BAB 6 terperangkap dalam hasrat

1416 Words
**Terperangkap dalam Hasrat dan Skandal** Alya masih menggenggam ponselnya erat, napasnya belum sepenuhnya stabil setelah kabar mengejutkan dari Dina. Foto-foto mereka tersebar. *Seberapa parah? Seberapa banyak yang terlihat?* Matanya beralih pada Arsenio yang kini berdiri di depan jendela, punggung tegapnya memancarkan aura penuh kendali. Ia baru saja selesai menelepon seseorang—mungkin tim hukumnya atau seseorang yang memiliki kekuasaan untuk menghapus jejak skandal ini. Namun, Alya tahu, tak ada yang benar-benar bisa dihapus di era digital. *"Seberapa buruk?"* tanyanya dengan suara yang lebih lembut dari yang ia harapkan. Arsenio menoleh, matanya tajam tapi masih menyala dengan sisa gairah dari malam sebelumnya. Ia berjalan mendekat, meraih dagu Alya dengan jemarinya yang kuat. *"Jangan khawatir. Aku akan mengurus ini."* Alya menggeleng pelan. *"Ini juga tentang aku, Arsenio. Aku bukan hanya seseorang yang bisa kau lindungi dari balik bayangan."* Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibir pria itu, sebuah ekspresi yang membuat Alya tak tahu apakah ia harus marah atau kembali menyerah pada pesonanya. *"Kau keras kepala,"* gumamnya sambil menelusuri bibir Alya dengan ibu jarinya. *"Itu yang membuatku semakin menginginkanmu."* Alya menghela napas, tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan sederhana itu. *"Ini bukan waktunya untuk—"* Arsenio membungkamnya dengan ciuman yang dalam, membuat tubuhnya melemas seketika. Bibirnya bergerak dengan intensitas yang sama seperti semalam—mendesak, menuntut, memabukkan. Ketika akhirnya ia melepaskan Alya, napas wanita itu memburu. *"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, Alya. Tidak media, tidak orang-orang di kantor. Kau milikku."* Kata-katanya membuat jantung Alya berdegup kencang—bukan hanya karena kesan posesif yang jelas, tapi juga karena fakta bahwa ia tidak yakin bisa menyangkalnya. Namun, sebelum ia sempat merespons, suara notifikasi dari ponselnya menarik perhatian mereka. Alya meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan membuka pesan yang baru masuk dari Dina. **"Alya, kau harus lihat ini. Bukan hanya fotomu dengan Arsenio yang tersebar. Ada sesuatu yang lebih besar."** Alya menelan ludah dan menekan tautan yang dikirimkan Dina. Matanya membelalak saat membaca headline di layar. **"SKANDAL CEO ARSENIO VEGA: HUBUNGAN TERSEMBUNYI DAN KONSPIRASI DI BALIK DUNIA BISNIS!"** Tapi bukan hanya namanya yang muncul dalam berita itu. Ada foto lain. Foto Arsenio dengan seorang wanita. Bukan dirinya. Alya merasa dunia di sekitarnya berputar. Ia mendongak, menatap Arsenio dengan penuh pertanyaan. *"Siapa dia?"* suaranya lirih, tapi penuh ketegangan. Arsenio memandangnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sejenak ia terdiam, lalu berkata dengan nada datar, *"Seseorang dari masa lalu. Tapi bukan seperti yang kau pikirkan."* Alya tertawa pendek, pahit. *"Benarkah? Karena ini terlihat seperti lebih dari sekadar masa lalu, Arsenio."* Arsenio mencoba mendekatinya, tapi kali ini Alya mundur. Hasrat yang membakar mereka semalam kini terasa berbahaya, seperti api yang bisa menghanguskannya jika ia tidak berhati-hati. *"Aku ingin mempercayaimu,"* bisiknya. *"Tapi aku bukan wanita yang mau terjebak dalam permainan pria kaya yang punya rahasia gelap."* Arsenio menatapnya lama, lalu menghela napas. *"Berikan aku waktu, Alya. Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi jangan pergi dariku."* Alya menatap pria itu dalam diam. Dadanya masih naik turun, masih bisa merasakan jejak ciuman dan sentuhan Arsenio di kulitnya. Namun kini, semuanya terasa berbeda. Seketika, ia sadar bahwa ini lebih dari sekadar gairah dan skandal. Ini adalah permainan yang lebih besar. Dan ia harus memutuskan apakah ia ingin terus terperangkap di dalamnya—atau melarikan diri sebelum semuanya terlambat. ### **Terperangkap dalam Jaring Rahasia** Alya masih berdiri di tempatnya, matanya terpaku pada wajah Arsenio yang kini tampak lebih gelap—penuh rahasia, penuh janji yang belum terungkap. Nafasnya masih tersisa dari malam yang panas, tapi kini dadanya terasa berat dengan kebingungan dan ketidakpastian. *"Jangan pergi dariku."* Kata-kata Arsenio menggantung di udara, namun Alya tahu bahwa ini bukan sekadar permohonan. Ini lebih seperti peringatan. Ia ingin mempercayainya. Tuhan tahu, ia ingin tetap tenggelam dalam sentuhan pria itu, dalam ciumannya, dalam tatapannya yang membakar. Tapi ia bukan wanita bodoh. Skandal ini lebih dari sekadar foto-foto mesra mereka yang bocor ke media. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang Arsenio sembunyikan. *"Siapa wanita itu?"* tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih dingin. Arsenio menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke jendela. Rahangnya mengencang. *"Dia… seseorang yang dulu pernah ada dalam hidupku."* Alya menyilangkan tangan di dadanya, menahan diri agar tidak kehilangan kesabaran. *"Dan sekarang?"* Arsenio menatapnya kembali, kali ini matanya lebih tajam. *"Sekarang dia kembali. Dan dia menginginkan sesuatu dariku."* Dada Alya terasa sesak. *Menginginkan sesuatu?* Ia melangkah lebih dekat, menantang pria itu dengan tatapan tegas. *"Apakah dia masih menginginkanmu, Arsenio?"* Arsenio tidak langsung menjawab. Itu saja sudah cukup membuat d**a Alya semakin berat. *"Aku tidak mencintainya,"* katanya akhirnya. *"Tapi dia tahu sesuatu tentangku. Sesuatu yang bisa menghancurkan semuanya—bisnisku, reputasiku… bahkan kita."* Alya tersenyum miring, meskipun hatinya terasa nyeri. *"Jadi sekarang aku juga bagian dari yang bisa dihancurkan?"* Arsenio mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, tapi Alya mundur selangkah. *"Alya,"* suaranya lebih lembut, tapi tetap penuh kendali. *"Aku tidak pernah bermaksud menyeretmu ke dalam ini. Tapi sekarang kau sudah di sini. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi."* Mata mereka bertaut dalam ketegangan yang membara. Alya menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin tak terkendali. Bagian dari dirinya ingin lari, menjauh dari pria ini sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang lebih dalam—bagian yang masih bisa merasakan bibirnya di kulitnya, jari-jarinya di pinggangnya, napasnya di telinganya—tidak bisa pergi begitu saja. *"Beri aku alasan untuk tetap di sini, Arsenio,"* bisiknya akhirnya. *"Alasan yang lebih dari sekadar hasrat."* Arsenio menatapnya lama, lalu mendekat dengan gerakan yang hampir tak terdengar. Kali ini, Alya tidak mundur. Tangannya terangkat, menyelipkan jemarinya ke dalam rambut Alya, lalu menariknya perlahan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. *"Karena aku tidak bisa tanpamu,"* bisiknya. *"Dan aku tahu, kau juga tidak bisa tanpaku."* Sebelum Alya sempat membantah, bibirnya sudah kembali menyentuhnya—panas, menuntut, dan penuh kepemilikan. Dan untuk sesaat, di tengah badai yang mengancam, Alya membiarkan dirinya tenggelam kembali. ### **Di Balik Api Hasrat** Bibir Arsenio melumatnya dengan intensitas yang nyaris membakar. Tangan besar pria itu menelusuri lekuk tubuhnya, menariknya lebih dekat seolah tak ingin ada jarak di antara mereka. Alya seharusnya menolak—ia tahu hubungan ini adalah badai yang bisa menghancurkannya. Tapi setiap kali Arsenio menyentuhnya, dunia luar menghilang, meninggalkan hanya mereka berdua dalam kobaran api yang tak bisa dipadamkan. Saat ciuman mereka semakin dalam, Arsenio mendorongnya perlahan ke sofa. Napas Alya memburu ketika tubuhnya menyentuh permukaan empuk, dan Arsenio menjulang di atasnya, tatapannya penuh dengan rasa lapar yang menuntut kepuasan. *"Kau tidak akan pergi dariku, Alya,"* suaranya rendah, hampir seperti geraman. *"Aku akan memastikan itu."* Alya ingin membalas, ingin mengingatkan pria itu bahwa ia bukan milik siapa pun. Tapi bibirnya kembali diklaim, membuatnya kehilangan kendali. Jari-jari Arsenio menelusuri kulitnya, menciptakan sensasi yang membuatnya menggeliat di bawahnya. Namun, di tengah badai gairah itu, sesuatu mengusik benaknya—sebuah suara kecil di kepalanya yang berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan susah payah, ia menarik diri, meski tubuhnya masih bergetar karena sentuhan Arsenio. *"Tunggu."* Arsenio menatapnya, alisnya berkerut karena terganggu. *"Apa?"* Alya menelan ludah, mencoba mengatur napasnya. *"Kau bilang wanita itu tahu sesuatu tentangmu. Sesuatu yang bisa menghancurkan kita. Aku ingin tahu apa itu, Arsenio."* Wajah pria itu berubah. Ketegangan merayap di antara mereka, menggantikan panas yang baru saja membakar. Arsenio bangkit perlahan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. *"Alya, ini bukan sesuatu yang harus kau khawatirkan."* Alya menyipitkan mata. *"Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Aku sudah terlibat terlalu dalam, Arsenio. Jika aku adalah bagian dari yang bisa dihancurkan, aku berhak tahu apa yang sedang kita hadapi."* Arsenio terdiam, ekspresinya tak terbaca. Tapi Alya bisa melihat sesuatu di matanya—keraguan, mungkin juga ketakutan. Akhirnya, pria itu mendesah berat. *"Ini bukan hanya tentang bisnis atau reputasiku, Alya."* Ia menatapnya dalam-dalam, seolah menimbang apakah ia bisa mempercayainya dengan rahasia ini. *"Ini tentang keluarga. Tentang masa lalu yang ingin kuhapus, tapi selalu kembali menghantuiku."* Dada Alya semakin sesak. *"Apa yang terjadi?"* Arsenio mengalihkan pandangannya sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih rendah. *"Aku memiliki saudara laki-laki. Dan dia adalah orang yang paling menginginkanku hancur."* Alya terdiam. Ia tak menyangka jawaban itu. *"Saudaramu?"* Arsenio mengangguk. *"Dia adalah bagian dari masa laluku yang selalu kusimpan rapat-rapat. Kami dulu dekat, tapi sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuatnya bersumpah untuk menghancurkanku."* Alya merasakan gelombang kecemasan melandanya. Jika ada seseorang yang ingin menghancurkan Arsenio, maka itu berarti ia juga dalam bahaya. *"Apa hubungannya dengan wanita itu?"* tanyanya pelan. Arsenio menatapnya, lalu menghela napas. *"Dia adalah wanita yang pernah kucintai. Dan dia dulu adalah miliknya."* Dunia Alya terasa berputar. Arsenio mendekatinya lagi, tangannya menggenggam wajahnya dengan lembut. *"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Alya. Tapi aku butuh kau percaya padaku."*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD