Eps 6.1

2053 Words
Jarum jam terus berputar, terdengar makin keras tiap detiknya. Arloji berwarna hitam itu melingkar indah di pergelangan tangan pria bermodelkan rambut kekinian sembari terus menunjukan angka yang hidup, bergulir mengganti malam ke siang, dari fajar hingga terang. Si empunya masih terlihat terkapar lemas di atas tanah bergelimang rumput liar, dedaunan kering menempel di pipi dan rambutnya yang hitam legam. Kesadarnya tak sepenuhnya pulih kala itu. Rambutnya yang hitam bercampur dengan lumpur yang membuatnya terlihat lengket dan kotor. Di mana lelaki itu sekarang? Soni tersesat? Mungkin bisa dikatakan demikian. Namun tunggu, Soni tidak tersesat, dia hanya terpisah dari kelompoknya, dan itu kesalahannya sendiri. Bahkan hingga gelap gulita sirna, dirinya masih belum sadar akan hal itu. Dia sama sekali tidak tahu jika kelompoknya sudah jauh dari keberadaanya sekarang. Seakan tak peduli soal keadaanya, mata bulat terlapis kulit sawo itu masih damai terpejam. Ketika iris mata hitam itu terbuka, dia mengerjap dua kali hingga akhirnya bangkit dari posisi berbaringnya. Soni mengaduh, membuka kedua matanya yang terasa rapat tertutup. Menggosok sesekali kepala yang terasa berat dan lengket. Bau. Tubuhnya terasa sakit dan kakinya menginjak lumpur basah. Soni masih belum sadar akan situasinya kala itu. Dia tidak tahu jika dirinya sudah berpisah dari kelompoknya semalaman. Ia mengerjap lagi kemudian membersihkan pakaiannya yang kotor berdebu. Ingatannya seakan dipaksa berputar, mengeluarkan potongan-potongan film yang dengan jelas terbesit di kepalanya. Ada bayangan hitam muncul. Soni mendadak tersentak, terdiam cukup lama sampai akhirnya kembali tersadar. “Euh ... semalem apa gua bermimpi?” gumamnya sembari mengusap pelipis yang terasa pusing. “Ada sosok aneh yang ....” Soni kembali berusaha mengingat. Sosok apa itu? Apa dia hanya bermimpi? Lalu di mana dia sekarang? Ke mana teman-temannya? Jelas tidak, hal yang dirasakan Soni bukanlah sebuah mimpi. Soni jelas melihat bayangan hitam itu di sela-sela pohon pinus. Dia juga ingat ketika sebuah suara mendobrak gendang telinganya. Hanya saja Soni sempat tak sadarkan diri dan membuat semua kejadian itu hilang setengah dari ingatannya, menjadikannya seolah bermimpi hal aneh tadi malam. Soni berusaha mengingat lebih jauh dari yang bisa dia lakukan. Sebuah lolongan, sekelibatan bayangan, juga soal sesajen. Soni mual begitu saja ketika ingat soal penggalan kepala hijau dihinggapi lalat-lalat hijau. Mendadak tubuhnya menegang. Ada lonjakan perasaan yang muncul di perutnya. Merambat naik ke d**a sampai dia benar-benar merasa ingin mengeluarkan semua yang ada di perutnya. “Sesajen. Kepala.” Soni menutup mulutnya dengan tangan. Untuk ke sekian kalinya, rangsang mual di perut Soni naik tajam lagi setelah saraf-saraf otak itu mengingat betapa menjijikannya penggalan sesajen di altar yang dia temui kemarin. “Ada yang enggak beres sama tempat ini. Gue ... huek.” Soni sukses muntah dan perutnya kembali melilit sakit saat dia tak bisa mengeluarkan apa pun dari perutnya. “Gue harus beritahu mereka,” tambahnya susah payah. Tak banyak waktu untuk memikirkan hal lain lagi, Soni beranjak dari duduk kemudian mencoba mengingat jalan yang harus dia lewati agar bisa kembali ke kelompoknya. Soni harus memberitahukan semuanya pada mereka, jika ada yang tidak beres dengan Galunggung. ** “Bangun Re, udah siang, kita harus segera cari Soni.” Riani menepuk halus pipi Rere yang masih terlelap. Entah sudah yang ke berapa kali Riani mencoba hal itu. Rere sungguh sulit untuk dibangunkan, padahal Riani sudah mencoba menampar Rere hingga dua sampai tiga kali, tapi gadis itu masih saja lelap tidur. Dasar Kebo! “Rere, bangun. Soni masih belum ketemu. Ayo cepetan!” ajaknya, menarik kedua tangan gadis itu sambil memaksanya untuk tegap duduk walau kedua matanya masih lengket terpejam. Rere menggeram pelan. Merasa jengkel akan hal itu, Riani mengambil segelas air dari luar tenda dan menyiram beberapa ciprat air di ke wajah Rere dan ketika gadis itu tersadar, ekspresinya sangat lucu. Riani menatap Rere kesal. Bagaimana bisa seorang gadis hanya bisa dibangunkan dengan cara seperti itu? “Aduh ... hujan.” Rere panik, mengusap wajahnya sambil teriak-teriak. Ia mengerjap bangun sembari mengucapkan beberapa kalimat aneh. Riani menatapnya kesal tak ketulungan. “Eh kamu, Ni. Aku pikir beneran hujan,” ucap Rere saat dia sadar dan melihat Riani sedang memegang segelas air. Rere merengut kesal, sementara gadis di hadapannya tidak peduli. “Cepetan cuci muka, kita cari Soni,” ujarnya, kemudian melangkah keluar tenda. Rere jelas kesal, tidak terima karena Riani membangunkannya dengan cara yang tidak biasa. Hey! Riani sudah mencoba membangunkanmu dengan wajar, tapi kau? Dasar Kebo. Setelah kepergian Riani, Rere bangkit kemudian mengusap bagian wajahnya yang basah dengan kain selimut lalu melangkah mengikuti Riani yang kini sudah berkumpul di depan tenda dengan Doni serta Rega. Sebenarnya sejak subuh Doni juga Rega sudah kembali mencari Soni, tapi hanya di sekitaran tenda saja. Mereka juga tidak bisa meninggalkan gadis di tengah hutan begitu saja. Soni masih belum ditemukan. Padahal jika dilihat dari lokasinya, bukan tidak mungkin jika keberadaan lelaki itu ada di sekitar mereka mendirikan tenda. Namun ini tidak ada apa-apa. “Anak Mama baru bangun. Cepat cuci muka, Mama udah siapin kamu sarapan,” ejek Riani pada Rere yang baru saja muncul dari tenda sembari memonyong-monyongkan mulutnya. Ia jengkel. “Mana? Kebetulan aku laper.” Dia nyengir sambil mengelus perutnya. Lha ... Rere menanggapi hal itu dengan serius. “Bersihkan penampilanmu dulu, Re,” titah Doni sembari mengunyah sesuatu. Rega tersenyum sinis, kemudian menyuap sebuah roti. Wajahnya seakan-akan menunjukkan ejekkan untuk Rere. “Gue enggak nyangka kalau lo sejorok ini,” kata Doni lagi. “Berisik!” Rambut hitam pekatnya kusut, matanya masih mencoba terbuka seutuhnya. Seperti kata Doni, Rere harus segera membersihkan penampilannya, setidaknya lebih bersikap seperti seorang gadis pada umumnya. Rere sempat menggerutu kesal karena keputusan Rega yang memilih kemping di tengah hutan dan jauh dari sumber mata air. Meski Rere selalu berpikiran sederhana, tetap saja untuk dirinya sendiri Rere tidak sesederhana itu berpikir. Hanya saja Rere kelewat malas. Jika tidak mandi saja masih cantik, mengapa harus repot-repot mandi? “Dah sono cuci muka dulu.” “Berisik. Iya, iya.” Rambutnya yang tergurai ke depan serta kusut itu terlihat menakutkan. Rere seperti orang yang tidak waras. Jika saja Soni ada, dia akan habis diolok-olok karena penampilannya sendiri, untung saja Soni tidak ada. Tapi tunggu, bukan sebuah keberuntungan juga jika Soni tidak ada, kalaupun benar mereka diuntungkan dengan tidak adanya Soni, mereka tidak perlu susah-susah mencari keberadaan Soni kali ini. Mungkin bukan begitu maksud Rere. Dia hanya beruntung tidak ada yang mencelanya pagi itu. Ya, itu saja. Seperginya Rere, ketiga mahasiswa itu kembali membahas tentang Soni, bertanya soal alasan mereka bisa berpisah seperti sekarang ini. “Gue rasa si Soni juga lagi kelimpungan nyari. Lagian, kalian kenapa sampe pisah, sih?” tanya Doni. “Gue gak ngapa-ngapain. Habis kencing gue langsung balik, dan ketika gue mau ajak dia balik, lha ... udah gak ada.” Rega mengedikkan bahu pelan. Jika mengingat soal itu, Rega ingin sekali menghantam wajah Soni, tapi menilik dari kondisinya sekarang, dia malah merasa kasihan pada lelaki itu. “Sebelum cari, kita telepon lagi Soni.” Doni yang sedari tadi mengunyah makanan siap saji itu akhirnya berhenti. Meminta Rega untuk menelepon. “Telepon lagi coba, siapa tahu sekarang udah bisa,” titahnya lagi. Rega mengangguk setelah Doni menyuruhnya menelepon untuk yang kesekian kali. “Sinyalnya jelek. Gak bisa dipake sama sekali.” Rega menggoyang-goyangkan ponsel di tangannya. “Hutan ini luas, Don. Kita cari dia ke mana?” kata Riani sembari meminum air mineral di tangannya. Ia sudah habis beberapa bungkus roti, kali ini benar-benar lapar. “Kita cari ke tempat kemaren Rega tuju aja!” ucap Doni, “lo, masih inget, kan?” Rega mengangguk ragu-ragu. Dirinya tidak begitu yakin soal jalur yang dilaluinya kemarin. Rega hanya ingat dia melangkah secara acak mencari tempat teraman untuk menyelesaikan urusannya. Mungkin jejak kakinya masih ada di sana. Mereka bisa mengikuti bekas-bekas itu untuk menuntun mereka menuju Soni. “Kita bagi dua kelompok lagi aja. Tapi ingat, kejadian kayak gini jangan sampe terulang lagi. Kita gak boleh jauh-jauh pas jalan,” ucap Doni menegaskan. Sikap kepemimpinannya sedang diuji saat ini, harus tanggung jawab atas keselamatan anggotanya. Riani mengangguk pasti. Rega juga. Mereka paham apa yang akan terjadi jika nekat untuk berpergian sendirian. Alih-alih menemukan Soni, mereka malah tersesat lagi, atau masalah lebih buruk muncul. Setelah menyusun rencana baru, mereka siap-siap untuk mencari Soni. Namun di tengah kegiatan, tiba-tiba sesuatu membuat mereka berhenti bersamaan. Seseorang muncul. “Aku disisain gak?” celetuk Rere sembari keluar dari tenda dengan penampilan yang sudah diperbaiki. Ia sudah dandan, terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ketiga orang itu saling tatap, mereka sama-sama menoleh ke bungkus-bungkus roti di tanah dan terkekeh bersama-sama. “Abis semua.” Rega tertawa sembari menjawab pertanyaan Rere yang mulai mendekat. “Yah, lo telat, Re. Sori, ya?” kata Doni, tertawa lepas sambil menepuk pundaknya. Rere cemberut kesal. Mereka kejam! ** Riani berjalan menyusuri rumput-rumput yang sudah tertidur karena digilas kaki Rega. Ia menguntit dari belakang dengan terus meneriaki Soni. Sudah sekitar satu jam mereka mencari dan masih belum juga menemukan tanda-tanda adanya Soni, atau setidaknya sesuatu yang ditinggalkan Soni sehingga mempermudah mereka. Tangan Riani sudah menjadi otomatis mengepak-kepakan baju yang dipakainya, juga menutupi pelipisnya dari sinar matahari langsung. Rasanya hari ini lebih panas dari kemarin. Riani menelan ludahnya secepat rasa haus muncul di tenggorokannya. Dia menepuk pundak Rega, memaksa lelaki itu berhenti dan menoleh pada gadis yang sedang melet kepanasan. “Masih bawa air?” tanya Riani, lalu tanganya dia turunkan dari mukanya yang merah. Satunya masih berada di pundak Rega. “Tinggal satu botol,” balas Rega sembari menoleh pada tas selempangnya. Dia mengeluarkan botol itu dan memberikannya kepada Riani. “Yaudah, sini aku bagi dikit aja.” Riani sudah tidak tahan. Panasnya terasa begitu menyengat, ditambah lututnya yang memang sudah terasa ngilu. Rega mengangguk lalu memberikan sisa air minumnya pada Riani yang sudah melet-melet tak keruan. Rega merasa kasihan pada Riani. Dia tak ingin gadis itu menderita. Entah apa yang terjadi, tapi beberapa hari ini dirinya begitu memerhatikan gadis dengan rambut sebahu itu. Untuk seminggu terakhir selama berada di Galunggung, Rega seperti menaruh harapan padanya. Ketika berlibur sehari penuh beberapa waktu lalu saja, Rega sibuk menilik paras cantik gadis berambut sebahu itu. Rega tahu, kali ini dia sedang mencoba menaruh kepercayaan padanya. Mungkin lebih pada ... perasaan? Dadanya merasa begitu hangat jika Riani bahagia. Apa ini? Apa Rega sedang kasamaran? Setelah meneguk air dari Rega, Riani tiba-tiba memelotot ketika mengingat sesuatu yang sangat penting baru saja terlewat begitu saja. “Doni kita nyuruh bikin tanda, kan tadi, dia bilang buat beberapa ikatan di batang pohon. Itu bisa jadi jalan kita kembali ke tenda.” “Tapi kita gak bikin itu.” Rega menggeleng. Kaget. Dia menepuk jidatnya sendiri karena merasa tidak berguna di saat-saat seperti ini. Bagaimana dia bisa lupa hal sepenting itu? Kalau mereka tersesat lagi, Rega tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena ceroboh. “Jadi gimana?” tanya Riani, menyerahkan botolnya pada Rega. “Gue rasa ... rumput bekas jalan kita bisa dipake tanda. Gak papa. Lanjut aja,” jawabnya, mencoba mengobati kebodohannya sendiri. Riani mengangguk paham. “Bagus, deh kalau gitu.” Rega juga mengangguk mengiakan. Seperti anak pramuka kebanyakan saat melakukan sebuah lintas alam, para senior akan menitahkan mereka untuk mengikat kain-kain atau tali pada batang pohon yang dijumpainya. Itu semua bertujuan mempermudah petunjuk bagi diri sendiri maupun orang lian. Tak jarang pula mereka lebih memilih menggunakan cat merah dan kuning. Mereka terus berjalan memasuki hutan lebih dalam. Di tengah perjalanan, Riani tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menusuk penglihatannya. Seperti butiran debu yang terbang dan membuat matanya sakit. “Eh, gua kelilipan.” Riani menggosok kedua matanya yang terasa perih. Air mata mulai penuh di kelopak matanya dan penglihatannya sudah benar-benar gelap. “Kelilipan?” tanya Rega berhenti berjalan dan berbalik. “Iya. Mata gue kena debu.” “Hah?” Aneh, pasalnya tidak ada angin ataupun debu di sekitarnya. Riani terus menggosok matanya dengan punggung tangan, mundur perlahan sambil sesekali menatap ke depan. Dari celah pohon pinus, dia melihat sosok anak kecil yang tengah berdiri melambai. Kedua mata Riani terbelalak, menggosoknya lagi, kemudian menatap lagi bayangan aneh yang tadi dilihatnya. Namun, saat dia mencoba untuk memusatkan penglihatannya, sosok itu hilang. Riani ingat betul jika anak kecil dalam penglihatannya barusan adalah anak yang muncul di mimpinya. Sama seperti yang dia temui di penginapan kemarin. Di depan pintu. Sekarang sosoknya muncul lagi. Kedua mata gadis itu memelotot sambil berusaha melawan rasa sakit yang menggerogoti penglihatannya. Ada yang salah. Itu pasti. Riani menggeleng. “Gak papa. Gue ... gak papa.” Dia mengerjapkan matanya, kemudian mencoba memberitahukan Rega jika dia hanya kemasukkan debu. “Yakin?” tanya Rega lagi. “Iya.” Meski ragu, Rega pun mengangguk. “Kita masih harus mencari Soni, kan? Udah enggak usah pikirin gue.” Riani mencoba tersenyum setulus mungkin. Dia tidak ingin membuat Rega cemas. Gadis itu tahu jika penglihatannya jadi terganggu karena debu itu. Tidak mungkin dia kembali melihat bayangan anak kecil dalam mimpinya kemarin. Terlebih, dia tidak boleh membuat Rega khawatir soal anak itu. Tidak boleh. Namun .... Sungguh, hanya kelilipan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD