mengejar cita-cita, tetapi juga tak sanggup menolak permintaan Mak Adang. Beliau banyak berjasa dalam hidup kami." Mas Irwan tak sekali pun berani menatapku selama dia bercerita. Nada suaranya bergetar setiap kali berbicara.
"Lama bergulat dalam keraguan. Beliau memberikan solusi. Aku boleh kuliah di Jakarta dan Mak Adang akan terus membiayai kuliah serta hidup kami, asal aku menikah dengan Zahra. Tanpa pikir panjang dan tak mengenal cinta, kusanggupi syarat dari beliau. Akan tetapi, Zahra masih berumur tujuh tahun, masih terlalu muda untuk menikah. Akhirnya kami dinikahkan secara siri, tidak boleh bercampur sebelum Zahra dewasa."
Seketika aku mati rasa. Kata-kata Mas Irwan selanjutnya seperti rentetan peluru yang ditembakkan ke jantung. Bahwa pernikahan gantung itu disembunyikan dari keluarga besar mereka. Entah apa maksud Mak Adang melakukan itu. Kepada Amak, Mak Adang berujar aku adalah tunangan Zahra."
Saat Mas Irwan mengatakan baru tahu arti cinta setelah mengenalku, tak lagi berpengaruh. Hati ini sudah telanjur berdarah. Tak akan mampu dibalut dengan kata maaf dan romantis. Pantas saja saat pernikahan kami, raut Mak Adang tak ramah padaku. Dia juga menolak mencicipi hidangan yang tersedia. Kala itu mengira beliau tak terbiasa dengan menu yang dominan manis. Dia dan Mas Irwan juga terlihat bersitegang di halaman belakang rumah. Hal tersebut disampaikan beberapa teman dekatku yang kebetulan melintas. Aku menyesal mengacuhkan perkataan mereka. Andai ....
"Itulah sebabnya aku tak pernah membawamu pulang ke Padang. Aku terlalu takut kehilanganmu, aku begitu mencintaimu Laras. Aku bahkan tak menganggap pernikahan gantung itu sama sekali." Mas Irwan menutup kisahnya dengan mata berkabut.
Ruh ini seakan terbang dari raga. Aku pernah sakit dan terluka, tetapi tak pernah separah ini. Lelaki yang kubanggakan, hormati, dan kujadikan imam tega melakukan hal keji. Tak pernahkah dia berpikir akibat dari perbuatannya? Seorang gadis dijadikan janda, bahkan sebelum mengerti apa itu pernikahan, sementara aku menjelma sebagai wanita jahat yang mencuri suami gadis itu.
Mencoba bangkit dari ranjang dan meninggalkan Mas Irwan. Aku butuh sesuatu untuk menenangkan badai yang sedang mengamuk di d**a, sebelum badai itu menggulung kewarasanku. Namun, baru tiga langkah tubuh ini luruh ke lantai. Begitu lemah, rasanya tulang-tulang dilolosi paksa dari tubuh. Aku kalah! Raungan histeris keluar dari bibirku. Memukul d**a dengan keras berharap nyeri ini berkurang. Mengamuk menghempas apa saja yang ada di dekatku dan menjambak rambut berharap kalau ini hanya mimpi.
Mas Irwan mendekat. Dia mencoba menenangkanku, tetapi kutepis tangannya dengan keras. Menolak tubuhnya yang ingin mendekapku. Nista! Tak sudi diri ini disentuh olehnya lagi.
"Sayang ... tenanglah. Kumohon maafkan aku." Mas Irwan terlihat panik dan menyesal. Berkali-kali dia mencoba memeluk. Namun, sebanyak itu pula aku menolak.
"LEPAS! Kuharamkan kau menyentuhku. Kau kejam, Mas!" Lagi, memukul dadaku kuat-kuat. Berharap sesuatu yang menusuk jantung keluar dari sana.
"Sayang, pukul aku! Maki dan hina aku, tapi jangan sakiti dirimu." Mas Irwan menahan gerakan tanganku yang brutal.
"Kau yang menyakitiku! Kau membunuhku dengan dustamu. Apa bedanya sekarang, ha! Sampai hatimu membohongiku dan keluargaku." Aku memaki Mas Irwan. Tak pernah sepanjang pernikahan aku berkata keras padanya. Cinta dan rasa hormatku luruh seiring air mata yang jatuh berderai. "Jawab!"
"Maaf, Sayang. Saat itu aku masih muda dan hanya Mak Adang satu-satunya yang bisa mengangkat derajatku. Aku tak mau putus sekolah. Ambisiku begitu tinggi, hanya beliau yang punya kemampuan saat itu."
"Egois! Kau jual dirimu demi ambisimu. Kau korbankan aku dan gadis itu" Menjeda kata-kataku sejenak. Rasanya tubuh ini tak mampu bertahan lebih lama lagi. "Ceraikan aku!" Tegas kalimat itu meluncur dari bibir ini.
Kelopak mata Mas Irwan melebar. "Tidak, Sayang. Kumohon jangan pernah mengucap kata itu, aku mencintaimu," ujarnya dengan wajah pias. Sorot matanya pun terlihat sangat ketakutan.
Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Duniaku telah runtuh tepat di hadapan. Semua impian menua bersama Mas Irwan lesap seketika. Tiba-tiba tubuh ini terasa limbung dan pandanganku mengabur. Yang terakhir singgah di gendang telinga adalah suara lelaki itu memanggil namaku sebelum semua menjadi gelap.
*
Aku mengerjapkan kelopak mata ketika cahaya terang masuk ke iris mata. Kepalaku terasa sakit, membuatku menekan dengan kedua telapak tangan. Membuka mata perlahan dan mendapati tubuhku berada di atas ranjang di dalam kamar.
"Sayang ...." Suara itu. Untuk pertama kalinya aku muak mendengarnya. Aku mengacuhkan dirinya. Mencoba mengumpulkan keping ingatan tadi sebelum jatuh pingsan. Berharap semua hanya mimpi buruk, tetapi keadaan kamar yang berantakan serta sakit di d**a melemparkanku pada kenyataan pahit.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Kurasakan sentuhan di tangan, tetapi kutepis keras. "Maafkan aku, kumohon jangan membenciku." Lagi, suara itu terdengar memelas.
Aku tak sudi melihat Mas Irwan lagi. Luka ini terlalu parah. Dia lelaki yang begitu kucintai sekaligus aku benci. "Aku ingin bertemu Zahra," kataku singkat.
"Tapi ...."
"Sekarang!" Nada suaraku begitu keras pada Mas Irwan, agar dia tahu aku tak ingin didebat.
"Baiklah, akan kujemput sekarang."
Entah benar atau salah, tetapi semua harus dijernihkan. Aku tak mau berada dalam situasi menyakitkan ini lebih lama.
*
"Uni ...." Suara gadis itu menyapa telingaku. Mataku menangkap sosoknya yang berbalut gamis hitam dan hijab berwarna senada.
"Masuklah, Zahra." Menegakkan tubuh. Aku harus kuat. Tekad ini telah bulat bahwa semua harus diselesaikan malam ini juga. "Duduklah di sini." Menepuk ranjang agar dia duduk di sebelahku.
"Kau pasti tau apa yang ingin kubicarakan." Kusentuh jemari gadis itu.
"Iya, Uni." Sesaat kulihat gadis itu menarik napas pelan.
"Selama ini banyak yang bertanya kenapa aku belum menikah, bagaimana aku bisa menikah, sedang kata talak tak kudapat. Aku selalu menjaga diri dari yang bukan muhrim, karna aku wanita yang sudah menikah," ucapnya begitu lugas.
Hatiku seperti diiris sembilu, tak terbayang betapa menderitanya gadis itu diabaikan selama ini.
"Zahra ... kembalilah pada Mas Irwan, aku akan mundur." Entah keberanian dari mana aku mampu mengucapkan kalimat itu, meski hati berdenyut nyeri.
Namun, aku yakin ini keputusan terbaik. Pantang bagiku didustai, meski atas nama cinta. Hati ini terlanjur patah dan hancur. Selamanya tidak akan pernah utuh.