Zefanya terduduk lemas sambil memegangi ponselnya yang masih terhubung panggilan dengan Raka di seberang sana. Ia terlalu shock mendengar kabar dari laki-laki tersebut sehingga tak mampu lagi bersuara sedikit pun. Yang dilakukannya hanya terdiam, menatap kosong ke depan, lalu air mata perlahan luruh jatuh membasahi pipinya. "Ze." "Zefanya!" Panggilan-panggilan itu terus terdengar, berusaha menyadarkan Zefanya dari keterkejutan. Zefanya tahu, mereka adalah Haikal, Cherry, dan juga Raka di seberang telepon. Namun entah mengapa seolah sukmanya menolak menerima panggilan itu. Dia menolak bahwa apa yang didengarnya barusan adalah kenyataan. "Tenangkan diri kamu, Ze. Aku tahu ini sulit, tetapi kamu harus tetap kuat dan bertahan, sedikit lagi." Suara Raka kembali terdengar. Zefanya lantas b

