8 - Alex

1587 Words
"Gimana?" Tasya menoleh pada sepupunya yang duduk berhadapan dengannya di ruang kerja, "Apa?" "Belajarnya sama suami gue, lancar?" Sejak pembicaraan tempo hari, Tasya dan Adam langsung menentukan waktu untuk Tasya belajar secara pribadi mengenai bisnis bersama suami dari sepupunya itu. "Baru dua kali, udah lumayan paham lah gue." "Lalu soal perjuangan lo?" "Kasya?" Reyna mengangguk sekilas. "Sejauh ini lumayan sih, walau sekali dia usir gue," Tasya memasang cengiran, "Gapapa, setidaknya dia ngga larang gue buat berkunjung lagi." Reyna menatap datar Tasya, "Kuat yah lo digituin, bukan setahun dua tahun padahal, dari kecil tapi masih betah aja dikejer." "Yah namanya juga perjuangan." "Bucin lo udah akut," Sindir Reyna. "Biarin," Tasya memelet sekilas lidahnya, "Yang penting--" Suara ketukan pintu memotong ucapan Tasya, ia dan Reyna langsung menoleh ke arah pintu masuk bersamaan. "Ya?" Pintu terbuka, salah satu pegawai wanita Tasya muncul di sana, "Permisi bu, ada yang cari bu Tasya." Reyna dan Tasya saling bertatapan bersamaan sejenak lalu kembali menatap pegawai tersebut. "Perempuan?" Tanya Reyna. "Bukan Bu, tapi laki-laki." Reyna menatap ke arah Tasya lagi, "Ngga mungkin Kasya kan?" Tasya menatap sebal sepupunya ini, "Segitu mustahilnya?" Reyna mengangkat sekilas bahunya, "Namanya siapa?" Tanya Reyna pada pegawai tersebut. "Maaf Bu, saya lupa tanya tadi." "Oh oke," Tasya mengangguk sekilas lalu berdiri dari kursinya, "Gue liat dulu Rey," Pamitnya pada Reyna dan beranjak pergi. Diam-diam Reyna yang penasaranpun mengikuti Tasya untuk melihat siapa tamu Tasya siang itu. "Eh? Alex?!" Alex tersenyum menatap Tasya yang berjalan ke arahnya, "Hai." "Kok ngga kabarin kalau mau ke sini." "Yah biar surprise aja." Tasya terkekeh sejenak, "Jadi ada apa? Ada yang mau dibeli?" Alex menatap sekitar, ke arah setiap etalase yang memajang berbagai jenis roti dan kue. "Gue jadi bingung karena semuanya enak." Tasya berdesis sekilas, "Kan bisa pilih aja apa yang lo suka." "Ini semua buatan lo?" "Yah resepnya dari gue, yang kelola rata-rata pegawai gue tapi tetap dalam pengawasan gue agar rasanya sesuai." Alex mengangguk sekilas, "Kayaknya gue bakal makin bingung." "Kenapa?" "Yah kalau ditanya mana yang lebih disuka, gue bisa suka semua kue di sini setelah gue cicip yang waktu itu lo bawa ke rumah sakit." Tasya tertawa sekilas, "Berlebihan banget, jadi mau beli yang mana nih?" "Ehemm..." Alex dan Tasya menoleh bersamaan. Reyna yang sejak tadi menyimak tanpa Tasya dan Alex tahu, akhirnya memunculkan dirinya dan berpindah ke sisi Tasya. "Seru amat kayaknya ngobrolnya Pak Bu." Tasya memasang wajah datar sedangkan Alex tersenyum pada Reyna. "Kenalin Lex, ini Reyna sepupu gue sekaligus partner kerja di sini." Keduanya saling berjabatan tangan menyebut nama masing-masing. "Alex." "Reyna." "Alex ini dokter di tempat Kasya Rey, dia dokter muda juga seangkatan dan seumuran Kasya." Reyna ber-oh-ria, "Jadi pak dokter ada apa siang-siang berkunjung nih?" "Kebetulan lagi senggang jadi menyempatkan diri mampir karena waktu itu sudah janji ke Tasya." Reyna mengangguk, "Jadi karena mau liat Tasya nih?" Tasya menyenggol bahu Reyna dengan wajah sebal, Alex terkekeh, "Mau belanja juga kok, butuh yang manis-manis buat nambah tenaga." "Tenang aja pak dokter, semua kue di sini manis-manis termasuk pemiliknya," Reyna balas menyenggol pelan Tasya sambil mengerling sekilas pada sepupunya itu yang masih menatapnya sebal. Alex kembali terkekeh, "Kalau itu ngga perlu ditanya lagi." Ucap Alex membuat Tasya sedikit salah tingkah. "Ya udah, silahkan lanjutkan," Reyna sedikit memundurkan langkahnya, "Sekalian ajak makan siang bareng juga ngga masalah kok pak dokter. Si ibu bos ini belum ke mana-mana soalnya, permisi kalian!" Reyna segera kabur kembali ke ruangan Tasya. Tatapan Tasya yang mengikuti Reyna hingga Reyna menghilang ke ruangan Tasya, kembali pada Alex, "Maafin sepupu gue ya, orangnya memang kayak gitu." Alex tersenyum, "Gapapa, dia lucu kok." Tasya mendelik sekilas, "Tapi dia udah punya suami, jangan sampai naksir, bahaya." Alex terkekeh, "Engga kok, lagian gue udah tau kalau dia udah bersuami." "Kok bisa tau?" "Tadi waktu salaman kan keliatan dia pake cincin. Jadi pastinya kalau bukan tunangan yah udah nikah. Biasanya gitu kan? Menebak aja sih sebenernya, ngga tau kalau ternyata benar." Tasya terkekeh pelan mengangguk sekilas, "Iya bener kok." "Jadi, boleh nih kalau mau ajak makan siang?" "Eh eh... Ngga usah, jangan dipikirin ucapan sepupu gue tadi. Anaknya emang suka ngaco." "Tapi lo beneran belom makan siang kan?" "Yah, belom sih... Nanti bisa cari sendiri kok." "Kenapa harus cari sendiri kalau ada yang mau temenin?" Pertanyaan Alex membuat Tasya bingung harus menjawab apa, "Iya sih." "Kalau gitu gue mau pilih kue dulu setelah itu kita makan sebentar ya keluar?" "Yakin?" "Kenapa harus ngga yakin?" "Iya deh." Alex segera memilih salah satu cake yang ingin ia beli. Setelah membayar, Alex langsung mengajak Tasya makan siang sejenak di luar. "Ini udah mau selesai jam istirahat lho, memangnya gak masalah kalau belum balik ke rumah sakit?" Tanya Tasya begitu dirinya dan Alex baru saja duduk di sebuah restauran. "Tenang aja, tadi sebelum pergi, gue udah cek semua pasien dan beberapa pekerjaan. Gue juga udah kasih pesan ke beberapa suster kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi. Jadi karena belum ada panggilan, gue anggap masih aman." Alex segera memanggil salah seorang pelayan dan memesankan makanan untuknya dan Tasya. "Udah berapa lama lo buka toko itu?" Tanya Alex setelah pelayan yang mencatat pesanannya pergi. "Belum ada sebulan sih." "Udah banyak pelanggan?" "Yah sejauh ini bersyukur sih udah lumayan ada beberapa pelanggan tetap." "Engga heran dong." Tasya menatap heran Alex, "Maksudnya?" "Kue-kue yang lo jual rasanya enak, tampilannya juga bagus, dan gue liat tadi fresh semua jadi engga heran kalau banyak pelanggan yang percaya dan tetap kembali untuk belanja." Tasya tersenyum kecil, "Karena buat gue, kepuasan pelanggan harus jadi nomor satu." "Bener," Alex mengangguk setuju, "Walau gue bukan orang yang paham banget soal usaha kayak gitu tapi gue setuju dengan yang lo bilang barusan." Tasya kembali tersenyum. "Lalu sebelum di sini, lo buka usaha di mana? Waktu itu temennya dokter Arka kan bilang lo sampai sekolah di luar." "Iya, setelah lulus gue sempet cari pengalaman dulu di sana selama beberapa bulan di toko-toko roti. Karena orang tua bilang mau pindah ke kota ini jadi sekalian aja gue balik dan buka usaha sendiri, setidaknya sudah dapat ilmu yang cukup." "Orang tuamu bukan di sini?" "Gue lahir dan besar di sini, karena usaha rintisan Papa yang sempat bermasalah jadi kami sekeluarga pindah keluar kota. Lulus SMA gue lanjut keluar dan sekarang kembali ke sini membuka usaha sendiri sekaligus nantinya bantu-bantu usaha yang Papaku kerjakan." Obrolan mereka terjeda saat pesanan makanan tiba. "Lo sendiri," Tasya kembali membuka obrolan, "Udah berapa lama kerja di rumah sakit itu?" "Gue koas di sana setelah lulus, begitu dapat gelar dokter yah bekerja di sana." Tasya mengangguk paham sambil mengunyah makanannya. "Oh iya," Tasya segera menelan makanannya, "Lo bilang sekampus sama Arka kan?" Alex mengangguk. "Dia udah punya pacar?" "Setahu gue sih belum, hanya banyak yang suka sama dia. Tapi gue pernah denger ada satu cewek yang sering dekat dengan dia, cuma yah itu, Arka bukan tipe yang suka berpikir ke hubungan lawan jenis." Tasya membenarkan ucapan Alex, "Memang gitu tuh." "Lo suka sama Arka?" Tasya langsung tersedak, Alex terkekeh menggeser minuman Tasya agar segera meredakan batuknya. "Jadi bener nih tebakan gue?" Tasya hanya diam dengan wajah memerah, karena malu dan habis tersedak. "Tapi lo belum bisa dapat perhatian dia?" Tasya memanyunkan bibirnya, mengaduk minuman dengan sedotan sambil menatap Alex, "Sejauh ini gue lagi usaha sih, cuma belum berhasil." "Lo mau kejar dia sampai tua?" "Yah engga gitu juga, kalau misalnya nanti Arka memilih yang lain atau gue udah sampai di batasnya, gue memilih buat mundur kok." "Jadi masih ada kesempatan buat cowok lain buat deketin lo?" Tasya mengangkat sekilas bahunya, "Mungkin." Alex terkekeh pelan, "Kalau sampai Arka menolak lo, gue yakin dia akan menyesal seumur hidup." Ucapan Alex membuat Tasya menatapnya heran, "Maksudnya?" "Lo sejak kapan suka sama Arka?" Alex justru balik bertanya. Tasya berpikir sejenak, "Kayaknya sih dari kecil, tapi kan dulu masih jamannya cinta-cinta monyet, suka-sukaan ala anak kecil." "Yah harusnya Arka bersyukur ada wanita cantik dan mandiri yang menyukainya. Bahkan sudah sejak lama, gue yakin kok engga sedikit sebenarnya laki-laki yang berharap ada di posisi Arka saat ini, disukai oleh lo tapi lo tetap melihat ke arah Arka." Tasya tersenyum kecil, hatinya sedikit menghangat karena ucapan Alex. "Tapi lo harus janji ya Sya." "Janji apa?" "Kalau lo merasa lelah dan udah ngga sanggup lagi buat berjuang, lo harus mundur seperti yang lo bilang tadi. Memang sih cinta itu harus diperjuangkan, tapi lo boleh kok untuk egois dengan memikirkan kebahagiaan lo sendiri. Karena lo memang pantas hidup bersama laki-laki yang sanggup membahagiakan lo Sya." Tasya kembali tersenyum dan mengangguk, "Makasih ya Lex." "Anytime Sya. Lo kalau mau cerita sama gue juga boleh, gue bersedia jadi temen cerita lo." Tasya tertawa kecil dan mengangguk lagi, "Siap pak dokter." Keduanya melanjutkan makan siang mereka. Setelah selesai, Alex mengantar Tasya kembali ke toko. *** "Lo engga mau pertimbangkan Alex Sya?" Tanya Reyna setelah Tasya duduk kembali di kursi kerjanya. "Pertimbangkan apa?" "Buat beralih gitu dari Kasya, secara Alex orangnya lebih ramah, lebih hangat, sama-sama dokter juga, ganteng pula... Ngga kalah lah sama Kasya." "Jangan aneh-aneh deh Rey," Sahut Tasya tanpa menoleh pada Reyna, Tasya fokus pada laptopnya. "Kok malah aneh? Alex tuh punya kemungkinan buat suka sama lo Sya, gue bisa liat sendiri kok tadi." "Lo jangan kasih saran macem-macem deh, kan gue bilang gue mau berjuang dulu." Reyna berdecak sebal, "Asal lo jangan nyesel aja ya kalau nanti Alex milih cewek lain." "Iya Rey, iya." Reyna berdiri dari kursinya, merasa tidak puas mengobrol dengan Tasya, dirinya memilih untuk keluar ruangan dan memantau penjualan saja. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD