Larissa duduk di kursi balkon kamarnya, memandangi langit sore yang teduh. Kamarnya yang rapi dan tertata, dengan vertical garden di balkonnya membuat kepuasan sendiri bagi siapa pun yang duduk di sana. Dia bisa menyaksikan anak dari asrama laki-laki bermain voli di halaman dari atas sini. Kamar Larissa bernuansa hijau muda, tampak segar. Di antara mereka bertiga, Sean yang paling sering protes mengenai betapa beruntungnya Larissa karena bisa menguasai kamarnya sendiri, berbeda dengan ia yang harus berbagi kamar dengan manusia yang ia anggap membosankan.
“Larissa! Ayo turun sini!” pekik Sean dari bawah saat menyadari keberadaan Larissa.
“Sean pasing! Woi!”
Lelaki itu langsung kembali pada bola yang hendak membentur lapangan dengan tendangannya. Namun, sempat-sempatnya ia tertawa. Sean adalah salah satu spesies manusia yang susah diajak serius, sikapnya kekanak-kanakan tetapi justru itulah yang membuatnya menarik.
“Bagus!” celoteh Bear sambil bertepuk tangan. Kalau yang ini bisa dibilang manusia paling perfeksionis di sekolah. Jiwa kepemimpinannya tinggi, meski terkadang agak kehilangan kontrol saat emosi.
Sean kembali menatap ke atas, tersenyum ke arah Larissa. “Ayo turun! Lihat dari sini!”
Merasa dipanggil berkali-kali, hati Larissa tergerak untuk turun. Dia bergegas bangkit dan mengenakan tas rajutan selempangnya lalu turun menggunakan elevator. Begitu ia tiba di halaman, senyum Sean semakin merekah. Lelaki itu menyuruh temannya yang lain untuk menggantikan sedangkan ia memilih beristirahat.
“Hai si Pahit Lidah,” celetuk Sean.
“Jangan dekat-dekat, bau.”
Sean memicingkan mata dan memajukan bibirnya. Bukannya menjauh ia malah semakin mendekati Larissa.
“Ih, Sean, bau!”
Suara tawa langsung menggema di halaman saking kencangnya. Sean lalu mulai memasang jarak terhadap Rania. “Iya, maaf. Lagian kamu, mana ada aku bau.” Ia menciumi ketiaknya. “Wangi begini.”
“Terserah. Memangnya ada apa menyuruh aku turun?”
“Bukan apa-apa, mau ajak kalian jalan-jalan.”
Larissa menautkan alisnya. “Kalian? Maksudnya siapa?”
Dengan berdecak, Sean menunjuk sosok laki-laki yang posturnya paling bagus di lapangan voli, Bear. Lalu ia menunjuk Larissa dan menunjuk dirinya sendiri. “Kita pergi sama-sama ke luar untuk makan.”
Sean, Bear, dan Larissa memang teman yang cukup akrab semenjak menjadi perwakilan sekolah dalam kompetisi-kompetisi. Mereka sempat tergabung dalam Intelligence Campionship di Italia, saat mereka kelas delapan SMP. Mereka berhasil menaklukkan lawan mereka dari jenjang SMA hingga perguruan tinggi.
***
Setidaknya ada 500 peserta yang berkumpul di auditorium Universitas Padova, Italia. Dari 500 peserta terbaik itu, ada tiga anak SMP yang bergabung di antara siswa SMA dan mahasiswa.
Larissa, anak perempuan yang terus diam di kursi memakan biskuit kayu manis yang ada di atas meja tanpa selera. Sean terus memandangi perempuan itu lalu berbisik pada Bear. “Aku khawatir dia bisu. Bagaimana caranya kita berdiskusi nanti?”
“Hus, jangan sembarangan. Mungkin dia malas berbicara pada kita.”
“Hmm, baiklah jika menurutmu begitu.”
Ada ratusan meja bundar di dalam auditorium beserta jamuan makanan ringan beraneka ragam. Ada roti bakar dengan selai nutela, roti itu kering di luar tetapi sangat lembut di bagian dalamnya. Selain itu, juga banyak biskuit dari berbagai tekstur dan ukuran. Di atas meja juga disiapkan sebuah teko aluminium yang saat ditekan pompanya akan keluar americano tanpa gula. Ini minuman terburuk bagi Sean yang suka manis.
Satu jam kemudian mereka memasuki ruangan tes pertama. Terdapat 100 soal pilihan ganda dan 40 soal isian. Materi yang diujikan beragam, ada fisika, kimia, biologi, sejarah, makna simbol dan filosofi angka, pengembangan bahasa dan ulasan masa lampau, serta interpretasi pemikiran dalam prediksi kejadian. Hampir seluruh peserta bisa melalui materi dasar dengan mudah, tetapi mulai kesulitan ketika menjawab soal makna simbol dan filosofi angka juga soal-soal setelahnya.
“Jika kalian dikurung dalam sebuah ruangan dan di sana ada tiga buah pintu dengan simbol berbeda. Pintu pertama ada simbol air dalam gelas. Pintu kedua bersimbol api di tungku. Dan pintu ketiga memiliki simbol batu nisan pemakaman. Kalian akan memilih pintu apa dan mengapa? Jelaskan maksimal 10 kata.”
Usai Bear membaca soal itu, mereka mulai berpikir jawaban apa yang diminta. Ini bukan soal psikologi, ini murni menggunakan pemikiran yang mendalam.
“Pintu ketiga,” jawab Bear. “Dikurung dalam ruangan adalah kematian, air dalam gelas adalah kebebasan yang dibatasi, api di tungku adalah amarah yang dibangkitkan, sedangkan batu nisan pemakaman adalah tempat terakhir setelah kematian.”
“Kamu yakin, Bear?” tanya Sean memastikan.
“Jawab saja, kita tidak punya waktu. Sini aku yang tulis.”
Soal-soal selanjutnya juga masih bergantung pada analisis Bear. Ia seperti menyerap seluruh kata dan menerjemahkannya dalam bentuk yang lebih sederhana. Saat bertemu simbol-simbol angka, Bear juga mampu menaklukkannya dengan mudah.
***
Larissa duduk sambil menggenggam dua tusuk sate di kedua tangannya. Payung-payung dari kedai yang berada di hadapannya bermekaran seperti bunga di musim semi. Kerumunan orang berkeliaran bersama asap-asap pembakaran. Sean datang sambil membawa mangkok plastik berisi bakso kuah. “Aromanya harum,” cengir Sean. “Da Vinci pastilah menyesal tidak hidup di zaman sekarang untuk merasakan makanan seenak ini.”
Larissa mengerutkan kening. Mengapa bawa-bawa nama Da Vinci?
“Sebuah umpama untuk menunjukkan bahwa zaman sekarang lebih indah dari masa lalu.”
“Apa gunanya masa sekarang tanpa masa lalu?” sahut Bear yang datang bersama piring nasi goreng dengan usus bakar. “Kamu terlahir dari masa lalu. Semua punya masa lalu.”
Sean ingin menjitak kepala Bear karena membuat urusan sederhana ini menjadi panjang. “Tidak bisakah menghargai sebuah umpama? Aku hanya asal mencomot topik percakapan. Tidak usah diperpanjang.”
Bear mengedikkan bahunya. “Terserah.” Lalu Bear menggigit usus bakar yang ia bawa.
“Aku jadi ingat pertandingan saat kita kelas delapan dulu. Kalian ingat?” Larissa menatap wajah kedua laki-laki di sampingnya.
“Maksudmu yang masalah misteri di balik sosok Monalisa?”
“Iya Bear. Dan bisa-bisanya Sean menyimpulkan bahwa Da Vinci gay. Sangat liar.”
Jika diingat-ingat momen itu adalah momen paling random yang pernah mereka rasakan. Menjawab soal asal-asalan tetapi bisa keluar sebagai pemenang. Entah memang keberuntungan berpihak pada mereka atau ada sesuatu yang spesial.
“Soalnya memang meminta begitu. Monalisa menurutku bukanlah Lisa Giocondo, Monalisa adalah wajah Da Vinci yang ia visualisasikan sebagai perempuan. Da Vinci menginginkan peran itu, bukan secara appearence atau pun kepribadian, tetapi secara keterikatan seksual. Da Vinci menginginkan peran itu.” Sean dengan tak berdosa menjawab dan menyuap satu bulatan bakso ke mulutnya sekaligus.
“Jika ada keluarga Da Vinci atau para pengagumnya mendengar perkataanmu, pastilah kita tidak akan selamat. Beruntunglah ketika berpartisipasi di lomba itu kita masih kelas delapan.”
“Fakta pentingnya adalah kita memenangkan pertandingan dengan telak, dan berhasil menjadi murid paling disegani di sekolah. Itu cukup membuktikan kalau kita hebat.”
“Begitu?” Bear memandang wajah Sean dengan prihatin. “Bukankah kamu menangis karena kehilangan teman-temanmu waktu itu dan menyesal saat sekamar denganku?”
Sean benci saat Bear membahas hal itu. Awalnya Sean dan Bear bukanlah teman dekat. Mereka seolah berada di kubu yang berbeda. Bear dengan kelompoknya yang terstruktur dan disiplin, sedangkan Sean berada di kubu orang-orang paling berisik di kelas. Ketika mendapat kesempatan untuk ikut andil dalam kompetisi bergengsi itu, ia dan Bear dipaksa menjadi teman sekamar dan saat itulah Sean berpikir hidupnya akan berubah. Tinggal sekamar dengan manusia paling perfeksionis di sekolah, sangat bertentangan.
“Terserah.”
Rembulan semakin matang, malam semakin larut. Bear, Sean, dan Larissa mulai membereskan barang-barangnya.
“Jangan lupa Kamis besok piket meja.” Bear mengingatkan selagi mereka menunggu di halte pemberhentian kendaraan umum.
“Mohon maaf Bear, besok Jumat. Pffft!” Sean menutup mulutnya karena tidak menyangka sosok sesempurna Bear bisa lupa hari.
Seketika itu mata Bear membeliak. Otaknya dengan cepat mengingat mengenai hari ini. Astaga! Bodoh sekali. Hari ini jadwal piket mereka dan bisa-bisanya mereka keluar hingga larut begini.
Larissa yang seperti menyadari sesuatu ikut menengadah dan menatap mata Seaniel. “Bodoh, kita akan dihukum, Sean!”
Dahi Sean berkerut mendengar perkataan Larissa. “Dihukum karena apa?”
“Jadwal piket, Sean,” sahut Bear.
“Kita kan hari Kamis—eh, astaga! Ini Kamis, ya?!”
Bolos piket meja makan adalah perbuatan yang paling dihindari oleh siswa kelas sepuluh. Meski sepele, hukumannya tidak bisa disepelekan. Mereka bisa menghabiskan waktu sehari penuh untuk menerima hukuman.
Piket meja makan artinya mereka harus memasuki ruangan besar dengan meja panjang dan kursi-kursi berjejer. Mereka harus menyalakan api penghangat yang asapnya mengepul melalui cerobong asap. Piring-piring keramik harus dilap kering dan diedarkan sesuai nomor, begitu juga dengan gelas, serbet, sendok, dan garpu. Bicara mengenai ruang makan, itu adalah ruangan besar dengan dinding berbata merah, ada lampu kristal besar di tengahnya serta jendela besar dengan gorden warna magenta. Lantainya adalah pualam hitam mengilat yang membuat ribuan siswa di sana bisa bercermin.
Momen makan malam adalah momen yang menyenangkan, kecuali bagi mereka yang piket karena setelah acara makan malam selesai mereka harus kembali membersihkan meja dan mengemasi barang-barang. Namun, membolos bukanlah pilihan yang tepat karena seperti yang sudah ramai diketahui, hukuman bagi mereka yang bolos meja makan berkali-kali lebih berat daripada piket itu sendiri.
“Kita bakalan dihukum, tidak ada harapan.” Bear berkata putus asa sembari menantikan kendaraan mereka tiba.
“Jangan dipikirkan, pulang ini kita istirahat karena besok akan menjadi hari yang melelahkan.”
***
Tiba di asrama, Bear dan Sean berpisah dengan Larissa. Mereka berjalan menuju asrama putra dan langsung disambut penjaga begitu tiba di gerbang. Bear dan Sean lalu memindai sidik jari mereka di alat sensor yang berada di gerbang. Mereka lalu bergegas masuk ke dalam gedung putih yang besar, dari luar dapat dilihat banyak jendela yang mewakili setiap kamar. Umumnya satu kamar dihuni oleh dua hingga tiga siswa. Khusus asrama putri isinya satu hingga dua orang saja karena mereka menjaga privasi perempuan. Salah satu obrolan yang sering diperdebatkan oleh Sean dan Bear adalah mengenai ketidakadilan dalam sistem pengaturan asrama.
Tiba di kamar Sean langsung membanting tubuhnya ke kasur. Bear segera menekan remot AC dan menyalakan lampu. Lelaki berkacamata lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu setelah itu berganti pakaian. Ia hanya menggeleng prihatin melihat Sean yang sudah terkapar di tempat tidur seperti mayat.
“Kakimu hitam, Sean. Bahkan bakteri enggan untuk berebut tempat.”
Sean bergeming, rasa malasnya lebih besar dari apapun.
Bear duduk di pinggiran kasurnya lalu mengambil kacamata cadangannya yang tadi sempat ia letakkan di atas meja sebelum ke kamar mandi. Dia lalu mengambil sebuah buku untuk dibaca sekitar tiga puluh menit sebelum tidur, sungguh hidup yang penuh keteraturan.
“Bear,” gumam Sean.
“Hmm?” jawab Bear tanpa menoleh sedikit pun.
“Bagaimana nasib kita besok?” Sean berbicara tanpa membuka matanya.
“Pasrah saja.”
“Aku pernah disuruh membersihkan seluruh toilet di sekolah.”
“Terus?”
“Bau. Aku juga melihat ada banana boat di salah satu toilet, aku trauma.”
Bear terkekeh kecil melihat ceracau dari Sean, ia tetap fokus pada bacaannya.
“Bear?” gumamnya lagi.
“Iya ada apa?”
“Tuntun aku ke kamar mandi, aku tidak sanggup berdiri.”
Bear beralih sebentar dari bukunya. “Tadi kamu baik-baik saja, mengapa sekarang mendadak manja begini.”
“Kamu tahu sendiri kalau kelemahanku adalah tempat tidur. Daya mataku langsung turun 70% setelah mencium aroma selimut dan bantal.”
Dengan berat hati, Bear menutup bukunya dan mengulurkan tangan untuk membopong bayi tua di kamarnya. Meski sering berdebat tetapi mereka adalah sahabat sekaligus saudara yang baik.
Dengan sialan, Bear mendorong tubuh Sean di kamar mandi hingga laki-laki itu nyaris terjungkal. Seketika kantuk Sean menghilang karena kaget. Sebelum bisa berkata apa-apa, Bear langsung menarik gagang pintu dan menutupnya.