Fachry – Lo, Sarap?

2960 Words
 Adalah bangunan delapan lantai, dengan cat putih begitu dominan yang menjadi tempatku bernaung saat ini. Aroma karbol yang begitu menyengat, suara roda brankar didorong melewati koridor panjang di lantai dasar, apalagi saat tengah malam, suasana yang terkesan menjadi lebih mencekam.  Semua itu, agaknya memang harus menjadi teman baik di setiap pagiku. Oh, maaf, bukan hanya pagi, hampir sepanjang hari suasana seperti ini harus menjadi karib dekatku. Suka tidak suka, mau tidak mau, ini adalah pilihan yang kuambil dua belas tahun yang lalu. Ya, memilih bekerja di tempat orang lain—sekalipun itu om sendiri—daripada menggantikan kursi papa di Top Manajemen Rajendra University yang berada di bawah naungan Rajendra Group, sama dengan tempatku bekerja saat ini. “Dokter Fachry, saatnya visit.” Nah, itulah aku. Dan, seperti ini rutinitas pagi yang selalu menjadi lakon utama memulai hari. “Ada berapa pasien?” tanyaku kepada perawat Gina, asistenku. “Ada tiga, Dok. Dua pasien lama, satu DB grade II, satunya lagi hipertensi visit terakhir, dijadwalkan pulang hari ini.” “Satu lagi?” “Pasien kiriman dari IGD semalam, suspect[1] Prancreatitis.” “Kita ke pasien baru hulu,” ucapku sambil menerima status pasien yang diberikan Gina. “Panggilkan koas untuk ikut visit sekalian,” lanjutku. Begitu sampai di bangsal Seruni—salah satu bangsal penyakit dalam—aku langsung menuju bed pasien sesuai yang Gina tunjukkan sebelumnya. Seperti biasa, aku mengeluarkan stetoskop, penlight, dan beberapa alat perang lainnya untuk mulai menjalankan prosedur pemeriksaan fisik seperti biasa. Anamnesis[2] dari hasil laporan Gina juga status pasien yang kupegang tadi. Aku mengarahkan stetoskop ke abdomen pasien, mulai mengobservasi sambil menekan bagian-bagian tertentu. “Di sini sakit, Pak?” “Argh … sakit, Dok.” Terlihat pasien merespons cepat akibat tekanan yang kuberikan pada abdomennya. “Berapa suhunya?” tanyaku pada Gina. “38.7, Dok,” jawab Gina dilanjut penjelasan tanda-tanda vital lainnya. “Sudah berapa lama merasakan seperti ini, Pak?” “Se-selasa, Dok.”  Suara lirihnya masih mampu kudengar. Mataku mengedar ke sekeliling untuk mencari seseorang yang mungkin memiliki kerabat dengan pasienku satu ini. Tapi sayang, sepertinya tidak ada.  “Walinya mana?” “Tadi izin ke perawat jaga untuk pulang mengambil pakaian, dan belum ada yang menggantikan, Dok.” Aku mengamati Bapak tersebut sekilas, sebelum akhirnya segerombol koas datang sedikit berlari sambil mengatur napas. Hah, aku hanya memandang mereka datar, tidak ingin berkomentar lebih. Toh, dulunya aku pun begitu.  “Koas?” “Siap, Dok.” “Pasien datang dengan kesadaran yang mengalami penurunan. Gula darah tinggi mencapai 400, tapi tidak ada riwayat DM. Nyeri epigastrium, gelisah, muntah-muntah, demam disertai keringat dingin. Apa diagnosanya?” “Apendicitis, Dok?” jawab salah satu koas. “Bukan. Bising usung positif, perut tidak keras, dan tidak ada tanda-tanda Peritonitis.” “Pancreatitis, Dok.” Koas lainnya ikut menyahut. “Nah, pemeriksaan penunjang apa lagi yang diperlukan?” “Cek kadar amilase, lipase, dan fungsi ginjalnya. Kalau perlu diperkuat lagi dengan USG perut, Dok.” “Good, kamu lakukan itu dibantu sama perawat Gina.” “Baik, Dok.” “Untuk terapinya, Dok?” “Resusitasi