Malam di Jakarta turun dengan lembut. Dari balik jendela besar rumah mereka, lampu kota berkelap-kelip seperti bintang yang turun ke bumi. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh, dan di ruang tamu, Anggita masih duduk bersila di sofa, matanya menatap jam dinding dengan ekspresi datar walau jelas terlihat, ia kesal. Rambutnya diikat asal, piyama satin abu-abu yang ia kenakan tampak kontras dengan wajah cantiknya yang penuh ekspresi murung. Di meja depan, segelas teh chamomile sudah dingin. Begitu pintu depan terbuka dan langkah kaki Rafka terdengar, Anggita spontan menegakkan tubuh. Suara itu adalah langkah khas pria yang ia kenal di luar kepala. Rafka muncul di ambang pintu, masih dengan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku, dasi longgar menggantung di leher,

