oOo
“Jadi, lo suka modif-modif pake barang bekas gitu, ya?”
Ini untuk kedua kalinya Sofia jalan bersama Alvaro. Jika sebelumnya di Restoran Jepang, kali ini pemuda itu meminta ditemani ke Pasar Loak yang menyediakan banyak barang-barang bekas.
Tadi Alvaro sedikit bercerita kalau dirinya sangat suka mendaur ulang sesuatu dari barang yang sudah tak layak pakai.
Sambil mengamati beberapa besi berkarat yang Sofia duga bekas kendaraan, Alvaro menjawab, “Bisa dibilang, hanya ini keahlian saya, sih.”
Sofia ikut memperhatikan benda yang ada ditangan Alvaro. Dia mengernyit melihat noda kuning yang berasal dari besi berkarat itu.
“Emang, kalau beli baru nggak bisa?”
“Itu bukan daur ulang namanya.” Alvaro menjawab sambil terkekeh.
“Tapi seenggaknya hasilnya lebih bagus daripada pake yang karatan, kan?”
Alvaro menggeleng. “Hasilnya sama aja. Itu tergantung cara kita menggunakannya, sih.”
Alvaro berdiri. Dia berniat pindah lokasi dan mencari barang yang dia butuhkan. Sofia masih setia mengikutinya.
Sambil tengok kanan-kiri, Sofia memperhatikan sekitar. Pasar ini terlihat lebih tertata daripada pasar-pasar lain. kebanyakan pedagangnya pun hanya menjual barang-barang bekas atau barang antik. Dan seumur hidup baru kali ini Sofia mengunjungi Pasar loak, bersama Alvaro.
Setelah beberapa jam berkeliling, akhirnya Alvaro mendapatkan semua barang yang dia perlukan. Sejujurnya kaki Sofia sedikit pegal mengikuti Alvaro yang daritadi tidak berhenti berjalan. Berhubung mereka sudah menuju tempat parkir, Sofia tidak berani protes.
“Mau ke tempat saya dulu?” tanyanya setelah duduk dibelakang kemudi.
“Hah?!”
“Saya pengen nunjukin cara kerja saya sama kamu.”
“Ng, O-oke.”
Bagaimanapun, dia tidak bisa menolak, kan?
oOo
Pemuda itu mengajaknya menuju Apartemen kawasan Kemuning. Meskipun tempatnya tidak bisa dibandingkan dengan apartmen milik papanya, tempat tinggal Alvaro ini lumayan luas. Kira-kira terdapat tiga kamar tidur didalamnya.
Demi kesopanan, Sofia duduk di sofa ruang tamu karena Alvaro berpamitan mengambil air minum tadi.
Untuk ukuran seorang laki-laki lajang seperti Alavro, tempat ini cukup terawat dan bersih. Sofia bahkan malu sendiri saat membandingkannya dengan apartemen milik Galen yang isinya seperti habis tertimpa badai salju.
Dekorasi ruangan ini begitu simpel dengan warna monokrom. Khas laki-laki. Tidak ada warna lain pada wallpaper ataupun furnitur-nya.
Alvaro kembali dengan membawa dua minuman kaleng. “Minum dulu.”
Sofia meraihnya. Langsung meneguknya karena tutupnya sudah terbuka oleh Alvaro. Lelaki itu melakukan hal yang sama.
Setelah minumannya habis setengah, Sofia segera berdiri. “Gue pengen liat koleksi eksperimen elo.”
“Kamu bener-bener nggak sabaran.”
“Jadi, dimana tempatnya?”
Sifat keras kepalanya mulai keluar. Alvaro hanya tersenyum simpul. Dia melangkah menuju dapur diikuti Sofia yang mengekor dibelakangnya.
Alvaro membuka salah satu pintu yang ada didapur. “This my room.”
Sofia ternganga.
This is amaz ....
Ruangan dengan berbagai barang bekas yang sudah disulap menjadi benda bernilai seni tinggi itu begitu memukau mata. Sofia mendekat, mengamati salah satu bingkisan kotak berisi berbagai besi yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi kotak tersebut. Alvaro mengecatnya dengan warna hitam-putih.
Lalu kepalanya menoleh, melihat lukisan sebuah kota dengan gedung-gedung tinggi yang dibuat menggunakan serbuk kayu. Terlihat absurd tapi indah. Seandainya Alvaro berniat menjualnya, mungkin lukisan itu akan sama terkenalnya dengan lukisan Monalisa karya Leonardo Davichi.
“Kamu mau saya buatkan apa?” Alvaro bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di kusen pintu. Tangannya bersidekap sambil mengamati Sofia yang masih ternganga akibat karya-karyanya.
“Ini.” Sofia menunjuk lukisan gedung dengan serbuk kayu itu.
Alvaro mengernyit. “Saya nggak mungkin buat itu dua kali. Kalau saya kasih kamu itu, kamu nggak liat saya kerja dong?”
“Tapi gue pengen ini.” Keras kepalanya kumat.
Alvaro menghela napas. Mulai mencari solusi. “Gini aja. Kamu duduk situ. Nanti saya lukis wajah kamu kayak lukisan Panell. Gimana?”
“Panell?”
“Nama lukisan itu.” Telunjuk Alvaro mengarah ke lukisan serbuk kayu yang tadi dia sebutkan.
“Jadi setiap karya lo punya nama?”
“Kamu belum jawab pertanyaan saya.” Kalimat Alvaro menajam.
Sofia mengangkat tangan. “Oke, gue duduk.”
Dia duduk di kursi tinggi yang disediakan. Dahinya berkerut saat melihat Alvaro justru mengotak-atik kamera.
“Saya nggak mungkin menyelesaikannya dalam satu hari, kan?” Dia mengarahkan lensanya kearah Sofia.
“Tunggu, tunggu! Kalau gitu gue mau lukisan yang gambarnya berkesan.”
Alvaro mendengus sekali lagi, selain keras kepala, gadis ini juga banyak maunya. “Apa lagi?”
Sofia menggerakkan telunjuknya. Sedangkan Alvaro mengangkat sebelah alis tidak mengerti.
“Sini...!” Sofia mulai tidak sabar. “Gue mau foto berdua.”
“Berdua? Itu nggak berkesan sama sekali.”
“Berdua, atau nggak sama sekali,” katanya menyilangkan tangan didepan d**a sambil buang muka.
“Hei! Seharusnya saya yang bilang begitu. Sendiri atau saya nggak buatin.”
Sofia masih tidak bergeming dengan muka masamnya. Alvaro hanya mendesah pasrah, tidak ada cara lain selain menuruti permintaan gadis sangat-sangat-sangat keras kepala itu.
Dia mengambil tripot untuk meletakkan kameranya. Setelah men-setting timer selama 10 detik, akhirnya Alvaro melangkah menghampiri Sofia. Berdiri kaku dibelakang gadis itu.
“Kita mau foto KTP, ya?"”Kata-kata menyebalkan itu keluar lagi.
Tujuh ....
“Kamu mau saya gimana?”
Enam ....
“Majuan dikit!”
Lima ....
“Deketan, Al ....”
Empat ...
“Yaelah, masa canggung gitu.”
Tiga ....
“Nah ....”
Dua ....
“Sofi ...!”
Ckrek!
Alvaro masih bergeming ditempatnya. Dia benar-benar tidak menduga Sofia akan melompat dan mencium pipi-nya seperti tadi. Menyebalkan sekali. Sumpah demi apapun, dia akan menghapus foto itu seandainya Sofia tidak berlari lebih dulu dan memeriksanya.
“Hapus, Sof.” Alvaro mendekat. Hendak merebut kamera itu dari tangan Sofia. Tapi gadis itu menghindar dengan cepat.
“Nggak! Apa-apaan lo, main hapus aja.” Sofia terus menyembunyikan kameranya dibalik punggung. Dia melangkah mundur saar Alvaro mulai mendekat.
“Itu kamera saya. Jadi, hapus fotonya sekarang.”
Sofia menggeleng kuat. Tubuhnya mentok di meja pembuatan barang-barang menakjubkan milik Alvaro itu. Sofia panik saat Alvaro semakin dekat. Tidak ada pilihan, dia mengangkat kameranya keatas kepala.
“Kalau lo mau hapus foto ini, gue bakal banting kameranya.”
Satu detik, dua detik.
Alvaro menggeram. Entah setan apa yang memasuki lelaki itu, dia menerjang mendekat. Melingkupi Sofia dengan tubuh besarnya. Mata hitamnya menunjukkan kemurkaan. Dia sama sekali tidak melihat Alvaro yang beberapa menit lalu bersamanya dalam sosok ini.
“Siapa elo berani nyentuh kamera gue, Nona?!” Kosa katanya pun berubah. Tekanan dalam kalimatnya mampu membuat Sofia bergetar.
Sofia menurunkan kamera itu secara perlahan. Mungkin dirinya sudah berlebihan karena mengancam Alvaro seperti tadi. Saat hendak meminta maaf, pria itu tiba-tiba sudah mendekatkan wajahnya. Mata hitam yang murka menyorotnya tajam.
Sofia ketakutan. Seumur hidup baru kali ini ada seseorang yang menatapnya demikian. Mungkin seharusnya dia tidak mudah diajak begitu saja oleh orang yang belum dikenalnya dengan baik.
Kalau dipikir-pikir, dia sama sekali tidak mengetahui kepribadian Alvaro sama sekali. Dan dengan bodohnya dia malah mengikuti cowok itu kemari. Dan disaat seperti ini, siapa yang akan menolongnya? Apakah perasaannya yang tadi menuntunnya kesini yang akan menolongnya? Mustahil.
Papa ....
Seolah tersadar, Alvaro mengerjap saat menyadari mata coklat itu mulai berair. Dia mundur beberapa langkah. Memberi jarak antara dirinya dengan Sofia.
Gadis itu memberikan kameranya dalam diam.
“Maaf ..., ” gumamnya lalu kemudian pergi dengan terburu-buru.
oOo