cairan, berikan Asering tapi guyur dulu. Puasakan, kemudian injeksi obat lambung proton pump inhibitor double dose. Injeksi antibiotik, lainnya simtomatik saja. Obeservasi TTV jangan lupa.” Aku melihat ada sebagian koas yang sedang sibuk mencatat. Atau hanya pura-pura menyibukkan diri? Ada juga yang memperhatikanku sedari tadi sampai tak sadar bahwa penjelasanku telah selesai. Terpesona, eh? “Koas, paham?” “Siap, paham, Dok,” jawab mereka serentak. Tapi, aku tak yakin akal hal itu. Bisa saja yang mereka pahami adalah karisma Dokter Fachry yang terpancar dan tak bisa terelakkan lagi. Iya, 'kan? “Ya sudah, kalian buat laporan kasusnya, besok presentasikan ke saya.” Kemudian aku beralih ke pasien selanjutnya yang masih berada dalam bangsal yang sama. Ini baru jam delapan pagi, dan kesibukan sudah nyata di depan mata. Ikhlas, mengabdikan diri untuk masyarakat sesuai sumpah yang telah kuambil beberapa tahun silam. Risiko, untuk sebuah keputusan yang kutekadkan dua belas tahun lalu. Bersyukur, karena nyatanya terpilih sebagai salah satu perantara tangan Tuhan itu adalah anugerah, bukan musibah. Setelah menyelesaikan visit pagi, kini aktivitasku beralih ke poli. Masih ada tiga puluh menit sebelum waktu buka praktik dimulai. Dan, lapar. Tapi, nggak oke banget kalau harus sarapan sepagi ini di kantin rumah sakit, sendiri pula. Miris sekali nasibku. “Selamat pagi Dokter Fachry ganteng.” Satu suara dari arah samping sedikit mengagetkanku. Sedikit, karena jangan bayangkan ada adegan di mana aku terhenyak, terjinggat, atau apa pun sebutan untuk mendeskripsikan ekspresi orang kaget. Intinya seperti itu. “Iih, Yik. Disapa juga!” sungut perempuan yang kini menyejajarkan langkahnya di sampingku. “Hmm,” sahutku singkat. Ah, Iya. Dia, rekan sejawatku. Mmm, lebih dari itu sih sebenarnya. “Lo nggak pernah dapet conversation class ya?” tanyanya yang hanya kubalas dengan lirikan singkat juga kernyitan tak paham. “Sumpah, nyebelin banget pagi-pagi.” Dan, sumpah juga aku harus menahan debaran tak santai yang selalu hadir di saat ada perempuan ini. Stay cool, calm. Jangan menjatuhkan harga diri hanya karena ketahuan gugup dengan konyolnya. “Apa, Frey?” “Rumusnya, kalau ada orang nyapa itu ya disapa balik. Kalau ada orang tanya ya dijawab. Kalau ada orang ngajak bicara ya ditanggapi.” Repetan panjang dari bibir peach itu, membuatku semakin gemas. Freya, perempuan mandiri, tegas, dan, selalu memesona di setiap geriknya, membuatku terkadang berpikir, tidakkah aku terlalu bodoh melewatkan setiap detik dengannya hanya sebagai sahabat? Perempuan cerdas yang turut menjadi alasan mengapa pada akhirnya aku memilih bidang pekerjaan yang sama dengannya. Senyumnya yang begitu manis, selalu berhasil membuat gigiku ngilu begitu melihatnya. Dengan Freya, aku tak perlu jadi orang lain. Jaga wibawa? Tidak akan pernah berhasil kalau sudah bersamanya. “Yik!! Tau deh .... Bye!” Hhh, itulah perempuan. Di belahan bumi manapun, hal seperti ini akan selalu melekat dalam jiwa mereka. Ambekan, hal yang selalu didahulukan ketika mereka tidak segera mendapatkan apa yang diinginkan. Freya berniat pergi, tapi tentu aku tak akan membiarkannya begitu saja.  Sedikit berlari untuk menyamakan langkah, kuraih pergelangan tangannya. Kini giliranku yang mengambil kendali. “Temani gue sarapan,” putusku tanpa ia bisa membantah. “Always!” Dia mencebik, tapi tak urung menurut juga. Freya, dia bukan sahabatku. Terlalu sederhana rasanya jika hanya sebagai sahabat, seperti kataku tadi. Soulmate? Bisa jadi. Tapi, sesuatu di dalam sini menginginkan lebih dari itu. Suatu ketidakmungkinan yang masih berusaha kusangkal. Cinta ....?! Maybe. “Bubur soto kayak biasanya sama teh hangat satu, Frey,” ujarku kepada Freya yang sudah menuju stand penjual. Sementara, aku harus berjuang mencari tempat kosong di antara kepadatan kantin di prime time seperti sekarang, yang mustahil dari kata sepi. Lihat saja, hampir semua bangku telah terisi. Kafetaria di rumah sakit ini, memang hanya satu, berpusat di lantai tiga sebelah belakang. Apalagi waktunya sarapan begini, wajar jika beberapa stand bahkan sudah dikerubungi antrean pembeli yang mengular. Aku masih memindai sekeliling, mencari orang-orang yang sekiranya hampir selesai. Tepat, ada satu bangku di deretan kanan dekat jendela, dua orang perawat telah usai menikmati santap paginya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, daripada didahului orang lain juga, aku langsung menempati bangku itu. Untungnya, tak sampai ubanan Freya sudah datang dengan senampan bubur soto pesananku. “Makasih, cantik.” Bukannya balasan, dia cuma menatapku jengah dan memberikan roll eyes . Sepertinya aksi balas dendam sedang dilakukannya. “Terus lo nggak sarapan?” “Gue nggak kayak lo ya. Sekalipun kagak ada yang masakin, seenggaknya gue sadar buat jaga kesehatan diri sendiri. Nah lo? Ada Bibi yang masakin, ada Tante Farida yang selalu ngingetin sarapan. Sumpah! Kurang-kurangin deh, Yik! Nggak malu sama pasien lo gitu? Nyuruh buat makan teratur, sementara lo sendiri?” Yeah, kultum pagi ala emak-emak tersaji dengan manis di depanku. Sekalipun tadi itu memekakkan telinga, tapi fokusku berbeda. Ampun! Wajah imut sambil manyun gitu, siapa yang tahan, Frey? Sabar, Yik. Ini cobaan. Sayang, kegiatan mengagumi perempuan yang tengah mencuri hatiku ini harus terganggu dengan dering ponsel yang menggetarkan saku celana. Meski sudah terbiasa dengan penyelaan seperti ini tapi kesal juga. Biasanya kalau pagi-pagi begini, pasti ada panggilan darurat, tapi berharap sih nggak. Dan, beruntung memang bukan panggilan darurat dari salah satu pasien. Meski, heran juga begitu melihat nama Big Boss terpampang di layar. Buat apa coba papa menelepon pagi-pagi begini. Toh, aku masih tinggal di rumah, jadi kalau ada sesuatu bisa dibicarakan nanti. Meski, jarang sih kami bertatap muka. Secara waktu kerjaku nggak menentu. Nggak seperti pekerja kantoran macam papa. Tidak ingin menunggu lebih lama, segera kugeser ikon hijau di layar dan mengangkat panggilan yang sedari tadi menarik perhatian. Lalu, salam terucap di bibir sembari memberi isyarat pada Freya untuk menunggu sebentar. Sahutan dari seberang langsung dapat kudengar. Ah, papa, kukira ada sesuatu yang urgent sampai-sampai meneleponku pagi-pagi begini. Ya memang, tadi waktu berangkat, aku nggak sempat pamit karena perawat Gina sudah menerorku berkali-kali. Ternyata, papa hanya menanyakan jam praktikku selesai kapan.  “Belum tahu, Pa. Sekitaran jam dua atau jam tiga mungkin, tergantung.” Seperti biasa, papa langsung pada intinya, memintaku untuk datang ke kampus usai praktik dengan alasan ada hal penting yang akan beliau sampaikan.  “Tapi—” Dan, belum sempat aku mengiyakan, sambungan di seberang sudah terputus begitu saja. Yah, itulah papa, pemilik segala kuasa Kerajaan Rajendra. “Om Rahman?” tanya Freya penasaran. “Iya. Biasa, nggak ada basa-basi, langsung main tutup aja.” Aku menggerutu sendiri sambil melanjutkan sarapan yang mulai mendingin. “Sebelas dua belas lah ya.” “Hmm?” balasku datar. “Iya persis kayak lo, tanpa minta persetujuan nyuruh gue nemenin sarapan sementara gue cuma ngeliatin aja,” balasnya kesal. Dan—oh, tidak! Mata hazelnya .... Astaga! Bisa gila hanya karena seorang Freya. Lambaikan tangan. Nggak kuat, Nyerah. “Eh, lo nggak ke poli?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Eh, apa katanya tadi? Poli! Bego! “Ya ampun, cerdas lo. Gue cabut dulu, nih tolong bayarin, Frey,” ucapku mencari uang lima puluh ribu dari dalam dompet dan kuletakkan di depannya. ”Thanks, cantik.” Aku masih sempat-sempatnya mengacak rambutnya sebelum pergi.                                                                                                     *** Setelah bergulat dengan kesibukan menangani sekian pasien, kini saatnya melaksanakan titah Big Boss untuk menemuinya. Berada di sinilah aku sekarang, bangunan dua belas lantai yang menjadi pusat di antara bangunan lain di kompleks kampus Rajendra University, atau lebih mereka kenal dengan sebutan RU, salah satu kampus swasta terbaik di Jakarta. Sedikit melirik smartwatch yang melingkar di pergelangan,  sepertinya tidak terlalu buruk. Lagi, tidak ada ketentuan yang mengharuskanku untuk datang tepat pukul sekian. Sepertinya, ini juga bukan meeting, gathering, atau anything dengan syarat kehadiran on time. Tanpa snelli dan antek-anteknya, aku memasuki Centre Building meninggalkan Porsche White yang terparkir di halaman parkir bertuliskan 'Parkir Eksklusif'. “Selamat pagi, Mas Fachry,” sapa salah satu security begitu aku memasuki gedung paling mencolok dalam kawasan kampus. Sebenarnya, gedung ini gabungan dari gedung Rektorat dan kantor Top Manajemen Rajendra Group, jadi wajar kalau gedung ini lebih tinggi daripada gedung-gedung lain dalam satu kawasan Rajendra University. “Sore Miranda,” sapaku ramah pada resepsionis di lantai dua belas. Perempuan itu sudah melihatku. Tapi belum ada balasan atas sapaanku tadi. Hening. Pandangannya kosong.  See? Betapa pesonaku bisa membuatnya diam tanpa kata. “Miranda?” sapaku lagi sambil menggerakkan lima jari tepat di depannya. “Eh, iya maaf. Sore, Mas Fachry. Lama ya nggak ke sini?” tanyanya basa basi. “Iya, sibuk di rumah sakit. Bapak ada? Masih belum pulang kan ya?” “Ada, Mas. Sudah ditunggu dari tadi, silakan masuk,” ucapnya tersenyum sambil menunjuk ruangan Bapak Rajendra Rahman yang terhormat.   Mengangguk singkat pada Miranda, aku berlalu untuk mengetuk ruangan Big Boss yang sudah menanti di dalam. Berasa orang penting ditunggu pimpinan Rajendra University. Sayang, sambutan yang kudapat jauh dari sambutan untuk orang penting. Papa justru memberi tatapan datar tanpa ekspresinya yang langsung kubalas dengan tatapan yang sama. “Duduk.” Papa meletakkan kacamata, kemudian bangkit dari singgasananya menuju sofa tempatku berada saat ini. Perasaanku tiba-tiba saja memburuk. Ada semacam firasat menyeramkan perihal kehadiranku kali ini. Dan, Bapak Rajendra Rahman memang selalu penuh teka-teki misterius. “Ada apa, Pa? Papa nggak minta aku buat datang on time kan?” tanyaku membuka man session dua generasi berbeda ini. “Senin besok kamu harus mulai ngantor di sini, ya walaupun seminggu berapa kali terserah kamu, yang penting harus,” ucap papa sukses membuatku nyaris henti jantung. Rencana apalagi ini? Aku diam sejenak. Untung saja aku masih ingat pria berumur ini adalah orang yang mewariskan separuh DNA-nya padaku. Kalau tidak, segala umpatan yang tertahan ini, sudah tentu kumuntahkan begitu saja. “Ini berkas sebagai pedoman selama kamu ngantor di sini. Apa saja yang perlu kamu urus dan ambil alih dari papa, semua lengkap di situ. Nanti Miranda akan menjelaskan detailnya sama kamu,” lanjutnya sambil menyerahkan tumpukan map berisi entah apa yang sama sekali tak membuatku tertarik. Papa memang selalu begitu. Punya titah tak terbantah, membuat lawan bicaranya tak bisa sekadar menyampaikan interupsi. Jelas sekalipun aku berusaha melayangkan sanggahan, papa tetaplah pemegang kekuasaan tertinggi. “Harus?” tanyaku masih meragukan sabda Bapak Rahman. “Papa anggap kamu 'Iya' dan papa juga sudah menghubungi Om Reikhan buat setting jadwal kamu di RMC biar nggak bentrok di sini!” tambahnya membuatku hanya bisa mendesah lelah. Mau bagaimana lagi? Aku maklum sebenarnya kenapa papa begitu ngotot menyuruhku buat mulai kerja di sini. Secara, aku anak lelaki satu-satunya, yang kemungkinan besar bakal memegang tampuk kepemimpinan di sini. Karena tidak mungkin mengharapkan adik semata wayangku yang masih kuliah. Dia jelas, bukan tipikal orang yang mau-mau saja duduk di balik kantor seharian penuh. Jiwa petualangnya terlalu tinggi. Jadi, ya mau tidak mau aku hanya bisa menerima. Dan menjalaninya, nanti. “Oke, ada lagi?” tantangku. “Ah iya, jadi kamu kapan kenalin calonmu ke papa sama mama?” Oke, Papa semakin konyol sih ya. Dan pertanyaan barusan itu cukup membuatku jengah. “Papa tahu pasal 335 ayat 1 KUHP?” “Kamu tahu papa bukan orang yang suka main tebak-tebakan, Yik.” “Papa bisa dituntut dengan pasal itu karena melayangkan pertanyaan yang dinilai melanggar privasi.” Bukannya marah dengan balasanku, papa justru menatapku heran sejenak sebelum tawa keras keluar darinya. Dan sialnya, papa menertawakan jawabanku. “Kamu lucu. Papa cuma tanya calon, Yik. Papa kan juga pengen cepet punya cucu kayak teman-teman papa yang lain.” Aku tahu, Pa. Tapi, perihal jodoh nggak semudah order Go Food setengah jam kemudian sudah sampai. Mencari jodoh nggak sebercanda itu, Pa. Memangnya, saat lelaki hampir memasuki kepala tiga dan belum berumah tangga, apa selalu terlihat menyedihkan? Aku tak semenyedihkan itu. Ada pencapaian karier yang bisa kubanggakan. Lulus spesialis di bawah usia tiga puluh—di saat sejawat lain masih menjadi residen—itu adalah prestasi. Bagiku, wajar saja, karena semakin berkualitas seseorang sudah pasti Tuhan akan mengirimkan jodoh yang sama kualitasnya. “Lagian, itu ada Freya yang jelas di depan mata. Masih mau cari yang seperti apa?” Nah, itu masalahnya, Pa. Bicara soal Freya itu, dia tipikal orang yang nggak pernah ada kata mudah untuk menaklukkannya. Mendekati mustahil itu lebih tepat. Dan entah bagian mana yang membuat hati Freya bisa sedikit saja terbuka untukku. Atau aku yang terlalu takut untuk sekadar mengungkapkan? Sial, begini sekali balada orang galau cinta? “Pa, udah nggak ada lagi, kan? Fachry pulang ya.” Seolah paham raut mukaku yang semakin masam, papa menepuk pundakku untuk menenangkan. “Maafin papa. Bukan maksud papa buat nekan kamu segera dapat jodoh, tapi hal seperti itu perlu dijemput, Yik. Bukan cuma ditunggu.” “Paham, Pa.” “Ya sudah, ketemu di rumah. Papa masih ada ketemu klien habis ini.” Aku mengangguk dan segera hengkang dari kantor pemimpin Rajendra Group. Turun dengan lift yang tersedia untuk sampai di basement. Begitu sampai di dalam mobil kesayangan, aku mulai menjalankan si pewe—panggilan untuk Prosche White kebanggaanku ini—dan membawanya keluar dari parkiran. Kemudian, aku berpikir untuk menghubungi Freya. Sepertinya menghabiskan sore di kafe dengan alunan akustik dan sajian espresso, bisa menjadi pilihan terbaik untuk mengembalikan mood-ku. Ditambah kesediaan Freya untuk menemani. Lengkap. Perfect. Mencari kontak Freya di ponsel sambil satu tangan fokus mengemudi ternyata tidaklah mudah. Aku terus men-scroll sampai nggak sempat memperhatikan jalan. Dan, terlihat sebuah kubangan bekas hujan tepat berada lima meter di depan mobilku. Sudah terlambat untuk menghindar jadi—oke, aku harus rela si pewe menerjang kubangan itu yang bisa kupastikan setelah ini aku harus membawanya ke car wash. Shit, ini hari apa sih? Tapi itu belum seberapa, sepuluh meter setelah berhasil menerjang kubangan yang cukup dalam itu, terdengar ... suara pecahan kaca yang berasal dari arah belakang Pewe. Spontan aku menghentikan laju si Pewe. Melihat ke belakang dan—astaga, derita apa selanjutnya?  “Woey turun lo!” teriak seseorang.  Aku melihat ke arah sunvisor, ada cewek tengah berkacak pinggang terlihat geram berdiri tepat di sebelah kubangan. Oh, jadi dia? Baiklah, lupakan soal bersantai sore hari menikmati senja di kafe. Lupakan!!! Tentang pewe, nggak akan kubiarkan orang yang sudah membuatnya sampai cacat seperti ini. Siapa pun dia, harus tanggung jawab dan jangan pernah berpikir buat bisa lari begitu saja. Aku keluar dari mobil dan menghampiri si tersangka. Tapi bukannya takut, cewek itu malah memasang muka garang siap menerkamku. Sepertinya dia akan menyerangku. Terlihat sekali dari rautnya, kalau cewek itu menantang dengan lantang apa yang kulakukan sesaat tadi. Oke, maju hadapi, dan lihat saja siapa yang bakal menang. “Lo, sarap?” tanyaku tepat di depan mukanya. Kali ini, dia mulai bergidik ngeri dan bersiap untuk kabur. Bahkan umpatan yang ia teriakkan tadi tidak lagi terdengar setelah aku mendekat ke arahnya. Kucekal tangannya, “Jangan pernah berpikir lo bisa kabur setelah apa yang lo lakukan barusan!” “Gu-gue—” balasnya dengan gagu. “Lo, harus tanggung jawab!” putusku final. Dan, permainan itu dimulai dari sini.  ________________________ [1]Suspect: Dalam dunia medis, diartikan sebagai suatu praduga terkait penyakit tertentu. [2] Anamnesis: Teknik pemeriksaan dan pasien dengan seseorang yang mengetahui kondisi pasien untuk mendukung data medis pasien tersebut. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD