"Baguslah, kamu pulang lebih cepat dari dugaanku. Hampir saja aku berencana menyeretmu," ujar Evano seraya menghampiri Kana.
Dia segera mendekat dan tiba-tiba menyentuh dagu istrinya itu. "Buka mulutmu, aku harus pastikan kamu tidak mabuk!"
Kana menurut saja walaupun sebenarnya jengkel dengan perlakuan suaminya itu. Dia segera membuka mulut dan menghembuskan nafasnya, sementara Evano segera melakukan tugasnya.
'Tau gini, tadi aku makan petai aja sebelum pulang. Sudah enak, dan setidaknya bisa sedikit balas dendam pada laki-laki j*****m in!' batin Kana.
Lalu tanpa sadar senyum manisnya segera mengembang memikirkan idenya itu. Tidak kejadian, tapi walaupun begitu tetap saja membuatnya senang meski sekedar membayangkannya.
"Ngapain tersenyum?" Evano dengan tatapan heran, melihat istrinya yang tiba-tiba tersenyum. Laki-laki itu mundur lantas menatap istrinya dengan tatapan yang menyelidik.
Membuat Kana jadi kikuk lalu mengusap lehernya sendiri, tapi kemudian dia teringat sesuatu, dan menjadikannya sebagai alasan.
"Oh, enggak, tapi tadi aku dapat kiriman Mas dari pak Aksa. Mas tidak salah kirim bukan? Gaun dan satu set perhiasan itu buatku bukan? Aku suka gaunnya, Mas tau banget ukuranku," ungkap Kana menjadikannya alasan dari senyumannya barusan.
Evano terdiam, sesaat dia menatap Kana dengan seriuh juga sedikit aneh. Memperhatikannya cukup intens, sebelum mengangguk, kemudian menghela nafas dengan wajah datar.
"Itu hanya hadiah kecil, tidak usah norak dan berlebihan. Kau seperti tidak pernah diberi hadiah saja, padahal kau sendiri kaya, Kana! Ayahmu pebisnis, sementara ibu kandungmu sekarang bahkan sudah menjadi ibu pejabat."
Kana mengangguk saja, walaupun sebenarnya dia tertohok dan merasa sesak mendengar kalimat itu. Sebenarnya tidak ada yang salah, Evano benar soal ucapannya, orang tuanya mampu, dan memberinya hadiah seharusnya hal yang normal. Namun, Kana tidak pernah mendapatkan, hampir tidak pernah jika bukan saat ulang tahun. Itupun bukan dari kedua orang tuanya, melainkan neneknya yang saat itu masih ada.
Semejak nenek kandung dari pihak ayahnya tiada, Kana yang dirawat olehnya menjadi terlantar. Dia hampir terluntang-lanting tanpa penopang hidup. Bekerja paruh waktu untuk kelangsungan hidupnya.
Bukan karena tidak pernah meminta pada orang tuanya, tapi dia selalu diabaikan. Terutama ayahnya yang harusnya masih berkewajiban menafkahinya saat itu. Haknya dinafkahi sebagai anak jarang terpenuhi, bahkan bisa dihitung jari. Itulah mengapa dia berakhir menjadi penjual es cendol.
"Tapi tidak mengherankan juga, perempuan manja sepertimu memang selalu haus akan pemberian orang lain. Bahkan demi mobil, apartemen dan modal untuk bisnis kafemu, kau rela menjebakku!" cibir Evano dengan tajam.
Kana mendongak menatap suaminya lalu mengangguk walaupun tidak benar. Faktanya dia hanya terjebak dalam kasih sayang palsu. Kana pikir mobil, apartemen dan modal bisnis adalah perhatian, itulah kenapa dia menjadi naif saat itu, tak tahu menahu kalau semua itu adalah jebakan ayahnya. Hingga membuatnya sampai sekarang, terpaksa menjadi istrinya Evano.
"Dasar manja, setelah punya kafe pun nyaris bangkrut. Ah, tapi sudahlah, lebih baik bersiap sana, aku tidak mau terlambat!" jelas Evano terdengar ambigu diakhir kalimatnya.
"Bersiap kemana?" tanya Kana dengan wajah bingung dan juga pasrah.
Evano pun menjelaskan maksudnya, ternyata pria itu tidak benar-benar memberinya hadiah dengan cuma-cuma. Gaun itu diberi agar Kana langsung memakainya, karena ternyata Kana harus menemani suaminya itu menghadiri sebuah acara.
*****
"Aku pikir kau akan datang bersama Wulan," ujar Orion.
Dari yang Kana ketahui saat dia datang kesana dengan Evano. Pria itu adalah yang punya acara. Orion kenalan dekat dan juga baru saja melakukan kerja sama dengan perusahaan Evano. Kerja sama tersebut sukses besar dan acara malam ini ternyata adalah perayaannya.
"Dia Kana Mahira Abrisam istriku," ungkap Evano, tapi saat Orion mengangkat tangan untuk berkenalan dan bersalaman, Evano langsung menarik mundur Kana. Seolah tidak rela membiarkan keduanya bersalaman.
"Oh, pantas saja. Aku pikir beberapa bulan lalu kamu kepergok meniduri wulan dan menikah dengannya," ujar Orion mengungkapkan salah pahamnya.
Dia memang tidak menghadiri acara pernikahan Kana dan Evano, disebabkan kesibukan dalam pekerjaan, mengurusi proyek di luar kota, ditambah acara pernikahan Kana dan Evano memanglah dadakan. Orion hanya bisa menerima kabar dan tahu Evano menikah, tapi dia tak tahu siapa mempelai wanitanya.
"Tapi aku mendukungmu, akhirnya selera kita sama," Orion sedikit menaik turunkan alisnya."Daun muda lebih muda dikendalikan," lanjut Orion bercanda.
Kana melihat ke arah mereka, dan Evano sempat bertatapan dengannya sejenak. Sebelum kemudian pria itu membuang tatapannya dan menjawab ucapan Orion.
"Kau terlalu sok tahu, lebih baik tutup mulutmu!" ketus Evano.
Kana tampak kecewa dengan jawaban suaminya itu dan dia mundur setelah beberapa rekan dan teman Evano menghampiri. Kana merasa bete, saat mereka terus menyebutkan nama perempuan lain dan menanyakannya.
'Di mana Wulan dan kenapa tidak bersamanya?'
Perasaan Kana bergemuruh, tak tenang dan bercampur aduk. Dia kepikiran nama itu 'Wulan' dan apa hubungannya dengan Evano. Nafasnya segera terasa berat, dan saat suaminya terlihat sibuk, Kana benar-benar menjauh dari sana.
Perempuan itu memutuskan ke stand makanan dan mengemil untuk menenangkan diri. Namun, sepertinya takdir tak membiarkannya tenang. Sesosok perempuan menghampirinya dengan tatapan tak suka.
"Kamu istrinya Evano?"
Kana menoleh dan ternyata perempuan yang dia lihat tadi pagi muncul di sana. Mengingat bagaimana perlakuan Evano pada wanita itu, Kana menatapnya dengan sedikit tidak senang dan menjawab dengan ogah-ogahan.
"Hm," dehem Kana singkat.
"Tidak usah bangga, kamu itu cuma istri hasil kepergok satu malam. Aku yakin kamu bukan perempuan baik-baik, dan kamu tak pantas bersanding dengan kak Evano. Sadarlah!" cibir perempuan itu tajam.
Kana tak menghiraukannya dan bahkan tidak membalas. Dia mencoba tenang dan menahan diri dengan memakan makanan yang sudah diambilnya dari stand makanan tersebut.
Melihat itu, perempuan tadi pagi yang dilihatnya bersama suaminya dan mungkin itulah perempuan yang ditanyakan orang-orang pada suaminya beberapa saat lalu, 'Wulan.' Kana yakin dialah yang bernama Wulan.
Sementara itu, perempuan yang sepertinya sedang memancing Kana tersebut, nampaknya kesal. Lalu tanpa babibu, tiba-tiba saja menarik rambut Kana.
"Jalang mura*an! Dasar tidak tahu malu!"
"Arrrggghhh ... lepaskan!" ucap Kana syok dan kaget.
Kejadian tersebut pun akhirnya jadi pusat perhatian tamu-tamu yang ada di sana, tapi saat perempuan itu tak sengaja melihat Evano menoleh tiba-tiba dia pun membalikkan keadaan. Melepaskan Kana begitu saja dan menjatuhkan dirinya sendiri sambil menjerit.
"Hiks-hiks, aku tidak menggoda suamimu, tas itu hanya hadiah ulang tahunku dan aku cuma menganggapnya saudara tidak lebih!" ucap perempuan itu.
Kana segera mengerutkan dahinya bingung. Dia menatap geram, dan tidak habis pikir dengan maksud perempuan itu. Barusan menjambaknya dan sekarang tiba-tiba terjatuh dan memberikan penjelasan palsu, padahal Kana tidak menuntutnya.
"Yaasuda---" baru saja mau menjawab, Kana langsung disela seseorang yang menarik lengannya, dan tenyata orang itu adalah suaminya sendiri.
"Apa yang kau lakukan pada Wulan, Kana?!"
Evano tampak geram dan mendorong Kana, supaya dia bisa segera membantu perempuan itu berdiri. Beruntung Kana tidak apa-apa, sebab dia berhasil mengendalikan keseimbangannya.
"Kak Evano jangan marah, kakak ipar hanya cemburu padaku," ujar Wulan menjelaskan dengan nada manja.
Nada suaranya sangat berbeda dari saat berbicara pada Kana. Dia sangat lembut pada Evano. Kana tebak perempuan itu pasti sedang mencari perhatian. Memikirkan hal itupun membuatnya muak, sampai akhirnya sisa kesabarannya habis, saat melihat Wulan mulai kurang ajar dengan memeluk Evano.
"IYA!" teriak Kana sembari menarik Wulan menjauh dari Evano. "Aku memang cemburu. Hari ini cuma mendorong, lain kali, aku akan membunuhmu, jika masih berani dekat-dekat dengan suamiku!" bentak Kana tak tahan.
Dia mendadak berani, dan tak peduli dengan tanggapan suaminya. Masa bodoh dengan Evano yang mendesah kasar, setelah mendengar pengakuannya barusan. Cinta tidak cinta, toh Evano suaminya, pria itu miliknya dan wajar kalau dia tak suka melihatnya dekat dengan perempuan lain.
Sampai kemudian seorang laki-laki muncul di sana, mendekati Wulan dan memeriksa kondisinya dengan tatapan cemas. Membuat Kana yang merasa diabaikan dan tidak diperhatikan siapapun menjadi iri.
"Ada apa ini, apa yang terjadi padamu Wulan?" kata orang itu nampaknya khawatir.
"Tidak apa-apa, Kak. Ini hanya masalah kecil, masalah perempuan," cicit Wulan.
"Tidak bisa, lihat kondisimu jadi berantakan seperti ini." Tatapan lelaki itu pun tertuju pada Evano. "Kau apakan adikku, apa yang terjadi padanya?!"
Walaupun sakit hati, tapi Kana masih tidak terima suaminya dituduh, dan diapun angkat bicara. "Suamiku tidak melakukan apa-apa padanya, adikmu saja yang ratu drama. Dia berakting di tempat yang tidak tepat. Jika tidak percaya silahkan cek CCTV!" jelas Kana.
Baru saja menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba lengannya kembali ditarik dan pelakunya lagi-lagi adalah Evano suaminya sendiri. Menariknya mundur kebelakang tubuhnya dan tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat Kana tidak habis pikir.
"Maaf, aku tidak mengawasi istriku dengan baik."
*****