“Kau hanya akan membunuh dirimu sendiri jika memaksakan diri sampai sejauh ini. Itu tidak apa jika kau mati sendirian. Bagaimana jika kau menabrak seseorang di jalan?” Frans terdiam. Ia menyandarkan kepalanya pada kepala sandaran kursi dengan mata terpejam erat. Kerut-kerut nampak tipis pada dahinya. “Ferdinand berkata bahwa kemarin kau telah bekerja dari pagi hingga malam hari untuk mengejar jadwal liburanmu. Otakmu butuh istirahat. Kau pikir semuanya akan selesai jika kau mati? Apakah Nana tidak membutuhkan perlindungan meski ia sedang menghilang sekarang?” Decakan lidah keluar dari bibir Frans. Ia menghela berat. “Aku mengerti maksudmu. Baiklah, aku mungkin akan mengambil beberapa jam untuk tidur,” “Jangan tidur di pinggir jalan. Setidaknya mampir ke rest area.” “Ya,” Sahut Frans.

