BAB - 3

3512 Words
Dien mencari Roma di tempat yang biasa Roma datangi. Dien memang pernah mengikuti Roma saat di mana Roma tengah menyendiri. Ketika Dien melihat punggung anak lelaki itu yang tengah terduduk di atas bebatuan, Dien menghampiri. Mendekati dengan pelan-pelan tanpa mengusik ketenangan Roma yang tengah dinikmati. Dengan rasa percaya dirinya, dengan tanpa rasa takutnya di saat di mana orang-orang justru takut bila berdekatan dengan Roma tapi Dien malah berani. Berani mendekati Roma dan masuk ke dalam kehidupannya bahkan hingga sampai saat ini. Mungkin, ini masih terlalu awal tapi tidak ada yang tahu bagaimana Tuhan menciptakan skenario antara kisah dua sepasang sejoli ini di masa depan mereka nanti.             "Roma," panggil Dien lembut. Dengan wajah cerianya dan polosnya. Roma sempat terkejut akan kehadiran Dien yang mendadak muncul di depan matanya. "Roma gimana lukanya? Udah kering? Udah sembuh?" berondong Dien bertanya tanpa jeda, tanpa memberi Roma untuk bicara dari tadi. Roma sudah membuka mulut tapi gagal untuk bicara karena cerewetnya Dien yang selalu menanyakan keadaannya.                  "Roma, Dien minta maaf karena Roma udah nolongin Dien dari Dani dan teman-teman yang lainnya, Roma harus mengalami banyak luka dan dimarahi sama bapak kepala sekolah. Belum lagi karena Dien, orang tua Roma harus dipanggil sama bapak kepala sekolah. Pasti mereka mengira Roma udah nakal di sekolah. Dien minta maaf Roma. Dien... Dien----"            "Ssssttttt!!!! Diem! Diem! Cerewet banget, sih, mulut kamu ini!" ucap Roma kesal, dia bahkan menutup mulut Dien dengan telapak tangannya. Dien akhirnya menutup mulutnya dan berhenti berbicara lagi. Sekarang giliran Roma yang buka suara setelah perlahan tangannya ia jauhkan dari mulut Dien dan ia pastikan Dien tak lagi bicara sebelum ia selesai bertanya.            "Ngapain kamu di sini?" tanya Roma cetus. Terlihat sekali. Sangat kentara bila Roma memang tidak terlalu menyukai kehadiran Dien di dekatnya karena Dien anak yang cengeng, lemah dan penakut. Roma tidak menyukai anak perempuan yang seperti itu. Dia tidak suka dengan anak-anak yang membuat dirinya merasa kerepotan. Tapi...            "Roma tidak suka kalo Dien ke sini? Dien cuma khawatir sama keadaan Roma," ujar Dien seraya menyentuh lengan Roma yang terlihat ada luka tapi Roma langsung menghindarkan tangannya dari tangan Dien yang nyaris mengenai apa yang ingin Dien sentuh.            "Mending kamu pulang. Daripada nanti mama kamu marah-marah saat liat kamu lagi sama aku," katanya lalu memalingkan wajahnya ke air yang mengalir tenang di depannya. Dien tak menyukai apa yang Roma katakan barusan. Baginya Roma telah mengusirnya dengan cara halus. Dien peka dan Dien tak suka tapi Dien tetap keras kepala. Keras kepala untuk tetap di samping Roma.            "Roma apa kamu tidak menyukai keberadaanku di sini?" Dien bertanya namun diabaikan begitu saja oleh Roma. Justru Roma malah memilih meninggalkan Dien yang masih terduduk di tempatnya. Dien sempat kaget dan kesal dengan sikap acuh tak acuhnya Roma. Dien langsung berdiri melihat langkah Roma yang mulai menjauh dari keberadaannya di mana Dien tengah berdiri menatap punggung anak lelaki itu.            "Roma!!!!!!!" Dien berteriak kencang dengan suara cemprengnya. "Kamu jika tidak mau berteman dengan aku bilang. Kenapa juga kamu selalu melindungi aku dari orang-orang yang selalu mengolok-olokan aku!" Dien tersengal-sengal saat berteriak. Dia mulai sesak napas. Dien punya penyakit asma. Roma tak lagi melanjutkan langkahnya sebab Dien tak lagi bersuara. Dien mulai kesulitan bernapas. Asma Dien kumat. Dien berharap Roma akan berbalik badan dan melihatnya di sini yang sedang mengharapkan sebuah pertolongan. Ketika Roma merasa ada hal aneh dan firasatnya ada sesuatu yang tidak benar. Ketika itu juga, Roma berbalik badan dan matanya membulat lebar. Ia terkejut saat Dien mulai limbung. Roma berlari cepat untuk menangkapnya. Sangat cepat hingga ia berhasil untuk menyelamatkan anak perempuan ini. * * * *          "Eh... ehh... Dien udah bangun, Pak!" seru Sri saat melihat Dien perlahan-lahan membuka matanya. Dien telah membuat semua orang ketakutan. Dien kebingungan dia ada berada di mana.          "A--ak--aku di mana Bu?" tanya Dien seraya melihat seisi ruangan yang dia sadari bukan di tempat rumahnya atau di tempat tinggal Roma. Namun, dia ada di...          "Puskesmas Dien. Deket rumah kamu. Kamu tenang aja, ya, jangan khawatir. Ada Ibu di sini," ucapnya ramah sambil membelai pucuk kepala Dien. Berselang setelahnya barulah datang Suryono dan Roma masuk ke dalam ruangan Puskesmas.          Suryono riang sekali saat tahu kabar Dien sudah siuman. Dia tadi yang paling khawatir. Dia takut terjadi sesuatu dengan Dien terlebih dia membiarkan Dien mencari Roma sendirian di sekitaran sungai. Namun, beruntunglah dia akhirnya bisa merasa lega melihat Dien sudah sadar kembali. "Dien sudah bangun too, gimana keadaan kamu?" tanyanya langsung tanpa menunda-nunda.          "Aku baik-baik aja kok, Pak," jawab Dien lemah. Dia sudah diberi obat oleh dokternya jadi Dien masih selamat. Untungnya Dien dibawa tepat waktu jadi bisa diberi penanganan langsung oleh dokter. "Tapi... gimana bisa aku ada di sini?" Dien lagi-lagi bertanya. Dien tahu siapa yang sudah menyelamatkannya. Pasti Roma tapi Dien mau tahu bagaimana Roma bisa membawanya ke sini. Suryono dan Sri menatap anak lelaki sematawayangnya mereka. Roma menghela napas gusar. Ia pun menceritakan kejadian di mana Roma melihat Dien pingsan di tempat.          "Dien bangun Dien... Dien!!!" Roma panik. Ia takut Dien kenapa-kenapa. Beruntungnya dirinya saat itu melihat bapak-bapak dan ibu-ibu membawa kayu yang besar-besar tengah berjalan menyusuri sekeliling sungai. Roma berteriak minta tolong. Mereka mendengar teriakan Roma dan dengan sigap membantu Roma dan Dien. Setelah dikabarkan dari satu warga ke warga yang lainnya barulah Roma bisa membawa Dien ke puskesmas. Salah satu warga juga mengabari Suryono.          "Pak! Roma Pak! Roma!" teriak salah satu warga yang berlari tergesa-gesa ke rumahnya.          "Heh! Roma anak.ku gino?" Sambil menghampiri warga itu. "Wonge ngawe polah? Tukaran karo cah deso liyone?" selorohnya sambil bertolak pinggang. Wajah ekspresinya menampakkan kegarangannya. (Heh! Roma anak saya kenapa? Dia berbuat ulah? Berantem sama anak kampung sebelah?) Suryono yang lagi duduk di depan teras, di kursi panjang bersama istrinya tengah menikmati gorengan kopi panas terganggu akan kehadiran warga yang pastinya mengabari tentang Roma dengan masalah yang itu lagi itu lagi. Tak heran makanya Suryono langsung menceletuk kalimat seperti yang dia katakan barusan.          "Ora pak ! Ora kui... sih Roma podo Dien..." (Bukan Pak! Bukan! Kui... sih Roma sama Dien) Suryono melebarkan matanya memasang ekspresi yang sangat-sangat kaget.          "Kui..." Dia berbata-bata dalam mengucap. (Itu...)          "Heh nk ngomong ki lo seng jelas!" tukas Suryono kesal. (Heh! Kamu kalo ngomong yang jelas)          "Gino Pak?" (Kenapa Pak?) Sri bertanya, menghampiri suaminya yang berdiri di depan sih warga itu.          "Dien semapot Pak semapot. Kui Roma yo enek nang kono. Podo arep digowo wong nang Puskesmas." (Dien pingsan Pak pingsan. Itu, sih Roma juga ada di sana. Pada dibawa sama warga ke Puskesmas)          "Ya Allah. Piye sih iki. Nyusul Pak. Kene nyusul dekne saiki." (Ya Tuhan... Gimana toh ini... Susul Pak, kita susul mereka sekarang!)           Dari situ mula semuanya akhirnya Dien paham. Paling yang penting dia pahami adalah Roma itu peduli dengannya. Dien senang Roma tidak meninggalkannya di saat dia mau pingsan. Roma memang anak nakal tapi Dien senang dengan segala sesuatu yang baru yang selalu ingin ia gali, ingin ia ketahui, ingin ia cari tahu apapun yang menurutnya membuatnya sangat-sangat penasaran. Dan Roma meskipun terkenal dengan anak yang nakal tapi Roma berhasil menarik perhatian Dien dengan cara yang terlihat tidak peduli tapi dia sosok yang melindungi. Itulah mengapa Dien ingin mengenal Roma lebih dalam lagi dan masuk kehidupannya. Sekarang atau pun sampai seterusnya. Dien ingin selalu berada di dekat Roma. Tak pernah ingin menjauh apalagi menciptakan jarak barang sedikit pun. Mungkin, ini karena Dien hanya mengenal sosok lelaki seperti Suryono layaknya ayah bagi kehidupannya dan Roma bagai kakak lelaki yang melindungi adik perempuannya. Dien benar-benar mengagumi mereka. Dien sangat mengaguminya. Keluarga kecil ini bagai penghangat dirinya saat merindukan keluarga di mana semua saudara-saudara dan mamanya sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.            "Roma... Roma terima kasih, ya, sudah menolong Dien dan maaf Dien selalu merepotkan Roma di tiap situasi. Roma... Roma orang yang baik dan selalu rela berkorban demi Dien dan demi siapapun. Dien yakin, orang tua Roma mendidik Dien dengan sangat baik...." lirih Dien mengutarakan apa yang ia rasakan. Suryono dan Sri yang mendengarnya pun sangat merasa lega juga senang karena Roma punya teman anak yang baik, tulus seperti Dien. Dan di umurnya yang kurang lebih hampir sepuluh tahun dia dapat berpikiran positif dan bicara dengan cara dewasa dan bijaksana. Roma sendiri masih diam saja. Ia nampak berpikir, apa yang dia lakukan tadinya mungkin hanya sebatas dirinya tak suka melihat Dien selalu dihina dan anak perempuan itu tidak bisa melawan orang-orang yang menghina fisik dirinya tapi Dien cuma bisa menangis. Roma kesal dan tidak suka orang yang lemah tertindas tapi tak mau berusaha melawan seakan dirinya tak punya kekuatan. Mengapa orang-orang seperti Dien tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dirinya? Padahal bila Dien berani melawan mereka yang selalu mengganggu dirinya dan selalu mengolok-olokan dirinya, Dien pasti akan disegani dan dihormati. Tidak akan ada yang berani menyentuh dirinya. Seperti apa yang selama ini Roma lakukan saat dihina. Orang-orang tidak ada yang berani dengannya. Justru, Roma seperti ketua dari geng anak-anak nakal yang tinggal di jalanan. Namun, Roma tidak mau Dien terlalu dekat apalagi mengenal jauh tentang dirinya. Dien selalu mengikuti ke mana pun Roma pergi. Roma tidak mau Dien mengenal teman-temannya yang disebut anak brandal oleh ayahnya. Roma hanya takut Dien anak yang baik malah berubah jadi anak yang nakal mengikuti pergaulannya dan Dien bisa saja jadi dimarahi oleh mamanya yang super duper galak itu. Selalu menjauhkan Dien darinya.           "Roma... Dien mau membantu Roma dalam urusan pelajaran. Sebentar lagi, kita bakal menghadapi ujian kelulusan, Ebtanas. Dien mau Roma mendapatkan nilai yang baik supaya Roma nanti bisa lulus dan masuk di sekolahan yang bagus," ujar Dien mengutarakan niat baiknya. Sri memandang Suryono yang masih saja memasang wajah bahagia dan bersemi-semi. Tatapan Sri sebenarnya lebih kepada ekonomi dan pendidikan Roma juga mengkhawatirkan beberapa hal yang membuatnya ragu, akankah Roma dapat melanjutkan pendidikannya atau tidak ke depannya nanti. Roma pun sama halnya. Memandang bapaknya dengan perasaan yang tidak enak hati. Roma tahu apapun yang akan bapaknya lakukan itu demi kepentingan dan masa depannya. Iya, bagaimanapun bapaknya, Suryono ingin Roma sukses meskipun dia harus menanggung banyak biaya di tengah kerasnya pekerjaan yang ia lakoni demi anak dan istri. Demi keluarga kecil yang ia miliki. Roma tak kuasa harus melihat beban bapaknya. Kadang kala ia merasa lebih baik ia tak perlu sekolah. Tak perlu harus melanjutkan pendidikannya. Ia tidak ingin membebani siapapun. Roma percaya, ia akan sukses walaupun ia tak berpendidikan sekalipun. Namun, bapaknya yang tak pernah lulus sekolah merasa tak ingin anaknya seperti dirinya. Tak ingin Roma bodoh seperti dirinya yang tak pernah lulus sekolah. Jangankan lulus, membaca saja ia tak bisa. Maka itu meskipun mereka miskin harta, bapaknya ingin Roma kaya pendidikan. Dengan memiliki pendidikan yang tinggi, bapaknya percaya Roma pasti akan menjadi orang sukses dan terpandang. Dihormati dan disegani. Juga tak ada lagi yang menghina dirinya di kala saat ini, saat di mana mereka miskin dan terpinggirkan.           Oh, ya, sedikit mengulik info mengenai Ebtanas atau evaluasi belajar tahap akhir nasional. Ebtanas tersendiri itu adalah ujian pada masa tahun 90-an. Ujian akhir untuk menentukan kelulusan murid. Namun, pada era sekarang telah berganti yang bernama UN atau ujian nasional.          Melihat Roma tak merespons apapun perkataannya atau bisa dibilang tawarannya tersebut. Lantas Dien pun langsung bertanya kepada orangnya. "Roma mau, kan? Belajar bareng sama Dien." Dien bertanya hanya untuk memastikan saja, apakah anak lelaki itu bersedia belajar bersamanya atau tidak?          "Roma ndang sinau kono karo Dien. Ojo ojo kok moh nk ditawani Dien. Iling yo Rom.golek duek ki angel. Bapak kudu kerjo tenanan kanggo kue sok. Dadi sing diprintah pak.e lakoni. Pak.e mbek buk.e ae sing g****k .koe ojo," terang Suryono. (Roma kamu harus belajar sama Dien. Jangan menolak apa yang Dien tawarkan. Ingat, ya, Rom. Cari duit itu susah, Bapak mesti banting tulang buat masa depan kamu. Jadi, lakukan apa yang Bapak perintahkan. Cukup Bapak sama ibu kamu saja yang bodoh. Kamunya jangan)              Hati Roma mulai tergerak sepertinya. Ia ragu ingin mengatakannya namun ia merasa gengsi sekali sebab dia secara terang-terangan selalu ingin Dien menjauh dari dirinya atau kalau perlu menjaga jarak dari dirinya. Tapi, saat diminta seperti ini jelas dia sangat malu bila menerima tawaran Dien. Anak perempuan itu masih menunggunya dan akan selalu menunggu Roma. Tapi, dilihat lagi bapak dan ibunya menaruh harapan besar padanya. Siapa lagi yang akan mengangkat derajat keluarganya kalau buka diri dia sendiri. Baiklah, meskipun harus menurunkan ego dan harga diri, apapun demi kedua orang tuanya, ia akan melakukannya. Bapak dan ibunya adalah harta yang ia punya yang tak mau Roma buat kecewa lagi.             Barulah saat Roma mau membuka mulutnya, Suryono sudah duluan bicara dengan terburu-buru. "Dien, sudah kamu tidak perlu menunggu jawabannya. Bapak yang mewakili Roma untuk jawab iya!" Dien langsung tersenyum lebar. Kegirangan dan kegembiraan terlihat jelas di wajahnya. "Dia pokoknya harus belajar sama kamu. Semisal dia melawan dan tidak nurut, bilangin sama Bapak biar dia Bapak sabet lagi kayak kemaren," ancam Suryono galak sambil mendelik tajam ke anaknya yang berada di ujung brankar.            Dien mau kembali bersuara lagi sebelum satu perempuan yang sudah kepala tiga lebih tiba-tiba masuk ke dalam ruangan sambil marah-marah.           "Dien! Mama bilang apa kemarin?"            "Mamah!?" Dien terkejut. Ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk dengan dibantu Sri tapi Mama Dien, Lucia langsung bergerak gesit menjauhkan tangannya Sri dari tubuh anak perempuannya itu. Tak lama datang Cece-cecenya Dien. Mella dan Melly.            "Minggir!" Sri dan Suryono terpaksa agak menjauh dari posisi mereka. Suryono mengajak Roma untuk keluar ruangan Dien.            "Dien," panggil Melly khawatir. Terlihat jelas di mimik wajahnya.            "Dien kamu gak apa-apa, kan?" tambah Mella bertanya sambil duduk di ujung kaki Dien. Sementara itu Dien melihat mamanya yang melipat kedua tangannya di depan d**a. Memejamkan matanya dengan wajahnya yang terlihat ada amarah yang masih tertinggal di sana. Posisi tubuh mamanya juga tidak menghadap dirinya namun bertolak belakang dengan posisinya. Dien tahu dia pasti akan kena ocehan lagi oleh mamahnya. Tidak ada raut kekhawatiran yang terlihat jelas di mamanya dan Dien juga tidak merasakan bila mamanya khawatir dengannya justru kedua kakak perempuannya inilah yang begitu risau melihat dirinya dirawat di Puskesmas. "D---Dien... Dien baik-baik aja, kok, Ce," ucapnya terbata-bata. Seraya melirik-lirik sang mama. "Warga bilang kamu pingsan dan saat itu kamu sedang bersama Roma," tutur Melly. Warga memang mengabari mereka dengan menghubungi salah satu dari mereka yang kebetulan sedang berada di perkotaan. Iya, pada intinya mereka tengah sibuk masing-masing dengan urusannya. "Asmaku kambuh, Ce." Padahal Dien cuma berbohong tadinya pada gurunya supaya bisa pulang cepat untuk mencari Roma ini malah mengapa malah dia seperti kena batunya jadi sakit beneran dan merepotkan semua orang. "Ini semua gara-gara Roma! Makanya kamu bisa begini!" berang Lucia memutar tubuhnya jadi menghadap Dien. Dien menggeleng kuat. Dien tidak ingin mamanya malah menyalahkan Roma atas insiden ini. Kenapa, sih, mamanya tidak pernah mau melihat apa yang terjadi di dirinya sekarang kenapa harus melihat orang lain untuk dicari-cari kesalahannya lalu dilampiaskan emosi pada orang yang mamanya salahkan. Apa yang salah dari Roma? Asmanya kambuh sendiri dan tidak ada hubungannya dengan Roma. Dien kecil tidak memahami apa yang membuat mamanya segitunya tak menyukai Roma hanya karena anak lelaki itu terkenal brutal dan brandalannya. Tapi, tidak ada yang tahu sisi baik dari Roma itu sendiri. Hanya Dien yang bisa melihatnya dan itu mengapa Dien tidak terima bila Roma harus disalahkan karena dirinya sendiri. "Mah... Dien yang punya asmanya kambuh, Dien yang pingsan. Kenapa Roma yang Mama salahin?" Terus terang anak yang duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar itu tak memahami jalan pikiran mamanya yang tidak pernah mau mendengarkan apa yang dia katakan. Baginya hanya bisa menyalahkan orang lain saja. Menyalahkan dan menyalahkan. "Kamu pikir Mama tidak tau apa kalo kamu beralasan sakit sama Pak Wiranto? Pak Wiranto menghubungi Mama kalo kamu pulang lebih awal. Untungnya Mama sudah di perjalanan pulang dan saat Mama sampai di rumah, Mama pikir kamu sudah ada di rumah tapi ternyata kamu malah menemui Roma, ya. Pasti Roma, kan yang menghasut kamu untung tidak langsung pulang," pungkasnya dengan menuduh Roma yang bukan-bukan juga. "Mah... sudahlah, jangan marah-marah kayak gitu. Terpenting, kan Dien tidak kenapa-napa," ujar Melly sebagai penengahnya. "Iyah... Mah, kasian Dien kalo terus-terusan selalu Mama marahin," kata Mella yang melihat adiknya menangis setelah dibentak. "Kalian berdua diam! Roma harus diberi pelajaran!" tandasnya langsung keluar dari ruangan. Sementara itu, Sri sempat mengatakan kepada suami dan anaknya. "Lebih baik kita pulang saja, ya. Dien juga sudah ada yang mengawasi," sarannya yang diangguki Suryono dan Roma. "Benar Buk. Kita pulang saja kalo gitu," tambah Suryono. Suryono, Sri dan Roma hendak akan beranjak dari sana bergegas untuk segera pulang ke rumah tapi mendadak datang Lucia memaki-maki keluarga mereka. "Heh! Saya minta, ya, sama Bapak Suryono tolong. Tolong jauhi anak Bapak ini dari anak saya! Saya gak suka liat Roma dekat-dekat dengan keluarga saya apalagi Dien, anak saya. Dia anak baik-baik, anak yang pintar. Dien juga dari keluarga yang berkecukupan, apa pantas dia berteman dengan anak Bapak. Sudah miskin, nakal, bodoh lagi!" Tak ada yang sadar bila selama Lucia berbicara, banyak orang yang ada di puskesmas menonton perdebatan mereka, bahkan Dien yang didampingi Mella dan Melly saja sempat terkejut melihat mama mereka marah-marah membabi buta di sini.             Sementara Sri nyaris akan melemparkan kata-kata yang lebih tajam lagi karena rasa sakit hatinya yang setiap saat, semua orang selalu menghina keluarganya. Tapi, Suryono langsung berdiri membelakangi istrinya. Ia berdiri tegap sebagai pelindung istri dan anak-anaknya. Ia yang akan menjadi orang pertama yang membela anak dan istrinya bila ada orang yang berani melukai hati mereka. "Kita memang orang miskin, Roma memang bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tapi, kalo bukan anak saya, anak kamu mungkin sudah mati saat itu juga," pungkasnya. Roma sendiri menatap Dien tanpa suara, tanpa kata-kata. Lehernya dirangkul oleh kedua tangan ibunya. Roma memberi tatapan yang sulit untuk Dien artikan tapi makna yang Roma ingin beritahukan adalah alasan di mana ia tidak ingin dekat-dekat dengan Dien dan tidak pernah mau memedulikan Dien. Karena ini. Karena mamanya yang selalu menghina keluarganya. Roma tidak mau berdekatan dengan Dien karena ia tidak ingin keluarganya kembali dihina-hina lagi. Sudah cukup. Sudah cukup!!!! Roma selama ini selalu melihat bagaimana bapaknya berdiri tangguh di hadapannya dan ibunya sebagai benteng yang siap untuk menghalangi orang-orang yang selalu mengatakan hal-hal yang menyakiti hati mereka dan melukai harga diri mereka. "Dan satu lagi..." Sri mengusap air matanya. Ia menyembunyikan Roma di belakang tubuhnya. Dengan satu tangannya ke belakang, digenggam oleh anak lelakinya, Roma. "Meskipun kita miskin, memangnya kenapa? Kita tidak minta makan dari situ, dari orang-orang yang selalu menghina kita. Kita tidak pernah sekalipun mengemis. Asal situ tahu, ya, kita memang miskin harta tapi kita tidak miskin harga diri." Apa yang Sri katakan tidak ada yang tahu reaksi yang sempat berubah dari mimik wajahnya. Tidak ada yang menyadarinya satu orang pun. Bahkan Sri pun sangat disayangkan memalingkan wajahnya dari Lucia yang masih memandang emosi dan tajam ke lawan bicaranya. "Ayo! Roma, Pak, kene muleh saiki," ajaknya sambil melempar tatapan sinis ke mama Dien. (Ayo! Roma, Pak, kita pulang sekarang) Suryono dan Roma pun berjalan lebih dulu dan disusul oleh Sri di belakangnya tapi baru selangkah saja, Sri menunda kembali langkahnya dan menoleh ke belakang. "Ingat satu hal, ya, bukan Roma yang selalu mendekati Dien tapi anakmu sendiri yang ingin berteman dengan anak saya." Setelah itu Sri benar-benar pergi dari hadapan mereka semua bersama keluarganya.           Dan saat mereka sampai di rumah. Suryono agak kaget saat mendengar penjelasan dari Sri. "Wonge iso nduwe jabatan manager kui goro-goro ne dadi gendaan bos.e .dekne gelem dadi gendaan.ne bos.e metgo duwekk Pak." (Dia mendapatkan jabatan sebagai manager itu karena dia selingkuhan dari bosnya. Dia mau jadi selingkuhan bosnya demi uang Pak)           "Heh! Nek ngomong ojo seneng ngawur," tegurmya karena Suryono tidak ingin istrinya bicara yang ngada-Ngada tanpa fakta atau bukti yang jelas. Untuk memastikannya lagi, Suryono kembali bertanya. "Roh kondi emange Ibu kui?" (Heh! Kalo ngomong jangan suka ngaur. Tau dari mana memangnya Ibu itu?)           "Pak..Ibuk seneng tuku sayur lah akeh seng ngomong yoan seng ngosipno nk mama dien koyo kui. Mangkane Ibu iso. ngomong ngunui . Ibu nduwe konco seng kerjo nang kono, nah wonge yo roh tenan piye beritane ng tempat kerjo seng berkembang kui." (Pak... Ibu suka beli sayur dan memang banyak yang gosipin mama Dien seperti itu. Makanya Ibu bisa bilang begitu. Ibu punya teman yang bekerja di sana dan memang dia tau betul bagaimana berita di tempat kerjaannya berkembang) Hal itu pun di dengar oleh Roma dari luar kamar kedua orang tuanya. Roma keluar dari rumah. Ia duduk sendirian di luar rumahnya. Apa yang dia pikirkan hanyalah satu. Bukan Dien, ibunya atau apapun itu tapi tentang.... bagaimana caranya agar dia bisa mengubah nasib hidupnya? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD