Rahasia di Balik Pintu Kamar

1162 Words
“Oh s**t. Mama nggak boleh lihat Megan. I’m not ready yet.” Panik langsung naik ke kepala. Noah memaksa dirinya berpikir, otaknya bekerja secepat notifikasi darurat. Ia butuh solusi sekarang. Karena kalau sampai dia ketahuan bareng Megan, berdua saja, dalam keadaan sama-sama basah lagi, yang kacau bukan cuma suasana. Situasinya bisa melebar ke mana-mana, salah paham bisa tumbuh liar, dan semuanya berubah jadi jauh lebih rumit dari yang sanggup ia kendalikan. Ia menoleh ke arah Megan yang masih ngomel sendiri tanpa jeda. “Hey, dengerin aku,” potongnya cepat. “Di luar ada ibu kos galak. Dan dia paling alergi sama cewek cantik.” Noah sadar ia baru saja mengarang bebas. Tapi efeknya? Instan. Megan langsung terkesiap. Kedua tangannya refleks memeluk tubuh sendiri, matanya membulat dramatis. “Mak–maksud kamu apa?” tanyanya cepat. “Kamu tetap di sini. Biar aku sama Bos Jason yang hadapi ibu kos itu.” Noah sengaja menurunkan suara, dibuat misterius. “Ingat, kamu baru boleh keluar kamar satu jam lagi. Atau…” Ia menggantung kalimatnya. “Atau apa? Bisa nggak sih ngomong tuh jangan setengah-setengah? Langsung aja!” desak Megan, kesal. “Atau aku nggak bisa bantu kamu lagi. Di kota ini kita nggak punya siapa-siapa, ingat itu.” Nada Noah tenang, tapi cukup dramatis untuk terdengar meyakinkan. Dan sukses. Megan langsung mengangguk cepat. “Ya udah sana. Urus.” Ia mengibaskan tangan seperti mengusir lalat. Noah menahan senyum tipis, memastikan Megan tidak melihatnya. Lalu ia melirik Jason, memberi kode singkat. Tanpa banyak bicara, mereka langsung keluar dari kamar dan bergerak cepat menyusuri ruangan tamu. Begitu sampai di halaman townhouse yang tak terlalu luas, mobil hitam sudah berhenti tepat di depan gerbang. Perfect timing. Atau lebih tepatnya, timing yang bikin jantung copot. Noah langsung berdiri di depan mobil, menghalangi. Pintu samping terbuka. Seorang wanita turun dengan anggun, wajah blasteran Indonesia-bule yang tegas dan cantik. Tatapannya langsung tajam. “Noah. Apa-apaan ini? Kenapa kamu halangi mobil Mama?” “Ma…” Noah langsung menarik tangan sang mama pelan tapi tegas. “Aku antar Mama ke hotel sekarang, ya.” “Nggak.” Naina Kingsley menarik tangannya kembali. “Mama sudah sampai di rumah kamu. Kenapa harus ke hotel? Jangan aneh-aneh deh.” Noah memegang kedua bahu mamanya, mencoba terlihat setenang mungkin. “Ma. Mama nggak bisa nginap di sini.” Naina memicingkan mata. “Noah… kamu sembunyikan apa dari Mama? Jangan-jangan kamu—” “Pipa rumah bocor!” potong Noah cepat. “Lagi diperbaiki. Lihat aku, basah. Jason juga basah.” Jason yang berdiri di belakang langsung mengangguk patuh. “Iya, Nyonya. Bo-bocor parah.” Naina menatap dari ujung kepala sampai kaki. Baju mereka memang masih basah. Tatapannya makin curiga. “Bocor pipa… atau bocor rahasia?” gumamnya pelan. Noah tersenyum kaku. “Ma… aku serius. Pipa bocor. Dan aku nggak punya rahasia apa pun yang perlu aku sembunyikan dari Mama.” Jason di belakangnya nyaris tersedak menahan tawa. Di dalam rumah, Megan masih duduk manis di kamar, sama sekali tak sadar kalau drama keluarga kelas premium baru saja dimulai di halaman depan. “Benar, ya?” tanya Naina tajam, meneliti wajah putranya. Noah mengangguk cepat. “Benar. Ayo, aku antar Mama ke hotel.” Naina berbalik seolah menyerah. Beberapa langkah kemudian, di saat Noah lengah, wanita paruh baya itu tiba-tiba menanggalkan heels-nya. Dan berlari. Menuju pintu rumah yang masih terbuka lebar. “Mama!!” teriak Noah refleks. Jason langsung menoleh dengan wajah pucat. “Tuan! Gawat! Kalau sampai ketahuan, saya yakin pesta pernikahan bisa digelar malam ini juga!” Pletak! Noah menepuk jidat Jason keras-keras. “Pikirkan solusi Jason, bukan akibat!” geramnya, lalu berlari mengejar sang mama yang sudah jauh di depan. ‘God, please save me.’ … Di dalam kamar, Megan mendengar suara keributan dari luar. Langkah kaki terdengar tergesa-gesa. Disusul suara teriakan dan nada panik yang saling tumpang tindih, meski kata-katanya tak terdengar jelas. Detik itu juga, jantung Megan mendadak berparade tak karuan, berdegup cepat, ricuh, seolah ikut panik tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia langsung duduk tegak. “Aku kira cuma mama yang galak. Nggak tahunya ibu kos juga begitu,” gumamnya panik. “Gimana dong? Aku nggak mau mati. Aku masih belum kaya.” Ia mondar-mandir di dalam kamar, menggigit ujung jarinya. “Think, Megan. Think!” Ting! Notifikasi masuk. Megan langsung meraih ponselnya., ternyata pesan dari Noah. “Pura-pura bikin rumah kebanjiran. Siram air dari dalam kamar sampai mengalir ke bawah pintu dan basahin ruang tamu. Sekarang.” Mata Megan membulat. “Dia serius?” Tanpa pikir panjang, Megan melempar ponsel ke atas kasur. Langsung berlari ke kamar mandi, langkahnya terburu-buru. Begitu sampai, ia berhenti sejenak, menatap shower di depannya dengan wajah tegang. Rasanya seperti sedang berhadapan dengan tombol darurat yang bisa mengubah segalanya. “Oke. Demi keselamatan jiwa dan raga,” gumamnya dramatis. Ia memutar keran penuh. Air langsung mengucur deras. Dalam hitungan detik lantai kamar mandi mulai tergenang. Megan panik sendiri, meraih ember, lalu menyiramkan air ke arah pintu kamar. Tidak hanya sekali tapi beberapa kali. Air mulai merembes keluar, menyusuri celah bawah pintu, mengalir tipis ke arah ruang tamu. “Semoga dramanya dapet Oscar,” bisiknya. Sementara di luar Naina sudah hampir mencapai pintu ketika langkahnya mendadak terhenti. “Apa itu?” tanyanya tajam. Dari bawah pintu, air merembes pelan. Bukan sekadar tetesan, tapi cukup untuk membuat lantai depan basah licin. Noah yang baru saja menyusul langsung menangkap momen itu. “Ma! Itu yang aku maksud!” katanya cepat, setengah terengah. “Pipanya bocor parah. Airnya sampai luber ke mana-mana.” Jason yang tiba di belakang mereka langsung menimpali dengan akting yang terlalu niat, “Iya, Nyonya! Kami bahkan belum sempat bersihin. Bahaya kalau nyonya masuk, bisa terpeleset!” Naina menatap genangan air itu. Lalu menatap Noah. Lalu kembali ke air. Keningnya berkerut. Di dalam kamar, Megan masih menyiram tanpa tahu bahwa genangan sudah mulai mencapai karpet ruang tamu. Air merembes makin jauh. Satu detik. Dua detik. Tiba-tiba— “Tuan!” teriak Jason pelan tapi panik. “Itu airnya kebanyakan!” Noah menoleh. Dan untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya benar-benar kehilangan warna. Karena dari dalam rumah, kini bukan cuma suara air yang terdengar. Tapi bunyi ember terjatuh, disusul pula dengan pekikan tertahan, “Ouch!” Napas Noah tercekat. Di bawah cahaya matahari siang yang terang, genangan air di lantai justru terlihat makin jelas dan makin mencurigakan. Naina mengangkat satu alisnya perlahan, ekspresinya berubah tipis, antara curiga dan terhibur. “Oh… jadi bukan cuma pipa yang bocor,” gumamnya penuh arti. Noah menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Perfect plan. Perfect disaster,” lirihnya nyaris tanpa suara. Dengan senyum sinis yang terlalu berpengalaman membaca situasi, Naina melangkah semakin jauh masuk ke dalam rumah, meninggalkan putranya yang hanya bisa menatap dengan wajah memelas. Dalam hati, Naina terkekeh kecil. ‘Are you kidding me, Noah? Mama juga pernah muda.’ Dan kini ia semakin yakin, di balik pintu kamar itu, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar pipa bocor. Sebuah rahasia milik Noah Kingsley.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD