Part 4 Kostan Radit

1435 Words
Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah. Dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yg akan menanggung rasa sakitmu. ~Dee Lestari~~ ========== Malam ini aku di kos sendirian. Kiki sedang berkencan dengan Doni. Rasanya kegiatan seharian tadi benar benar menguras tenaga dan pikiran ku. Setelah membuat secangkir s**u hangat, aku duduk di depan laptop. Sekarang baru pukul 20.00. Tapi keadaan sekitar kos sudah sepi, sebenarnya tadi, sekitar pukul 18.00 hingga pukul 19.00 suasana kos cukup ramai masih ada beberapa teman satu kos ku yg berkeliaran. Hujan baru saja mengguyur kota ini, dan kini hanya menyisakan gerimis kecil saja di luar. Tak... Tak... Tak... Terdengar seperti ada yg melempari pintu kamar ku dengan kerikil. Siapa yang iseng, yah? Batinku . Aku berdiri dan berniat melihat ke luar, aku menyingkap korden yg ada di jendela kamarku sedikit dan mengintip keadaan di luar. Sepi Tidak ada satu pun orang di luar. Ponselku berdering menandakan ada chat yg masuk, saat aku akan berbalik suara lemparan kerikil itu kembali terdengar. Akhirnya aku kembali melihat ke luar. Deg!! Sosok itu lagi ! Sosok wanita penghuni kos yg waktu itu ku lihat. Dia sedang berdiri di seberang kamar ku, di bawah rintik hujan sambil menunduk diam membeku. Rambutnya yg acak acakan dan panjang terurai menutupi sebagian wajahnya, dia memiringkan kepalanya dan perlahan melihat ke arahku sambil menyeringai Segera ku tutup korden ini, dan mundur perlahan menjauhi jendela . Ponselku berdering nyaring. Kali ini bukan pesan yg masuk, tapi panggilan telepon. Radit. Kuraih dan segera menjawab panggilan telepon darinya "assalamualaikum..." "Wa alaikum salam, sayang." "kenapa, Dit?" "Kamu lagi ngapain?" " aku lagi ...." Suara guyuran air dari kamar mandi kamar membuat lidahku kelu. Jantungku seakan berhenti berdetak. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh. Bahkan teriakan Radit tak ku hiraukan. Aku takut, tapi aku juga penasaran. Kuletakan ponsel di kasur. Lalu melangkahkan kaki turun dari ranjang dan mendekat ke kamar mandi. Aku harus melihat siapa yg ada di dalam kamar mandi kamarku. jelas sekali bukan manusia. Saat sudah dekat dengan pintu kamar mandi, aku berhenti sejenak untuk sekedar mengumpulkan keberanian. Memang ini bukan pertama kali nya aku berurusan dengan makhluk astral, hanya saja entah kenapa aku takut sekali saat ini. Klek. Pintu berhasil ku buka, pelan pelan ku dorong agar terbuka sepenuhnya. Glek . Aku bahkan sampai menelan ludah melihat apa yg ada di depanku . Sosok yg tadi di depan kamar kini ada di hadapan ku. Dia sedang jongkok di atas bak air, dan bermain air sambil sesekali membuang air itu secara sembarangan. Aku terdiam, badanku benar benar kaku, tidak bisa ku gerakan. Otak ku menyuruh ku untuk segera pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga. Tapi respon yg ku terima justru menyuruhku tetap diam dan terus melihat sosok itu. Dia menoleh padaku sambil menyeringai, wajahnya mengerikan. Daerah sekitar matanya hitam, namun bola mata nya putih dan meninggalkan satu titik hitam di tengah nya, kulitnya retak retak, bibirnya hitam dengan wajah pucat. Bahkan benar benar pucat. Hawa dingin sangat menusuk tulang. 'Audzubillahhiminassyaitonnirojiiim,' gumamku pelan. Ku baca surat alfatihah, ayat kursi, an nas, al falaq, al ikhlas secara terus menerus, dan tidak lupa dua ayat terakhir surat al baqarah. Perlahan aku bisa menggerakkan kakiku dan tubuhku tidak lagi kaku. Aku langkah pergi meninggalkan kamar, bahkan sampai menahan nafasku, karena rasa takut yg masih sangat kurasakan akibat makhluk tadi Kubuka pintu kamar ku, dan terus berjalan menjauh dari kamar. Bahkan pintu kamar tidak lagi ku tutup, kubiarkan terbuka lebar. Aku terus berjalan pergi meninggalkan kamar tanpa membawa apa pun dan bahkan tanpa alas kaki. Sudah tidak peduli lagi kaki ku kotor bahkan terluka karena tajam nya kerikil yg ku lalui sekarang. Berkali kali aku terus menoleh ke belakang, takut makhluk itu mengejar ku. Buugggg!! Sampai akhirnya aku menabrak seseorang. Dia langsung mendekap ku ke dalam pelukan nya. Ku cium aroma tubuhnya, hmm... Radit . Saat aku mendongak ternyata benar dia Radit. "Kamu kenapa sayang ? Kok gugup gini ?" "Kamu... Kamu kok di sini ? " tanyaku sambil berusaha mengatur nafas dan sesekali melihat ke belakang . "aku sengaja ke kosan kamu, habisnya tadi aku telepon, kamu malah aneh . Pasti ada yg gak beres ya ? Ada apa sih sayang? " tanya Radit penasaran . Ku atur nafasku dan menjelaskan pada Radit tentang apa yg ku alami barusan. "Itu.. Tadi .. Ada yg kemaren, Dit," ucapku dengan nafas pendek pendek . "Yang kemaren ? Yang mana ? " Radit masih belum mengerti maksudku ," oh yg kemaren itu... 'Cewek' itu?" tanya Radit lagi Aku mengangguk cepat . "Tapi kamu gak papa kan sayang ? Kamu ampe keringetan gini loh. kamu habis ngapain sih ?" tanya Radit sambil mengelap keringat di kening ku menggunakan tangan nya . "Dia.. Tadi dia.. Aaah.. Aku takut . aku gak mau balik ke kos. Aku nginep tempat kak Arden aja deh," kataku yakin . "Ya udah sayang . yuk aku antar," ucapnya sambil membelai kepalaku lembut . "Tapi.. Pintu belum aku kunci, Dit ." Radit menoleh ke arah kamarku ," ya udah . kita kunci dulu yuk. kamu sekalian bawa baju ganti buat besok kuliah sama tas kamu sekalian. Jadi berangkat kuliah gak usah ke sini lagi . oke sayang? " " heem .." Kami kembali ke kamar ku , saat sudah di depan pintu kamar kos, aku bersembunyi di punggung Radit, dan sedikit mengintip dari balik bahunya . "Udah, nggak papa sayang. Ada aku . Biar aku aja yg masuk ya . kamu di sini aja ?" tanya Radit . Aku mengangguk yakin . Akhirnya Radit masuk ke dalam kamar kos ku dan mengambil baju tas serta laptop ku juga. Setelah semua sudah yakin dibawa, Radit menutup serta mengunci nya. " yuk.." ajaknya sambil menggandeng tanganku . ========= Sampai di kamar kos kak Arden ternyata baru aku tau kalau kak Arden sedang tidak di kos . Kak Arden dan Dedi sedang pergi ke pondok pesantren yg cukup jauh dari sini, katanya sih ada kasus kesurupan di sana dan kebetulan adik Dedi yg ada di pondok pesantren itu. Dan sepertinya mereka berdua akan menginap di sana malam ini . "duh .. Gimana dong ini . masa aku balik lagi ke kos ku, Dit." Radit terdiam sambil terlihat berfikir. " hmm... Gini aja.. Ini sih kalau kamu setuju ya sama saran ku," kata Radit . " hm.. Apaan?" " kamu nginep aja di kamar kos ku . gimana? " tanya Radit sambil menatap lekat lekat . "Eum..tapi ... " " tenang aja, Tha . kamu tidur di kasur , aku gelar kasur di bawah deh . kalau kamu masih ragu , aku gelar tiker di depan kamar aja juga gak masalah deh . asal kamu bisa tidur nyenyak," ucapnya membuatku tersenyum . "Iya deh, sayang . masa aku setega itu kamu tidur di depan kamar . kenapa gak sekalian aja gelar koran terus tidur di emper toko? Lebih menjiwai deh rasanya... hehe.." aku tertawa . "Hmmm.. Dasar jelek," ucap Radit sambil mencubit kedua pipiku gemas . Dan akhirnya malam ini aku menginap di kamar kos Radit . Setelah berganti pakaian, aku segera naik ke ranjang , dan ku tutupi seluruh tubuhku dengan selimut . Radit mulai menggelar kasur lipat di lantai, lalu melirikku heran. "Kamu gak gerah?" tanyanya sambil merapikan kasur nya . " eum.. Gerah sih .." "Terus.. Ngapain selimutan sampai segitunya ?" "Mmm. Nggak apa apa," jawabku cuek . Radit diam sebentar lalu menahan tawa . "Tenang aja deh sayang .. Aku gak bakal macem macem kok. Bakal di gorok Arden aku . mana berani ..." Aku tertawa lepas, dan akhirnya ku singkirkan selimut ini dan tidur memunggungi Radit . Suasana hening. " aiii... " "Hmmm..." " met tidur ya . nice dream .." "Iya ,kamu juga ya . " Hening kembali. "aiii..." "Hmmm..." "Aku sayang kamu." ucapnya pelan. " aku juga, Dit .." " ya udah. Tidur ya " "Heem.." ====== Dingin . Kurasakan kaki ku dingin seperti ada tangan yg mencengkram nya . Aku tersentak kaget dan langsung duduk . Kuedarkan pandanganku ke sekeliling tempat tidur. Tidak ada apa pun . Namun... Tak lama ada sebuah tangan muncul dari bawah ranjang dan naik ke ranjang menuju ke arahku duduk. Tangan hitam penuh dengan luka bakar, dengan kuku kuku yg panjang . tangan itu terjulur panjang berusaha mendekatiku. Aku berteriak kencang sambil menutupi wajahku dengan bantal . Seseorang mengguncang guncangkan tubuhku. "Reta.. Aretha.. Kamu kenapa? Sayang ? Sayang ? Aiii?? Heii. Ini aku ... Radit ..." Lalu ku buka bantal yg menutupi wajah, saat melihat Radit di depan ku, aku segera memeluk nya . Radit membelai punggungku lembut, sementara aku menangis di pelukan nya. " udah ya.. Udah gak papa . aku di sini . kamu jangan takut . kamu gak sendirian , ai. " hiburnya. Radit lalu menyuruh ku kembali tidur . " ya udah, sekarang kamu tidur ya sayang. Masih jam 1 malem tuh . tidur lagi ya. Aku di sini kok.. Jagain kamu ." Kutahan tangan Radit yg hendak kembali ke bawah.. "Sini aja, Dit . aku masih takut," rengekku . Radit menarik nafas panjang . "Iya, ya udah . aku di sini . aku temenin kamu sampai kamu tidur ya," bujuk nya . Aku pun kembali tiduran dan mencoba memejamkan mataku . Radit duduk di lantai sambil tangan nya membelai kepalaku lembut . kepalanya di rebahkan di pinggir ranjang, sambil terus tersenyum padaku . Lama kelamaan aku rasa kantuk kembali menggelayuti mataku dan aku pun tertidur. ==========
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD