***
Mereka sampai di Gramedia Senayan pukul 9 pagi. Sofia memperhatikan Safira yang langsung berbinar begitu menemukan novel Harry Potter yang terpampang di rak kategori best seller.
Dia melangkah meninggalkan Safira yang sibuk membaca sinopsis dengan semangat, menuju ke rak yang menyediakan buku-buku tentang kesehatan. Mengamati satu persatu sebelum kemudian dikembalikan lagi. Tidak ada yang menarik minatnya disini. Entah karena bukunya kurang menarik, atau karena mood membacanya sedang tidak baik.
Lalu dia memutuskan pindah ke rak berkategori Romance classic. Banyak buku bersampul lucu disana. Sofia menarik satu novel yang berjudul 'Jane Eyre' karya Charlotte Brontë. Setelah membaca sinopsisnya, Sofia memutuskan untuk membeli novel itu.
"Oi! Udah nemu?" Suara Safira terdengar dibelakangnya. Dia menoleh, seperti dugaannya, Safira sudah memeluk erat novel Harry Potter itu seolah akan ada yang merebutnya jika dia lengah sedikit saja.
Sofia mengangkat 'Jane Eyre' ditangannya. Mengatakan kepada Safira kalau dia sudah mendapatkan apa yang dirinya mau.
Keduanya berjalan beriringan menuju kasir.
"Lo mau langsung balik?" Safira bertanya saat mereka sudah sampai halaman parkir. Sama-sama menuju BMW hitam milik Safira.
Sofia mengangguk, "Hm. Balik aja."
"Lo nggak mau kita hangout kemana gitu? You know, Sof. Lo nggak bisa sering-sering ke Jakarta."
"Gue lagi males kemana-mana. Seandainya lo tadi nggak nelpon, gue pasti masih molor sekarang."
Mendengar itu, Safira mengernyit jijik. "Gue pengen main ice-skating,"
Perasaan Sofia mulai tidak enak.
"Plis. Temenin gue sekali lagi, abis itu gue anter balik."
***
Pada dasarnya Safira memang tipe orang yang tidak mudah dibantah. Dia memiliki seribu cara untuk membuat semua orang mengikuti apapun keinginannya. Sofia juga seperti itu sebenarnya, tapi jika dibandingkan Safira, jelas sahabatnya itu lebih keras kepala.
Dan karena ketidak berdayaannya melawan Safira, dirinya berada disini sekarang. Menggunakan mantel panjang dengan menenteng dua peralatan untuk meluncur. Sedangkan Safira, sudah bersenang-senang diatas lantai es tersebut.
Sofia menatap nanar peralatan ice-skating nya. Dia tidak pernah bermain ini sebelumnya, dan dia tidak tahu akan jatuh terpental atau tidak.
Dia lalu memasang besi panjang itu dikaki. Memutuskan untuk terjun bersama Safira meski masih terseok-seok. Si sahabat jangan harap akan membantunya karena dia lebih bahagia dengan permainannya saat ini.
Sofia mulai melangkah. Mengabaikan tatapan keheranan anak-anak kecil yang bahkan terlihat lebih mahir dari dirinya. Sambil mengerucut dia terus berjalan sampai kedua ujung alat itu saling menabrak dan membuat keseimbangannya oleng.
Seandainya tidak ada seseorang yang menahan lenganya, sudah dipastikan Sofia sudah terjungkal dan menjadi bahan tertawaan anak-anak itu.
Penasaran dengan rupa si penyelamat, Sofia menoleh. Mendapati sepasang mata hitam yang sedang menatapnya dengan dahi berkerut.
"M-makasih." Katanya, gugup ditatap lekat seperti itu.
"Kalau memang belum bisa, jangan jalan sendirian. Jatuh, bahaya."
Dia menurut saja saat pria bermata hitam dan bertubuh tinggi itu menariknya menepi, meninggalkan lokasi ice-skating.
Mereka sama-sama melepas peralatan sebelum duduk di long chair yang tersedia disana. Menatap keriuhan anak-anak yang tertawa saat bermain di lantai es itu.
"Untung ada elo. Kalau nggak ada, bisa diketawain mereka gue." Sofia memecah keheningan. Merasa tidak mendapat tanggapan, dia menoleh, menatap pria itu yang malah tersenyum tipis.
"Kalau mau main, seenggaknya kamu harus ada temen yang bisa menyeimbangi kamu. Sekali jatuh disitu, bisa bahaya. Bukan cuma malu karena diketawain anak kecil, kamu juga bisa geger otak."
Ganteng.
Untuk pertama kalinya, Sofia memuji penampilan seorang pria yang bukan Papa ataupun Kakaknya. Dia tidak memperhatikan apa yang cowok itu katakan, dia hanya peduli pada wajah tegas dan bibir kemerahan yang terus bergerak itu.
Ini jelas bukan dirinya. Sofia yang biasa cuek jika menyangkut laki-laki, mendadak blank dan terkagum-kagum hanya karena melihat pria itu bicara.
"-Ngerti?"
Sofia mengangguk saja. Padahal dia sama sekali tidak mendengar apa yang laki-laki itu katakan.
"Saya Alvaro, nama kamu?"
"Sofia. Sofia Davis."
Alvaro mengangguk-angguk. Sebelum berdiri, "Oke, kalau gitu saya pergi dulu."
Pria itu mengangguk sekilas sebelum pergi meninggalkannya. Tatapan Alvaro yang terakhir tadi... Entah kenapa Sofia bisa melihat binar kepuasan dalam mata hitam kelam itu.
***
Berguling. Sofia tidak bisa tidur seperti biasa. Mata hitam dan wajah tampan milik Alvaro terus saja hadir didalam kepala. Seolah tidak mengizinkan Sofia untuk berisirahat barang sejenak.
Dia tidak tahu apa yang membuat Alvaro terlihat begitu 'berbeda' dimatanya. Karena sebelumnya, dia tidak pernah melihat lelaki sepeti demikian.
Ya, mungkin karena ketampanan Alvaro yang tidak biasa. Tapi masih lebih banyak lagi laki-laki yang lebih tampan disekelilingnya. Hanya Alvaro yang mampu membuatnya susah tidur selama beberapa hari belakangan.
Juga, saat memikirkan pria itu... Dia menyentuh bagian dadanya yang berdegup kencang.
"Ini kayak waktu dikasih hadiah sama Papa waktu gue menang lomba," Namun dengan cepat Sofia menyangkal. "Ini bahkan lebih membahagiakan dari itu."
Dia melirik novel 'Jane Eyre' yang terbuka di samping tempatnya berbaring. Tidak sengaja membaca penggalan kalimat yang entah berada di halaman berapa.
"He was the first to recognise me. And to love what the saw."
***