-Adya POV-
Bersama teman-teman bodohku yang sudah berteman selama tujuh hari. Walaupun baru tujuh hari aku merasa seperti sudah tujuh tahun mengenal mereka.
Ditinggal Mama dan Papa ke Medan itu membuat hidupku hampa. Nggak sih biasa aja ini cuman akting.
Iya, kedua orangtuaku sedang kembali ke Medan karena perusahaan di sana sedang membutuhkan Papa, jadi dengan berat hati aku membiarkan mereka berdua pergi meninggalkanku sendiri di sini. Tidak sendiri, aku bersama bibi lebih tepatnya.
Tara dan Ucup berada di rumahku, sudah dua hari mereka tinggal di rumah, padahal aku hanya bercanda mengajak mereka untuk menemaniku di rumah, tetapi ternyata mereka menganggap ucapanku adalah keseriusan.
Aturan mah jangan serius-serius yaa, takutnya kalau udah serius nanti malah di mainin kan sakit.
Udah nggak usah rame.
Bercanda doang. hehe
"Dya, Bibi lo nggak masak." ucap Tara.
"Itu pernyataan apa pertanyaan?" tanyaku.
"Ck, gue ngasih tahu lo."
Aku mengangguk. "Emang gue suruh jangan masak."
"Dih si anjir. Kita mau makan apaan kalo dia nggak masak?"
"Makan hati aku aja nih." jawabku.
"Najis gue mah najis." gumamnya lalu meninggalkanku di ruang keluarga sendirian.
"Nanti kita makan diluar aja, bangunin tuh si Ucup bagong!" Teriakku.
"Y" jawabnya. Ih sialan.
Siang ini aku akan mentraktir mereka makan di luar, ini juga karena suruhan Mama dan Papa, kalau tidak juga aku tidak akan mau mengeluarkan uangku hanya untuk mereka.
"Mana Dina?" Aku menoleh keasal suara. Ucup dengan wajah bantalnya..
"Dina?" Beoku.
Dia mengangguk dan menggaruk kepalanya. "Kata Tara ada Dina di sini."
Aku menggeleng. "Sejak kapan dia tahu rumah gue?"
"Sialan Tara sialan emang." umpatnya sendiri.
"Kenapa sih?"
Dia menggeleng. "Noh i***t bangunin gue segala pake bisikin kalo Dina lagi di sini terus pake tangtop doang."
Aku terbahak. "Menjijikan ih, lo mau sama Dina?"
Ucup menggeleng lagi. "Kaga lah! Kan cuma penasaran aja." jawabnya.
Bodo amat. Kan sama aja.
Ucup langsung meninggalkanku berlari menaikki anak tangga, aku yakin dia akan menyerbu Tara saat ini. Aku mengikuti kedua temanku berjalan menaikki tangga ke arah kamarku, ingin melihat kedua anak bagong itu sedang apa di kamarku.
"Nggak ada sialan!"
Tara terbahak. "Iya iya ampun disuruh sama Adya bangunin lo."
"Tapi nggak usah bilang ada Dina pake tangtop juga." aku melihat Ucup masih mencapit kepala Tara dengan tangannya.
Aku masuk ke dalam kamar "Kalo mau bunuh-bunuhan jangan di kamar gue dong!"
"Bacot!" jawab mereka bersama. Wahh kurang di ajar sekali mereka.
Dua anak bagong itu sedang sibuk dengan kekuatannya mereka masing-masing di ranjangku. Sedangkan aku dengan kekuatan jurus Avatar berlari ke ranjang lalu menaikki tubuh mereka.
"Eh pea berat!"
"Si homo emang nih ah berat b**o!"
Aku hanya terbahak di atas sini mendengar umpat-u*****n mereka untukku.
---
"Heh macem gaya apa itu segala pake kaca mata?" tanya Ucup.
"Emang kenapa si? Iri lo ya gue ganteng lo enggak?" jawab Tara.
"Muka lo kaya homo, sama noh kaya Adya." Sialan namaku dibawa-bawa.
Gentara Pramudya Hanafi
Lelaki yang tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Sama sih sepertiku.
Hanya saja memiliki kelebihan membaca pikiran orang lain. Sedangkan aku tidak. Kelemahanku tidak bisa membaca pikiran orang lain, kelebihanku wajah yang terlalu tampan.
Tara itu playboy yang setia. Playboy tapi setia? Yup. Dia itu jika ada wanita di depan matanya terkadang mulutnya tidak bisa diam, selalu menggodanya. Hanya menggoda tidak ada maksud berlebih, karena dia sangat mencintai Tiara. Jangan salah Tara serius jika sudah memiliki hubungan.
Kami bertiga sedang dalam perjalanan ingin mencari makan siang, makan siang aja di cari apa lagi kamu.
Bercanda doang. Jangan baper.
Aku duduk di kursi depan penumpang, Tara yang mengendarai mobilku dan Ucup duduk di belakang sendiri.
"Mau makan di mana Dya?"
"Bebas deh, kalian mau makan di mana?"
"Sushi yuk?" Ajak Ucup.
"Nggak mau. Nggk ada ayam." jawabku.
"Ck, dasar ayam kampus." Aku hanya memutar bola mataku mendengar ucapannya Ucup.
"Terus maunya di mana?" tanya Ucup.
"Terserah." jawabku.
Kepalaku di toyor ke depan "Jangan kaya cewe gue lo ah! ditanya mau makan apa terserah pas di kasih ide bilang nggak mau, di tanya lagi mau makan apa di jawabnya terserah."
Aku terkekeh. "Setan lo."
"Di Mal aja yuk? Sekalian cuci mata." ide Tara.
"Cuci mata? Emang lo lagi sakit mata?" Tanya Ucup.
"b**o lo jangan b**o-b**o banget apa Cup, malu gue." jawabku.
Kepalaku di toyor kedepan lagi. "Sialan, kan cuma pura-pura nggak tahu doang gue." lama-lama juga otakku pindah ke jidat nih di toyor mulu. Eh amit-amit Astaghfirullah.
"Oh" jawabku dan Tara bersamaan.
"Yaudah Mal aja dulu Tar." ujarku. Tara mengangguk dan fokus ke depan.
Ponselku berdering ada pesan masuk. Mama.
Mama
Kak lagi apa?
Adya
Lagi di jalan mau makan, Mama?
Mama
Lagi di kamar nih sendirian, Papa lagi kerja. Bete.
Adya
Siapa suruh ikut, emang enak bosen kan.
Mama
Nggak sih, nanti malem juga Mama sama Papa mau jalan-jalan hahaha.
Mama
Kamu hati2 ya neng di sana, jgn bandel!
Aku sudah malas membalasnya kalau Mama sudah berkata seperti itu, emangnya aku wanita apa dipanggil neng segala.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di tempat tujuan, kami bertiga sedang berjalan di dalam gedung pusat perbelanjaan ini. Orang-orang yang memiliki mata terkadang melirik ke arah kami. Iya memang kami ganteng dan lucu jadi tak apa mereka melihat kami. Itung-itung amal menyenangkan orang lain.
"Mau makan dimana coy?" tanyaku
"Yang pasti ada ayamnya." jawab Tara malas.
Aku terkekeh. "Iya, nggak usah ada ayamnya juga gapapa deh sekarang."
"Steak aja deh yuk!" Ajak Ucup.
"Gegayaan makan steak, biasa makan tempe di cabein aja juga lu." ujarku.
"Sialan."
"Yaudah gapapa kalo mau steak, yuk." ucapku.
"Eh tunggu. Ini kita di bayarin?" Tanya Tara.
Aku menggeleng. "Nggak lah enak aja."
"Ehh sunggokong emak lu bilang yaa kalo suruh bayarin kita."
Aku hanya memutar bola mataku. "Udah yuk ah" ucapku lalu meninggalkan mereka di belakang.
"Jalan-jalan dulu kek makannya ntar aja." ucap Ucup.
"Mau kemana?" Tanyaku.
"Anterin gue beli baju deh yuk." Aku dan Tara mengangguk lalu berjalan dan memasuki toko-toko baju.
---
"Kaos di rumah gue juga banyak Cup." ucapku.
"Ya terus? Itukan kaos lo bukan kaos gue."
"Ambil aja kalo mau." ucapku lagi.
"Ogah bekas lo, ntar cewe gue malah demen sama lo."
Aku terkekeh dan melihatnya sedang mencoba baju yang Ia bawa. Dia berada didepan cermin dengan bergaya ala-ala model Internasional.
Rajendra Yusuf Pratama
Si anak bodoh yang ingin di bilang pintar, playboy tapi setia sama seperti Tara dan mirip seperti cupit, sering menjodoh-jodohkanku dengan teman-teman wanitanya.
"Gue beli juga ah." aku menoleh. Tara sudah membawa dua kemeja.
"Buat jalan sama yayang Tiara." ujarnya lagi. Aku hanya memutar bola mataku, melihat mereka yang sedang sibuk mencari pakaian yang mereka suka. Aku sih ogah, biarin aja Mama yang beliin.
"Lama lo ah pada, buruan! Gue laper tahu" ucapku.
"Bawel!" jawab mereka bersamaan.
Untung Adya ganteng dan tampan jadi harus sabar.
"Buruan dong ah, gue laper nih!" ujarku yang sedang duduk menunggu kedua sahabatku yang sedang mencari-cari sesuatu.
Mereka tak menghiraukan ucapanku dan tetap saja mencari barang yang mereka cari, aku mendengus karena bosan aku mengeluarkan ponsel dari saku dan bermain games. sekitar lima menit mereka menghampiriku kembali dengan kantung belanjaan mereka masing-masing dan mengajakku untuk keluar dari toko.
Kami mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai tetapi harus dengan makanan yang enak, dan disinilah kami di tempat pilihan pertama kami. Steak. Karena tidak ingin memilih menu-menu yang sulit maka kami memesan yang pengunjung biasa membelinya. Maklum namanya juga anak laki-laki.
"Itu emang bener gosipnya yang anak baru pindah kelas karena ada kita?" tanya Tara, sedangkan aku dan Ucup menggeleng dan menghendikkan bahu tidak tahu menahu.
"Lo emang nggak bisa baca apa yang ada dipikiran dia, waktu kita masuk kelas terus dia ngangguk ke guru?" tanyaku.
Giliran Tara yang menggeleng. "Sumpah! gue nggak bisa baca dia. kayanya dia sama kaya gue deh."
Ucup mengerutkan alisnya, "Emang kalo yang sama-sama punya kelebihan kaya lo, nggak bisa baca satu sama lain?"
Tara menggeleng dan terkekeh. "Gue nggak tahu, belum pernah temuin temen atau keluarga yang sama kaya gue soalnya." jawabnya dan Ucup mendengus mendengar jawaban Tara.
"Mau itu karena kita atau bukan ya nggak penting juga si buat kita." ucapku.
"Penting bagi gue."
"Kenapa?" tanyaku dan Tara bersamaan menoleh keasal suara.
"Kalau gue putus sama cewek gue nanti kan bisa aja gue deket sama dia." jawab Ucup dan dihadiahi jitakan dari tangan Tara.
Tak lama pesanan kami datang, dengan dua pelayan perempuan yang mengantarkan ketiga piring kami, dua pelayan tersebut tersenyum malu saat Tara dan Ucup menggoda mereka, sedangkan aku hanya menghela napas karena sudah terbiasa mendengar godaan mereka.
_______________________________________________________________________________________________
Happy reading guys!
Selamat membaca dan jangan lupa vote komen ya!