11 - Pengakuan

1770 Words
Tasya merenggangkan badannya sambil membuang nafas lega dari mulut. Pekerjaannya siang ini baru saja beres, tepat saat jam makan siang dimulai. "Udah selesai?" Tanya Reyna yang baru saja masuk. Satu setengah jam yang lalu, Reyna meninggalkan Tasya sendirian di ruangan karena ada beberapa hal penting yang harus Tasya kerjakan di ruangannya. Melihat bagaimana fokusnya Tasya, membuat Reyna tidak ingin menganggu sehingga dirinya keluar dari ruangan dan memantau penjualan toko siang ini. "Minum dulu," Reyna meletakkan secangkir teh hangat yang dibawanya ke atas meja kerja Tasya. "Makasih Rey," Tasya menerima teh tersebut dan meminumnya. "Lo mau mampir ke rumah sakit?" Tasya menatap sekilas jam tangannya, "Gue mau beresin pesanan Dilon dulu, dia mau ambil sore nanti. Kemungkinan gue ngga bisa ke rumah sakit siang ini." Reyna mengangguk, "Perlu dibantu? Dia pesan kue apa?" "Kue ulang tahun buat Mamanya. Dia minta custom toping dan hiasannya." "Lo mau buat sendiri?" "Iya... Yah nanti cari karyawan dapur yang agak senggang buat bantu. Lo bantu gue jaga di toko aja Rey, karyawan di toko kan pasti mau istirahat makan siang dulu. Nanti gue izinin gantian dengan bagian dapur." "Maksud lo bagian toko dulu yang istirahat baru bagian dapur?" Tasya mengangguk, "Ngga semua bagian dapur, hanya yang gue minta aja nanti. Kalau pesanan kelar, mereka boleh istirahat dengan waktu normal. Jadi walaupun istirahat dipertengahan, lama waktu istirahat mereka tetap sama dengan normalnya. Maka dari itu tidak masalah jika terlambat sedikit asal jangan lewat durasi sebenarnya." "Oke, gue paham. Kalau gitu gue suruh bagian depan istirahat dulu biar gue ganti jaga." Tasya mengangguk, "Minta tolong satu orang buat temenin, bilang aja nanti jam istirahatnya tetap sama durasinya." "Beres," Reyna mengangkat kedua ibu jarinya lalu beranjak pergi. Tasya masuk ke dapur, terlihat para karyawan sedang bersiap untuk istirahat. "Ada dua orang yang bisa bantu saya untuk buat satu pesanan? Nanti waktu istirahat kalian bisa sama seperti normalnya." Salah seorang karyawan mengangkat tangan kanannya, "Saya bisa bu." "Saya juga," Imbuh salah satu karyawan yang lain. "Oke, yang lain boleh istirahat lebih dulu." Semuanya membubarkan diri, tinggalah Tasya dan dua karyawannya. Tanpa membuang waktu, Tasya segera menjelaskan kue yang akan mereka buat. Sementara itu di rumah sakit, Angga dan Dilon menyempatkan diri berkunjung. Terkadang Kasya heran karena kedua temannya ini hampir setiap hari datang, Kasya berpikir apakah sesantai itu pekerjaan mereka? Namun Kasya tidak berniat menanyakan secara langsung. "Si Tasya ngga ada hari ini Sya?" Tanya Angga. "Gue ngga tau." "Dia lagi sibuk di tokonya," Timpal Dilon. Angga dan Kasya menatap Dilon bersamaan. "Kok lo bisa tau?" Angga memasang ekspresi terkejut, "Jangan bilang lo mau nikung Tasya dari Kasya?!" "Kenapa gue harus nikung? Dia dan Kasya kan ngga ada hubungan apa-apa." Angga kembali terkejut namun Kasya hanya diam saja menatap sahabatnya itu. "Lo ngga berencana--" "Gue masih punya hak kan?" Tanya Dilon pada Kasya, memotong ucapan Angga. "Terserah." Jawab Kasya dengan nada dingin. Angga menatap kedua sahabatnya ini yang mendadak mengeluarkan aura yang tidak enak. Dilon tersenyum tipis masih menatap Kasya, "Baguslah," Tatapan Dilon beralih pada Angga, "Nanti sore gue izin keluar sebentar." "Lo mau ke mana?" Tanya Angga. "Ke toko Tasya." "Dilon, lo--" "Tadi pagi gue ke sana buat pesan kue ulang tahun buat nyokap, gue yakin sekarang dia lagi sibuk menyiapkan karena gue pilih kuenya custom. Makanya jangan heran kalau dia ngga ada di sini sekarang." Angga berkedip beberapa kali, merasa takjub dengan ucapan Dilon yang cukup panjang. "Boleh kan?" Tanya Dilon lagi. "Ya-Yah boleh aja, sore nanti juga lagi ngga ada rencana rapat apapun." Dilon mengangguk, "Oke." Angga terdiam, otaknya masih mencerna situasi di hadapannya ini. "Lon, Dilon..." Panggil Angga. "Hah?" "Kenapa lo tiba-tiba bisa suka sama Tasya? Bukannya lo dulu mikir dia cewek aneh karena suka sama Kasya padahal ditolak terus?" "Iya dia memang aneh," Dilon menatap Kasya, "Ngga mau menyerah berjuang buat orang yang jelas-jelas menolak dia," Dilon kembali menatap Angga, "Tapi itu salah satu nilai plus dia." "Maksud lo?" "Dia cantik, pintar, mandiri, banyak laki-laki tampan di luar sana yang pasti suka sama dia tapi dia cuma melihat satu orang aja. Itu artinya perasaan dia tulus bukan karena hal fisik." Angga mengangguk mengerti, "Tapi Kasya kan memang ganteng, wajar kan kalau dia suka?" "Gue yakin ada hal lain yang buat dia tetap mempertahankan perasaannya pada cowok yang jelas-jelas bersikap dingin padanya." "Apa?" Angga menatap sekilas Kasya lalu kembali menatap Dilon. "Hanya Tasya yang tau." Kasya sejak tadi hanya menyimak, tidak berniat berkomentar apapun mengenai apa yang dikatakan Dilon yang sejak tadi mengarah padanya. "Lo mau nyatain perasaan lo sama Tasya Lon?" "Engga, bukan sekarang. Gue mau biarkan dia berjuang dulu buat perasaannya tapi pelan-pelan gue akan terus di samping dia sampai gue bisa buat Tasya melihat ke arah gue." Kasya tiba-tiba berdiri dari kursinya, "Gue rasa kalian harus segera kembali ke kantor, jam istirahat udah hampir selesai, gue juga banyak kerjaan." Tanpa menunggu respon kedua sahabatnya, Kasya segera beranjak pergi meninggalkan kantin. "Lon, lo serius sama ucapan lo tadi?!" Tanya Angga setelah Kasya pergi. Dilon menatap Angga, "Yang mana?" "Soal Tasya." Dilon tersenyum tipis, "Memangnya gue kelihatan sedang bercanda?" "Yah masalahnya ini Tasya lho! Dan menurut gue pengakuan lo ini terlalu mendadak padahal selama ini lo ngga terlalu dekat sama Tasya!" "Gue ngga harus selalu laporan sama lo kan kalau gue suka sama seseorang?" Angga membenarkan ucapan Dilon, lagipula selama ini Dilon memang terlihat lebih pendiam darinya. Berbeda dengan Kasya yang selalu beraura dingin, sosok Dilon merupakan pria tenang dan bisa menjadi hangat. "Gue berpikir kalau lo cuma panas-panasin Kasya biar dia lebih peka sama Tasya." "Itu salah satunya, tapi kalau memang dia ngga peka juga, gue yang akan ambil langkah maju untuk Tasya. Lagipula, gadis seperti Tasya terlalu baik untuk disakiti cowok seperti Kasya. Gue memang sahabat Kasya, tapi beda cerita kalau sudah urusan perasaan." Dilon berdiri dari kursinya, "Ayo Pak Bos, kita juga harus balik kerja." Angga mengikuti Dilon yang langsung pergi setelah mengajaknya kembali ke kantor. *** Menjelang sore, Tasya sudah menyelesaikan pesanan Dilon. Dirinya menatap puas pada kue yang saat ini terpajang dihadapannya. Tasya segera mengabari Dilon mengenai pesanannya, dan Dilon berjanji akan datang sebelum Tasya menutup tokonya. "Ada yang kurang Bu?" Tanya seorang karyawan melihat Tasya masih menatap kue tersebut. Tasya menggeleng sekilas, "Udah bagus kok, terima kasih ya." Tasya tersenyum manis, karyawan tersebut mengangguk dan ikut tersenyum. Selagi menunggu pemiliknya datang, Tasya meletakkan kue tersebut di salah satu etalase yang sudah diberi pendingin bersama kue-kue lain yang dijual di toko Tasya. Saat Tasya baru meletakkan kue pesanan Dilon di etalase, bunyi lonceng mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk toko. "Selamat datang," Sapa Tasya dengan senyum ramah pada wanita yang berjalan ke arahnya. "Lo Latasya?" Tasya sedikit bingung namun tetap mengangguk, "Iya benar," Namun sedetik kemudian Tasya merasa familiar dengan wajah wanita itu. "Kenalin, gue Diva, calonnya Arka." "Calon?" "Calon istri," Ulangnya. Tasya mengangguk mengerti, "Ada apa ya?" "Kok malah nanya ada apa?! Lo paham gak sikap lo tempo hari itu ngga sopan?! Gue lagi ngomong sama Arka tapi lo malah seenaknya aja!" Beberapa karyawan sampai menoleh ke arah bos mereka karena suara Diva yang cukup keras. "Ada apa Bu?" Tanya salah satu karyawan pria. Tasya tersenyum dan menggeleng sekilas pada karyawannya itu, "Ngga apa, kamu bisa kembali kerja." "Baik bu." Karyawan itu kembali ke pekerjaannya dan Tasya menatap lagi Diva. "Kita bicara diluar aja ya? Ngga enak didengar karyawan-karyawan saya." Sebelum Diva beranjak, Tasya sudah pergi mendahuluinya keluar dari toko. "Heh!" Diva mencekal lengan Tasya setelah di luar toko. "Anda ngga bisa bicara baik-baik ya? Dan dari mana anda tau tentang saya dan tempat ini? Kita belum kenal sebelumnya serta baru sekali tidak sengaja bertemu." Diva tersenyum miring, "Lo ngga perlu tau, hal seperti ini terlalu mudah buat gue." "Jadi mau anda apa?" "Jangan pernah berani mendekati Arka!" "Diva." Tasya dan Diva menoleh ke arah suara yang memanggil Diva. "Dilon..." Gumam Tasya. Dilon berjalan mendekat ke arah mereka, "Sedang apa lo di sini?" "Lon, itu aku--" "Lagi labrak gue," Timpal Tasya dengan tatapan tidak suka karena perubahan nada suara yang tiba-tiba dari Diva saat Dilon datang. Diva menatap kesal Tasya lalu kembali menatap Dilon, "Engga, dia bohong Lon, kamu percaya aku kan? Kita udah kenal lama." "Kenapa lo labrak Tasya?" Dilon memasang ekspresi tenang. "Kamu ngga percaya aku?!" Diva terlihat kesal. "Kita memang kenal lama, tapi gue lebih dulu kenal Tasya, dan gue tau dia lagi ngga bohong sekarang. Gue tanya lagi, kenapa lo labrak Tasya?" Diva berdecak sebal, "Bodo ah!" Tanpa menjawab, Diva langsung pergi masih dengan rasa kesalnya. "Lo gak apa-apa?" Tanya Dilon setelah Diva menghilang. Tasya menggeleng dan tersenyum, "Makasih ya Lon." Dilon mengangguk, "Memangnya dia ngomong apa aja tadi?" "Dia ngakunya sih calon istri Kasya, tapi gue ngga percaya. Karena dia panggil Kasya dengan nama Arka, kalau memang dia calon istri pasti kan panggil Kasya dengan nama Kasya." Dilon tersenyum mengangguk, "Gue juga ngga nyangka dia punya sifat kayak gitu, mungkin selama ini hanya agar terlihat manis di depan Kasya dan kami." "Gue kesel banget liat dia kayak bermuka dua waktu lo datang, jadi greget gini." "Biarin aja, kalau dia ganggu lo lagi langsung kabarin gue aja." Tasya mengangguk, "Siap!" Dan tersenyum, "Oh iya, lo mau ambil pesanan kan?" Dilon mengangguk, "Udah bisa gue ambil kan?" "Udah beres kok sesuai pesanan." "Oke, langsung gue ambil kalau gitu." "Masuk dulu yuk." Dilon mengikuti langkah Tasya memasuki toko. Tasya segera meminta salah satu karyawan untuk membungkus kue pesanan Dilon. Begitu menerima kue tersebut, Dilonpun membayar biayanya di kasir. "Kalau gitu gue pulang dulu," Pamit Dilon. "Iya hati-hati, titip salam buat Mamanya ya, bilang selamat ulang tahun." "Pasti gue sampein, atau lo mau ikut gue ketemu malam ini?" Tasya terkekeh pelan, "Mau sih tapi nanti malam gue udah ada janji sama suaminya sepupu, ada keperluan penting. Gue titip salam aja deh." "Iya gapapa, gue pamit lagi Sya." "Iya sip, hati-hati." Dilon beranjak meninggalkan toko dan masuk ke mobilnya kemudian beranjak pergi. Setelah mobil Dilon meninggalkan pelataran toko, Tasya berbalik badan untuk kembali ke ruangannya. "ASTAGA!" Tasya terlonjak kaget karena Reyna tiba-tiba muncul di belakangnya dengan senyum aneh, "Heh! Bisa gak kalau muncul lebih sopan dikit sama jantung gue!" Kesal Tasya. "Cie.. Yang diajak ketemu calon mertua." Sindir Reyna. "Gak usah kumat ya!" "Eh iya tadi kayaknya ada yang ribut di sini? Ada apaan? Gue mau liat tapi lagi teleponan sama Mama gue tadi di ruangan lo. Ada apaan sih?" "Memangnya lo ngga tanya karyawan lain?" "Tanya, tapi katanya ada cewek aneh yang datang marah-marah. Musuh lo?" "Gue juga ngga tau, orang stres mungkin, tapi udah beres, tenang aja." Tasya berjalan melewati Reyna dan masuk ke ruangannya. Reyna pun menyusul Tasya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD