Benang yang Terurai

1064 Words
Seorang wanita paruh baya menangis di depan ruangan yang tertutup. Dingin udara pagi menjadi saksi bagiamana hangatnya senyum ruang gadis yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Namun, hal itulah yang membuat hati wanita itu semakin terasa sakit. Bahkan ketika penyakit terus menggerogoti, putrinya tetap tersenyum seolah semua baik-baik saja. Sementara di lobi rumah sakit, Haruka terduduk dengan gusar. Kursi empuk dengan busa serasa sangat tidak nyaman baginya. Hatinya gelisah, memikirkan bagaimana keadaan Sakura di sana. Namun ia juga takut untuk pergi menemui, sementara ada wanita yang ia takuti. Terlebih, temannya terluka saat pergi bersamanya. "Kau tidak ingin pergi menemuinya?" Taguchi, lelaki itu masih menunggu, meski putranya menegaskan jika ia tidak mau ditemani. Dalam keputusasaan, Haruka menggeleng pelan. Ia ingin sekali melihat kondisi Sakura, tapi di saat yang sama, keberaniannya tidak cukup untuk melakukannya. Melihat putranya terduduk lesu dengan wajah menunduk, Taguchi menghela napas panjang. "Ini bukan salahmu, Haruka," ucapnya, seolah mengerti perasaan sang anak. Haruka masih bergeming. Untuk saat ini, rasanya ungkapan penghibur maupun semangat akan percuma. Hatinya masih hancur, tersekat oleh perasaan bersalah. Ia hanya butuh tenang sebentar. Merasa tak bisa menghibur maupun menenangkan putranya, Taguchi hanya bisa terdiam pasrah. Ia tak ingin membuat Haruka tidak nyaman atas keberadaannya. Hingga waktu berjalan cukup lama, dan keduanya hanya ditemani oleh keheningan. Tidak ada suara yang terdengar selain derap langkah yang kerap datang di lobi rumah sakit. Jika sedari tadi langkah demi langkah akan berlalu melewati dua ayah dan anak itu, kali ini sepasang kaki terdengar berhenti di samping kursi. Beberapa saat tidak ada suara maupun sapaan, sampai Haruka tersadar dan menoleh. Apa yang dilihatnya benar-benar membuat seluruh tubuh terasa lemas, tulang seperti hilang berpindah ke lidah hingga tak bisa mengucapkan satu katapun. Seorang wanita yang sangat Haruka kenal tengah berdiri menatapnya dengan datar. Hana, ibu dari Sakura datang menemuinya. Orang yang paling ia hindari, kini sudah berada di hadapannya. Sementara Haruka masih mematung di tempat, Taguchi segera bangkit dan membungkuk memberi salam kepada wanita yang baru saja datang. Tentu saja, Hana segera membalas meski dengan salam yang pelan. "Apa kau yang bernama Haruka?" tanya Hana begitu selesai menyapa. Lidah Haruka kelu. Ia ketakutan. Rasa bersalah benar-benar menguasainya kali ini. Rasanya seperti kembali ke sepuluh tahun lalu. Keadaan persis seperti ini saat Sakura terjatuh di tumpukkan salju. Mungkinkah ia akan dimarahi seperti dulu? Namun bagaimanapun takutnya Haruka, ia lebih berani daripada dirinya di usia lima tahun. Remaja itu segera berdiri, membungkuk cukup lama dan setelahnya mengangguk menjawab pertanyaan wanita di hadapannya. Beberapa saat Haruka hanya bisa menunduk. Ia tak kuasa menatap Hana. Hingga rasa bersalah menuntutnya untuk berkata, "Maafkan saya, Bu. Harusnya saya bisa menjaga--" "Kau tidak perlu meminta maaf," potong Hana cepat, "ini bukan salahmu," lanjutnya. Mendengar itu Haruka cukup terkejut. Ini sangat berbeda dengan apa yang sedari tadi berada di dalam kepala. Benarkah ia mendengar kalimat yang benar? Wajah Haruka terangkat. Garis bingung masih memenuhi wajah pria itu. Terlebih, saat ia dapati Hana tersenyum kecil padanya. "Ini bukan salahmu. Tidak perlu merasa bersalah," ujar Hana melanjutkan. Namun dari senyum yang Hana tunjukkan, tentu tidak bisa menutup kesedihan yang teramat besar. Fakta bahwa putrinya masih terbaring lemah tidak bisa dipungkiri, bahkan saat ia sudah melihat sendiri bagaimana Sakura menenangkannya. Hana menunduk, air mata tak bisa lagi ditahan. Jika benar apa yang Haruka pikirkan, mungkin saja wanita itu sangat sedih dengan keadaan Sakura. "Apakah gadis itu baik-baik saja?" tanya Taguchi yang segera sadar dengan tangis wanita di depan mereka. Sedangkan Haruka, ia menjadi lebih khawatir. Dalam pikirannya yang sedari tadi dipaksa tenang, kini semakin tak bisa diindahkan saat melihat Hana menangis. Namun sesaat kemudian, wanita itu mengangguk. "Dia baik-baik saja," ucapnya, membawa kelegaan bagi kedua pria di sana. Terutama Haruka. "Sakura baik-baik saja." Hana beralih menatap Haruka. Mendengar itu, Haruka mengangguk. Tidak bisa disembunyikan jika ia sangat senang dengan kabat tersebut. "Tapi ... ada yang ingin saya sampaikan padamu," ungkap Hana melanjutkan. Haruka yang baru saja merasa lega tiba-tiba kembali diliputi rasa khawatir. Mungkinkah kali ini ia akan disalahkan? Meski wanita itu berkata jika semua ini bukan salahnya. Namun tetap saja, siapa yang tahu bagaimana perasaan seorang ibu. Beberapa saat Haruka hanya terdiam. Ia tidak bisa memutuskan. Kepada siapa pria ini bisa bertanya tentang sikap yang harus diambil? Hingga tanpa sadar, ia menoleh pada lelaki lain yang bersamanya. Seseorang yang sudah ia hapus dari daftar nama orang yang dikenal pada awalnya. Namun kali ini, benang merah tetap terikat antara ayah dan anak. Melihat Haruka menatap meminta saran, Taguchi yang paham segera mengangguk. Ia berkata lewat tatapan jika pria muda di sampingnya harus menurut mengikuti ibu Sakura. Akhirnya Haruka mengangguk, dan mengekor Hana yang langsung membawanya ke sebuah lorong rumah sakit, dekat dengan ruangan sang anak. Beberapa detik lorong terasa semakin sunyi sebab Hana tak kunjung mengawali pembicaraan. Haruka meremas jari jemari, tanda ia sangat gugup. "A-apa Sakura mengatakan sesuatu?" tanya Haruka di tengah rasa gugup yang mendera. "Ini salah saya. Seharusnya saya lebih memperhatikan Sakura saat dia kesakitan," lanjutnya dengan nada sangat menyesal. Namun Hana yang sedari tadi diam menenangkan diri langsung menyentuh bahu Haruka. Saat remaja itu menoleh, ia tersenyum. "Terima kasih karena sudah membawa Sakura ke rumah sakit tepat waktu," ucapnya, mematahkan bayangan menyeramkan dari kepala Haruka. "Anak itu memang memiliki tubuh yang lemah sejak lahir. Kau pasti sangat paham bagaimana jantungnya sangat lemah. Seperti saat musim dingin," ujar Hana panjang. Haruka hanya menyimak. Meski dalam hati ia mengiyakan. Ia sangat paham, semenjak Sakura pingsan saat musim dingin di tepi sungai. Tak lama Hana melanjutkan, "Sebagai seorang ibu, saya selalu ketat dengan kesehatan Sakura. Mungkin kadang terkesan terlalu mengekang, tapi itu hal terbaik yang bisa dilakukan untuk membantunya hidup." Mendengar itu, Haruka mengangguk. Untuk anak seusianya, tentu ia sudah paham bagaimana kekhawatiran seorang ibu memiliki anak istimewa sejak lahir. Hana terdiam, mencoba menahan tangis yang hampir keluar. Hingga tak lama, ia menatap Haruka. "Dan saya ingin meminta maaf telah memarahimu sepuluh tahun lalu. Saya pikir itu bukan salahmu, tapi sebagai seorang ibu, hanya itu yang bisa dilakukan," lanjut wanita itu. Kali ini Haruka yang berganti meraih tangan Hana. "Saya mengerti, Tante. Tidak perlu meminta maaf," ujarnya menenangkan. Meski sejujurnya masih tidak percaya dengan apa yang didengar. Mungkin selama ini ketakutan Haruka terhadap Hana hanya sebuah perasaan tanpa dasar. Pada kenyataannya, semua terjadi secara berbeda. Beberapa saat Haruka hanya diam menyimak wanita paruh baya di sampingnya yang menangis. Hingga tak lama, Hana mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. "Sakura meminta saya memberikan ini padamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD