Menjijikan

1039 Words

Frans menggeser tubuhnya mundur ketika Nana bangkit dari duduknya. Ia mengangguk. “Kau benar. Tentu saja kau sangat lelah setelah menungguku hingga selarut ini. Aku berjanji itu adalah yang pertama dan terakhir. Aku bersumpah tidak akan melakukan kesalahan yang sama, Na.” Nana tidak menjawab. Ia merayap naik ke atas ranjang besar mereka dan berbaring di bagiannya. Napasnya terasa sesak. Perutnya nyeri karena telah muntah beberapa kali dan belum memakan apapun di restoran selain sepotong roti kering gratis yang disediakan pihak restoran sebagai pengganjal perut. Sebuah cahaya kekuningan membuat Nana menoleh. Ia mendapati Frans tengah mendekatinya dengan sebuah kue tart cantik yang memiliki dua buah lilin kecil berbentuk hati yang menyala. “Aku tahu ini sudah lewat dari jam dua belas, tap

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD