17 - Berkepanjangan

1367 Words
Warning! Terdapat kata-k********r, diharap pembaca bijak dalam memilihnya. "Aku berangkat duluan." Pamit Alify yang langsung meminum susunya dan bergegas pergi keluar untuk berangkat sekolah. "Gak bareng Malvin, Fy?" Tanya Sarah sambil menerima Alify yang sedang mencium tangannya. "Engga, aku dijemput Rio. Dah~" Setelah Gunawan dan Sarah menikah, keduanya sepakat tinggal di rumah baru yang dibeli Gunawan dengan banyak kamar didalamnya. Sesuai janjinya juga, Alify memanggil Sarah dengan sebutan Ibu. Semuanya perlahan berubah menjadi lebih baik. Namun yang tak berubah adalah hubungan antara Malvin dan Alify. Hubungan mereka tak membaik sejak hari pernikahan itu. Malvin yang masih enggan cerita dan Alify yang terlalu malas untuk bertanya duluan. Selang 5 menit Alify pergi, Malvin menyusul. "Aku berangkat sekarang." Pamitnya dan bergegas pergi setelah menyalami kedua orangtua dan kakaknya. "Hati-hati, Nak. Jangan ngebut, bentar lagi Ujian Nasional." Pesan Sarah yang hanya diangguki Malvin. Malvin segera mengendarai motornya menuju sekolah. Sesampainya diparkiran, ia melihat Alify dan Rio yang ternyata masih berada disana. Keduanya berhadapan dengan tangan Rio yang berada didagu Alify dan wajahnya yang sedikit dimiringkan. Mata Rio pun terlihat terpejam. Kepala Alify yang membelakanginya tampak mendongak. Membuat Malvin menyimpulkan apa yang dilihatnya dengan opini sendiri. "Mereka ciuman? Di sekolah? Cih, gimana gak murahan." *** Alify baru saja turun dari motor Rio dan melepas helmnya untuk disimpan di motor. Namun, ia kesulitan membuka pengait yang berada dibawah dagunya itu. "Yo, kok susah ya?" Rio yang baru saja melepas helmnya menatap heran. "Susah apa?" "Ini, pengait helmnya gak bisa dibuka. Macet ya?" Rio menundukkan kepalanya dan melihat kearah pengait helm yang berada dibawah dagu Alify. "Pantes udah berkarat. Helm siapa sih yang lo pake? Butut amat." Plakk "Diem lu, bantuin buru!" Rio yang masih mengelus tangannya yang terkena pukulan jadi mendengus kesal. "Udah mukul, tapi masih minta bantuan. Lihat ke atas lo!" Alify menuruti Rio dengan mendongakkan kepalanya agar Rio dengan mudah melepaskan pengait helmnya. Rio pun otomatis memiringkan kepalanya dan mencoba melepaskan pengait helm tersebut dengan serius. "Lama banget! Gue pegel nih!" Keluh Alify. "Gatau diri banget lu. Bentar lagi ini, lagi gue paksa." "Nah, akhirnya.." Alify langsung melepaskan helmnya dan menghembuskan nafas lega. "Helm kuning sialan." "Helm siapa sih? Masa anak holkay pake helm butut?" "Helmnya si Gibran." "Dih? Anak orang terkaya ke 10 minjem helm orang?! Masuk artikel bagus nih." Bugh "Anjing!" Rio meringis sambil mengusap bahunya yang baru saja ditonjok oleh Alify yang kini sudah pergi meninggalkannya duluan. "Gatau terima kasih banget ini Tuan Putri." *** Malvin ○Langsung balik ke rumah. ○Gue mau ngomong. Alify kembali memasukkan ponselnya setelah mendapat pesan dari Malvin yang seperti berisi seperti perintah. Ia mengalihkan perhatiannya pada Rio dan Dio yang sedang membereskan peralatan tulisnya "Kayaknya gue gak jadi ikut kerkom." Ujar Alify yang membuat Rio mendelik curiga dan Dio menoleh kecewa. "Kenapa?" Tanya keduanya berbarengan. "Malvin mau ngomongin sesuatu. Sorry banget ya.." Dio cemberut. "Yaudah deh, gak apa-apa. Apa sih yang gak bisa Dio tolak dari permintaan Tuan Puteri?" "Alay Yo, jijik." Komen Rio dengan pandangan jijik. "Yaudah lo selesain dulu aja masalah lo sama abang lo. Kalau cepet selesai lo langsung ke rumah gue. Setidaknya lo ada ikut bantu tugas ini." Alify mengangguki ucapan Rio. "Oke, gue duluan ya. Udah pesen ojol soalnya." Setelah melambaikan tangannya sebagai tanda pamit, Alify berjalan menuju gerbang sekolah. Dalam hatinya ia berharap jika kali ini ia dan Malvin akan kembali seperti dulu. *** Brakk Pintu kamar Alify dibuka dengan kasar tepat saat sang pemilik kamar baru saja menaiki kasurnya. Wajah Malvin yang memerah dan nafasnya yang terengah membuatnya menatap aneh sekaligus terkejut. Apa maksud dari kakaknya itu yang ternyata masih kasar bahkan lebih dari sebelumnya? "Gak bisa ya buka pintunya biasa aja?" Tanya Alify sedatar mungkin berusaha untuk tidak ikut-ikutan mengeluarkan api. "Jujur sama gue lo udah ngapain aja sama si Rio, HAH?!" Bentak Malvin walau dirinya masih berdiri tak jauh dari ambang pintu. Alify menuruni kasurnya dan memilih duduk dipinggiran kasur. "Maksud lo apa sih? Emang gue ngapain sama Rio? Kalau gue ngapa-ngapain juga emang ada bukti?" Malvin malah mengeluarkan senyum sinisnya. "Bukti? Lo bilang bukti? Nih, mata gue sama memori gue yang nyaksiin itu semua! Lo emang murahan ternyata." "SALAH GUE APA, ANJING?!" Teriak Alify yang terpaksa mengeluarkan emosinya setelah tersulut oleh amarah Malvin. "LO YANG CHILDISH BANGET CUMA GARA-GARA MASALAH PANGGILAN GUE KE NYOKAP LO DOANG! HARUSNYA GUE YANG MARAH BUKAN LO, BABI!" Lanjut Alify dengan nafas yang terengah setelah mengeluarkan kalimatnya. "GUE GAK AKAN MEMPERPANJANG MASALAH INI KALAU LO GAK BUKTIIN APA YANG TEMEN-TEMEN GUE BILANG! TAPI APA YANG GUE DAPET HAH?! JUSTRU GUE YANG NYAKSIIN GIMANA MURAHANNYA LO!" "b*****t MALVIN! KALAU GUE MURAHAN EMANG KENAPA HAH?! LO MALU PUNYA ADEK KAYAK GUE?! APA BEDANYA SAMA BOKAP LO HAH?!" Tatapan mata Malvin semakin menggelap ditutupi kabut amarah. Ia menggertakkan giginya sebelum berkata. "Jangan pernah bawa-bawa orientasi seksual bokap gue diantara masalah ini." "YA TERUS KENAPA HAH?! LO MAU NONJOK GUE? MAU TAMPAR GUE? SILAHKAN!! SIAPA YANG BAKAL PEDULI LAGI SAMA GUE?!" Alify melangkahkan kakinya mendekati Malvin hingga jarak mereka cukup dekat. "Lo harus tau, Vin. Salah satu alasan gue nerima nyokap lo itu karena lo. Tapi sekarang lo malah bikin gue nyesel karena itu." "Terus mau lo apa?Lo mau nyokap gue cerai sama bokap lo? Lo t***l apa b**o? Hah! Lo mau bikin nyokap gue sedih lagi?!" "Bener kata bokap lo. Lo itu emang perempuan paling pembangkang yang pernah gue temuin. Bahkan lo gak pantes jadi pewaris tunggal dari perusahaan bokap lo." Alify memandang Malvin dengan pandangan nanar dan berkaca-kaca. "ANJING MALVIN BABI t***l!!" "ALIFY! APA-APAAN KAMU?!!" Sarah dan Gunawan sudah ada diambang pintu dengan Gunawan yang menatap anaknya marah. Namun tak Alify gubris. Air matanya terlanjur turun dan nafasnya sudah tak teratur. "KALAU GUE GAK PANTES EMANG KENAPA HAH?! DARI AWAL GUE LAHIR JUGA, GUE GAK PERNAH MINTA UNTUK PUNYA AYAH ORANG KAYA! GUE GAK PERNAH MAU JADI PEWARIS HARTA AYAH! GUE GAK PERNAH MAU MEMANFAATKAN APA YANG GUE PUNYA! KARENA GUE TAU GUE GAK PANTES. SAMA KAYAK YANG ORANG-ORANG BILANG TERMASUK LO!!" "Dari gue lahir pun gue salah-" Detik berikutnya Alify menggelengkan kepalanya. "Ah, Bukan. Bukan dari lahir, tapi sejak gue masih jadi janin. Gue udah salah karena harus tumbuh diperut Bunda yang lemah. Gue salah karena nyusahin Bunda selama sembilan bulan bahkan saat lahir pun gue masih nyusahin karena harus caesar." "Bahkan Ayah sendiri bilang kalau dia nyesel udah bikin Bunda hamil. Dia nyesel seolah-olah emang gue penyebab Bunda meninggal. Bahkan saudara gue juga bilang kalau seandainya gue gak ada. Seandainya gue digugurin saat itu. Seandainya-" Alify tercekat oleh isaknya sendiri. Ia berusaha mengontrol nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Seandainya gue gak ada. Pasti Bunda masih hidup dan Bokap lo masih sama nyokap lo, kan?" Malvin dan Gunawan terdiam mendengar penuturan Alify yang disampaikan dengan air mata itu. Ia tidak pernah melihat anaknya menangis hebat seperti ini. Ini pertama kalinya dan ia rasa itu keluar dari lubuk hati terdalamnya. Benar apa yang dikatakan Alify. Gunawan pernah menyesali itu. Keluarga besarnya juga. Tapi ia tak tau jika Alify kecil akan mendengarnya, mengingatnya sampai ia mengerti hingga saat ini. "Alify.. kamu jangan bicara seperti itu, nak." Alify mengalihkan pandangannya dan menggeleng. "Aku emang pembawa sial ya. Aku bikin Bunda meninggal, aku pembangkang sama Ayah, aku malu-maluin Ayah sebagai orang terkaya, aku bikin Ayah nikah sama Ibu, dan sekarang aku bikin kalian semua malu karena aku murahan." Sarah berjalan cepat menghampiri putrinya itu dan memeluknya. "Siapa yang bilang kamu murahan sayang? Gak ada. Semua wanita itu mahal, wanita itu berlian seburuk apapun sifatnya." Alify menepis lagi air matanya yang turun. Lalu berusaha melepaskan pelukan Sarah. "Aku aib dikeluarga ini. Ayah adalah orang terkaya ke-10 di Indonesia. Ibu adalah istri dari orang terkaya. Bang Riel polisi. Kak Cakka pengacara. Malvin sebentar lagi jadi pelaut kan? Aku cuma aib disini. Kenapa kalian gak ngusir aku sekalian?!" Sarah menahan pergelangan tangan Alify. "Kamu mau kemana, sayang? Kamu bukan aib. Siapa yang bilang, nak? Kamu berlian. Kamu pembawa rezeki dan kebahagiaan." Alify menggeleng tak percaya pada ucapan Sarah. Matanya bertatapan dengan mata Ayahnya yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Yah.. aku tau aku nyusahin terus. Ayah boleh buang aku sekarang-" "Gak ada yang bisa aku pertahankan lagi disini..." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD