Pagi itu sebenarnya berjalan biasa saja. Tidak yang begitu istimewa. Hari istirmewa Gita juga sudah lewat beberapa Minggu yang lalu. Meski begitu, manisnya masih terasa sampai sekarang. Apalagi Rafka selalu memerlakukannya dengan istimewa. Anggita bangun lebih cepat dari biasanya, bukan karena alarm, tapi karena perasaan aneh yang menempel sejak subuh. Bukan sakit. Bukan mual hebat. Lebih seperti… tubuhnya terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih sensitif. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika ia bangkit dari tempat tidur. Rafka masih terlelap di sampingnya, wajahnya tenang, alisnya mengendur—versi paling damai dari seorang Virgo yang di siang hari bisa berubah jadi manusia paling perfeksionis sedunia. Anggita menatapnya lama, bibirnya membentuk senyum tipis. “Aneh,” gumamnya pelan.

