Grey sekarat dan mengalami perdarahan. Dia segera dibawa kamarnya. Kenan mengundang tabib istana untuk merawat istrinya tercinta termasuk seorang dukun beranak. Grey terpaksa melahirkan anaknya secara prematur sedangkan dirinya masih terkulai lemah di atas tempat tidur. Kini anaknya di ruang perawatan khusus dengan inkubator hangat. "Rawat anakku dengan baik, Kenan." Suara lirih dari Grey menggelitik telinga Kenan yang terduduk lemah di samping tempat tidur. Ia melihat wajah cantik istrinya dengan saksama. Entah mengapa, ia menyesali sesuatu. "Iya, akan kurawat." Janji adalah utang dan bagi seorang ksatria seperti Kenan ia tak akan mengingkari janjinya. Setidaknya tidak akan lagi. "Kita akan rawat bersama-sama." Kulit Grey yang sudah pucat seperti kertas tak ubahnya seperti bunga yang s

