Jalanan masih sama. Meski air kembali mencair, tapi hawa dingin masih terasa.
Sakura tersenyum riang ketika ia bisa kembali bersekolah. Bukan hanya karena itu, sebab bisa bertemu dengan teman-teman, ia merasa masih bisa menikmati kehidupan.
Abaikan kenyataan pahit beberapa hari lalu, selama tidak ada yang tahu ia bisa menjalani hari seperti biasa.
"Haruka!"
Seperti sudah lama sekali ia tidak memekik keras dari seberang garis penyeberangan. Meneriaki pria yang nampak tidak peduli dengan penutup telinga.
Tak ingin berlari, Sakura hanya bisa mempercepat langkah untuk menyamai Haruka. Setelah agak dekat, dipukulnya punggung yang tertutup dengan jaket. "Hei. Kau tidak mendengarku?" tanyanya dengan raut dibuat kesal.
Terkejut dengan sesuatu yang mengganggu, Haruka berbalik. Begitu melihat Sakura, mata yang membulat segera disembunyikan. "Ah, kau sudah berangkat," ucapnya dingin, terkesan tidak peduli.
Mendengarnya, membuat Sakura semakin kesal. Sikap pria di depannya benar-benar berbeda dari beberapa saat lalu. Malam itu Haruka nampak peduli, tapi sekarang lihatlah, pria itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan kosong di depan.
"Apa itu caramu menyambut teman yang tidak berangkat beberapa pekan?" gumam Sakura, tentu dengan nada kesalnya.
Namun bukannya menyahut, Haruka terus berjalan. Bahkan sekalipun menoleh ia tidak melakukannya. Hal yang lebih tidak terduga ialah, seulas senyum nampak samar di kedua bibir pria itu. Tetapi segera disembunyikan sebab tak ingin dilihat oleh gadis yang masih mengejar.
Suasana kelas pagi ini masih sama. Tak ada yang berubah bahkan untuk teriakan anak-anak yang selalu asyik bercerita di pojokan.
Begitu seorang gadis muncul di ambang pintu, keramaian yang awalnya berebut dengan udara, kini menjadi hening hanya karena Sakura yang menyapa. Adakah yang salah? Tidak. Mereka hanya tidak menyangka siswa yang tak pernah masuk tiba-tiba datang seperti biasa.
"Sakura!" Namun di antara bibir yang menganga, ada satu siswi yang langsung menghamburkan diri pada gadis yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Aku pikir kau sudah pindah dari sekolah ini," ucap Nami. Setelah beberapa saat ia melepas pelukan. "Jadi kemana saja kamu selama ini? Apa kau sakit? Kau berlibur ke luar negeri?" tanyanya tanpa jeda.
Sakura meringis, ia tidak menyangka jika Nami akan mengira sempat-sempatnya berlibur dua pekan di tengah pembelajaran. Namun itu lebih baik. Sepertinya Haruka benar-benar merahasiakan kondisi Sakura.
"Aku ada urusan beberapa waktu lalu. Maaf tidak sempat memberikan kabar," tutur Sakura menjelaskan.
Bibir yang semula tersenyum kini mengerut. "Benar. Kau bahkan tidak membalas pesanku sama sekali." Nami merajuk.
"Maafkan aku," ucap Sakura dengan senyum terbaiknya.
Beberapa saat Nami hanya terdiam, tapi setelahnya ia mengangguk senang. Melihat temannya baik-baik saja untuknya sudah cukup. Ia tidak mengharap apapun.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada satu guru pun yang bertanya kemana Sakura pergi selama ini. Meski gadis itu tidak ingin siapapun tahu, tapi agaknya sang ibu harus memberikan alasan sebenarnya kenapa ia tidak bisa bersekolah untuk waktu yang cukup lama.
Waktu bukan masalah sebenarnya, sebab Sakura masih mendapatkan surel materi untuk dipelajari selama berada di rumah sakit.
Bel istirahat pertama berbunyi. Biasanya Nami akan mengajaknya ke kantin. Namun setelah beberapa kali Sakura menolak, kini tak pernah lagi. Hingga hanya ada Sakura yang tengah menulis sesuatu, dan seorang pria malas yang tertidur. Tentu pria di depan Sakura, yakni Haruka.
Sebuah kertas berwarna kuning sedang dihiasi dengan tinta hitam yang menari ke sana kemari. Mulai dari hari ini, Sakura akan mengawalinya permohonan untuk satu tahun ke depan. Akan ia pastikan jika musim dingin tidak bisa menghentikannya seperti sebelum ini.
Surat perahu kertas dimulai dari cerita bagaimana keadaan yang sebenarnya. Tentang penyakit bawaan kecil, hingga waktu yang hampir habis. Hanya satu tahun, dan Sakura sadar itu adalah waktu yang sangat sebentar.
Satu persatu kata tersusun menjadi kalimat. Hingga ketika sudah selesai, gadis itu mulai melipat kertas menjadi bentuk perahu seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Namun angin dari celah jendela sepertinya ingin bermain. Sebab tidak menggenggamnya kuat, kertas di tangan Sakura terjatuh, melayang dan berhenti di meja depan. Mengganggu tidur pria paling dingin di kelas.
Sebelum tulisannya terbaca, Sakura bergegas mengambil kertas dari meja Haruka. Akan tetapi sebab terburu-buru, kakinya tidak sengaja menyapa kursi lebih dulu. Gadis itu tersungkur, sementara pria di depannya sudah berhasil membuka lipatan kertas yang belum sempurna.
Hening, diam. Tidak ada komentar apapun yang Haruka berikan. Padahal jika dilihat hanya butuh waktu yang sebentar untuk membaca keseluruhan surat. Sampai Sakura merebutnya paksa dari belakang.
"Kau belum membacanya, kan?" tanya Sakura dengan cemas.
Haruka terdiam, ia tidak berniat menjawab. Apa yang salah jika ia sudah membaca atau belum?
"Haruka. Katakan jika kau belum membacanya." Kalimat Sakura terdengar serius. Tentu Haruka sadar jika apa yang barusan ia baca adalah sebuah rahasia besar dari gadis itu.
Setelah terdiam beberapa detik, Haruka menoleh. "Aku sudah membacanya. Bahkan hingga selesai," ucapnya masih terkesan abai.
Mendengarnya membuat mata Sakura membulat. "Jangan berbohong, Haruka. Kau tidak mungkin selesai membaca hanya dalam hitungan detik." Gadis itu masih tidak percaya, lebih tepatnya ingin tidak percaya.
Namun Haruka memang mengatakan kebenarannya. Ia tidak berbohong. Bahkan hanya dalam beberapa detik, ia bisa membaca setengah dari halaman buku dengan kertas berukuran A4.
"Jadi kau sudah membacanya?" tanya Sakura diulang. Haruka mengangguk, dan gadis itu melanjutkan, "jadi bagian mana yang sudah kau baca?"
"Semuanya," jawab Haruka tanpa ragu.
Sakura mematung di tempat. Ia masih ingin tidak mempercayai perkata pria di depannya. Bisa saja Haruka berbohong untuk membuatnya khawatir. Terlebih lagi, tidak ada respon terkejut yang diberikan pria itu. Bukankah tidak wajar beraksi demikian saat mengetahui kondisi seseorang yang tidak akan hidup lebih dari setahun?
Namun belum sempat Sakura meyakinkan diri, Haruka sudah lebih dulu menyela. Pria itu menoleh, kali ini tatapannya lebih lama. "Aku sudah membaca tentang penyakit yang kau bawa sejak lahir, tentang permohonan untuk Tuhan, dan juga waktu satu tahun yang tersisa," ucap pria itu.
Kedua mata Sakura membulat sempurna. "J-jadi, kau benar-benar sudah membaca semuanya?" Ia sangat terkejut. Hancur sudah harapan hidup seperti biasa tanpa ada yang iba.
Haruka mengangguk. "Sudah kukatakan," ucapnya, "jadi, apa benar hidupmu tak lebih dari satu tahun?"
Sontak Sakura membekam mulut pria di hadapannya. "Pelankan suaramu." Setelah memastikan tidak ada yang mendengar, gadis itu mengangguk. Lalu melanjutkan, "Apa yang kau baca adalah kebenarannya." Ia menunduk, tak siap dengan respon Haruka.
Akan tetapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Haruka yang akan terkejut hanya ada dalam bayangan. Buktinya pria itu hanya bereaksi sekilas, mengangguk lalu nampak tidak peduli.
"Kau tidak terkejut?" tanya Sakura, ia malah yang justeru terkejut dengan sikap Haruka.
Pria itu menoleh, wajahnya masih tenang seperti biasa. "Untuk apa? Aku bahkan tidak tahu apakah waktuku tersisa bisa mencapai setahun," ujarnya santai.
Sakura terdiam. Kemudian terkejut untuk kesekian kali. "Jangan-jangan kau juga sakit?" Ia menutup mulut setelah mengatakannya.
Dengan cepat Haruka mengelak. "Tidak. Aku baik-baik saja," ucapnya, "tapi kita memang tidak tahu kapan waktu untuk berakhir dari dunia. Bisa saja aku yang sehat tiba-tiba pergi, besar kemungkinan perkataan dokter tidak benar."
Mendengar pernyataan barusan, membuat Sakura terdiam dan berpikir. Apa yang dikatakan Haruka ada benarnya. Apakah pria itu berbicara untuk menghibur, ataukah memang sikapnya lebih tenang dari perkiraan.
"Ah, kau berpikir sangat positif," ujar Sakura.
Selang beberapa detik, Haruka membenarkan posisi duduk. Disandarkannya punggung pada kursi. "Tapi jika benar waktumu tidak lebih dari satu tahun, apa yang akan kau lakukan? Hanya mengirim perahu kertas seperti biasa?" tanya pria itu.
Sakura terdiam. Ia menimbang apakah akan memberitahukan rencana pada Haruka, atau tetap menyimpan seorang diri. Namun pria itu sudah terlanjur tahu.
"Sebenarnya aku sudah membuat daftar keinginan selama 365 hari," ucap Sakura pada akhirnya.
Haruka hanya mengangguk, tidak ingin mengetahui rencana Sakura lebih lanjut. Bukan tidak peduli, hanya saja ia tidak ingin mengganggu privasi.
Hening menyelinap beberapa saat. Hingga entah apa yang Sakura pikirkan, tiba-tiba ia seperti tersadar akan suatu hal.
Gadis itu mendekat. "Haruka! Bagaimana jika kamu menjadi temanku selama satu tahun penuh?" tanyanya nampak antusias.
Haruka yang malas segera menghela napas. "Bukankah kau sudah menganggap ku seperti itu selama ini?"
Namun dengan segera Sakura menggeleng. "Bukan hanya teman seperti sekarang, tapi lebih dari itu," ucapnya.
"Maksudnya?"
Tanpa persetujuan, Sakura menarik kursi kosong di samping dan mendudukinya tepat di sebelah Haruka. Dengan sedikit berbisik ia berkata, "Kau akan menemaniku menuntaskan daftar keinginan selama satu tahun. Bagaimana? Bukankah terdengar menenangkan?"
Pria di depan Sakura menatap tidak percaya. Bagaimana gadis itu bisa mengatakan hal tersebut dengan riang? Namun setelah beberapa saat terdiam, Haruka mengalihkan pandangan. "Skip. Aku tidak tertarik," ucapnya datar.
Bibir Sakura maju beberapa senti. Ia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan bahkan setelah Haruka tahu kondisi yang seharusnya direspon mengkhawatirkan.
"Ayolah, Haruka. Aku butuh teman." Sakura merengek.
"Kau ajak yang lain saja," pinta Haruka masih cuek.
Cepat Sakura menggeleng. "Tidak bisa. Lagipula aku juga ingin memastikan kamu tidak mengatakan hal ini kepada siapapun." Kali ini ia mencoba mengancam.
Haruka berbalik, menatap tidak terima. "Apa aku terlihat seperti anak yang gemar berbicara dengan orang lain?" tanyanya, "ah, lupakan. Kau bisa mempercayaiku."
Namun lagi-lagi Sakura menggeleng. Kali ini tangannya meraih lengan Haruka. "Aku tidak bisa percaya hingga memastikannya sendiri. Jadi, tidak ada penolakan. Kita akan memulainya dari hari ini." Setelah mengatakan itu, gadis itu bangkit, meninggalkan pria yang masih mencoba menolak.
Sakura tidak peduli, bahkan jika Haruka menolaknya dengan cara kasar sekalipun. Hanya tinggal sebentar, tidak ada salahnya bersikap demikian. Itulah pemikiran Sakura yang membuatnya melakukan hal sesuka hati.