12. Cantik, Tapi Tidak Suka!

1070 Words
Bian meraih ganggang telepon yang ada di mejanya. Setelah melihat arloji miliknya sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, dia sengaja menghubungi Leo untuk menanyakan jadwal selanjutnya. "Apa ada pertemuan lagi? Sepertinya aku harus pulang lebih awal." Tangan kirinya sambil membereskan berkas yang berserakan di meja. Menumpuknya jadi satu, lalu fokus berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon tersebut. Di seberang sana Leo hanya menjawab bahwa tidak ada hal yang penting lagi untuk dihadiri. Maksudnya masih bisa diwakilkan olehnya jika Bian memang sedang sibuk. Tak hanya itu, Bian terkejut ketika Leo mengatakan mengenai pernikahannya bahkan memberinya selamat. Bian sama sekali tak membuka suara pada siapapun, kenapa dia tahu? "Kamu tahu?" Sedikit terkejut. Bian masih tak percaya berita itu sudah tersebar begitu saja. Setelah mendengar penuturan dari Leo yang mengatakan bahwa artikel itu sudah tersebar di internet Bian langsung menutup sambungan teleponnya. Kemudian dia langsung mengecek berita terkini yang terpampang di halaman depan google. Benar! Bahkan seperti banner foto dirinya dan juga Natya sudah terpampang di sana. Dikatakan mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Masih terus mengamati artikel itu, Bian hanya bisa diam tanpa mencoba mengelak atau marah. Pada kenyataannya memang benar, kan? Meskipun dirinya terpaksa, mana mungkin orang tahu. Mereka hanya akan berpikir ini kabar bahagia dan memberikan selamat terbaiknya. Bian meng-close layar ponselnya hingga kembali ke tampilan awal. Dia memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jas dalamnya kemudian bergegas pergi setelah tak ada jadwal yang penting lagi. Sesampainya di basement perusahaan dan sudah ada di dalam mobilnya, Bian kembali meraih ponselnya untuk mengirim sebuah pesan pada Natya. "Di mana? Aku akan menjemputmu." Tak perlu menunggu balasan, Bian menaruh ponselnya pada jok kecil diantara pengemudi depan dan segera melajukan mobilnya. Namun, getaran dan sering kecil yang masih dapat didengar tersebut membuat Bian mengambil kembali ponselnya untuk melihat balasan dari Natya. "Masih di tempat kerja. Datang saja." Bian menaruh kembali ponselnya. Dengan kecepatan sedang dia hanya ingin sedikit tenang. Kembali pada pemikiran tentang Reina. Mungkinkah dia juga mendengar kabar ini? Aish! Pemikiran itu benar-benar membuat Bian frustasi hingga memukul setirnya berulang kali untuk melampiaskan. "Tetap! Bahkan ketika aku sudah menikah dan kamu kembali nanti. Kamu yang akan kupilih," lirih Bian dengan nada hampir tak terdengar. Dia berjanji dengan apa yang sudah diucapkan tadi. Pikirannya mulai kacau dan setiap momen bersama Reina coba dia ingat kembali. Sangat merindukan, tapi harus bagaimana? *** "Benerin make-up aku, dong, Ray." Natya yang sedang melihat wajahnya pada pantulan cermin kecil yang sedang dia pegang merasa ada yang kurang sempurna. Seraya terus memperhatikan wajahnya, dia meminta bantuan pada Raya untuk membenarkan make-up di wajahnya yang mungkin sudah sedikit terhapus. "Mau dijemput sama mas ganteng itu, ya? Yang mau nikah kayaknya manis banget." Mendengar itu, Natya sudah tak kaget lagi karena dia juga tahu artikel tentang dirinya dan Bian yang sudah menyebar luas melalui internet tersebut. "Manis? Kamu lihat dari sisi yang mana? Pahit kali," ucap Natya seraya memanyunkan bibirnya. Harusnya ini hari yang bahagia, tapi berbeda aura bagi mereka berdua. "Nggak papa, nanti dia akan bucin loh sama kamu." Raya mulai mendekat, sembari kembali memoles wajah Natya, dia terus mencoba menggoda bosnya itu. "Ngomong apa kamu, Ray." Natya tertawa. Sama sekali tak percaya Bian akan seperti itu. Mungkin pernikahan nanti hanya sebuah status saja. Bukankah Bian masih mengharapkan masa lalunya? "Mana ada si yang nolak kamu, Nat. Merendah mulu nggak asik!" cibir Raya. Dirasa sudah cukup natural dan tidak terlalu menor. Natya kembali mengecek wajahnya yang sudah lebih sempurna dari sebelumnya. Raya yang mulai membereskan alat make-up masih terus merespon apa yang Natya ucapkan. "Terserah kamu, deh. Oh iya, nanti tolong beresin aja semuanya dan cek takut ada yang ketinggalan. Aku langsung ke butik kayaknya, jadi nggak sempat pulang. Kamu sama pak supir duluan aja kalau mau pulang." "Nggak sopan, lah." Natya tak masalah jika memang Raya akan pulang terlebih dahulu dan beristirahat. Selama ini kinerjanya sudah sangat baik untuk dirinya, jadi Natya tak mempermasalahkan apapun. Mereka yang memang sudah duduk di kursi lobi sejak tadi melihat kedatangan Bian. Natya langsung berdiri dan berpamitan pada asistennya tersebut. "Tuh, udah datang. Aku langsung berangkat, ya." Dia melambaikan tangannya, namun tak ada senyuman bahagia. Hanya wajah datar dan langkah yang terburu menghampiri pria di sana. "Hati-hati, Natya." Raya berteriak. *** Sama sekali tak bersuara ketika di perjalanan, Natya langsung mengatakan tempat yang akan mereka tuju. Sampai di butik pun Bian hanya diam saja, sementara Natya tampak sibuk membolak-balikan halaman katalog gaun pernikahan yang ada di tangannya. Natya juga tak perlu menanyakan perihal gaun yang disukai Bian. Dia ingin memancingnya untuk bersuara sendiri. Namun, sampai beberapa Bian hanya diam saja, memperhatikan pun tidak. "Sis, aku coba yang ini." Natya menunjuk gaun dengan gaya d**a yang sedikit terbuka. Dia menyukai gaya itu yang sering digunakan ketika pemotretan. Saat itu juga Natya lebih merasa percaya diri. "Mari ikut kita untuk mencobanya." Dua pegawai yang ada mengajak Natya. Sekilas Natya menoleh ke arah Bian yang ternyata tampak sibuk dengan ponselnya. Rupanya, Bian benar-benar tak peduli sejak tadi. Natya yang sudah berada di ruangan lain dibantu beberapa pegawai memakai gaun besar yang cukup merepotkan tersebut. Dia melihat sendiri pada kaca besar yang memenuhi tembok di ruangan itu. Tersenyum sendiri melihat bagaimana cantiknya dirinya sendiri. Sesekali dia memutar tubuhnya dan gaun itu benar-benar nyaman untuknya. "Nona, mari saya antar untuk memperlihatkan pada Tuan di luar sana," ajak salah satu pegawai seraya menuntun Natya, sementara yang lain mulai membantu menyesuaikan gaunnya. "Ah, tidak perlu. Dia akan menyukainya jadi tidak perlu memperlihatkan padanya." Tidak ingin kecewa. Natya tahu Bian tak perduli mengenai ini, jadi dia rasa tak perlu untuk memperlihatkan padanya. "Apa kalian benar-benar pengantin?" tanya pegawai itu lagi. Natya sedikit tersindir, melalui tatapan yang dilontarkan pegawai tersebut seolah dirinya cukup aneh membuat Natya akhirnya menyetujui untuk memperlihatkan pada calon suaminya. "Baiklah." Dengan bantuan empat pegawai, Natya berjalan pelan hingga berdiri di depan Bian yang tadinya masih sibuk dengan ponselnya, kini mulai mengangkat wajahnya. "Bagaimana, Tuan? Apa anda suka dengan gaunnya pilihan Nona?" ucap salah satu pegawai. Bukannya percaya diri, Natya malah membuang wajahnya tak berani melihat ekspresi Bian yang takutnya malah mengecewakan. "Tidak buruk. Ambil saja yang itu," respon Bian terdengar tak antusias sama sekali. Di dalam hatinya Bian mengakui bahwa Natya cantik. Selain itu karena dia memang seorang model. Tapi, kembali lagi bahwa bagi Bian masih jauh lebih cantik Reina dibandingkan wanita yang sedang ada di depannya sekarang. Mendengar respon itu, Natya hanya menghembuskan nafasnya kemudian kembali masuk ke ruang ganti untuk melepaskan gaunnya. *** Bersambung….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD